Mengenal Cita-Cita Hidup Muhammadiyah - IBTimes.ID
Tajdida

Mengenal Cita-Cita Hidup Muhammadiyah

4 Mins read

Apa Muhammadiyah itu? Apa Cita-Cita Hidup Muhammadiyah

Cita-Cita Hidup Muhammadiyah – AD/RT pasal 4 bahwa Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah. Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H atau 18 November 1912 M.

Muhamadiyah disusun dengan majelis-majelis (bagian-bagian) mengikuti perkembangan zaman serta berdasarkan syura yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau muktamar.

Sebagai organisasi, Muhammadiyah mempunyai cita-cita. Cita-cita Muhammadiyah itu tertuang dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM),  Cita-cita Muhammadiyah adalah terwujudnya masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridai Allah SWT.yaitu;

***

  1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, beraqidah Islam, dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil makmur yang diridai Allah SWT, untuk melaksanakan visi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
  2. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasulullah sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, sampai Nabi Muhammad SAW. Sebagai hidayah dan rahmat Allah SWT kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spiritual dunia dan akhirat.
  3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan kepada:
  4. Al-Qur’an: Kitabullah yang diwahyukan kepada Nabi Muahmmad SAW
  5. Sunnah Rasul, penjelasan dan pelaksanaan ajaran Al-Qur’an yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal pikiran sesuai jiwa ajaran agama Islam 
  6. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajarn-ajaran agama Islam yang meliputi bidang:
  7. Aqidah: Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan bid’ah dan khurafat tanpa mengabaikan prinsip-prinsip toleransi menurut ajaran Islam.
  8. Akhlaq: Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia/
  9. Ibadah: Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW tanpa tambahan dan perubahan darimanusia
  10. Muamalat Duniawiyah: Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya muamalah duniawiyah dengan berdasarkan ajaran agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.
  11. Muhammadiyah mengajak segenap bangsa Indonesia untuk berusaha bersama-sama menjadikan negara yang adil dan makmur serta diridai Allah SWT: BALDATUN THAYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR.

Islam Bagaimanakah yang Dipergunakan Muhammadiyah untuk Mendasari Segala Macam Usahanya?

Sistem dasar yang dipakai Muhammadiyah mengacu pada tujuh polok-pokok pikiran yang terkandung dalam Muqadimah AD/ART Muhammadiyah, yaitu:

  1. Hidup manusia itu harus berdasarkan tauhid, bertuhan, beribadah, serta tunduk dan taat kepada Allah SWT.
  2. Hidup manusia itu bermasyarakat.
  3. Hanya hukum Allah yang dapat dijadikan sendi untuk membentuk pribadi utama dan mengatur ketertiban hidup bersama menuju hidup bahagia di dunia dan akhirat.
  4. Berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah wajib sebagai ibadah kepada Allah SWT dan berbuat ihsan kepada sesama manusia.
  5. Perjuangan menegakkan menjunjung tinggi agama Islam hanya akan berhasil dengan mengikuti jejak (ittiba’) kepada para Nabi terutama Nabi Muhammad SAW.
  6. Perjuangan mewujudkan pikiran-pikiran tersebut hanya dapat dilaksanakan dengan berorganisasi.
  7. Seluruh perjuangan mengarah kepada satu tujuan Muhamadiyah, yaitu masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Baca Juga  Literasi Khutbah Jumat: Agar Tidak Membosankan dan Temanya Itu-itu Saja

Ketujuh pokok pikiran itu dijabarkan dalam batang tubuh AD/ART yang terdiri atas 16 bab dan 42 pasal.

Selanjutnya, Kita Perlu Memahami Kepribadian Muammadiyah itu, Yaitu:

  1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam, gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang ditujukan kepada perorangan dan masyarakat.
  2. Muhammadiyah bertujuan untuk mewujudkan masyarakat utama adil makmur yang diridai Allah SWT ataumasyarakatyang sebenar-bemarnya.
  3. Muhammadiyah adalah gerakan tajdid yang bermakna purifikasi dan dinamisasi. Purifikasi bermakna membebaskan umat dari jerat kesyirikan, tahayul, bid’ah, dan khurafat. Dinamisasi adalah gerakan penafsiran Islam progresif sehingga ajarannya senantiasa relevan dengan dinamika dan problema zaman (Islam Solutif).
  4. Muhammadiyah tidak memilih jalur politik, tanpa mempedulikan bagaimana struktur politik yang menguasainya, memilih jalan non partisan sejak zaman Belanda, zaman militerisme Jepang, hingga zaman kemerdekaan Indonesia.
  5. Muhammadiyah tidak buta politik, tidak takut politik, tetapi Muhammadiyah bukan partai politik. Namun, apabila soal-soal politik masuk dalam Muhammadiyah, ataupun soal-soal Muhammadiyah mendesak-desak urusan agama Islam, maka Muhammadiyah akan bertindak menurut kemampuan, dan nada Muhmammadiyah sendiri.
  6. Muhammadiyah bergerak bukan sebagai golongan, tetapi berjuang untuk tegaknya Islam untuk kemenangan kalimah Allah. Islam yang diajarkan oleh Muhammadiyah adalah Islam apa adanya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah (sunah yang valid) serta dalam menjalankannya menggunakan akal pikiran sesuai dengan roh Islam.  

Bagaimanakah Sifat-Sifat Muhammadiyah dalam Menggerakan Organisasinya?

Untuk mengetahui bagaimanakah Muhammadiyah menggerakkan umat, bisa kita lihat dalam Khithah Muhammadiyah. Istilah khithah berasal dari kata khaththa yang berati menulis atau merencanakan, garis, atau jalan. Khithah Muhammadiyah adalah seperangkat rumusan, teori, metode, sistem, strategi, dan taktik perjuangan Muhammadiyah.

Muhammadiyah memilih strategi perjuangan dakwah non-politik praktis. Muhammadiyah menekankan pada pembinaan masyarakat.

Baca Juga  Jonathan Benthall: Film Dokumenter Muhammadiyah untuk Audiens dari Barat

Khithah ini dimaksud agar Muhammadiyah tetap istiqamah dalam mengemban fungsi dakwah dan tajdidnya sebagai gerakan Islam yang berpikrah dalam lapangan kemasyarakatan.

***

Ada beberapa khithah yang melandasi perjuangan Muhammadiyah, yaitu Khithah Ujung Pandang (1971), Khitah Surabaya, Khithah Denpasar (2002),  Inti khithah-khithah tersebut adalah:

  1. Khithah Ujung Pandang (1971) Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam tidak mempunyai hubungan organisasi dan tidak merupakan afiliasi dari suatu partai atau organisasi apapun. Muhammadiyah memberi kebebasan kepada anggota sesusai dengan azasinya untuk tidak memasuki atau memasuki organisasi lain sepanjang tidak menyimpang AD /ART dan ketentuan yang berlaku di Muhammadiyah.
  2. Khitah Surabaya menekankan bahwa zaman selalu berubah. Muhammadiyah senantiasa mempunyai kepentingan melaksanakan amar-ma’ruf nahi munkar dan melaksamakan gerakan dan amal usaha yang sesuai lapangan yang dipilihnya untuk mencapai tujuannya (MKCHM).

Muhamdiyah juga mendirikan amal usaha dan senantiasa berkhidmat untuk meningkatkan mutunya.  Dalam melaksanakan tugasnya Muhammadiyan berjalan di atas prinsip gerakannya seperti tercantum dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM).

Sesuai dengan kepribadiannya, Muhammadiyah bekerja sama dengan golongan Islam manapun dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan ajaran Islam serta membela kepentingannya.

Dalam melakukan kerjasama tersebut, Muhammadiyah tidak bermaksud menggabungkan diri dan mensubordinasikan organisasinya dengan organisai ataun institusi lainnya.

  1. Khitah Denpasar (2002) memberikan kebebasan warga persyarikatan negara untuk menggunakan hak pilihnya dalam kehidupan politik sesuai nurani hati masing-masing.

Penggunaan hak pilih tersebut harus sesuai dengan tanggung jawab sebagai warga negara yang dilakukan secara nasional dan kritis sesuai dengan misi dan kepentingan Muhammadiyah, sesuai dengan misi dan kepentingan Muhammadiyah dan kemaslahatan bangsa dan negara.

Editor: Yahya FR

Avatar
59 posts

About author
Majelis Pustaka PCM Semin
Articles
Related posts
Tajdida

Menjelajah Negeri (1): Kesadaran Pendidikan di Kerinci

6 Mins read
Kisah ini terkait kesadaran pendidikan di Kerinci Hilir. Saat itu, akhir Ramadan awal 1930-an. Seorang remaja berjalan kaki menuju dusunnya di Pulau…
Tajdida

Dari Siti Jenar Sampai Thaha: Mereka yang Dibunuh Karena Beda Pikiran

3 Mins read
Pada hari Jumat di abad ke-15, seusai shalat, masjid Keraton di era Sunan Kudus ramai. Pasalnya, para wali dan pembesar akan memancung…
Tajdida

Menjadi Bangsa Moderat, Inilah Pilar-Pilar yang Wajib Ditegakkan!

3 Mins read
Moderasi Beragama – Pidato ketua umum PP Muhammadiyah pada kesempatan lalu memberikan sinyal bahwa kondisi bangsa kita belum sepenuhnya beranjak dari persoalan…

Tinggalkan Balasan