Milad 'Aisyiyah 104: Konsisten di Jalur Dakwah! - IBTimes.ID
Tajdida

Milad ‘Aisyiyah 104: Konsisten di Jalur Dakwah!

5 Mins read

Hendaklah kalian semua berhati-hati dengan urusan ‘Aisyiyah. Jika kalian mampu  membimbing mereka, insya Allah ‘Aisyiyah akan menjadi teman setia dalam perjuangan persyarikatan Muhammadiyah.

Dakwah Aisyiyah’ – Sebuah pesan singkat Kyai Haji Ahmad Dahlan yang disampaikan kepada kader-kader dan pengurus Muhammadiyah terkait istri dan putri mereka yang aktif di pergerakan organisasi ‘Aisyiyah.

Kyai haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri organisasi Muhammadiyah, memang terkenal memiliki kepedulian yang cukup besar terhadap kaum wanita.

Pesan sekaligus nasehat yang memiliki makna yang cukup mendalam bagi kaum Adam, dalam arti untuk serius mengurus dan memperhatikan kaum wanita.

Karena ia akan menjadi sebuah kekuatan yang siap menjadi partner dalam berjuang menggerakkan dan memajukan setiap pergerakan Muhammadiyah.

Nasehat Kyai Dahlan yang disampaikan sekitar satu abad yang lalu, akhirnya betul-betul terbukti. ‘Aisyiyah pada awal berdirinya yang hanya dikawal oleh ibu-ibu dan gadis muda yang setia mendampingi perjuangan Muhammadiyah terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial, saat ini  berkembang menjadi salah satu organisasi wanita terbesar di Indonesia bahkan di dunia.

Jumlah Amal Usaha Miliki ‘Aisyiyah

Hingga  saat ini, di bidang pendidikan, ‘Aisyiyah telah berkembang pesat dengan memiliki  23.772 amal usaha pendidikan dasar dan menengah ‘Aisyiyah, yang terdiri dari 1.385 kelompok bermain, 1.607 satuan PAUD sejenis, 5.717 TK, 8.816 PAUD, 72 tempat pengasuhan anak (TPA) , 1.579 taman pendidikan Al-Qur’an, 18 SD, 5 MI, 4 SMP, 8 Mts, 5 SMK, 3 SMU, 5 MA, 229 madrasah diniyah awaliyah putri, 3 pesantren, 18 sekolah luar biasa, pendidikan non formal sejumlah 4.280, 18 sekolah berkebutuhan khusus, dan kelompok pendidikan pendidikan keaksaraan fungsional sejumlah 3.904.

Pada usia yang telah seabad lebih, ‘Aisyiyah bahkan telah merambah ke amal usaha di tingkat perguruan tinggi. Di mana, sampai saat ini, ‘Aisyiyah tercatat telah memiliki 13 perguran tinggi dan universitas yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Demikian juga dibidang kesehatan, ekonomi, dan pelayanan sosial  telah mencapai ratusan dan bahkan ribuan yang terus berkhidmat tanpa henti melayani dan memajukan ummat.

‘Aisyiyah dan Covid-19

Wabah Covid-19 yang melanda negeri kita dan bahkan seluruh dunia sejak awal tahun 2020 hingga saat ini belum ada tanda akan berakhir.

Baca Juga  Muhammadiyah Itu Gerakan, Bukan Keyakinan

Sudah ribuan bahkan jutaan korban berjatuhan akibat keganasan virus ini, dan belum ada yang dapat memastikan kapan bencana ini selesai sehingga kehidupan dapat normal kembali.

Akibat pandemi ini, hampir semua kehidupan masyarakat terkena dampak. Mulai kehidupan rumah, lingkungan kerja, kesehatan, ekonomi, pendidikan, politik, hingga kehidupan interaksi sosial kita antara sesama.

Sehingga, mengaharuskan kita berada di kebiasaan pada kehidupan baru atau yang sering disebut new normal. Ke mana-mana wajib memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari pertemuan yang dapat menimbulkan kerumunan.

Di tengah berbagai kepedihan yang dirasakan masyarakat akibat pandemi, ‘Aisyiyah dengan spirit kepedulian menebar kebaikan tiada henti untuk terus melayani.

Berbagai macam kegiatan sosial selama pandemi terus dilakukan secara massif. Bergerak mulai tingkat pusat, wilayah, hingga daerah, cabang dan ranting.

Ta’awun sosial yang ter-implementasi pada pemberian sembako gratis, santunan bagi kalangan lansia, guru honorer, pekerja yang di-PHK, hingga pembagian masker dan hand sanitizer secara gratis. Selain itu, juga pemberian edukasi terkait kehidupan new normal, kataatan mematuhi protokol kesehatan, serta tuntuan beribadah di saat pandemi.

‘Aisyiyah Konsisten di Jalur Gerakan

Pada tanggal 19 Mei 2021, ‘Aisyiyah telah mencapai umur yang  104 tahun. Sebuah umur bila disandingkan dengan usia seorang manusia pastilah sudah sangat sepuh, bahkan sangat jarang dan langka ada orang yang mampu mencapai usia sebanyak itu.

Demikian juga dengan sebuah organisasi, sulit menemukan ada organisasi bilkhusus organisasi kewanitaan yang mampu menggapai usia sedemikian lama. Serta, terus berkembang dengan berbagai macam keunggulan serta keberhasilan yang telah dicapai.

Penulis sebagai anak yang terlahir dari rahim seorang ibu yang hanya aktivis ‘Aisyiyah tingkat ranting, tentu merasa bangga dan bersyukur atas segala capaian, keunggulan, serta kerja amal yang telah di lakukan oleh ‘Aisyiyah selama satu abad lebih.

Untuk itu, di milad yang ke 104 tahun hitungan Miladiyah dan 107 pada bilangan Hijriah, penulis menorehkan beberapa gagasan dalam rangka ikut memeriahkan milad kali ini, diantaranya adalah:

Pertama, ‘Aisyiyah Harus Konsisten di Jalur Dakwah

Bahwa ‘Aisyiyah terlahir dari rahim organisasi dakwah Islam keagamaan Muhammadiyah merupakan patner Muhammadiyah dalam mengembangkan dakwah Islam, terutama dakwah di kalangan perempuan.

Baca Juga  Restorasi Makna Keislaman (1): Membangun Kultur Islam Wasathiyah

Untuk itu ke depan, dakwah ‘Aisyiyah mesti dipupuk dengan kaderisasi (daiyah) serta ulama wanita yang dapat terus mengembangkan risalah yang mulia ini.

Amal usaha yang sudah cukup maju dan berkembang, mesti tetap terjaga dengan nilai-nilai keislaman yang otentik, karena ia merupakan ruhnya pergerakan.

‘Aisyiyah memasuki abad kedua saatnya berpikir bagaimana memiliki pondok-pondok pesantren khusus wanita yang kelak dapat menularkan muballighah, daiyah, serta menjadi ulama yang memiliki kualifikasi tafaqqahu fiddiin yang mumpuni. Sehingga, ‘Aisyiyah terus dapat melebarkan sayap dakwahnya ke seantero nusantara dan bahkan dunia.  

Disadari bersama di kalangan persyarikatan Muhammadiyah apalagi dikalangan organisasi ‘Aisyiyah, makin keringnya ulama wanita yang bisa menjadi sumber rujukan dalam hal pemahaman agama.

Tentu hal ini menjadi PR bersama bagaimana organisasi wanita ini untuk tetap mampu berada di jalur gerakannya sebagai gerakan dakwah ‘Aisyiyah yang mencerahkan.

Gerakan yang mampu menghasilkan kembali wanita-wanita sekelas Siti Walidah, Siti Bariyah, Siti Aisyah, Siti Badilah, Siti Munjiyah, Siti Hayyinah, dan Siti Umniyah.

Mereka para assabiqunal awwaalun di ‘Aisyiyah yang memiliki pemikiran yang berkemajuan, skill organisasi yang mumpuni, namun juga mempunyai pemahaman keagamaan Islam yang mendalam.

Kedua, Konsisten pada Pembinaan Keluarga

Fakta di lapangan, angka perceraian di negeri kita setiap tahun terus mengalami peningkatan. Bahkan ada salah satu daerah harus antri beberapa waktu untuk mengajukan perceraian di pengadilan agama karena begitu banyaknya peminat.

Sebagai negara yang mayoritas muslim, tentu tingginya kasus perceraian menjadi sebuah ironi. Bagaimana tidak, Islam yang sangat menjaga nilai-nilai keutuhan keluarga serta memiliki perangkat yang paling sempurna dalam hal membina keluarga supaya tetap harmonis, justru mayoritas penganutnya berpisah dan bercerai.

Untuk itu, pendidikan dan pembinaan keluarga menjadi hal yang mutlak untuk di pelajari dengan baik. Terutama bagi masyarakat yang akan menikah atau yang telah berkeluarga.

Hal ini penting karena sebagian besar masyarakat memasuki dunia pernikahan hanya bermodal cinta dan dorongan nafsu saja.

Minim pemahaman terkait ilmu, terutama pemahaman bagaimana membangun keluarga yang sesuai konsep Islam supaya dapat menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Baca Juga  Dari Siti Jenar Sampai Thaha: Mereka yang Dibunuh Karena Beda Pikiran

‘Aisyiyah dalam hal ini wajib tampil untuk mengedukasi masyarakat terkait membinaan keluarga. Pengajian-pengajian yang diselenggarakan ‘Aisyiyah kedepan mesti ditingkatkan porsinya dalam hal materi keluarga.

Bagaimana mencari jodoh, membina keluarga, merencanakan keuangan, membina dan mendidik anak, serta memberikan pemahaman dan ilmu serta solusi dalam menghadapi setiap masalah dalam rumah tangga.

Edukasi dapat dimulai dengan membentuk kantor atau biro kunsultasi keluarga di setiap amal usaha ‘Aisyiyah. Tempat ini sebagai wadah untuk menerima keluhan, curhat maupun petunjuk bagi setiap warga yang akan membangun sebuah rumah tangga.

Sekaligus sebagai wadah problem solver untuk memberi jalan keluar apabila ada keluarga yang mengalami masalah dalam rumah tangganya.

Ketiga, Konsisten pada Pembinaan Wanita

Wanita merupakan tiang agama, demikian pepatah yang biasa kita dengar. Merupakan nasehat yang sangat mendalam terkait arti penting seorang wanita.

Bagaimana tidak, dalam sebuah bangunan apabila tiangnya kuat maka akan kuatlah bangunan tersebut. Namun apabila ia rapuh, maka bangunan tersebut dipastikan tidak akan lama berdiri dan berikutnya akan rusak hingga roboh.

Wanita Indonesia yang jumlahnya cukup banyak di negeri ini, sangat penting untuk kuat dan berdaya. Karena dia menjadi tolak ukur kuatnya negara.

Sehingga, pemberdayaan wanita mesti menjadi program prioritas. Karena dari rahim serta didikan wanita yang kuatlah yang akan melahirkan generasi yang unggul dan berkualitas.

Berbagai kegiatan pemberdayaan wanita yang telah dilakukan oleh ‘Aisyiyah mesti terus berlanjut dan ditingkatkan. Kegiatan Bina Usaha ekonomi ‘Aisyiyah (BU EKA) misalnya, telah mampu memberikan dampak positif terhadap ekonomi keluarga serta menigkatkan kesejateraan masyarakat.

Ke depan berbagai kegiatan pemberdayaan yang dilakukan wajib merata di berbagai daerah. Tidak hanya berpusat di perkotaan, namun juga mesti menyasar daerah pedesaan dan tertinggal yang biasa dikenal dengan istilah 3 T (terluar, tertinggal dan terjauh). Sehingga, keberadaan ‘Aisyiyah betul-betul dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Akhirnya, mudah-mudahan segala kebaikan yang telah dan yang akan terus disebarkan oleh ‘Aisyiyah menjadi asbab turunnya rahmat Allah kepada semua pimpinan dan pengurus ‘Aisyiyah di berbagai semua level tingkatan.

Editor: Yahya FR

Furqan Mawardi
5 posts

About author
Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju, Pengasuh Pondok MBS At-Tanwir Muhammadiyah Mamuju
Articles
Related posts
Tajdida

Menjelajah Negeri (1): Kesadaran Pendidikan di Kerinci

6 Mins read
Kisah ini terkait kesadaran pendidikan di Kerinci Hilir. Saat itu, akhir Ramadan awal 1930-an. Seorang remaja berjalan kaki menuju dusunnya di Pulau…
Tajdida

Dari Siti Jenar Sampai Thaha: Mereka yang Dibunuh Karena Beda Pikiran

3 Mins read
Pada hari Jumat di abad ke-15, seusai shalat, masjid Keraton di era Sunan Kudus ramai. Pasalnya, para wali dan pembesar akan memancung…
Tajdida

Menjadi Bangsa Moderat, Inilah Pilar-Pilar yang Wajib Ditegakkan!

3 Mins read
Moderasi Beragama – Pidato ketua umum PP Muhammadiyah pada kesempatan lalu memberikan sinyal bahwa kondisi bangsa kita belum sepenuhnya beranjak dari persoalan…

Tinggalkan Balasan