Dari Siti Jenar Sampai Thaha: Mereka yang Dibunuh Karena Beda Pikiran - IBTimes.ID
Tajdida

Dari Siti Jenar Sampai Thaha: Mereka yang Dibunuh Karena Beda Pikiran

3 Mins read

Pada hari Jumat di abad ke-15, seusai shalat, masjid Keraton di era Sunan Kudus ramai. Pasalnya, para wali dan pembesar akan memancung kepala seorang pemikir yang telah dianggap sesat dan menyimpang. Pemikir itu bernama Siti Jenar. Siti Jenar telah tercatat dalam kenangan sejarah sebagai seseorang yang melawan ortodoksi penguasa dan ulama di Jawa.

Seperti Al-Hallaj yang mati mempertahankan keyakinan, ketika mengumandangkan hulul atau fana akan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Hanya dengan dua kata “Ana al-Haqq”, dijustifikasi murtad dengan nasib tragis. Yaitu dipenjara selama delapan tahun dan dihukum gantung. Demikian juga Siti Jenar, tokoh ini pernah dianggap tiruan Al-Hallaj, yang juga mati dihukum karena pendirian tasawuf-nya. 

Kematian Farag Fauda

Di sudut lain, di negara Mesir seorang doktor ekonomi pertanian kelahiran tahun 1945 dibunuh oleh dua pemuda gerakan Jamaah Islamiyah, bertempat di Madinat Al Nashr, Kairo.

Beberapa hari sebelum dibunuh, tanggal 3 Juni, beberapa ulama di Mesir Universitas Al-Azhar mengeluarkan fatwa bahwa Fauda, telah keluar Islam dan menghujat agama. Sebab itu, darahnya halal untuk dibunuh.

Fauda seorang pemikir, pengamat sosial dan pegiat hak asasi manusia tewas di tangan dua pemuda yang tidak lulus perguruan tinggi dan hanya bekerja serabutan tidak memiliki keterampilan.

Dibunuhnya Mahmoud Thaha

Di Khortoum, negara Sudan, Mahmoud Thaha yang berusia 76 tahun pendiri Republican Brother dihukum gantung di depan khalayak publik atas tuduhan telah melakukan bid’ah dan murtad di bawah pemerintahan Jafaar Numeiri.

Sebabnya, ia dianggap telah menentang hukum Islam di negara Sudan.

Islam: Seakan-Akan Menjadi Momok Menakutkan

Meyaksikan kejadian semisal di atas, kadang membuat citra agama Islam sebagai momok yang menakutkan, anti perbedaan, tiranik, dan totaliter.

Baca Juga  Empat Ciri Masyarakat Madani Menurut Nurcholish Madjid

Ayaan Hirsi Ali dalam bukunya, Heretic: Why Islam Needs a Reformation Now pernah mengatakan, “Islam bukan sebuah agama perdamaian”. Pernyataan sensitif ini mengundang kontroversi. Ayaan seorang yang tadinya Islam, berpindah menjadi atheis tentu bukan tanpa alasan. Dengan kata lain menurutnya Islam bersifat legalistik, tanpa kompromi, tertutup.

Jika kita berkaca kepada kisah di zaman nabi Musa dan Firaun, tindakan Firaunisme jelas diharamkan oleh agama Islam. Firaun mengintimidasi rakyatnya yang minoritas untuk percaya pendapatnya soal Tuhan. Meninggalkan keimanan mereka, dan meyakini kekuatan sihir.

Islam Agama Dialog

Islam adalah agama dialog. Berdialog bukan hanya sekedar mengetahui nilai-nilai apa yang terdapat di orang lain, melainkan bagaimana kita sebagai manusia yang memilki perbedaan  dapat mengedepankan nilai-nilai kemanusian dan bagaimana kita dapat merangkul perbedaan-perbedaan tersebut.

Pada satu sisi, Islam memberikan jalan adanya kebebasan berpikir, bersikap, beragama, berpendapat, berbicara, termasuk memanifestasikanya dalam bentuk pengajaran, praktek, pengabdian dan juga membebaskan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi atau ide melalui berbagai media tanpa memperlihatkan batasan.

Lebih lanjut Al-Qur’an mengajak umat manusia untuk senantiasa memikirkan dan menguji putusan seseorang. Al-Qur’an melarang taklid buta, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dasar bagi setiap orang hal ini merupakan ajakan untuk mengungkapkan pikiran dan pengujiam terhadap kemampuan akal seseorang, memastikan adanya kebebasan bersikap dan berbicara.

Sebagaimana firman Allah Swt: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi”.

Penafsiran Ashgar Ali Engineer

Asghar Ali Enginner menafsirkan ayat ini memiliki relasi kuat antara Islam dan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga  Meneropong Tantangan dan Problematika Dakwah Islam

Pernyataan Al-Qur’an bahwa membunuh seseorang sama dengan membunuh seluruh manusia, dan menyelematkan seseorang sama dengan menyelamatkan seluruh manusia, merupakan makna yang tinggi dari sudut pandang hak asasi manusia.

Jelaslah jika seseorang tidak memiliki rasa hormat kepada seluruh kehidupan individu, maka dia tidak mempunyai rasa hormat kepada kehidupan manusia. Dan jika dia menghormati kesucian suatu individu, maka dia telah menghormati segala kesucian kehidupan seluruhnya.

Kemudian, Al-Qur’an sama sekali tidak membolehkan menghilangkan nyawa seseorang tanpa alasan yang dibenarkan. Hak hidup sangat fundamental.

Ali Enginner juga mengatakan bahwa esensi piagam Madinah menekankan kebebasan, kesetaraan, dan martabat manusia.

Pasal ini juga menekankan sejatinya umat manusia harus menciptakan persaudaraan, memberikan hak hidup, dan hak keamanan bagi setiap orang. Hak untuk hidup adalah hak yang paling mendasar. Hanya dengan menghormati hak inilah, hak-hak yang lain itu dapat bermakna.

Dalam tulisan ini saya mengajak pembaca selalu berupaya menggunakan cara-cara damai dalam menangani dan menyelesaikan masalah.

Bertukar pikiran dan berdialog adalah proses tanpa ujung. “Agresi tidak dapat dibenarkan. Diskusi, bukan kekerasan, adalah cara menangani perbedaan pandangan.

Wallahu a’lam bishawab.

Editor: Yahya FR

Avatar
9 posts

About author
Mahasiswa Jurusan Falsafah & Agama, Pengelola Taman Baca Tambo Pustaka, Komunitas Generasi Gemilang dan Aktivis Pelajar Islam Indonesia.
Articles
Related posts
Tajdida

Menjelajah Negeri (1): Kesadaran Pendidikan di Kerinci

6 Mins read
Kisah ini terkait kesadaran pendidikan di Kerinci Hilir. Saat itu, akhir Ramadan awal 1930-an. Seorang remaja berjalan kaki menuju dusunnya di Pulau…
Tajdida

Menjadi Bangsa Moderat, Inilah Pilar-Pilar yang Wajib Ditegakkan!

3 Mins read
Moderasi Beragama – Pidato ketua umum PP Muhammadiyah pada kesempatan lalu memberikan sinyal bahwa kondisi bangsa kita belum sepenuhnya beranjak dari persoalan…
Tajdida

Masyarakat Dusun Sarapati: Penghayat Kejawen yang Sukses Menerapkan Nilai-Nilai Toleransi

4 Mins read
Multikulturalisme Masyarakat Indonesia Dusun Sarapati – Indonesia memiliki masyarakat dengan kepercayaan berbeda-beda (pluralisme) dan beraneka ragam budaya (multikulturalisme). Hal itu-lah yang menjadi…

Tinggalkan Balasan