back to top
Jumat, Juni 5, 2026

Eco Bhinneka Muhammadiyah Dorong UMKM Hijau Lewat Kolaborasi Pemuda Lintas Iman

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Di tengah tantangan ekonomi dan isu keberlanjutan lingkungan yang semakin kompleks, sebuah model pemberdayaan baru lahir dari Banyuwangi yang dilakukan pemuda lintas iman. Bukan hanya berfokus pada peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga membangun kolaborasi lintas agama sebagai kekuatan sosial untuk mengembangkan usaha mikro berbasis potensi lokal.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui program Youth Interfaith Branding Ecosociopreneur yang diselenggarakan SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi pada Selasa (2/6/2026). Program ini mempertemukan pelaku UMKM, pemerintah daerah, serta pemuda lintas iman dalam satu ruang kolaborasi untuk memperkuat daya saing produk desa di era digital.

Kegiatan berlangsung di Pusat Layanan Kemasan Kabupaten Banyuwangi dan Osing Deles dengan fokus pendampingan kepada pelaku usaha lokal Desa Temurejo yang mengembangkan produk olahan buah naga.

Focal Point SMILE Eco Bhinneka Banyuwangi, Zahrotul Janah, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, dan pembangunan harmoni sosial.

Menurutnya, potensi lokal tidak akan berkembang maksimal tanpa dukungan branding yang kuat dan kolaborasi yang melibatkan banyak pihak.

“Buah naga adalah komoditi lokal, dikembangkan oleh warga lokal menjadi selai buah naga kemudian peran pemuda lintas agama dari pemuda Hindu dan Katolik di sini sangat krusial untuk membranding produk lokal Desa Temurejo agar bisa membahana luas. Dari dapur kecil Mbak Indri, kita gaungkan dan branding secara digital agar memiliki nilai jual tinggi, sejalan dengan program Bupati Banyuwangi,” ujar Zahrotul.

Baca Juga:  Wakaf Hijau sebagai Jalan Merawat Bumi

Kolaborasi Pemuda Lintas Iman untuk Ekonomi Berkelanjutan

Program ini mendapatkan apresiasi dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi. Kepala Bidang Usaha Mikro Diskop Umdag Banyuwangi, Cici, menilai keterlibatan pemuda lintas iman menjadi pendekatan yang efektif dalam memperluas jangkauan informasi dan pemasaran UMKM.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah saat ini terus memperkuat dukungan terhadap sekitar 207 ribu UMKM melalui berbagai program pendampingan dan fasilitasi legalitas usaha.

“Saya sangat bangga pemuda-pemudi ini menggandeng teman-teman lintas agama dan perangkat desa sehingga penyebaran informasi UMKM jauh lebih cepat merambah market digital,” tuturnya.

Selain membahas legalitas dan desain kemasan, para peserta juga menyusun strategi pemasaran berbasis digital. Berbagai ide muncul dari perwakilan komunitas lintas agama yang terlibat.

Marko dari Peradah Hindu Temurejo menyoroti peluang besar platform e-commerce seperti TikTok Shop dan Shopee. Sementara Pandu dari Pemuda Katolik mengingatkan pentingnya standarisasi produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Di sisi lain, Abel dari Peradah Hindu menekankan pentingnya memperkuat pasar lokal sebagai fondasi sebelum melakukan ekspansi digital secara masif.

Diskusi semakin lengkap ketika tim Osing Deles mendorong pemanfaatan identitas budaya Banyuwangi dalam desain kemasan produk agar memiliki nilai tambah di sektor wisata.

Kolaborasi yang terbangun dalam program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak hanya berbicara soal keuntungan usaha, tetapi juga tentang membangun solidaritas sosial, memperkuat toleransi, dan menghadirkan solusi bersama bagi masyarakat.

Baca Juga:  10 Provinsi Perkuat Kerja Sama Baru: dari Energi, Giant Sea Wall hingga Sampah

Melalui pendekatan tersebut, Banyuwangi menghadirkan contoh bagaimana keberagaman dapat menjadi modal sosial untuk menciptakan UMKM yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru