Fatima Mernissi dan Pemikirannya tentang Perempuan

 Fatima Mernissi dan Pemikirannya tentang Perempuan

Ilustrasi: Illustrated Women in History

Perempuan selalu menarik untuk didiskusikan dan selalu menarik perhatian, terlebih lagi jika yang dibicarakan berkaitan dengan pergerakan di manapun keberadaannya. Islam yang dikenal sebagai agama rahmatan lil’alamin dalam Al-Qur’an surah al-Anbiya ayat 70 menjelaskan bahwa Allah Swt. dalam melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh alam, tak terkecuali kepada laki-laki dan perempuan. Hal inilah yang memantik Fatima Mernissi untuk mengkajinya secara mendalam.

Namun dalam lingkup diskursus feminis muslim, perbedaan fisik dan biologis secara kodrati antara laki-laki dan perempuan tidak lagi menjadi persoalan. Karena dianggap sebagai upaya mengintervensi wilayah kekuasaan Tuhan. Perbedaan tersebut yang memunculkan gerakan feminisme dan dalam lingkup akademis muncul pula istilah analisis gender.

Fatima Mernissi dan Pendidikannya

Fatima Mernissi adalah seorang feminis muslim yang lahir di Kota Fez, Maroko Utara pada tahun 1940. Ia berasal dari keluarga kelas menengah di sebuah harem. Di lingkungan harem banyak yang merasa terkungkung di sana. Sebagian anggota keluarganya yang perempuan menganggap hal tersebut tidak masalah. Sebagian lagi, termasuk ibunya, protes terhadap pemisahan ruangan antara keluarganya dan keluarga pamannya, dan mereka merupakan kelompok anti harem.

Di luar lingkungan keluarganya, Mernissi mendapatkan pendidikan tingkat pertama di sekolah tradisional yang didirikan golongan nasionalis. Menginjak dewasa, Mernissi merasakan kebutuhan untuk mengumpulkan informasi tentang hadis yang menurutnya menyudutkan kaum perempuan (misogisnis). Kemudian ia mencari nash-nash tersebut untuk dapat dipahami dengan baik.

Perjalanan intelektual selanjutnya ia dapatkan di Universitas Mohammed V di Rabat, Mernissi mengambil program ilmu politik. Kemudian ia melanjutkan ke Paris dan menyelesaikan prgram doktornya dalam bidang sosiologi di Universitas Brandeis pada tahun 1973, di mana Beyond The Veil adalah hasil disertasinya. Karya-karya yang telah ia hasilkan memberikan perhatian besar berkaitan dengan pola hubungan laki-laki dan perempuan serta dominasi dalam sistem patriarki.

Kesetaraan dalam Islam Menurut Mernissi

Islam sangat mengafirmasi kesetaraan laki-laki dan perempuan. Hal ini didasarkan pada gagasan monoteisme (tauhid) yang tidak hanya bermakna personal, tapi juga sosial. Ide monoteisme mengimplikasikan prinsip kemerdekaan manusia yang berarti juga adanya prinsip kesetaraan manusia secara universal.

Surah al-Ahzab ayat 35 turun sebagai respon Allah terhadap protes perempuan yang dilakukan oleh Ummu Salamah terhadap Nabi yang menganggap Allah tidak memperlakukan perempuan sama dengan laki-laki. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang bicara tentang laki-laki, namun tidak satu pun yang berbicara tentang perempuan.

Ayat lain yang juga turun karena protes Ummu Salamah adalah Surah ali-Imran ayat 195. Ummu Salamah mempertanyakan mengapa hanya kaum laki-laki yang hijrah saja yang disebut dalam Al-Qur’an? Sementara perempuan juga melakukan hijrah? Ummu Salamah merupakan salah satu perempuan yang ikut hijrah Nabi sebanyak dua kali untuk mendukung perjuangan Islam, yakni dari Mekkah ke Ethiopia dan dari Mekkah ke Madinah.

Ayat tersebut melengkapi ayat-ayat lain tentang kesetaraan manusia, menunjukkan visi dan misi Islam untuk menegakkan dan memberi kepastian secara mutlak terkait dengan kesetaraan seksual. Di ruang publik atau ranah sosial politik, perempuan juga memiliki tanggung jawab sosial untuk memperjuangkan reformasi sosial dan sekaligus mendapatkan balasan atas tindakannya tersebut sama seperti laki-laki.

Nilai kesetaraan sosial ini kemudian diperkuat dengan hadirnya surah an-Nisa’ yang berbicara tentang pemihakan Islam terhadap kaum perempuan yang selama ini dimarginalkan dalam tradisi Arab pra-Islam.

Pemikiran Sang Feminis Muslim

Secara historis, perempuan telah berpartisipasi di dalam ruang publik dan ikut mewarnai kontestasi politik di dalam sejarah peradaban Islam. Peran publik ini seringkali diabaikan oleh mainstream intelektual dan masyarakat Islam, karena adanya kepentingan politis tertentu untuk menjaga kelangsungan status quo atau dominasi laki-laki.

Bias politis dalam sejarah dirasakan oleh Fatima Mernissi yang menurutnya telah mengeliminir atau bahkan memelintir peran aktif perempuan dalam ruang publik. Contoh yang par excellent dalam konteks ini adalah Aisyah.

Menurut sebagian orang, baik itu yang fundamentalis atau bahkan yang mengaku reformis, keterlibatan Aisyah dalam persoalan politis kekuasaan dianggap mewakili citra buruk feminitas yang tidak puas pada status ibu atau istri yang baik. Jamaluddin al-Afghani yang dipandang sebagai pioner reformis Islam, yang menganggap keterlibatan Aisyah dalam persoalan politis justru menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam.

Sebagai antitesis terhadap pandangan yang minor terhadap perempuan, Mernissi menegaskan bahwa Islam mengafirmasi ide tentang individu sebagai subjek yang memiliki kebebasan dan kesadaran untuk berdaulat yang akan tetap ada selama masih hidup. Feminis muslim yang satu ini juga mengajak umat Islam untuk menelusuri kembali sejarah Islam yang banyak diwarnai oleh partisipasi perempuan bukan sebagai obyek sejarah, tapi sebagai subyek sejarah.

Berbasis pada berbagai sumber dan karya sejarah yang ditulis oleh para ilmuwan, para perempuan memiliki peran yang sangat signifikan dalam formasi kebudayaan dan peradaban Islam. Tidak hanya dalam bidang politik saja, tapi juga sosial, budaya, dan sebagainya.

Dalam bukunya The Veil and the Male Elite, Mernissi mendeskripsikan perempuan yang aktif dan memiliki kapasitas intelektual yang tinggi, sehingga mampu berkiprah di ruang publik. Khadijah, istri pertama Nabi misalnya, memiliki inisiatif yang tinggi baik di ruang domestik maupun publik sehingga berhasil dan sukses di kedua ruang tersebut. Dia tidak hanya menjadi penasehat Nabi tapi juga berhasil menjadi wiraswata di dunia perdagangan.

Perempuan Teladan Lainnya

Perempuan lain yang aktif menyuarakan persoalan perempuan dan ketimpangan gender adalah Ummu Kajja. Hukum waris Islam yang memberikan bagian bagi perempuan, mendapatkan respon negatif dari kaum laki-laki yang masih tetap mempertahankan pembagian warisan ala jahiliyyah. Yakni, tidak memberikan hak waris terhadap perempuan. Kondisi ini yang menimbulkan protes Ummu Kajja karena ia tidak mendapatkan hak waris dari harta suaminya yang meninggal.

Hindun binti Utba adalah salah satu perempuan Mekkah yang paling menentang dakwah Nabi yang terkenal dengan lagu dan tarian yang dimainkannya di perang Uhud. Perannya di perang tersebut tidak dalam kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga, namun sebagai partisipan yang berusaha mendorong laki-laki yang berperang untuk bertempur sampai mati dan berani mati di medan perang.

Kemudian Nussaiba binti Ka’ab, banyak disebutkan peran dan kontribusinya dalam buku-buku sejarah. Ia selalu terlibat dalam peperangan yang diikuti Nabi, apalagi kalau pasukan Islam hampir mengalami kekalahan. Ia akan langsung mengambil posisi di dekat Nabi untuk melindungi beliau.

Dalam Tarikh Madinat Dimashqi (History of the City of Damascus), Ibnu ‘Asakir menyebutkan, salah satu nama perempuan yang populer di antara 198 perempuan dalam sejarah Islam ialah Nawar. Ia merupakan seorang budak perempuan yang ahli dalam bernyanyi. Diutus oleh al-Walid bin Yazid bin Abd al-Malik, seorang khalifah Umayyah ke 12 yang berkuasa pada awal tahun ke 2 H, untuk menggantikannya sebagai imam dan sekaligus menyampaikan khutbah Jum’at. Bahkan di mana pun raja berada, Nawar pasti ada disampingnya.

Editor: Nirwansyah/Nabhan

Dinda Sukma Damayanti

Mahasiswa UIN Sumatera Utara Medan, Program Studi Manajemen Dakwah. Sekretaris Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PC IMM Kota Medan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.