Generasi Baru Muhammadiyah-NU

 Generasi Baru Muhammadiyah-NU                  Ilustrasi. Sumber: Facebook penulis            
Oleh: Ahmad Muttaqin Alim*

“Ini orang Muhammadiyah atau NU sih, kok pamer foto ziarah kubur? Pakai peci dan sarung, lagi!”

Mungkin ada yang mikir begitu saat lihat foto saya ini. Kalau ada yang mikir begitu, saya akan menggolongkannya sebagai generasi Muhammadiyah-NU zaman old.

Generasi old berpikir secara terkotak-kotak: kalau ziarah orang NU, kalau seminar orang Muhammadiyah; kalau pesantren orang NU, kalau sekolah orang Muhammadiyah; kalau hijau orang NU, Muhammadiyah tentu biru; kalau tahlil dan yasin itu NU, kalau pengajian Muhammadiyah; sarungan itu NU, pantalon (celana) itu Muhammadiyah; NU pakai sayyidina, Muhammadiyah nggak. Dan masih banyak hal lain yang dinisbatkan ke masing-masing ormas ini secara common sense yang pada zaman sekarang sesungguhnya sudah kadaluwarsa bahkan keliru.

Kok kadaluarsa? Semua itu sebenarnya hanya stigma-stigma yang tidak faktual, yang hanya ada di benak saja. Faktanya, coba cek di putusan Muhammadiyah yang merujuk pada hadits sahabat Buraidah, bahwa ziarah itu dianjurkan bahkan kalimatnya cenderung memerintahkan.

Muhammadiyah juga pakai sarung, juga punya pondok pesantren. Lambangnya berlatar belakang hijau dan biasa saja memakai sayyidina. Sebaliknya, orang NU pakai celana, juga punya universitas, punya sekolah, punya rumah sakit, juga bikin seminar, dan yang lainnya

Tapi pikiran kita masih saja terkotak-kotak oleh sekat asumsi dan cerita-cerita orang yang juga mendapatkan cerita dari orang zaman old.

Kalau dirunut-runut, dikorek-korek, selalu saja perseteruan dan perbedaan itu dibahan-bakari oleh urusan politik: soal masyumi-NU lah, soal sikap Soeharto terhadap NU-Muhammadiyah, soal Amien Rais-Gus Dur lah; soal posisi menterilah dan seterus-seterusnya… yang semua itu sebenarnya tidak dialami oleh generasi milenial. Namun terus saja ditularkan turun-temurun, sehingga langgeng dan urusan yang kecil jadi terasa besar.

Baca Juga  Islam Enteng-entengan Ala Pak AR

Kisah Buya HAMKA dan Kiai Idham Chalid

Soal perbedaan fikih itu juga sebenarnya hanya furu’ dan sederhana yang amat bisa dipahami kalau belajar ushul fikih. Yang ribut menuduh orang lain melakukan bid’ah mungkin juga tidak belajar ini, padahal yang dituduh juga sebenarnya anti bid’ah. Perbedaan hanya pada sudut pandang dan penerapan yang, sekali lagi, itu soal furu’.

Andai toh perbedaan itu tetap ada, juga bukan alasan untuk munculnya kebencian. Tentu kita ingat bagaimana sikap Buya HAMKA dan Kyai Idham Chalid dalam hal shalat, salah satu ibadah mahdlah.

Syahdan, dulu KH. Idham Chalid pernah satu kapal dengan Buya HAMKA dengan tujuan yang sama menuju tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Di saat hendak melakukan shalat Shubuh berjamaah, KH. Idham Chalid dipersilakan maju untuk mengimami.

Pada rakaat kedua, KH. Idham Chalid tidak pakai Qunut Shubuh, padahal Qunut Shubuh bagi kalangan NU suatu kemestian. Semua makmun mengikutinya dengan patuh. Seusai salat Buya Hamka bertanya: “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca Qunut.”

Jawab KH. Idham Chalid: “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Keesokan harinya, pada hari kedua, Buya Hamka yang giliran mengimami shalat Shubuh berjamaah. Ketika rakaat kedua, Buya Hamka mengangkat kedua tangannya, beliau membaca doa Qunut Shubuh yang panjang dan fasih. Padahal bagi kalangan Muhammadiyah Qunut Shubuh hampir tidak pernah diamalkan.

Seusai shalat, KH. Idham Chalid pun bertanya: “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa Qunut Shubuh saat mengimami salat?”

“Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka.

Baca Juga  Muhammadiyah bukan Wahhabi: Empat Fakta Sejarah!

Cerita makin mengharukan, saat keduanya kemudian berpelukan. Itu dalam ibadah mahdlah, lho.. dimana soal bid’ah sangat ketat. Apalagi dalam hal ghoiru mahdlah yang tidak ada soal bid’ah di dalamnya, kan?

Jadi sebenarnya masalah yang timbul dari berbedaan ditujukan dan perseteruan generasi old tidak perlu dilanggeng-langgengkan dan ditular-tularkan pada generasi milenial, generasi baru Muhammadiyah-NU.

Generasi Muhammadiyah – NU

Kalau yang sudah terlanjur ketularan dan menularkan, ya mari kita bersihkan sikap kita. Eliminasi semua itu dari ceramah-ceramah kita, postingan-postingan kita. Tak perlu ada sindir-menyindir, yang efeknya sama saja, menularkan perseteruan dan kebencian pada generasi baru.

Wahai generasi old
Generasi milenial atau “Digital Native” itu hidup di zaman yang sudah berbeda dengan zamanmu. Ketahuilah, zaman digital itu zaman kreasi dan kolaborasi, bukan kompetisi. Keberhasilan hidup sudah merupakan hasil kerja sama, bukan persaingan.

Ya mungkin wajar kamu tidak paham, wong kamu generasi kertas, bukan generasi digital. Paling banter kamu adalah “Digital Migrant“, generasi kertas yang terpaksa masuk era digital.

Jadi jangan tularkan kebencian-kebencianmu perseteruan-perseteruanmu, stigma-stigmamu dan ketidak-mampuanmu bekerjasama dengan orang lain itu kepada generasi milenial.

Saatnya dorong, sambut, dan songsong generasi baru, generasi Hybrid Muhammadiyah-NU.

*) Santri Nogotirto


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *