Inspiring

Hilman Latief, Pakar Filantropi Islam Dilantik Menjadi Dirjen Haji: Apa Pertimbangan Gus Yaqut?

3 Mins read

Hilman Latief – Prof. Hilman Latief, MA, Ph.D dilantik menjadi Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag RI. Kang Hilman adalah seorang akademisi-aktivis filantropisme lintas agama yang memiliki latar belakang organisasi keagamaan Muhammadiyah, organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia.

Kang Hilman adalah seorang santri Dar al-Arqom Muhammadiyah, Garut, Jawa Barat yang menyelesaikan pendidikan sarjana pertamanya di bidang perbandingan agama di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Sementara itu, sarjana keduanya diselesaikan dua kali: yakni di bidang Kajian Lintas Agama dan Budaya di Universitas Gadjah Mada dan di Western Michigan University, Amerika. Sedangkan sarjana ketiganya diselesaikan di Utrecht University, Belanda, di bidang filantropisme antar agama.

Setelah mendapatkan gelar doktor falsafah (PhD), ia menjadi Guru Besar di bidang Filantropisme Islam. Prof Hilman kemudian diangkat sebagai Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Di samping itu, ia adalah Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Komitmen Gus Yaqut dan Reformasi Kemenag

Sejak Gus Yaqut (Yaqut Cholil Qoumas) dikukuhkan menjadi Menteri Agama Republik Indonesia, ada dua hal yang terlihat kuat dari komitmennya. Pertama adalah masalah moderasi beragama dan yang kedua terkait perbaikan tata kelola organisasi. Dua tugas ini pula yang sebenarnya dititipkan oleh Presiden Joko Widodo kepadanya.

Namun untuk mengeksekusi tugas penting tersebut, nampaknya Gus Yaqut perlu para pasukan khusus yang mampu bekerja secara cepat dan akurat. Pendek kata, beliau perlu pasukan tempur yang selama ini memang teruji karena memiliki track record di medan laga yang aktual.

Di bidang haji, Gus Yaqut memerlukan orang yang mampu mengurai benang kusut persoalan per-haji-an sekaligus merespon “program penting” yang terus-menerus digaungkan di Rapim (rapat pimpinan) di Istana Kepresidenan: meredakan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi pasca pandemi. Memang tugas yang tepat, hanya bisa diselesaikan secara tepat oleh orang yang tepat dengan cara yang tepat.

Baca Juga  Membaca Cak Nur dalam 120 Detik

Membaca Pertimbangan Kemenag

Orang dengan keahlian spesifik yang bagaimana yang diperlukan Gus Yaqut di Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah secara lebih sepesifik?

Pertama, tentu orang tersebut harus memiliki kemampuan religius, akademik, dan sosial sekaligus. Harus memiliki keahlian di bidang agama Islam yang mumpuni, baik secara praktis, intelektual, dan akademik.

Kedua, memiliki horizon pemikiran keagamaan, sikap dan perbuatan yang moderat, inklusif, pluralis, namun berkemajuan, gemar berkolaborasi dan berlomba-lomba dalam kebajikan. Ia memiliki latar belakang perjuangan dalam bidang pembangunan tolerasi antar umat beragama.

Dengan kata lain, ia akomodatif terhadap berbagai golongan Islam, baik itu dari lingkungan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad, al-Washliyyah, dan seterusnya, termasuk pula dari berbagai golongan agama-agama lainnya seperti Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan banyak lagi yang lainnya. 

Ketiga, ia mesti menguasai bidang haji (dan umrah), penyelenggaraan, dan manajemen haji, pengelolaan sistem atas penyelenggaraan dan manajemen haji tersebut secara transparan, akuntabel dan bervisi pembangunan sekaligus. Dengan kata lain, memiliki pengalaman dalam pengelolaan bidang keagamaan, sosial-kemanusiaan dan keuangan sekaligus, dengan cara yang jujur, terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

Keempat, memiliki wawasan yang cerdas dalam menghadapi perubahan konteks kehidupan, terutama ketika berhadapan dengan pandemi Covid-19. Di samping itu, ia terlibat secara langsung dalam proses-proses penanganan pandemi tersebut, sesuai dengan bidang yang ditekuninya.

Kelima, ia memiliki pengalaman dan kecakapan dalam mengelola nilai tambah dari “keuangan umat” yang dititipkan melalui tabungan haji dan umrah, menjadi suatu kekuatan ekonomi Islam yang bermanfaat untuk kemaslahatan. Ia mampu memainkan peran di bidang pembangunan ekonomi syariah secara amanah sekaligus bersifat memberdayakan, terutama bagi kaum mustadh’afin.

Keenam, totalitas mengabdi untuk bangsa dan negara Indonesia dengan semangat nasionalisme yang tinggi.

Baca Juga  Suara Adzan Disorot Media Asing, Berikut Aturan Adzan dari Kemenag

Bekal Pengalaman Hilman Latief

Prof Hilman adalah seorang santri, ia merupakan Putera Prof. Dr. H. M. Abdurrahman (Mantan Ketua Umum Persatuan Islam) sepertinya memang dipersiapkan sebagai “pelayan agama” bagi masyarakat sejak belia. Ia berhasil menjadi sarjana studi Islam yang berprestasi, sekaligus menjadi aktivis filantropi.

Selama memimpin Lazis Muhammadiyah, Hilman Latief berhasil mewujudkan LazisMu sebagai lembaga amil zakat yang terpercaya. Ia memainkan peran penting dan strategis dalam tata kelola dan penyelenggaraan sistem Lazismu yang amanah, akuntabel, transparan, sinergis, dan berkemajuan. Tidak heran jika kemudian Lazismu yang ditanganinya dianugerahi Baznas Award pada 2018 dan 2020.

Prof Hilman secara aktif bekerja secara sinergis dengan program-program sentral lainnya, seperti misalnya memfasilitasi keuangan perdamaian, santunan dan pemberdayaan para pengungsi, masyarakat terdampak bencana, serta penanganan Covid-19.

Secara kolaboratif, ia mampu menggerakkan Lazismu bekerja keras dan bersinergi dengan berbagai lembaga penting lainnya seperti Muhammadiyah Aid, Muhammadiyah Disaster and Management Center (MDMC), dan juga Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), serta lembaga-lembaga lainnya.

Dalam bidang dakwah Prof Hilman, juga dikenal sebagai pejuang toleransi. Ia pernah diundang berpidato di hadapan forum antar agama internasional, seperti oleh The Catholic Agency for Overseas Development (CAFOD), Deutscher Caritasverband (DCV), Caritas Italiana dan lembaga sosial ekonomi Katolik, Cordaid yang berpusat di Belanda.

Soal nasionalisme, kiprahnya tak perlu diragukan lagi. Ia adalah eksekutor gagasan penting Dar al-Ahd wa al-Syahadah. Indonesia sebagai negara Pancasila, harus dipandang sebagai negara kesepakatan seluruh anak bangsa dan negara persaksian tempat kita semua mengabdi.

Akhirnya, selamat bekerja Prof Hilman, mengabdi untuk negeri tercinta.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
79 posts

About author
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Direktur Riset RBC Institute A Malik Fadjar.
Articles
Related posts
Inspiring

Merawat Pemikiran Ahmad Syafii Maarif

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Awal tahun 1970-an ditandai dengan babak pembaharuan Islam di tanah air Indonesia. Kemunculan intelektual publik seperti almarhum…
Inspiring

Candra Sihotang, Guru Madrasah Berprestasi yang Pernah Jadi Buruh

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Jika Presiden Indonesia, Joko Widodo punya tagline “Kerja, Kerja, Kerja”, tampaknya slogan “Berjuang, Berusaha, Berprestasi” cocok disematkan kepada Candra…
Inspiring

Maftuhah Mustiqowati, Guru Madrasah Pelopor Peduli Lingkungan

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Seringkali orang akan acuh ketika menemui imbauan untuk mencintai lingkungan, penghijauan bumi, serta upaya-upaya gerakan penanggulangan sampah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *