Hossein Nasr: Menguji Rasionalitas Doa di Tengah Pandemi - IBTimes.ID
Ilmiah

Hossein Nasr: Menguji Rasionalitas Doa di Tengah Pandemi

3 Mins read

Ada sebuah keyakinan dari masyarakat Muslim di desa hingga saat ini, yaitu tentang doa Kyai. Mereka meyakni doa menjadi obat paling ampuh untuk mengobati berbagai macam persoalan. Mulai yang menyangkut lingkungan alam, kemiskinan, ekonomi, dan berbagai macam penyakit-penyakit jiwa manusia.

Doa Sapu Jagat

Oleh sebab itu, apabila mereka ditimpa musibah berupa penyakit, maka mereka berbondong-bondong mendatangi rumah Kyai. Dengan membawa air dalam botol, lalu minta untuk didoa-kan. Tentu saja mereka meyakini lantunan doa-doa yang diucapkan Kyai tersebut merupakan ajaran para Nabi. Doa tersebut juga dianggap relevan dalam berbagai kondisi. Sehingga telah mewakili segala tingkat universal dari semua permasalahan manusia, komunitas, kebudayaan, dan peradaban pada zaman kapan pun.

Sebagai contoh yaitu, doa sapu jagat. Bunyinya, “Rabbana aatinaa fiddunya hasanah…”, maka persoalan apa pun di mana pun dan kapan pun akan tercakup dan tetap relevan.

Akan tetapi, saat ini ditengah pandemi Covid-19, tidak sedikit masyarakat yang meminta suatu “kelegaan” tersendiri. Boleh jadi, ada suatu prolog dan epilog yang berbahasa Arab. Yang mana hal tersebut diambilkan dari tradisi baku, tapi inti rangkaian doa itu dimintakan berbahasa Indonesia dan langsung menyebut realitas persoalan secara polos dan eksplisit pada hari ini.

Dari persoalan diatas, tentu saja mengundang berbagai macam respon. Mulai dari yang tetap melaksanakan tradisi tersebut. Ada juga yang sudah perlahan meninggalkannya dan lebih memilih berobat ke dokter. Selain itu, adapula yang menganggap bahwa perbuatan diatas tidak masuk akal atau tidak rasional. Lalu bagaimana seharusnya umat Islam menanggapi fenomena tersebut?

Tentang Seyyed Hossein Nasr

Seyyed Hossein Nasr lahir di Teheran, Iran, 7 April 1933, dari keluarga terpelajar. Ayahnya Sayid Waliyullah Nasr adalah seorang dokter dan pendidik pada dinasti Qajar (1794-1925 M). Kemudian diangkat sebagai pejabat setingkat menteri pada masa dinasti Reza Syah (1944-1979 M).

Baca Juga  Kuntowijoyo dan Perkembangan Ilmu Sosial Profetik

Pendidikan awal Nasr, dijalani di Teheran. Selain itu, ia juga mendapatkan pendidikan dari orang tuanya yang menanamkan disiplin keagamaan secara ketat. Kemudian beliau belajar di Qum dalam bidang al-Quran, syair-syair Persia klasik dan Sufisme. lalu melanjutkan pendidikannya di Massachusetts Institute of Technologi (MIT), AS, dan meraih gelar B. Sc., dalam bidang fisika dan matematika teoritis, tahun 1954. Ditingkat selanjutnya, beliau meraih gelar M. Sc., dalam bidang geologi dan geofisika dari Harvard.

Berdasarkan hal diatas, Syed Hossein Nasr dikenal sebagai salah satu dari sedikit diantara ilmuan Muslim yang memiliki keahlian dalam kajian Islam. Selain itu, beliau juga mampu menembus hambatan-hambatan ilmiah dan non-ilmiah dalam Islam. Metode pengkajiannya-pun dilakukan dengan cara obyektif dan jujur.

Pandangan Nasr Perihal Doa

Menurut Sufisme Syed Hossein Nasr, kemampuan berbicara memiliki dua fungsi yang esensial: untuk menyampaikan aspek kebenaran tertentu, atau untuk berdoa. Yang pertama berhubungan dengan fungsi kalam Tuhan sebagai pembawa wahyu. Sedangkan yang kedua berhubungan dengan kekuatannya untuk menciptakan dunia oleh “Nafas yang pengasih” (nafs al-rahman).

Secara esensial doa adalah mengingat Tuhan (dzikir), yang menjadi dasar untuk membangunkan diri dari kealpaan (kesalahan). Doa pun menjadi cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sebab telah dinyatakan dalan Al-Qur’an: “Karena itu ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingatmu”. (QS. al-Baqarah: 52).

Seperti halnya juga yang terdapat dalam Hadits Qudsi sebagai berikut: “Ia yang menyebut nama-Ku dalam dirinya akan Ku-sebut dalam diri-Ku, dan ia yang menyebut nama-Ku di dalam kelompok akan Ku-sebut dalam kelompok yang lebih baik (yaitu Surga).
Melalui doa atau dzikir (mengingat Allah), manusia menyadari kebajikan spiritual dan akhirnya terbangun dari semua impian. Menyadari sifat dan dirinya yang sebenarnya, diatas dan diluar semua kekurangan dan keterbatasan. Jika sebelumnya ia menjadi manusia (insan) karena kealpaannya (nisyan), maka sekarang ia menjadi insan dalam arti sebenarnya karena dirinya dekat (uns) kepada Tuhan.

Baca Juga  QS al-A'la Ayat 1-5 dan Budaya Akademik

Setelah mengingat Tuhan melalui doa, maka dengan sendirinya akan memikirkan orang lain secara keseluruhan atau tidak sama sekali. Dengan memikirkan beban orang akibat pandemi ini, maka akan melahirkan kemurahan hati untuk selalu berbuat baik, sekaligus mengangkat beban yang berat dari jiwa hewaninya (al-nafs al-amarah).

Ketika Allah SWT berfirman: Ana i’nda dhonni ‘abdi bii_ artinya “Aku (Tuhan) bersemayam di dalam prasangka hamba-Ku atas-Ku”. Dari ayat tersebut, terdapat pesan dan doa bahwa, apabila seseorang pergi ke-keramaian manusia memakai masker karena berprasangka akan bertemu dengan orang yang takut ditulari penyakit olehnya, maka Allah membuka kemungkinan bahwa terdapat orang dari kerumunan itu yang berpenyakit.

***

Akan tetapi, apabila memakai masker dengan kerendahan hati dan takut orang lain yang berkerumun tertulari penyakit yang kita bawa. Maka Allah menghormati tawadukmu dan sikap “rumangsamu” dengan membebaskan kalian semua dari penyakit yang kalian takutkan.

Oleh sebab itu,, dapat diambil kesimpulan bahwa doa menjadi elemen yang paling penting bagi umat Islam. Sebab posisinya yang esensial, yaitu sebagai cara mengingat Allah (dzikir) dan juga sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Yang pada akhirnya menciptakan kemurahan hati dan sikap untuk meringankan sekaligus membantu kerabat, saudara dan keluarga yang terdampak pandemi ini.

Editor: Nirwansyah

Avatar
3 posts

About author
Asep Saepullah adalah mahasiswa pasca sarjana Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2019
Articles
Related posts
Ilmiah

Perbincangan Seputar Penetapan Awal Ramadhan

4 Mins read
Dua Mazhab Penetapan Awal Ramadhan Ramadhan tidak lama lagi akan tiba. Selain harga sembako, yang selalu menjadi tren pemberitaan menjelang Ramadhan adalah…
Ilmiah

Islam Agraris: Sebuah Dimensi Keislaman Jawa

4 Mins read
Islam sebagai sebuah agama, pada faktanya, telah berhasil untuk terus berkembang hingga saat ini. Islam yang pada awalnya hanya dikenal di kawasan…
Ilmiah

Kiri Islam, Alternatif Menghadapi Superioritas Barat

4 Mins read
Hassan Hanafi bukanlah nama yang asing di telinga para akademisi. Apalagi bagi kita yang gemar membaca karya-karya tentang pembaharuan dalam Islam. Hassan…

Tinggalkan Balasan