Islam Maju Karena Peradaban Ilmu - IBTimes.ID
Tarikh

Islam Maju Karena Peradaban Ilmu

4 Mins read

Perkembangan Zaman yang Begitu Pesat

Disadari atau tidak, saat ini kita sedang menjalani proses zaman super maju. Terutama dalam bidang teknologi yang begitu canggih. Hal itu telah berhasil memudahkan proses kehidupan manusia sehingga dapat berjalan dengan lebih baik.

Begitupun dalam tatanan budaya, mode dan gaya hidup, sampai cara mencari kesenangan dan kebahagiaan sudah berpindah pola dari era konvensional menuju digitalisasi terkoneksi.

Hal yang wajar bila menyebutkan Barat dalam lingkup sentralnya. Amerika dan Eropa telah menjadi kiblat kita dalam “bermazhab” di kehidupan saat ini. Karena sebagaimana dikatakan Dr Badri Yatim, salah satu guru besar UIN Jakarta bahwa “Peradaban adalah manifestasi dari mekanis dan teknologis”. Yang biasa oleh cendekiawan diterjemahkan bahwa bukti dari peradaban adalah kontribusi kemanfaatan dalam memudahkan teknis kehidupan. Dan yang memimpin dalam hal ini adalah Barat.

Sumbangan Umat Islam dalam Keilmuan

Sudah sepatutnya kita berterimakasih atas kemajuan teknologi Barat yang sudah banyak menuntaskan problematika umat manusia. Namun perlu diketahui juga, ternyata dalam prosesnya, umat Islam berperan penting dalam sumbangsih menegakkan pondasi khazanah keilmuan yang menjadi pijakan Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan saat ini.

Sebelum Renaissance atau kebangkitan Barat di abad ke 16, ternyata Islam telah terlebih dahulu maju dan menunjukan kegemilangannya. Dimulai abad ketujuh sampai ke sepuluh. Marilah seksama kita lihat perbandingannya.

Keadaan Barat dan Eropa Dahulu Kala

Pada waktu itu di Barat dan Eropa, dalam karya sejarah umum Levis dan Rambou yang dikutip oleh Prof Dr Raghib As Sirjani dijelaskan, Inggris Anglo-Saxon pada abad ke 7 sampai ke 10 merupakan negeri yang tandus, kumuh, dan terisolir.

Rumah-rumah dibangun dengan batu yang kasar dan tidak dipahat. Dibangun di dataran rendah, berpintu sempit, dinding dan temboknya tidak berjendela.

Baca Juga  Islam Agama Intelektual Sejak Kelahirannya

Digambarkan pula, mereka tidur di satu ruangan, senjata mereka ditaruh di atas kepala mereka masing masing. Karena pencuri dan perampok sadis selalu berkeliaran, sehingga setiap orang dituntut untuk selalu waspada.

Di Barat dan Eropa kala itu penuh dengan hutan belantara, sistem pertaniannya terbelakang. Di rawa-rawa pinggiran kota tersebar bau busuk yang menyengat. Rumah-rumah di Paris dan London dibangun dari kayu dan tanah yang dicampur jerami dan bambu. Permadani sama sekali belum dikenal.

Mereka tidak mengenal kebersihan. Kotoran hewan dan sampah dibuang di depan rumah sehingga menimbulkan bau busuk dan menyengat. Dalam satu rumah, laki laki dan perempuan tidur dalam satu ruangan yang diberi alas jerami dan bulu domba.

Jalan-jalan tidak ada penerangan, tidak ada batu pengeras dan masih dipenuhi lumpur. Jauh dari keadaannya sekarang.

Lantas, Bagaimana dengan Peradaban Islam pada Waktu itu?

Coba kita bermain sebentar ke Cordoba pada kurun abad ke 7. Di malam hari, pejalan kaki mendapati cahaya lampu 8 mil tanpa terputus. Lorong-lorongnya dialasi dengan batu ubin.

Cordoba dikelilingi taman hijau. Orang orang biasanya bersenang-senang sebelum pergi ke sana. Penduduknya waktu itu mencapai satu juta jiwa! Yang saat itu daerah-daerah Eropa yang lain penduduknya tak lebih dari 25.000 jiwa.

Jika kita beralih ke Granada, di sana ada istana Al-Hamra yang luar biasa. Ia berada di atas bukit dan menjadi objek wisata dari turis mancanegara. Kota itu tampak menjadi tempat terindah di dunia.

Lain lagi di Sevilla, di kota ini terdapat 6000 alat tenun sutra. Setiap penjuru terdapat kebun zaitun dan tempat pemerasan minyaknya, menjadikan wilayah ini menjadi kota yang gemerlap.

Baca Juga  Masuk Surga dan Neraka karena Seekor Lalat

Belum lagi Baghdad, kota ini mulai dibangun oleh Khalifah Al Mansur dengan mendatangkan insinyur, teknokrat, serta pekerja kasar sampai 100.000 jiwa dengan biaya 4.800.000 dirham.

Yang kelak akan menjadikan daerah ini pusat keilmuan dan melahirkan para ahli di bidang agama, filsafat dan sastra.

Kemajuan ini menurut Al Hassan adalah sebab dari spirit umat Islam dalam pemaknaan kitab sucinya Al-Qur’an secara mendalam dan kontekstual. Banyak ayat yang secara eksplisit mendorong seorang muslim menggunakan akalnya untuk berpikir akan ciptaan Tuhan yaitu alam semesta beserta isinya.

Seperti penggalan ayat terakhir yang berbunyi “afalaa tatafakkarun” atau “afalaa ta’qiluun” yang berarti “apakah kamu sekalian tidak berfikir?”

Faktor Majunya Peradaban Islam

Majunya peradaban Islam juga adalah faktor sikap berfikir kaum muslimin yang kritis dan inklusif (terbuka). Hal ini sebagaimana pernah terjadi pada dinasti Umayyah di mana ratusan buku dari Yunani diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

Para sultan kala itu menyadari penuh akan pentingnya ilmu dalam mewujudkan masyarakat yang Madani. Sehingga Howard t Turner seorang orientalis mengatakan hampir di setiap wilayah Islam pada waktu itu terdapat gerakan arabisasi keilmuan. Yang kemudian darinya banyak didirikan Observatorium dan perpustakaan.

Selain itu, dukungan penuh terhadap ilmuwan yang menjalani riset dan penelitian dilakukan secara “all out” oleh pemerintah kala itu. Pada masa dinasti Abbasiyah misalnya, Sang Khalifah Al-Ma’mun menggolontorkan dana yang begitu fantastis kepada pemikir terkenal Al-Khawarizmi. Sehingga beliau dapat menuntaskan konsep-konsep dan penemuan dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi. Yang paling terkenal darinya adalah penemuan angka nol yang menjadi dasar dalam dunia telekomunikasi.

Faktor faktor tersebut memberikan tamparan keras bagi umat Islam hari ini yang justru terdegradasi dalam segala bidang. Keadaan dan ketertinggalan adalah akibat dari lemahnya integrasi keilmuan dengan agama.

Baca Juga  Kebijakan Khalifah Umar bin Khattab Hadapi Wabah Penyakit

Religiusitas yang Buram

Religiusitas yang harusnya memanifestasikan semangat dalam kemajuan justru tumpul dan berhenti dalam sekat ibadah semata. Tidak menelurkan kemanfaatan bahkan seringkali masih terjebak dalam pertikaian dan permusuhan karena selisih paham.

Kita harus melihat kembali sejarah bahwa Islam pernah menjadi mercusuar peradaban dan keilmuan dengan sumbangsihnya yang begitu besar bagi dunia sampai menjadi manfaat bagi peradaban seterusnya.

Ajaran Al-Qur’an dan sunah sudah sepatutnya dibangkitkan kembali dalam konteks pemaknaan mendalam untuk menggali keilmuan bukan hanya berhenti dalam sekup kerohanian semata.

Menjadi muslim yang sesungguhnya adalah dengan menanamkan tekad yang kuat untuk keilmuan, disiplin etos kerja, serta memiliki budaya maju.

Modernitas, sikap haus akan pengetahuan dan pembaharuan terhadap nilai nilai Islam harus senantiasa terjaga dan terpelihara. sehingga Islam tidak hanya menjadi ritual keagamaan yang kaku, melainkan terwujud menjadi media pembentuk insan Kamil yang tercermin akan intelektualitas, sikap rahmatan lil alamin dan memberi kemanfaatan bagi sesama.

Waallahua’lam bissowab.

Editor: Rozy

Print Friendly, PDF & Email
Muhammad Faris Azkiya
2 posts

About author
Pimpinan Harian Pesantren Al Ghiffari Leuwiliang Bogor.
Articles
Related posts
Tarikh

Refleksi Lebaran (2): Catatan Setengah Abad Clifford Geertz

3 Mins read
Tulisan sebelumnya, klik di sini Lebih jauh dari catatan-catatan itu, ada perubahan penting yang perlu menjadi sorotan. Selain tentu saja, bahwa perbedaan…
Tarikh

Refleksi Lebaran (1): Saat Clifford Geertz Mengamati Puasa dan Lebaran di Indonesia

2 Mins read
Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah telah berlalu. Setelah dua hari raya dikungkung ganasnya pandemi, kini beragam tradisi kembali langgeng kita jalani….
Tarikh

Kiat-Kiat Melakukan Penelitian Sejarah

3 Mins read
Ketika seorang sejarawan hendak menguak misteri yang terjadi di masa lampau, seyogyanya ia harus mengetahui tahapan-tahapan dalam melakukan penelitian sejarah agar dalam…

Tinggalkan Balasan