Tarikh

Islamisasi dan Kolonialisasi Perancis di Republik Afrika Tengah

3 Mins read

Republik Afrika Tengah merupakan negara lebih kecil dari Texas (Amerika Serikat) dan berada di tengah benua Afrika serta terkurung oleh daratan (tanpa wilayah perairan). Republik Afrika Tengah berbatasan dengan negara Chad, Sudan, Republik Demokratik Kongo (Zaire), Kongo, dan Kamerun.

Etnis terbesarnya yaitu Baya, Banda, Manjia, Sara, Mboum, M’Baka, dan Yakoma. Mayoritas animisme (35%), Protestan (25%), Katholik (25%), dan Islam (15%). Bahasa nasional mereka adalah Perancis dan Sangho serta ratusan bahasa lokal.

Islam hadir ke Republik Afrika Tengah saat Islam juga masuk ke Chad pada abad ke-11. Repubik Afrika Tengah berdekatan dengan Chad, Sudan, Kamerun, atau Niger yang banyak dihuni oleh suku Fulani (penganut Islam) yang dikenal loyal dan nomaden.

Saat ini, ada sekitar 40.000 orang Bagirmi Fulani di Republik Afrika Tengah yang 100% adalah penganut Islam. Kemudian Suku Runga (80% penganut Sunni) masuk ke Republik Afrika Tengah pada abad ke-17. Suku tersebut berasal dari lembah sungai Niger dan  menyebar hingga ke Sudan, Chad, dan Republik Afrika Tengah.

Menurut Lewis, bagian pinggiran Afrika Tengah banyak dihuni oleh umat Islam dari kalangan Arab dan pedagang dari kabilah Swahili yang berkunjung ke sana. Islam di pinggiran Republik Afrika Tengah tersebut, juga tidak lepas dari jasa para pedagang Arab yang tinggal di provinsi Karanga dan mendirikan juga kesultanan di sana, oleh karena itulah Islam juga masuk ke wilayah Afrika Tengah (Lewis 2017, 13).

Kondisi Keagamaan Masyarakat Republik Afrika Tengah

Mayoritas masyarakat Republik Afrika Tengah adalah pemeluk Kristen dan animisme. Hanya minoritas Fulbe dan Bororo (atau Mbarara) di utara dan barat laut negara itu adalah Muslim (Tedjomukti 2018).

Baca Juga  Muhammad Abduh (2): Menjadi Guru Besar Al-Azhar di Tengah Gejolak Politik di Mesir

Agama Kristen pertama kali dikenalkan pada zaman penjajahan Perancis sebagai agama kekaisaran. Agama Kristen adalah agama pilihan bagi banyak orang karena kedekatannya dengan pejabat kolonial yang berkuasa dan dihormati pada zaman penjajahan. Sedangkan minoritas penganut Islam di Afrika Tengah termasuk Kenya, dengan pertumbuhan cepat menjadi mayoritas di Uganda.

Jumlah kaum Muslim di Republik Afrika Tengah sekitar 15 persen untuk saat ini, sehingga menjadi agama terbesar kedua di negara tersebut setelah Kristen yang dianut oleh setengah dari jumlah penduduk (25% Protestan dan 25% Katolik), sedangkan sisanya menganut agama-agama lokal (Hizbuz Tahrir n.d.).

Walaupun penganut Islam hanya 15%, akan tetapi mereka berpengaruh dengan menguasai dunia perdagangan karena wilayah yang strategis, namun kejayaan itu sebelum kolonialisiasi Perancis ke Republik Afrika Tengah pada abad ke-19.

Dikarenakan wilayah ini sangat strategis dan tepat berada di tengah Benua Afrika dan dengan kekayaan melimpah berupa hasil tambang Berliannya, sehingga membuat daya tarik ini menyebabkan Republik Afrika Tengah (dahulu bernama Ubangi Shari) menjadi salah satu negara incaran untuk dikolonialisasi oleh Perancis dan Jerman, hingga akhirnya Perancis yang mampu berkuasa di Afrika Tengah.

Kolonisasi Perancis

Kolonial Perancis mulai masuk pada tahun 1885 ketika mereka berhasil menemukan kesultanan Ubangi Shari yang bisa menghubungkan ke jalur Trans-Sahara yang dikenal sebagai penghubung semua aktivitas sosial dan ekonomi di kawasan Benua Afrika.

Namun jalur ini menjadi zona perampokan dan zona pelarian para perampok. Dua zona tersebut menjadikan ketidakstabilan hingga pemantik ketegangan dan keberagaman mobilitas orang-orang sekitar jalur tersebut. Situasi ini tersebut akhirnya membuat Perancis untuk mengkolonialisasi Afrika Tengah (Yosephine 2017, 20).

Gebrakan awal penjajahan dibuat oleh Perancis untuk menguasai Republik Afrika Tengah adalah pembubaran Kesultanan Ubangi-Shari. Sistem kesultanan tersebut menggunakan silsilah keturunan sebagai penerus kekuasaan. Setelah Kolonial Perancis melakukan pembubaran terhadap Kesultanan Ubangi-Shari, akhirnya mereka berhasil membuat pemerintahan koloni sendiri dengan masa penjajahan sekitar 75 tahun lamanya.

Baca Juga  Jamaluddin Al-Afghani (1): Kelahiran, Tanah Air, dan Pendidikan

Republik Afrika Tengah bergabung dengan Chad pada tahun 1905, dan pada tahun 1910 negara ini juga pernah bergabung dengan Gabon dan Kongo Tengah menjadi French Equatorial Africa. Status negara yang kerap berganti-ganti ini pada akhirnya memicu pemberontakan rakyat Republik Afrika Tengah terhadap pemerintahan kolonial Perancis pada tahun 1946. Rakyat menuntut agar Republik Afrika Tengah harus berdiri sebagai negara memiliki otoritas sendiri.

***

Tuntutan tersebut diterima oleh pihak Kolonial Perancis dengan secara resmi menjadi negara republik pada 01 Desember 1958. Namun, walaupun sudah merdeka, negeri tersebut tetap menjadi republik otonom di bawah kekuasaan Perancis, Barthelemy Boganda ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Namun, tahun 1959 Boganda tewas terbunuh terencana.

Pada tahun 1960 muncul pemberontakan kembali terhadap pemerintah koloni Perancis yang dipimpin oleh David Dacko. Alasan utama pemberontakan adalah karena korupsi dilakukan pemerintah Perancis telah merugikan rakyat Afrika Tengah (Yosephine 2017, 20-21).

Perlu diketahui, sejak merdeka dari Perancis pada tahun 1960, Republik Afrika Tengah tidak pernah lepas dari konflik. Mulai dari Presiden David Dacko yang membuat rezim partai tunggal demi menjaga kekuasaannya agar bertahan lama. David Dacko dikudeta oleh Jenderal Jean-Bedel Bokassa dan membuat Bokassa menjadi Presiden kedua. Bokassa memerintah sebagai presiden mulai 1 Januari 1966 sampai 4 Desember 1976 (Kurniawati 2017, 2).

Dengan demikiran, sangat jelas sekali kedatangan Islam dan Kristen di Republik Afrika Tengah masa klasik yang mana kehadiran Islam melalui perdagangan tanpa pertumpahan darah, namun kehadiran Kristen melalui penjajahan dan peperangan, bahkan dampak dari Kolonialisasi Perancis terhadap Republik Afrika Tengah adalah keanjlokan perekonomian dan destabilasasi politik di wilayah tersebut sehingga menjadi pemicu gerakan nasionalisme mereka yang tetapi masih buruk setelah kemerdekaan Republik Afrika Tengah.

Baca Juga  Abdoullakh Anzorov, Kenapa Jadi Radikal?

Referensi

n.d. Hizbuz Tahrir. https://hizbut-tahrir.or.id/2014/02/14/umat-islam-di-afrika-tengah-terancam-musnah/.

Kurniawati, Yuli. 2017. Peran Dewan Keamanan PBB dalam Rangka Penyelesaian Konflik di Republik Arika Tengah. Skripsi, Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Makassar: Universitas Hasanuddin.

Lewis, I. M. 2017. Islam in Tropical Africa. London: Routledge.

Tedjomukti, Ratna Ajeng. 2018. Republika. April 08. Accessed Januari 03, 2020. https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/04/08/p6vi9e313-jejak-islam-di-afrika-tengah.

Yosephine, Silvia. 2017. Intervensi PBB dalam Konflik di Republik Afrika Tengah. Skripsi, Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jember: Universitas Jember.

Editor: Yahya

Print Friendly, PDF & Email
15 posts

About author
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Articles
Related posts
Tarikh

Kisah Junaid Al-Baghdadi Berguru kepada Orang Gila

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Nalar dalam dunia sufi, seringkali bertolak belakang dengan kesadaran kaum awam. Namun, ketidaklaziman tersebut bisa dipetik hikmah…
Tarikh

Ketika Kata Jihad "Disalahgunakan" Saat Perang Dunia 1

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sejak Islam berkembang dan muncul sebagai agama yang membawa peradaban. Istilah jihad telah begitu fenomenal di seluruh…
Tarikh

Ambudi Agama, Cikal Bakal Muhammadiyah Pekajangan

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Ambudi Agama | Perang Jawa yang menyebabkan ribuan tentara Belanda meninggal serta mengakibatkan kerugian mencapai 20 juta…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *