Opini

Jadi Benteng Penjaga Nyawa Rakyat Aceh, UIN Ar-Raniry Buka Prodi Mitigasi Bencana

4 Mins read

Aceh adalah wilayah yang hidup berdampingan dengan risiko. Bencana di Aceh bukanlah peristiwa insidental, melainkan realitas yang terus berulang. Dalam konteks ini, bencana bukan peristiwa insidental, tetapi fenomena struktural yang harus dijawab secara sistemik. Sayangnya, selama ini respons terhadap bencana masih cenderung bersifat reaktif: setelah terjadi, baru ditangani. Padahal, pendekatan modern dalam ilmu kebencanaan menekankan pencegahan, mitigasi, dan penguatan kapasitas manusia.

Aceh secara geologis berada di zona subduksi aktif. Secara topografis, wilayah ini didominasi pegunungan, aliran sungai besar, dan garis pantai panjang. Kombinasi ini menjadikan Aceh sangat rentan terhadap bencana alam. Dari perspektif ilmu kebencanaan, wilayah seperti ini harus diperlakukan sebagai living laboratory, ruang pembelajaran nyata yang tidak boleh diabaikan oleh dunia akademik.

Ilmu pengetahuan modern memandang bencana bukan semata akibat fenomena alam, tetapi hasil interaksi antara bahaya alam (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity). Dengan kata lain, korban bukan hanya ditentukan oleh kekuatan alam, tetapi oleh kesiapan manusia.

Aceh sebagai Laboratorium Alam Kebencanaan

Maka, mitigasi bukan hanya soal tanggul, sirine, atau peta risiko. Ia mencakup edukasi, literasi kebencanaan, penguatan mental, empati sosial, tata ruang berbasis risiko, hingga komunikasi krisis. Semua ini membutuhkan sumber daya manusia terdidik secara khusus.

Di sinilah kampus memainkan peran strategis. Perguruan tinggi bukan hanya produsen ijazah, melainkan pusat pembentukan cara berpikir, kebijakan, dan peradaban. Untuk Aceh, membuka Program Studi Mitigasi Kebencanaan di UIN Ar-Raniry bukan sekadar inovasi akademik, tetapi sebuah keharusan moral, sosial, dan keilmuan.

Landasan Teologis dan Pendidikan Mitigasi

Dalam teori pembangunan manusia, pendidikan berfungsi meningkatkan human capacity. Negara-negara dengan sistem pendidikan kebencanaan yang kuat terbukti mampu menekan jumlah korban meskipun berada di wilayah rawan, seperti Jepang dan Selandia Baru.

Dari perspektif psikologi bencana, trauma berkepanjangan justru lebih berbahaya daripada kerusakan fisik. Anak-anak korban bencana berisiko mengalami gangguan kecemasan, kehilangan motivasi belajar, dan disorientasi masa depan. Maka, mitigasi bukan hanya soal selamat, tetapi soal memulihkan martabat manusia.

Baca Juga  Cacat Tersembunyi dalam Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri

John Dewey menegaskan bahwa pendidikan harus berangkat dari realitas hidup. Bagi masyarakat Aceh, realitas itu adalah bencana. Mengabaikannya dalam kurikulum berarti menjauhkan pendidikan dari kehidupan.

Howard Gardner, melalui teori kecerdasan majemuk, menunjukkan bahwa kecerdasan tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga interpersonal dan intrapersonal. Dalam konteks bencana, empati, kepedulian, dan daya lenting (resilience) adalah bentuk kecerdasan yang sangat vital. Maka, secara ilmiah, membuka Prodi Mitigasi Kebencanaan bukanlah ide emosional, tetapi langkah berbasis kebutuhan objektif.

Dalam Islam, bencana tidak pernah dipahami secara fatalistik. Al-Qur’an menegaskan: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini bukan hanya larangan, tetapi perintah preventif. Ulama tafsir seperti Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai kewajiban menjaga diri dari bahaya yang dapat dihindari. Rasulullah SAW bersabda: “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini sering dijadikan dasar teologis bahwa ikhtiar rasional adalah bagian dari iman. Tawakal tanpa mitigasi adalah kesalahan epistemologis. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan syariat (maqashid al-syariah) adalah menjaga lima hal: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Bencana mengancam semuanya sekaligus. Maka, mitigasi kebencanaan sejatinya adalah implementasi langsung maqashid syariah.

USK dan Ekosistem Kebencanaan Aceh

UIN Ar-Raniry sejatinya tidak sendirian. Di Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai saudara senior telah lebih dahulu membangun klaster kajian kebencanaan melalui pusat riset, kolaborasi internasional, dan pendekatan multidisipliner.

Langkah USK menunjukkan bahwa kajian kebencanaan bukan wacana utopis, melainkan kebutuhan nyata. Dari sana lahir berbagai riset aplikatif, pemetaan risiko, hingga rekomendasi kebijakan publik.

Namun, di sinilah letak peluang khas UIN Ar-Raniry. Jika USK unggul pada aspek teknis dan saintifik, maka UIN Ar-Raniry memiliki potensi untuk mengembangkan dimensi yang lebih dalam: etika kebencanaan, spiritual healing, fikih lingkungan, psikososial berbasis nilai Islam, dan pendidikan empati. Ini bukan duplikasi, melainkan komplementasi. Ekosistem kebencanaan Aceh akan lebih utuh jika sains dan spiritualitas berjalan bersama.

Baca Juga  Konser Amal 100 Musisi Himpun Dana Rp17 Miliar untuk Sumatera

Pendidikan Mitigasi sebagai Ibadah Sosial

Dalam pandangan Islam, nilai sebuah amal tidak hanya diukur dari bentuk ritualnya, tetapi dari dampak kemanusiaan yang ditimbulkannya. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Hadis ini tidak sekadar memberi motivasi moral, tetapi membangun kerangka etika sosial yang menempatkan kemanfaatan sebagai ukuran keutamaan. Dalam konteks kebencanaan, pendidikan mitigasi bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan ibadah sosial yang nyata: menyelamatkan manusia sebelum mereka menjadi korban.

Bencana sering datang tanpa peringatan panjang, tetapi dampaknya berlangsung lama. Trauma, kehilangan, kemiskinan baru, dan keterputusan pendidikan adalah realitas yang selalu mengikuti. Jika pendidikan hadir hanya setelah bencana terjadi, maka ia terlambat. Pendidikan mitigasi bekerja sebelum tragedi itu datang—ia menanamkan kesadaran, kesiapsiagaan, empati, dan daya lenting sosial. Inilah bentuk ibadah yang tidak menunggu penderitaan, tetapi mencegahnya.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: “Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia” (QS. Al-Maidah: 32). Ayat ini meletakkan prinsip agung bahwa menyelamatkan satu nyawa sama nilainya dengan menyelamatkan peradaban. Pendidikan mitigasi kebencanaan sejatinya adalah implementasi langsung ayat ini dalam dunia modern. Ia tidak hanya menyelamatkan tubuh manusia, tetapi juga harapan, masa depan, dan keberlanjutan sosial.

Di sinilah pendidikan menemukan makna paling luhur: bukan sekadar mencerdaskan, tetapi melindungi kehidupan. Bukan sekadar mengajarkan teori, tetapi membangun kepedulian. Bukan hanya melatih berpikir, tetapi menggerakkan hati. Generasi yang dibentuk dengan kesadaran mitigatif akan tumbuh sebagai manusia yang tidak panik saat krisis, tidak egois saat darurat, dan tidak acuh saat orang lain menderita.

Pendidikan mitigasi, dengan demikian, bukanlah proyek teknokratis, tetapi proyek kemanusiaan. Ia memadukan ilmu, empati, iman, dan tanggung jawab sosial. Ia menjadikan kampus bukan hanya pusat produksi ilmu, tetapi pusat produksi kepedulian.

Baca Juga  Selesai Masa Tanggap Darurat, Tapanuli Selatan Kembali Tergenang Banjir

Menanti Keberanian Visioner UIN Ar-Raniry Aceh

UIN Ar-Raniry berada pada titik historis yang menentukan. Sebagai perguruan tinggi Islam di wilayah rawan bencana, ia memiliki legitimasi moral, intelektual, dan sosial untuk memimpin perubahan. Membuka Program Studi Mitigasi Kebencanaan bukan hanya menjawab kebutuhan Aceh hari ini, tetapi mempersiapkan masa depan generasi yang hidup di tengah risiko.

Ini bukan sekadar soal menambah program akademik, melainkan mengubah cara pandang. Dari kampus sebagai menara gading menjadi kampus sebagai penjaga kehidupan. Dari institusi yang mengamati realitas, menjadi institusi yang terjun mengubahnya. Dari pusat teori, menjadi pusat solusi.

Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar selalu lahir dari keberanian visioner—keberanian untuk melampaui kebiasaan, melawan kelaziman, dan menjawab tantangan zaman. Dalam konteks Aceh, keberanian itu bernama: pendidikan mitigasi kebencanaan.

Bencana mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya. Gempa tetap akan terjadi, hujan akan tetap turun, dan alam akan tetap bergerak. Namun penderitaan manusia dapat dikurangi. Trauma bisa diminimalkan. Korban bisa dicegah. Dan pendidikan adalah alat paling beradab untuk melakukan semua itu. Ketika kampus memilih untuk hadir secara aktif dalam persoalan kemanusiaan, maka ia tidak hanya mendidik mahasiswa, tetapi menjaga kehidupan. Dan di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam: bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk penyelamat masa depan.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Editor: Assalimi

Helmi Abu Bakar El-Langkawi
8 posts

About author
Dosen UNISAI Samalanga, Alumni MUDI Mesjid Raya Samalanga, Pengurus PW Ansor Aceh dan Mantan Ketua PC Ansor Pidie Jaya
Articles
Related posts
Opini

Titik Beda Konsep Bid'ah: Antara Muhammadiyah dan Salafisme

2 Mins read
Konsep bid‘ah merupakan salah satu isu paling sensitif dalam wacana keislaman kontemporer. Di Indonesia, perbedaan pemahaman tentang bid‘ah tidak hanya menjadi perdebatan…
Opini

Beda Metodologi Tafsir Quran Antara Manhaj Salafisme dan Muhammadiyah

2 Mins read
Perbedaan antara Salafisme dan Muhammadiyah tidak berhenti pada soal simbol, seperti jenggot, celana cingkrang, atau istilah “bid‘ah”. Akar persoalan yang lebih mendasar…
Opini

Sabar atas Hujan Ekstrem: Perspektif Islam & Sains

3 Mins read
Wilayah Indonesia merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana alam. Bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh alam (seperti gempa bumi, angin besar,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *