Khutbah

Khutbah Idul Fitri: Istiqomah dalam Kebaikan dan Kebenaran

12 Mins read

Khutbah Idul Fitri

Khutbah Idul Fitri

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ ْوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

اَشْهَدُ اَنْ لا اِلَهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ تمُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْـمُخْتَارْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الاخْيَار فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُ ا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Allahu akbar 2x laa ilaaha illallahuwallahu akbar, Allaahu akbar walillaahilhamdu

Hadirin kaum muslimin yang dicintai Allah

Allahu Akbar 3 x kabiira

Khutbah Idul Fitri: Jama’ah sholat Idul Fitri Rahimakumullah

Pagi ini pada hari Senin 1 Syawal 1443 H/ April 2022 M, di Gumuk pasir Parangtritis kita semua berkumpul utk untuk sholat idul fitri seraya terus menerus mengagungkan asma Allah SWT. Idul fitri tahun ini menjadi anugerah Allah yg sangat besar dan istimewa karena untuk pertama kalinya kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan dengan sholat berjamaah di masjid masjid dan akhirnya kita bisa kembali sholat id di lapangan. 

Dua Tahun lebih pandemu covid menimpa bangsa Indonesia. Banyak saudara saudara kita yg gugur atau wafat karena terpapar covid 19, Gelombang Delta dan omicron. Semoga saudara saudara kita yg wafat karena covid, meninggal dalam keadaan husnul khotimah dan syahid (bagi yg beragama Islam). Kita yg masih diberi kesempatan hidup, jangan sampai menyia nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Mari kita jalani hidup dengan penuh kesabaran dan kesyukuran dengan beramal sholih sebaik mungkin agar kita telah memiliki bekal  yang cukup kita dipanggil Allah SWT.

Rasanya sang waktu berjalan teramat cepat. Tiba-tiba bulan puasa datang dan kemudian berakhir serta pagi ini kita ber-Idul Fitri. Kemarin kita masih merasa kanak-kanak, tiba-tiba sekarang kita telah memiliki anak, kemarin kita memanggil-manggil ibu dan bapak, sementara sekarang kita sudah dipanggil sebagi ibu dan bapak.

Ternyata banyak hal dalam hidup ini kita biarkan berlalu tanpa makna dan kita menjadi terkaget-kaget karena tahu-tahu kita sudah menjadi tua tanpa pernah benar-benar mengisi masa muda dengan prestasi dan ahklak mulia. Kita juga menjadi kaget karena banyak peluang dan kesempatan emas yang tidak pernah kita manfaatkan. Demikian pula kesempatan emas yang bernama  “Ramadhan

***

Barangkali, kita telah berpuluh-puluh kali menjalankan ibadah puasa Ramadhan, namun adakah hasilnya? Apakah puasa Ramadhan telah membuat kita lebih mencitai amal shaleh dan membenci amal salah ? apakah puasa Ramadhan telah mampu menghadirkan keindahan hidup dengan ahklak yang mulia bagi anak-anak, suami, istri dan masyarakat kita?  ataukah puasa Ramadhan telah kita ubah menjadi sekedar ibadah ritual belaka saja ? oleh karenanya Rasulullah pernah mengingatkan kita dengan sabdanya “Banyak orang yang berpuasa namun tidak memperoleh apa  apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ath Thobroniy).

Hadits ini memberikan hikmah dan pesan dari Ibadah Ramadhan agar ibadah kita tidak menjadi sebatas ibadah ritual dan sekedar mencari pahala, akan tetapi Shaum Ramadhan benar-benar merubah dan membentuk kita menjadi manusia yang bertaqwa (la’allakum tattaqun) yaitu menjadi. Pribadi yang tambah taat, tambah patuh dan tambah takut pada Allah SWT.

Agar pencapaian peningkatan taqwa bisa kita raih dan dapat kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi penting bagi kita untuk meneruskan berbagai amaliah ramadhan yang sudah menjadi kebiasaan selama sebulan penuh untuk kita praktekkan dalam kehidupan sehari hari di bulan selain Ramadhan. Dibutuhkan sikap istiqomah bila kita benar benar ingin menjadi hamba Allah yang bertaqwa baik selama bulan Ramadhan maupun setelah selesai menjalankan ibadah Ramadhan. Lalu hal hal apa saja yang perlu kita amalkan secara istiqomah agar nilai dan kualitas taqwa selalu berada dalam diri kita? Yang perlu kita lakukan adalah:

***
  • Melestarikan nilai nilai ke imanan. Mengapa keimanan perlu dijaga? Karena iman bisa bertambah dan berkurang atau naik dan turun.
  • Melestarikan kebiasaan berpuasa.Mengapa karena salah satu hakekat hidup adalah puasa. Kehidupan hanya akan selamat bila setiap orang mau berpuasa (menahan diri/ mengendalikan diri)
  • Melestarikan kebiasaan sholat Tarawih/qiyamul lail/sholat malam diluar Ramadhan. Mengapa? Karena Allah akan mengangkat derajat dan martabat kita umat Islam bila umat islam kuat imannya, ilmunya,amalnya dan tahajudnya.
  • Melestarikan kebiasaan membaca,memahami dan mengamalkan Al-Quran. Mengapa? Karena kemajuan dan kejayaan umat Islam hanya bisa terjadi apabila Al Quran (dan As-Sunnah) dibaca, dipahami dan diamalkan.
  • Melestarikan kebiasaan peduli pada sesama dg zakat, infaq dan shodaqoh. Mengapa? Karena meskipun kita sholatnya rajin, puasanya sering dan hajinya berkali kali tetapi kita egois dan tidak  mau peduli pda orang lain maka ibadah kita menjadi tidak bernilai. Bahkan oarang yang sholat malah menjadi pengkianat agama bila dengan sholatnya tidak membuatnya untuk menyayang anak yatim dan peduli pada fakir miskin (mustadzafin)  
***
  • Melestarikan makna menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik dan menghadirkan dosa. Mengapa? Karena kebanyakan dosa anak Adam bersumber pada lisannya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW. “Kebanyakan dosa anak anak adam itu pada lisannya”(HR Ath-Thabrani). Sungguh banyak bencana di dunia ini baik bencana peperangan, bencana rumah tangga, bencana kerusuhan yang disebabkan oleh lisan yang tidak terjaga.
  • Melestarikan semangat/niat/ motivasi yang menyala nyala untuk selalu memakmurkan mesjid dengan sholat berjamaah terutama sholat subuh berjamaah. Saat ini banyak masjid yang bangunannya megah dan mewah namun sayang masjidnya sepi dari jamaah dan kegiyatan dakwah yang memberdayakan masyarakat. Kita bisa belajar dari masjid Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jogokaryan yang yang makmur dan sejahtera. Sholat subuhnya hampir sama ramainya dengan sholat jumat. Kita bisa belajar dari Negara Turki, yang dulunya miskin, banyak utang dan dilecehkan oleh bangsa lain, namun kini menjadi bangsa yang maju dan makmur serta terbebas dari utang karena para pimpinan negaranya dan sebagian besar rakyatnya membiasakan diri untuk sholat berjamaah dimasjid khususnya ibadah sholat shubuh.                                                                                                                                                                                     
  • Melestarikan nilai  bahwa kita harus selalu berusaha beramal sholih yang diridloi oleh Allah agar kita bisa sukses dan mulia hidup di dunia maupun di akherat. Kita harus selalu menyiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah kematian kita yaitu kehidupan akherat. Yaitu sebuah proses pulang mudik/ pulang kampung yang sesungguhnya. Pulang mudik yang tidak ada kesempatan untuk kembali lagi.
Baca Juga  Naskah Khutbah Jumat: Piagam Madinah dan Pancasila
***

Keyakinan kita menunjukkan bahwa mati bukanlah akhir dari segalanya, tapi mati justeru awal dari kehidupan baru, yakni kehidupan akhirat yang enak dan tidaknya sangat tergantung pada keimanan dan amal shaleh seseorang dalam kehidupan di dunia ini. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu mempersiapkan dirinya dalam kehidupan di dunia ini untuk kebahagiaan kehidupan di akhirat.

Manakala seseorang sudah melakukan segala sesuatu sebagai bentuk persiapan untuk kehidupan sesudah kematian, maka orang seperti inilah yang disebut dengan orang yang cerdas, meskipun ia bukan sarjana. Karena itu, Rasulullah saw bersabda:

اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan nafsunya dan beramal bagi kehidupan sesudah mati (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Hakim).

Salah satu sosok pribadi yang sangat terkenal mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh untuk kehidupan akhirat adalah KHA Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Agar dirinya selalu ingat akan kematian  yang datang kapan saja dan agar dirinya selalu mempersiapkan bekal menuju akhirat sebaik mungkin, sampai-sampai diatas pintu rumah beliau dan di meja yang sering beliau gunakan untuk memahami Al Qur’an dan Al Hadits, beliau memasang tulisan nasehat untuk dirinya sendiri sebagai berikut :

“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang engkau harus lewati.

Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya.

Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau seorang diri bersama Allah

sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, syurga dan neraka.

Dan dari sekian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu dan tinggalkanlah lainnya.

***

KHA Dahlan selalu mengingatkan dirinya akan kematian dan pengadilan Tuhan di akherat kelak. Ingat kematian dan hisab akherat bukan untuk membuat Ahmad Dahlah menjadi orang yang menyendiri dengan zikir dan pertobatan, namun malah membuat beliau berkarya/beramal sebanyak mungkin dengan ikhlas dan tidak membiarkan waktunya semenitpun untuk amal yang sia-sia. Beliau khawatir kalau meninggal belum bisa berbuat banyak untuk agamanya.

Karena keikhlasan dan kegigihannya dalam memperjuangkan agama Allah, maka seratus tahun kemudian kita bisa menikmati hasil perjuangannya, antara lain berdirinya  ratusan Rumah Sakit Islam/PKU Muhammadiyah (tepatnya 457 buah), ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (173 PMS),lebih dari 500  panti asuhan, lebih dari 10 ribu sekolah TK hingga sekolah menengah atas serta lebih dari 400 pesantren modern(MBS Muhammadiyah Boarding School) tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini menyebk ini tidak ada sebuah gerakan/organisasi Islam manapun  yang memiliki prestasi dalam bentuk karya Amal Usaha yang bisa menandingi Muhammadiyah. Kalau KH.Ahmad Dahlan dan generasi penerusnya telah ikhlas berkorban dan akhirnya menghasilkan prestasi amal yang dahsyat, lalu apa saja yang sudah kita lakukan untuk bekal menuju akherat ?

  • Melestarikan nilai untuk selalu bersyukur pada Allah. Dengan puasa Allah menginginkan kita menjadi orang bertaqwa sekaligus urang yang bersyukur “…la’alakum tasykuruun” (QS Al Baqarah: 185). Orang yang tidak ridho dengan yang sedikit, pasti juga tidak ridho meskipun sudah memiliki yang banyak. Mari kita lihat dalam kehidupan kita, betapa banyak orang yang mempunyai harta yang sangat banyak masih selalu merasa kurang dan hidupnya tidak peduli dengan orang lain yang miskin dan membutuhkan. Mereka tumbuh menjadi orang-orang yang sangat egois dan tidak memikirkan nasib sesama. Semakin tinggi jabatannya dan semakin banyak hartanya namun malah semakin pelit dan rakus. Kita perlu belajar dari Rasulullah dan para sahabat yang tetap peduli pada orang lain, baik diwaktu lapang maupun sempit.
***

Kita juga perlu belajar dari para pemimpin muslim Indonesia yang tetap hidup sederhana meskipun menjadi pejabat tinggi dan bisa bergelimang harta. Jenderal Sudirman yang tetap hidup sederhana baik ketika menjadi guru sekolah rakyat Muhammadiyah maupun ketika sudah menjadi Jenderal. Beliau tetap rajin mengaji, berdakwah dan sangat pemurah. Jenderal Abdul Haris Nasution, Muhammad Natsir, Moh. Hatta, KH. Agus Salim, para mantan pejabat tinggi negri ini bahkan pada masa pensiunnya ada yang tidak mampu membayar tagihan rekening listrik yang di rumahnya. Bahkan ada yang tidak memiliki rumah sampai wafatnya.

Demikian juga dengan KH. AR Fakhrudin salah seorang yang menjadi ketua umum PP. Muhammadiyah, hidupnya sangat sederhana. Agar bisa terus berdakwah dan mendidik anak-anaknya, beliau tidak malu berjualan bensin di depan rumahnya, karena uang pensiunanya sebagai pegawai Depag tidak akan cukup untuk bekal dakwah untuk ummat dan pendidikan anak-anaknya. Lalu pertanyaan renungannya adalah “Apa yang sudah kita usahakan dan berikan  untuk agama Allah? Pantaskah kita  dicintai Allah dan ingin masuk syurga padahal kenyataanya kita baru banyak berbuat dan berkurban untuk diri sendiri dan keluarga kita namun sangat sedikit berbuat dan berkurban untuk ummat dan agama.

Khutbah Idul Fitri: Allahu akbar 2 x walillaahilhamdu

Selain membentuk pribadi yang bertaqwa/muttaqin, adakah puasa Ramadhan memiliki tujuan dan manfaat lain ? Allah SWT berfirman :

Baca Juga  Khutbah Jumat: Bahaya Mempersempit Agama

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya ”Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Al-Baqarah : 184)

Bila shaum Ramadhan dan amaliah utama yang menyertainya kita laksanakan dengan sungguh-sungguh karena Allah, maka akan menghadirkan hikmah dan manfaat sebagai berikut :

  • Akan mencegah kita dari mengalami / menderita gangguan jiwa (penyakit-penyakit psikologi) sekaligus menyembuhkannya. Kita semua memahami bahwa ancaman dan resiko gangguan jiwa di Indonesia semakin tinggi seiring dengan semakin kompleknya problem hidup yang dialami masyarakat Indonesia. Beberapa informasi mengenai hal tersebut perlu saya sampaikan bahwa :
  • Tahun 1994. presiden RI dalam peringatan hari kesehatan dunia pernah menyatakan : 3 dari 10 orang Indonesia mengalami gangguan jiwa
    • Tahun 1998, bagian Psikiatrik RSUP Sarjito UGM (DR. Suwadi MPH, penelitiannya menunjukkan 6 dari 10 orang Indonesia mengalami gangguan jiwa (ringan / berat ))
    • 60-80 % orang Indonesia mengalami sakit fisik berawal dan disebabkan oleh faktor psikologis (psikosomatis)

Orang Islam yang menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan bersungguh-sungguh, insya Allah akan terhindar dari mengalami gangguan jiwa yang berbahaya. Kalau selama ini kita merasa sudah menjalankan ajaran Islam, namun kita masih mudah marah, mudah tersinggung, mudah cemas, juga masih pesimis menjalani hidup, maka cara memahami dan melaksanakan ajaran agama tersebut perlu diperbaiki. Oleh karena itu, sebagai umat Islam mari kita pahami dan amalkan ajaran Islam dengan benar dan bersungguh-sungguh, agar kita tidak menjadi umat yang rusak dan mengalami gangguan jiwa. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya “ Wahai seluruh manusia, sungguh telah datang kepadamu (kitab suci Al-Qur’an) dari Tuhanmu dan menjadi penyehat jiwa, penyembuh (terapi) bagi penyakit-penyakit psikologi (yang ada didada), menjadi petunjuk dan penebar kasih sayang bagi mereka yang percaya  (QS Yunus : 57)

***
  • Membentuk religiusitas instrinsik (bukan Ekstrinsitik) yaitu sebuah kualitas keagamaan yang muncul dari kesadaran yang paling dalam akan eksistensi dan Maha Kuasanya Allah SWT, yang dalam ajaran Islam disebut Ihsan / Muhsin. Kita menjadi baik (Ahklak, Ibadah, Kerja) bukan karena faktor rendahan ingin dipuji, dilihat atasan/bawahan, calon istri/mertua, tapi karena Allah. Ada atau tidak ada orang lain, kita akan tetap melakukan amal shaleh. Hal ini terjadi karena ibadah puasa adalah ibadah Sirr (rahasia/pribadi) : Religiusitas Instrinsik menjadi sesuatu yang amat penting lebih-lebih pada saat masyarakat Indonesia ingin membangun masyarakat yang aman, amanah, adil dan sejahtera. Betapa malunya kita sebagai masyarakat yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam dan hampir seluruh pejabat dan wakil rakyatnya sudah bertitel ” Haji ” namun prestasi terbaiknya malah dibidang korupsi (5 besar didunia), hutang kepada pihak asing semakin menjadi-jadi, kriminalitas selalu menghiasi berita dikoran dan televisi, anggota dewannya jago berkelahi, pejabatnya banyak yang kolusi dan minta dilayani, bencana dan musibah datang bertubi-tubi. Lalu dimana bukti keIslaman dan ketaqwaan kita ? bukankah Allah akan melimpahkan berkahnya dari langit dan bumi jika kita bertaqwa ?. Mari kita buktikan iman dan taqwa kita dalam kehidupan nyata agar Allah menjauhkan kita dari segala hal yang memalukan dan memilukan hidup kita sebagai bangsa muslim terbesar didunia
***
  • Membentuk dan menumbuh kembangkan kesalehan ritual (spiritual) dan kesalehan sosial. Seluruh bentuk ibadah dalam Islam tidak berhenti pada tataran ritual, akan tetapi harus dibuktikan dan bersentuhan dengan realitas kehidupan sehingga terwujud dalam laku sosial. Sholat tidak berhenti ketika selesai mengucapkan salam, tetapi sholat yang baik berarti juga bagaimana perbuatan kita setelah selesai melaksanakan sholat. Demikian pula dengan puasa Ramadhan, keberhasilannya tidak ditentukan ketika kita selesai menjalankannya selama sebulan penuh, tapi keberhasilan puasa akan dibuktikan bagaimana sikap dan perilaku kita selama sebelas bulan setelah menjalankan ibadah Ramadhan. Apabila ibadah Ramadhan mampu kita tangkap pesannya dan kita pungut hikmahnya, maka hal ini akan menghindarkan kita mengalami “Split Personality” (pecah kepribadian) dan selamat dari budaya “Tomat” (Tobat saat Ramadhan dan kumat setelah selesai Ramdhan) serta sembuh dari penyakit “Muntaber” (Munafik tapi berhasil)
  • Mengokohkan semangat silaturahmi dan kesetiakawanan sosial. Dengan merasakan betapa tidak enaknya lapar dan dahaga serta adanya perintah menyalurkan zakat diakhir bulan Ramadhan, secara tersirat mengandung pesan Islam yaitu Anda hanya dapat dekat dengan Tuhan bila anda mendekati saudara-saudara anda yang lemah dan kekurangan. Bahkan Rasullullah SAW pernah berpesan kepada Aisyah RA: Wahai Aisyah, dekatilah orang – orang yang lemah / miskin, cintai dan kasihi mereka, niscaya Allah akan dekat dengan kamu.

Oleh karena itu saudaraku, yakinlah bahwa Islam tidak akan pernah menjadi rahmatan lil alamin di Indonesia ini dan Indonesia tidak akan pernah menjadi negara yang adil, makmur dan sejahtera apabila para ulama/tokoh tokoh agama, wakil rakyat, para pejabat, konglomerat dan rakyatnya masih membiarkan orang-orang fakir miskin dan kaum papa lainnya merintih kelaparan, ditolak dari rumah sakit karena tidak punya duit, tidak bisa sekolah dan kuliah karena tidak sanggup membayar biaya pendidikan yang terlalu tinggi.

Khutbah Idul Fitri: Allahu Akbar 3 x kabiira

Saudaraku, pada bagian akhir khutbah Idul Fitri ini saya mengajak saudara-saudaraku untuk mengingat kembali saat awal dan akhir dari Puasa Ramadhan. Apakah kita meneteskan air mata haru karena saking bahagianya ketika bulan suci Ramadhan datang dan apakah tadi malam kita sempat menitikkan air mata duka karena bulan suci Ramadhan telah berakhir dan meninggalkan kita?, kalau kita menangis haru dan sedih ditinggal bulan ramadhan, maka insya Allah ibadah Ramadhan kita benar-benar telah menjadi ibadah yang sangat bernilai bagi upaya memperbaiki diri dan upaya kembali ke fitrah kita sebagai hamba yang baik dan dekat dengan Allah SWT? Mengapa ? karena proses memperbaiki diri yang berintikan spiritual (seperti ibadah Ramadhan) akan sangat ditentukan oleh keterlibatan afeksi dan emosi seseorang dalam bentuk penghayatan (religius feeling).

Baca Juga  Khutbah Idul Adha 1443H: Qurban dan Cinta Hakiki

Tanpa keterlibatan afeksi dan emosi maka ibadah Puasa Ramadhan dan ibadah apapun yang kita kita lakukan tidak akan mampu menghadirkan kesejukan hati dan kedamaian hidup. Boleh jadi kita menjalankan agama namun kita tetap mengalami kegersangan spiritual. Semoga Puasa Ramadhan yang kita lakukan dapat menjadikan indahnya kehidupan dan indahnya Islam bagi diri kita, anak-anak dan istri kita, bagi masyarakat dan negara Indonesia yang kita cintai. Insya Allah Ibadah Ramadhan akan membuat kita menjadi manusia yang dapat hidup sehat dunia dan akhirat.

Di kesempatan akhir khutbah ini, saya mengajak kepada kita semua agar memanfaatkan suasana hari Raya Idul Fitri ini untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang tua, istri, suami dan anak-anak kita, bahkan tetangga-tetangga kita. Mumpung suasananya mendukung untuk melakukan itu semua.

***

Bila kita sebagai suami, mari kita meminta maaf kepada istri kita, boleh jadi selama ini kita belum mampu menjadi suami yang baik malah lebih banyak membuatnya susah. Bila anda sebagai seorang istri minta maaflah kepada suami anda, boleh jadi selama ini anda sebagai istri kurang menghargai dan jarang berterima kasih atau bahkan sering membuatnya susah. Bila kita sebagai anak mari kita meminta maaf kepada kedua orang tua kita. Siapa tahu bulan Puasa yang akan datang kita tidak punya kesempatan lagi karena ayah dan ibu kita telah meninggal dunia atau kita malah yang terlebih dahulu dipanggil menghadap Allah. Mari kita manfaatkan kesempatan Idul Fitri ini dengan melakukan hal yang bermanfaat dan di Ridhoi oleh Allah SWT. Dan mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah.

A’udlubillahiminasyaethonirrojiim.

Bismillaahirrohmanirraahiim

Alhamdulillahi robbil ‘alamiin…….

Di pagi yang Fitri, dalam beningnya hati dan pikiran kami, kami panjatkan rasa syukur kehadirat-Mu. Karena RahmatMu, kami masih Engkau beri kesempatan untuk menjalankan Ibadah Ramadhan tahun 1443 H hingga selesai, dan pagi ini Engkau beri kesempatan untuk ber Idul Fitri dengan mengagungkan Asma Mu dan bersyukur atas segala nikmat dan karunia Mu. Semoga Engkau masih memberi kesempatan kepada Kami untuk bertemu kembali dengan Ibadah Ramadhan tahun yang akan datang

Khutbah Idul Fitri: Ya Allah Yang Maha Pengasih

Jadikanlah ibadah Ramadhan yang telah kami kerjakan sebagai Ibadah yang dapat meningkatkan kualitas iman kami, dapat memperbaiki ahklak kami dan dapat menjadikan kami sebagai hamba-Mu yang bertaqwa. Kalau dengan Ibadah Ramadhan saja kami tidak dapat meningkatkan iman kami, memperbaiki akhlak kami dan sulit menjadi orang yang bertaqwa, lalu ibadah apalagi yang dapat membuat kami dapat lebih bergairah untuk memperbaiki diri selain Bulan Ramadhan?

Khutbah Idul Fitri: Ya Allah Tuhan Yang Maha Bijaksana

Dengan penuh harap, kami mohon kepada-Mu terimalah puasa Ramadhan kami, sholat tarawih kami, terima pula Tadarus dan Tadabur Alqur’an kami, infaq / shadaqoh dan zakat kami, serta seluruh amal shaleh yang kami kerjakan dibulan Ramadhan. Kalau ibadah Ramadhan beserta amal yang menyertainya tidak Engkau terima dan mendatangkan R  idho-Mu, lalu ibadah apalagi yang dapat kami bawa dan menjadi bekal untuk menemui Mu di Yaumil Hisab Kelak?

Khutbah Idul Fitri: Ya Allah Tuhan Yang Maha Pemaaf

Maafkanlah kami, bila musibah dan ujian pandemi covid tidak me yadarkan kami untuk lebih dekat kepadaMu. Maafkan kalau selama ini diri kami dan diri bangsa kami kurang bersungguh-sungguh mencintaiMu bahkan sering mengabaikan perintahMu dan ajaran Rasul Mu. Banyak diantara kami yang lengah untuk menanamkan ahklak Islami bagi keluarga. Kami biarkan diri kami, istri dan anak kami lebih dekat dengan TV, HP dan media sosial terkini, , mudah terkagum-kagum dengan budaya Yahudi yang merusak akhlak kami. Jarang sekali kami mengkaji Alqur’an dan Al-Hadist bersama keluarga. Kami biarkan rumah kami sepi dari lantunan kitab suci, jarang sekali kami bangun untuk Qiyamul Lail dan membaca Alqur’an di akhir malam. Oleh karena itu ya Allah….Jadikanlah kami dan bangsa kami sebagai hambaMu yang benar- benar mencintai Mu, mampu menjaga diri kami dan keluarga kami dari segala hal yang akan mendatangkan murka-Mu.

Khutbah Idul Fitri: Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengampun

Ampunilah segala khilaf dan salah kami. Hindarkanlah bangsa kami dari segala derita dan bencana yang datang bertubi-tubi. Jadikalah bangsa ini sebagai bangsa yang beradab bukan bangsa yang teradzab, menjadi bangsa yang disirami Rahmat-Mu bukan Laknat-Mu. Jadikanlah bangsa kami yang mayoritas Muslim sebagai bangsa yang bermatabat bukan menjadi bangsa yang lemah dan jadi permainan bangsa lain.

Khutbah Idul Fitri: Ya Allah  Ya Wahhab. Tuhan Yang Maha Pemberi.

Berilah kesempatan bagi kami untuk terus memperbaiki diri. Jangan jadikan Ramadhon dan idul fitri tahun ini sebagai Ramadhon dan idul fitri terakhir dalam hidup kami. Jumpakan kembali kami semua dengan Ramadhon tahun yang akan datang.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, اَلأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ, اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ, يَاقَاضِيَ الْحَاجَتِ وَيَا كَافِيَ الْمُهِمَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الَّرحِمِيْنَ, رَبَّنَا اَتِنَا فِى الُّدنْيَى حَسَنَةً وَفِىالأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Direktur SDI&KEUANGAN RSU PKU Muhammadiyah Cepu, BPH MBS PRAMBANAN YOGYAKARTA, Ketua LPCR PP Muhammadiyah
Articles
Related posts
Khutbah

Panorama Haji: Kebangkitan Kesadaran Ruhaniyah & Tauhid Manusia Beriman

1 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Facebook Telegram Twitter Linkedin email Baca Juga  Teks Khutbah Jumat Singkat: Al-Quran untuk Kerukunan Manusia
Khutbah

Khutbah Idul Adha 1443H: Qurban dan Cinta Hakiki

1 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Facebook Telegram Twitter Linkedin email Baca Juga  Teks Khutbah Jumat Singkat: Al-Quran untuk Kerukunan Manusia
Khutbah

Khutbah Jumat: Larangan Mencaci Agama Lain

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Khutbah I الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *