Teks Khutbah Idul Adha 1441 H: Membangun Manusia Indonesia - IBTimes.ID
Khutbah

Teks Khutbah Idul Adha 1441 H: Membangun Manusia Indonesia

9 Mins read

Berikut ini adalah contoh teks khutbah Idul Adha 1441 H dan dapat dipakai untuk memberikan khutbah Idul Adha 1441 H di manapun se-Indonesia. Tema yang dimuat dalam teks khutbah Idul Adha 1441 H ini adalah ‘Membangun Manusia Indonesia’. Teks khutbah Idul Adha ini cukup komprehensif untuk digunakan. File pdf dapat diunduh melalui link di akhir artikel. Semoga menjadi teks khutbah Idul Adha 1441 H yang menginspirasi.

Teks Khutbah Idul Adha 1441 H

Membangun Manusia Indonesia

الســلام عليكم ورحمة الله وبركاتــه.

الحَمْدُ للهِ والله أكبر، ماتحرك متحركٌ وارتـجّ، ولبى مُحرِم وعـجّ، وقصد الحرمَ من كلّ فـجّ، وأُقيمَت فى هذه الأيام مناسكُ الحجّ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ رسولِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبعه وسلِّم تسليما كثيرا.

اللّه أكـبر اللّه أكـبر، لا إله إلاّ اللّه واللّه أكـبر، اللّه أكـبر وللّه الحمد.

فياايّها المسلمون الكرام، أُوصيكم ونفسى بتقوى الله، واعلموا أنّ هذا الشهر شهرٌعظيمٌ، وأنّ هذا اليومَ يومُ عيدِ المؤمين، و يومُ خليلِ الله إبراهيمَ، أبي ألانبياءِ والمرسلين.

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,

Alhamdulillah pagi ini kita dapat berkumpul menikmati indahnya matahari, sejuknya hawa pagi, sembari mengumandangkan takbir mengagungkan Ilahi Rabbi, dirangkai dengan dua raka’at shalat Idul Adha sebagai upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci.

Marilah kita bersama-sama meningkatkan takwa kita kepada Allah swt. dengan sepenuh hati. Kita niatkan hari ini sebagai langkah awal memulai perjalanan diri, mengarungi kehidupan seperti yang tercermin dalam ketaatan dan ketabahan Nabi Ibrahim as. menjalani cobaan dari Allah Yang Maha Tinggi.

Khutbah Idul Adha 1441 H: Bagian Pertama

Allahu Akbar, Alahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah

Hari ini adalah hari yang penuh berkah, hari yang sangat bersejarah bagi umat beragama di seluruh penjuru dunia, dan bagi umat muslim pada khususnya. Karena hari ini merupakan hari kemenangan seorang Nabi penemu konsep ke-tauhidan dalam berketuhanan. Sebuah penemuan maha penting di jagad raya, tak tertandingi nilainya dibandingkan dengan penemuan para saintis dan ilmuwan.

Karena berkat konsep ke-tauhidan yang ditemukan Nabi Ibrahim as., manusia dapat menguasai alam dengan menjadi khalifah di muka bumi, membangun peradaban. Setelah Nabi Ibrahim as. menyadari bahwa Allah Swt. adalah Dzat yang paling Esa, maka semenjak itu juga umat manusia tidak dibenarkan menyembah matahari, menyembah bintang, menyembah binatang, menyembah batu  dan alam.

Ini artinya manusia telah memposisikan dirinya di atas alam. Ajaran ke-Esa-an Tuhan yang diprakarsai Nabi Ibrahim as. telah mengangkat derajat manusia atas alam dan se-isinya, tanpa harus mengekspliotasi.

***

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sesungguhnya tidak berlebihan jika hari ini kita jadikan sebagai salah satu hari besar kemanusiaan internasional yang harus diperingati oleh manusia se-jagad raya. Karena hari ini adalah momen yang tepat untuk mengenang perjuangan Nabi Ibrahim as. dan upayanya menemukan Allah Swt. Bagaimana beliau bersusah payah melatih alam kebatinannya untuk mengenal Tuhan Allah Yang Paling Berkuasa.

Bukankah itu hal yang amat sangat rumit? Apalagi jika kita membandingkan posisi manusia sebagai makhluk yang hidup dalam dunia kebendaan, sedangkan Allah Tuhan Yang Maha Sirr berada di tempat yang tidak dapat dicapai dengan indera?

Bagaimana Nabi Ibrahim as. bisa menemukan-Nya? Tentu, melalui berbagai jalan yang panjang,  melalui latihan dan penempaan jiwa yang berat. Untuk itulah, mari kita simak rekaman sebagian perjalanan tersebut dalam surat Al-An’am ayat 75-79:

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ ﴿٧٥﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ ﴿٧٦﴾ فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ ﴿٧٧﴾ فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ ﴿٧٨﴾ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٧٩﴾ 

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (75)

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku,” tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (76)

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (77)

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (78)

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (79)

***

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Para Hadirin yang dimuliakan Allah

Baca Juga  Teks Khutbah Jumat Terbaru: Penyebab Kemunduran Umat Islam

Jika kita lihat dokumen sejarah dalam al-Qur’an di atas, hal itu menunjukkan betapa proses pencarian yang dilakukan Nabi Ibrahim as. sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya, Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan Allah Rabbil Alamin, bukan tuhan suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru sekalian alam.

Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan manusia baik ketika terpejam maupun ketika terjaga. Itulah sejarah terbesar yang dipahatkan oleh Nabi Allah Ibrahim di sepanjang relief kehidupan umat manusia yang seharusnya selalu dikenang oleh umat beragama.

Selain sebagai orang yang menemukan konsep Ketuhanan. Beliau juga salah satu hamba tersukses di dunia yang mampu menaklukkan nafsu duniawi demi memenangkan kecintaannya kepada Allah Sang Maha Suci. Fragmen ketaatan dan keikhlasannya untuk menyembelih Ismail sebagai anak tercinta yang diidam-idamkannya, adalah bukti kepasrahan total kepada Allah swt.

Bayangkan saudara-saudara, Ismail adalah anak yang telah lama dinanti dan diidamkan, Ismail adalah anak tercintanya. Namun demikian, semua itu ditundukkan oleh Nabi Ibrahim as. demi memenangkan cintanya kepada Allah swt.

***

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dua hal yang telah diungkapkan tadi, yaitu penemuan Ibrahim atas ke-Esaan Allah dan perintah penyembelihan terhadap anak tercinta merupakan satu perlambang bahwa ruang di mana Nabi Ibrahim as. hidup adalah garis batas yang memisahkan antara kehidupan brutal dan kehidupan berperikemanusiaan. Penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti dengan kambing merupakan tanda. Bahwa semenjak itu tidak ada lagi proses penyembahan dengan cara pengorbanan manusia sebagai sesajen.

Karena, manusia adalah makhluk mulia yang tidak pantas dikorbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan dengan suka rela. Allah swt. sendiri yang tidak memperbolehkannya. Dengan kuasa-Nya, ia ganti Ismail dengan seekor kambing. Dari peristiwa inilah, ibadah berkurban pada saat Idul Adha bergulir.

Itulah dua hal minimal yang harus dikenang dari Nabi Allah Ibrahim as. Sebagai umat manusia yang beriman dan beragama, sudah sewajibnya kita mengenang dan menerapkan kedua nilai itu dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Lebih-lebih Idul Adha tahun ini datang beberapa hari sebelum peringatan ke-75 tahun kemerdekaan Indonesia.

Esensi dari kemerdekaan adalah mengembangkan sumber daya manusia Indonesia dan secara kolektif mengembangkan kebudayaan/peradaban Indonesia. Apa pesan Islam terkait dengan landasan dan pilar pengembangan sumber daya manusia dan peradabannya? Sampai di manakah pengembangan sumber daya manusia Indonesia dan peradabannya? Dalam hal-hal apa pengurbanan diperlukan?

Khutbah Idul Adha 1441 H: Bagian Kedua

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Para Jama’ah Idul Adha yang berbahagia..

Dari kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, landasan pengembangan sumber daya manusia dan peradabannya adalah tauhid atau iman kepada keesaan Allah Swt. yang ditemukan Nabi Ibrahim dalam pengalaman empiriknya. Sebagai landasan, penanda tauhid/iman adalah keterpautan hati manusia dengan Allah Swt. dan kesadaran manusia akan kehadiran-Nya dalam setiap sikap dan perbuatan—disebut dalam manajemen dengan pengawasan melekat. Betapa indahnya pengawasan melekat dilukiskan Al-Qur’an dalam Surat Al-Ma’idah/5: 116:

… تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ … ﴿١١٦﴾

“… Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. …”.

Pentingnya tauhid/iman sebagai landasan pengembangan manusia dan peradabannya ditegaskan Allah dalam Q.S. Al-A’raf/7: 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿٩٦﴾

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Kata ‘barakah’ dalam ayat di atas bermakna kebajikan yang berlimpah. Puncak kebajikan yang berlimpah adalah sumber daya manusia dan peradaban yang unggul.

Baca Juga  Buletin Jumat: Radikalisme Musuh Bersama

***

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Para Jama’ah Idhul Adha yang berbahagia..

Diibaratkan sebuah bangunan, peradaban manusia tidak hanya membutuhkan landasan, namun juga pilar-pilar. Salah satu pilar peradaban dapat dideduksi dari ayat sama—Q.S. Al-A’raf/7: 96, yaitu ketakwaan yang penandanya adalah akhlak atau moral. Betapa Nabi Muhammad Saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak (إنّما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق) (Q.S. Al-Anbiya’/21: 107).

Melalui pembangunan moral para sahabatnya, Nabi Muhammad Saw. merintis pengembangan peradaban di kota Yatsrib. Nama Yatsrib pun dirubah beliau dengan nama ‘madinah’ yang masih satu akar kata dengan kata ‘tamaddun’ (kata Arab ‘peradaban’). Pelanjut Nabi Muhammad Saw. dan masyarakatnya, kemudian mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimulai dari membangun tradisi pengetahuan pada tahun 600-an dan 700-an Masehi yang menghasilkan Ilmu-ilmu Keislaman Konvensional mulai tahun 800-an dan Sains Islam mulai tahun 900-an.

Ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pilar kedua manusia dan peradaban unggul. Tidak ada manusia dan peradaban menjadi unggul tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah secara tegas menyatakan bahwa manusia dan peradabannya—dengan landasan tauhid dan pilar keilmuannya—akan ditinggikan martabatnya dalam Q.S. Al-Mujadilah/58: 11:

… يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾

“…  niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Pilar iptek dan moral ternyata belum cukup untuk menjadi manusia dan peradaban unggul. Masih diperlukan pilar lain. Dalam antropologi, pilar itu tidak lain adalah karya nyata dalam bentuk temuan diskoveri, kreatif, dan inovatif. Bukankah Allah telah menyatakan bahwa kehidupan ini diciptakan sebagai media ujian siapa di antara manusia yang paling baik karyanya? Sebagaimana dalam Q.S. Al-Mulk/67: 2:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ ﴿٢﴾

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Khutbah Idul Adha 1441 H: Bagian Ketiga

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Para jamaah Idul Adha yang berbahagia

Sekarang apa yang sudah dicapai Indonesia terutama dalam membangun manusia Indonesia dan peradabannya? Salah satu lembaga di PBB, yaitu UNDP (United Nations Development Programme), setiap tahun menilai upaya negara-negara di dunia mengembangkan sumber daya manusia.

Sebagai laporannya, diterbitkan Human Development Index (Indeks Pembangunan Manusia) setiap negara. Indeks Pembangunan Manusia mencakup tiga bidang kehidupan: kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dalam kesehatan indikatornya harapan usia hidup bayi ketika lahir.  Dalam pendidikan indikatornya ada dua: harapan tahun bersekolah bagi anak usia sekolah dan rata-rata tahun pendidikan orang dewasa. Dalam ekonomi indikatornya pendapatan nasional kotor per kapita

Angka sempurna IPM adalah satu, dan IPM Indonesia bergerak naik dari 0,528 tahun 1990 ke 0,604 tahun 2000 ke 0,662 tahun 2010 ke 0,689 tahun 2015. Walau meningkat terus, namun peringkat IPM Indonesia masih 113 dari 188 negara. Karena itu Indonesia masuk dalam kategori kelompok “menengah” (jajaran atas) di antara tiga kelompok lainnya “sangat tinggi”, “tinggi”, dan “rendah”.

Walau pada peringkat 113 IPM dunia berdasarkan data 2015, harapan usia hidup bayi ketika lahir sudah 69,1 tahun. Harapan tahun bersekolah bagi anak usia sekolah sudah 12,9 tahun yang maknanya ada harapan sekolah sampai sekolah menengah atas. Rata-rata tahun pendidikan orang dewasa sudah 7,9 tahun. Sementara itu, pendapatan nasional kotor per kapita sudah USD 10,053 (sekitar Rp. 12 juta/bulan, walau belum merata).

Dibandingkan dengan tetangga sesama negara Asean, Indonesia berada di peringkat lima. Di bawah Singapura (R 5 dunia), Brunai (R 30 dunia), Malaysia (R 59 dunia), dan Thailand (R 87 dunia).

***

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Saudara-saudaraku seiman dan setakwa

Selain UNDP, lembaga Legatum juga melakukan survai terkait dengan “kesejahteraan” setiap negara, mencakup sembilan bidang kehidupan—lebih banyak dari tiga bidang kehidupan yang disurvai UNDP. Kesembilan pilar “kesejahteraan”—demikian Legatum menyebutnya—adalah: kualitas ekonomi, lingkungan bisnis, tata kelola pemerintahan, kebebasan pribadi, modal sosial, rasa aman dan kemanan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan alam.

Pada tahun 2017 “kesejahteraan” Indonesia pada peringkat 59 dunia dari 149 negara yang disurvai, naik dua peringkat dari tahun sebelumnya 2016. Bila dirinci, Indonesia sangat baik dalam modal sosialnya. Peringkat 10 dunia maknanya memiliki kekuatan yang baik dalam hubungan personal, dukungan jaringan sosial, norma sosial, dan partisipasi kewargaan, sekalipun ada gangguan radikalisme dan terorisme.

Baca Juga  Khutbah Shalat Jumat: Taat Pada Pimpinan dan Pemerintah

Sementara itu, walau sudah di era reformasi, kebebasan pribadi, yang mencakup hak-hak hukum dasar, kebebasan individu, dan toleransi sosial, dinilai masih memprihatinkan. Komponen ini berada di peringkat 119. Disusul pilar kesehatan, mencakup tampilan kesehatan fisik dan mental dasar, infrastruktur kesehatan, dan perawatan pencegahan, berada di peringkat 101.

Sedangkan, peringkat pilar-pilar lain berada pada peringkat menengah: tata kelola pemerintahan 44, kualitas ekonomi 47, rasa aman dan keamanan 57, lingkungan bisnis 61, lingkungan alam 66, dan pendidikan 74. Dibandingkan dengan tetangga sesama negara ASEAN (tanpa Brunei Darussalam, Timor Leste, dan Myanmar—data tidak ada), “kesejahteraan” Indonesia berada di peringkat tiga. Di bawah Singapura (R 17 dunia) dan Malaysia (R 42 dunia), serta di atas Filipina (R 64 dunia), Thailand (R 67 dunia), Vietnam (R 77 dunia), Kamboja (R 93 dunia), dan Laos (R 108 dunia).

Sementara itu, di antara lima negara berpenduduk terbanyak dunia, peringkat “kesejahteraan” Indonesia berada pada peringkat tiga juga. Di bawah Amerika Serikat (R 18) dan Brazil (R 54), serta di atas China (R 90) dan India (R 100).

***

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dari dua laporan di atas (UNDP dan Legatum), bangsa Indonesia masih harus tetap meningkatkan perjuangan mengembangkan sumberdaya manusia dan peradabannya demi amanat kemerdekaan RI dan amanat pemakmur bumi dari Allah Swt. Setiap perjuangan membutuhkan pengurbanan. Pengurbanan adalah bentuk ihsan, kebajikan berlebih tanpa pamrih, kecuali ridha Allah.

Pengurbanan dimulai dari meletakkan landasan membangun sumberdaya manusia dan peradaban, yaitu tauhid atau iman kepada keesaan Allah Swt., dengan mengurbankan kemunafikan berupa pamrih hawa nafsu, pamrih dunia di balik topeng-topeng simbol kesalehan dan menggantikannya dengan kepasrahan kepada Allah melalui kedekatan hati dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam setiap sikap dan perbuatan.

Pengurbanan kemudian dilanjutkan dalam menegakkan pilar-pilar utama membangun sumberdaya manusia dan peradabannya.

Pertama melalui iptek. Dengan mengurbankan kebodohan, peniruan buta, tradisi copy-paste, dan menggantikannya dengan pencarian ilmu, dan pendidikan bermuara prestasi, diskoveri, kreativitas, dan inovasi.

Kedua melalui moral. Dengan pengurbanan hawa nafsu, egoisme, keserakahan, kesombongan, dan potong kompas, dan menggantikannya dengan nalar sehat, menegakkan keadilan/keseimbangan, memperbanyak ihsan (kebajikan berlimpah tanpa pamrih), kepedulian sosial, dan perilaku prosedural.

Ketiga, melalui berkarya. Dengan mengurbankan kemalasan, mental konsumen, dan karakter pemamah biak. Lalu menggantikannya dengan kerja rajin, mental produsen, dan karakter perintis dan pencipta.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLahil hamd

Para jamaah Idul Adha yang berbahagia

Demikianlah uraian hikmah yang dapat digali dari Idul Adha kali ini, semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Semoga kita diberikan kemampuan menggali hikmah dari setiap ibadah yang kita jalani, sehingga ibadah berfungsi sebagai pencerah bagi kehidupan kita. Amin.

***

Mari lengkapi asa kita tadi dengan doa optimisme berikut:

Ya Allah, berilah kami melalui petunjuk-Mu kemampuan untuk mensyukuri nikmat yang Engkau anugerahkan kepada kami untuk membangun manusia Indonesia dan peradabannya yang Engkau ridhai.

Karena itu, ya Allah, dengan meneladani Nabi utusan-Mu Ibrahim as., kami memohon bekal dan harapan berupa iman yang sempurna, visi yang benar, hati yang senantiasa tunduk dan lisan yang selalu berdzikir, yang mengantarkan pada kesadaran akan kehadiran-Mu dalam setiap sikap dan perbuatan kami. Kami juga memohon ilmu pengetahuan yang luas lagi bermanfaat, rezeki yang halal lagi baik, karya dan amal yang produktif yang tidak saja mendapatkan pengakuan dari sesama manusia namun juga mendapatkan ridha dari sisi-Mu, dan asa yang Engkau kabulkan.

Untuk itu, ya Allah, pertautkan hati-hati kami dalam kelembutan, perbaharui senantiasa daya dan potensi kami, tunjuki kami dalam jalan penuh kedamaian, selamatkan kami dari kegelapan perjalanan bangsa melalui cahaya petunjuk-Mu, dan jauhkan kami dari perbuatan buruk, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

Rabbanâ âtinâ fid dunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah waqinâ adzâban nâr [mafs].

Penutup Teks Khutbah Idul Adha 1441 H

Demikian teks khutbah Idul Adha 1441 H dari IBTimes.ID. Semoga dapat digunakan untuk khutbah Idul Adha tahun 1441 H ini. Semoga bermanfaat.

Editor: Nabhan

Avatar
1 posts

About author
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
Articles
    Related posts
    Khutbah

    Khutbah Jumat: Kekuatan dan Amanah adalah Modal Utama

    3 Mins read
    Khutbah

    Teks Khutbah Jumat: Cinta Dunia, Virus Abadi Sepanjang Masa

    4 Mins read
    Tulisan berikut memuat dua teks khutbah Jumat lengkap untuk digunakan sebagai bahan berkhutbah di masjid mana pun. Tema teks khutbah Jumat yang…
    Khutbah

    Perjuangan bukan Mengharap Penghargaan

    3 Mins read
    السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله بَرَكَاتُه اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ نحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ با للهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ…

    Tinggalkan Balasan