LAZISMU : Klinik Apung Said Tahuleley Membelah Laut Melayani Negeri

 LAZISMU : Klinik Apung Said Tahuleley Membelah Laut Melayani Negeri                  Ilustrasi. Sumber: Republika            
Oleh: Sony Bakhtiar

-LAZISMU-Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H), Muhammadiyah bertekad untuk berkhidmat bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Agar segera terlepas dari belenggu kebodohan dan kemiskinan. Dua persoalan besar tersebut terbukti ampuh melumpuhkan semangat. Sekaligus membenamkan mimpi rakyat dan bangsa Indonesia untuk bebas dan merdeka dari kolonialisme Belanda.

Sebagai pelopor gerakan Islam yang mencerahkan di Indonesia, Muhammadiyah melakukan gebrakan teologi transformatif dengan mendorong Islam tidak hanya dikenal sebagai seperangkat ajaran ritual ibadah semata. Melainkan juga sebagai solusi segala permasalahan yang bersifat kongkret dan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh umat.

Melalui semangat Al Maun, Muhammadiyah meletakkan ‘core business’. Pergerakannya di bidang yang paling dibutuhkan dan langsung bersentuhan dengan kepentingan masyarakat pada saat itu. Yakni pendidikan, sosial, dan kesehatan.

***

Hingga saat ini, Muhammadiyah telah memiliki ribuan amal usaha di bidang pendidikan, sosial, serta kesehatan di seluruh penjuru wilayah Indonesia. Organisasi Islam tertua di Indonesia ini terbukti turut serta dalam membangun sumberdaya manusia Indonesia. Yaitu melalui sekolah dan perguruan tinggi tanpa melihat perbedaan ras maupun agama.

Masyarakat tidak mampu, anak yatim, dhuafa, dan kaum jompo disantuni melalui amal usaha sosial berupa panti asuhan dan panti jompo. Di bidang kesehatan, tak terhitung pula jasa Muhammadiyah bagi bangsa Indonesia. Di antaranya melalui pendirian rumah sakit dan klinik kesehatan di pusat kota maupun di tempat yang belum tersentuh fasilitas layanan kesehatan pemerintah.

LAZISMU: Memberi Untuk Negeri

Tugas dakwah Muhammadiyah dalam mencerahkan dan memberdayakan umat sesungguhnya tidak akan pernah usai. Data kemiskinan perkotaan sebesar 10.13 juta dan pedesaan sebesar 15.54 juta per September 2018 (Data BPS rilis 15-1-2019). Itu menunjukkan pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah berat guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera secara adil dan merata.

Baca Juga  Muhammadiyah versus Salafi

Data tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Muhammadiyah untuk terus berjuang menjalankan misi dakwah. Dengan hadir sebagai representasi wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan menjadi solusi permasalahan umat.

Penyelesaian permasalahan sistemik masyarakat berupa kemiskinan, kebodohan, dan akses layanan kesehatan tidak akan mampu diselesaikan oleh orang per orang. Melainkan dibutuhkan sebuah lembaga yang terorganisir, terpercaya, dan terlatih dengan baik dalam menghimpun serta mengelola dana umat Islam. Berupa zakat, infak, dan sedekah  agar mampu dipergunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan mereka yang berhak.

***

Pada tahun 2002, Muhammadiyah mendirikan Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah (LAZISMU). Lembaga ini selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional melalui SK No. 457/21 November 2002. Kembali dikukuhkan melalui SK Menteri Agama Republik Indonesia nomor 730 tahun 2016 (Lazismu.org).

Program LAZISMU Pusat meliputi 5 pilar, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, dan sosial kemanusiaan. Beberapa program di bidang pendidikan antara lain Beasiswa Mentari, Beasiswa Sang Surya, Beastudi 1000 Sarjana, Filantropi Cilik, Save Our School, Peduli Guru, Sekolah Cerdas, MSPP, dan Trensains. Bidang kesehatan memiliki program unggulan berupa pendirian Klinik Apung Said Tahuleley dan program END TB bagi masyarakat penderita dan yang beresiko tertular tuberkolosis.

Bidang ekonomi menggeliat dengan program 1000 UMKM, Peternakan Masyarakat Madani, Brutal, Tani Bangkit, dan Bina Usaha Ekonomi Keluarga Aisyiyah. Dalam bidang dakwah, LAZISMU memiliki program Pemberdayaan Mualaf dan Dai Mandiri. Pilar terakhir yakni bidang sosial kemanusiaan memiliki program Muhammadiyah Aid, Fidyah, dan Indonesia Terang.

Klinik Apung Said Tahuleley

Wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke memiliki sebaran penduduk yang tidak merata. Bagi mereka yang tinggal tak jauh dari pusat pemerintahan mungkin tidak banyak menemui kendala dalam mengakses berbagai kebutuhan dasar manusia seperti pangan, pendidikan dan kesehatan. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi mereka yang tinggal di wilayah terjauh dan terluar.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Salafi di Akar Rumput

Indonesia bagian timur seperti kepulauan Maluku dan Papua memiliki wilayah yang luas disertai kondisi geografis yang ekstrim. Sehingga fasilitas pendidikan dan kesehatan pemerintah masih belum dapat menjangkau seluruh wilayah terjauh dan terluar daerah tersebut. Menurut Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia pada 2018, rasio puskesmas di Indonesia sebesar 1,39 dan masih terdapat 17 provinsi yang memiliki rasio jumlah puskesmas per kecamatan dibawah rasio nasional.

Dari 17 provinsi tersebut Provinsi Papua dan Papua Barat memiliki rasio terendah yakni 0,73, sedangkan Provinsi Maluku Utara memiliki rasio 1,17. Keterbatasan fasilitas dan personil ditambah sulitnya kondisi medan guna mengakses mereka yang hidup di pedalaman dan pulau-pulau kecil terjauh dan terluar mengakibatkan banyak penduduk yang tidak dapat menikmati fasilitas pendidikan dan kesehatan yang layak. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah bagi pemerintah. Namun bagi Muhammadiyah, kondisi ini adalah sebuah tantangan. Sekaligus sebuah misi dakwah yang harus disambut melalui solusi yang kongkrit dan efektif.

***

Pada tanggal 17 Februari 2017, bertepatan dengan hari Jumat, keinginan PP Muhammadiyah untuk menjalankan misi dakwah sekaligus misi kemanusiaan di Kepulauan Maluku dan Papua akhirnya terwujud. Bertempat di Jakarta Utara, LAZISMU memperkenalkan Klinik Apung Said Tahuleley. Klinik berbasis kapal yacht pertama ini dibuat dengan bahan dasar fiberglass serta memiliki berat delapan ton dengan diameter 15,5 meter x 3,5 meter x 5 meter.

Pengadaan kapal berbiaya dua miliar rupiah ini sepenuhnya dihimpun dari muzakki LAZISMU. Saat diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada pembukaan Tanwir Muhammadiyah di Ambon pada 24 Februari 2017, LAZISMU Pusat menegaskan bahwa dua sasaran utama Floating Clinic modern ini adalah: Pertama, melayani masyarakat miskin di kawasan pesisir dan pulau-pulau terpencil serta kedua, pulau-pulau terpencil yang belum memiliki fasilitas kesehatan.

Baca Juga  Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Bedanya Mu’tazilah dengan Muhammadiyah?

Muhammadiyah berharap semangat filantropi Said Tahuleley sebagai putera Maluku asli yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membela dan memberdayakan kaum marjinal akan terus hidup dan terjaga melalui semangat para mujahid Muhammadiyah yang berjuang untuk melayani mereka yang hidup di wilayah terjauh dan terluar dari atas Klinik Apung Said Tahuleley.

***

Hingga saat ini, Klinik Apung Said Tahuleley (KAST) berkolaborasi dengan komunitas masyarakat setempat sangat agresif menjalankan misi kemanusiaan di pulau-pulau terluar dan terjauh Kepulauan Maluku dan Papua antara lain Pulau Banda, Kulur, Ori, Sepa, Buano, Tihulesi, serta beberapa daerah lain di Maluku.

Kegiatan seperti sunatan massal, pemeriksaan kesehatan dan golongan darah massal sangat dirasakan manfaatnya oleh mereka yang selama ini kesulitan memperoleh fasilitas layanan kesehatan yang layak. Semoga semangat memberi untuk negeri dapat menaikkan kualitas hidup rakyat Indonesia di seluruh pelosok negeri.


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *