IBTimes.ID – Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan peradaban. Gagasan itu mengemuka dalam acara Takrimun Najihin atau pelepasan santri kelas akhir Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon Tasikmalaya yang dirangkaikan dengan peluncuran buku Pesantren Sebagai Basis Pendidikan Karakter: Sebuah Kajian Filosofis dan Sosiologis, Sabtu (7/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula pesantren tersebut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Fajar Riza Ul Haq, Ketua LPPM PP Muhammadiyah, unsur Forkopimda Kabupaten Tasikmalaya, wali santri, serta keluarga besar Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon.
Peluncuran buku tersebut menjadi penanda kuat komitmen pesantren dalam mengembangkan tradisi literasi sekaligus memperkuat konsep pendidikan karakter pesantren yang selama ini menjadi fondasi pembinaan santri.
Buku yang diperkenalkan kepada publik itu mengulas posisi pesantren sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mentransmisikan ilmu keagamaan, tetapi juga membangun karakter, etika sosial, serta nilai-nilai kemanusiaan yang berakar pada ajaran Islam dan budaya masyarakat.
Literasi dan Karakter Menjadi Bekal Generasi Masa Depan
Dalam sambutannya, Fajar Riza Ul Haq memberikan apresiasi atas lahirnya karya intelektual tersebut. Menurutnya, tradisi menulis dan melahirkan gagasan ilmiah merupakan indikator bahwa pesantren memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan nasional.
“Pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga generasi yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan bangsa melalui pemikiran, karya, dan keteladanan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kelulusan dari pesantren bukanlah akhir perjalanan belajar, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas di tengah masyarakat. Karena itu, para santri didorong untuk terus mengembangkan kapasitas diri melalui budaya membaca, menulis, dan belajar sepanjang hayat.
“Jadilah pembelajar sepanjang hayat. Teruslah membaca, menulis, dan mengembangkan diri. Bekal ilmu yang diperoleh di pesantren harus menjadi fondasi untuk memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” pesannya.
Menurut Fajar, tantangan masa depan akan semakin kompleks sehingga membutuhkan generasi dengan pendidikan karakter pesantren yang mampu berpikir kritis, adaptif, namun tetap memiliki pijakan moral dan identitas keislaman yang kuat.
Ia juga mengingatkan pentingnya mewujudkan visi besar Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon, yakni membentuk generasi rabbani yang membawa rahmat bagi semesta. Sosok rabbani, menurutnya, adalah pribadi yang dekat dengan Allah SWT sekaligus menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Sebagai penutup, Fajar mengajak para santri untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat layaknya matahari.
“Jadilah matahari. Di mana pun kalian berada, berikan manfaat, terangi lingkungan sekitar dengan ilmu, akhlak, dan karya-karya terbaik yang kalian miliki,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan karakter pesantren bukan sekadar konsep, melainkan ikhtiar nyata untuk melahirkan generasi yang siap menjawab tantangan zaman dengan ilmu, akhlak, dan kontribusi bagi bangsa. (NS)


