IBTimes.ID – Di tengah gelombang protes mahasiswa akibat kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di berbagai perguruan tinggi, sebuah kabar dari Indonesia Timur menghadirkan perspektif berbeda tentang makna pendidikan yang berpihak pada rakyat. Universitas Muhammadiyah Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kembali menjadi sorotan publik karena konsisten menerapkan kebijakan pembayaran kuliah menggunakan hasil bumi dan tangkapan laut.
Di saat biaya pendidikan tinggi kerap menjadi penghalang bagi masyarakat kecil untuk mengakses bangku kuliah, Universitas Muhammadiyah Maumere justru menghadirkan solusi yang berangkat dari realitas sosial masyarakat setempat.
Kebijakan tersebut memungkinkan mahasiswa membayar biaya pendidikan menggunakan komoditas pertanian maupun hasil perikanan yang kemudian dikonversi menjadi nilai administrasi kuliah.
Praktik ini bukan sekadar inovasi administratif. Lebih dari itu, langkah yang ditempuh Universitas Muhammadiyah Maumere mencerminkan semangat dakwah dan pemberdayaan yang selama ini menjadi karakter khas perguruan tinggi Muhammadiyah.
Kampus tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat.
Berangkat dari Kisah Nyata Mahasiswa
Kebijakan tersebut lahir dari pengalaman nyata yang dialami salah seorang mahasiswa beberapa tahun lalu. Saat itu, mahasiswa tersebut terancam menghentikan studi karena tidak memiliki uang tunai untuk membayar biaya kuliah.
Padahal, keluarganya memiliki hasil panen yang cukup melimpah, namun kesulitan menjualnya karena terbatasnya akses pasar.
Melihat kondisi tersebut, pihak kampus mengambil langkah yang tidak biasa. Hasil panen mahasiswa diterima dan dibantu pemasarannya hingga memiliki nilai ekonomi yang dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban administrasi pendidikan.
Rektor Erwin Prasetyo, S.T., M.Pd., menegaskan bahwa skema tersebut sengaja dirancang untuk melindungi masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi rentan. Kebijakan ini ditujukan agar akses pendidikan tetap terbuka bagi kelompok yang paling membutuhkan.
“Kebijakan tersebut sengaja dirancang agar anak-anak dari sektor informal, seperti petani dan nelayan, serta keluarga yang sedang menghadapi krisis finansial, tetap bisa meraih mimpi menempuh pendidikan tinggi,” ujar Erwin Prasetyo dalam keterangannya dilansir dari portal berita Zona Mahasiswa.
Komoditas yang dapat digunakan pun cukup beragam, mulai dari padi, jagung, kelapa, cengkih, kemiri, hingga kakao. Sementara dari sektor kelautan, kampus menerima ikan segar maupun ikan kering yang selanjutnya dikonversi ke dalam nilai pembayaran kuliah secara transparan.
Tak hanya itu, Universitas Muhammadiyah Maumere juga menyediakan skema cicilan biaya kuliah hingga enam tahun tanpa bunga.
Kebijakan ini hadir sebagai jawaban atas persoalan keterbatasan likuiditas yang masih banyak dialami masyarakat. Terutama keluarga petani, nelayan, dan pekerja sektor informal di kawasan Indonesia Timur.
Keberhasilan Universitas Muhammadiyah Maumere mempertahankan model pembiayaan tersebut menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan nasional.
Ketika banyak kampus berlomba meningkatkan pendapatan melalui berbagai instrumen biaya, kampus Muhammadiyah ini memilih jalan yang berbeda.
Kampus ini menunjukkan bahwa keberpihakan kepada mahasiswa tetap dapat berjalan seiring dengan keberlangsungan dan penguatan institusi.
Dari Maumere, kampus Muhammadiyah memperlihatkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan putusnya harapan generasi muda untuk mengenyam pendidikan tinggi. (NS)


