Mahbub Ihsan: Sang Perintis Dakwah Pesisir

 Mahbub Ihsan: Sang Perintis Dakwah Pesisir

Ilustrasi. Sumber: Wikipedia

Oleh: Siti Fatimah


Muhammadiyah merupakan organisasi dakwah Islam yang 107 tahun menyinari gerakkan pembaharuan Islam di Indonesia. Sebagai organisasi terbesar di Indonesia dan organisasi keagamaan paling modern di dunia, dalam gerak dan perkembangannya telah melalui dan melampaui tantangan dan zaman. Berdiri pada 18 November 1912, tepat empat tahun setelah KH. Ahmad Dahlan mendirikannya di Yogyakarta, pada 1 November 1921 yang diketuai oleh KH. Mas Mansyur mulai berdirilah Muhammadiyah di kota Surabaya Jawa Timur, diikuti pula perkembangannya ke dareah-daerah pelosok hingga 12 tahun kemudian pada tahun 1933 berdirilah organisasi Muhammadiyah di kota pesisir yaitu kota Tuban.

Muhammadiyah Tuban diperkenalkan oleh Saleh Umar Bayasut dan KH. Misbach, pada mulanya mereka berdakwah melaui pengajian-pengajian dari masjid ke masjid kemudian sedikit demi sedikit mulai memperkenalkannya kepada masyarakat yang saat itu masih awam dan penuh kecuriagaan. Tetapi, sedikit demi sedikit masayarakat sekitar bisa menerimannya. Sudah barang mesti jika dalam gerak dan langkah dakwah pasti menemui titik problematika, sama halnya apa yang terjadi di Tuban pada tahun 1942-1945 terjadi pengambil alihan Jepang atas pendudukan Belanda di Indonesia sehingga membuat Muhammadiyah Tuban berstatus non-aktif tak berkembang sama sekali.

Baru pada tahun 1960 gerakkan dakwah Muhammadiyah Tuban mulai bergeliat kembali meski tak begitu progess dikarenakan beberapa anggotanya masuk ke partai Masyumi. Dan di bawah kepemimpinan A.A Ghazali itulah pada tahun 1961 diadakan musyawarah luar biasa dengan memilih pemimpin dan struktur kepengurusan baru yang diketuai oleh Moehammad Oemar Tauhid. Sehingga geliat Muhammadiyah mulai nampak kepermukaan dengan diiringi berdirinya Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah.

Mahbub dan Geliat Dakwah

KH. Mahbub Ihsan memiliki peran yang sangat kuat dan sentral dalam laju dan perkembangan Muhammadiyah di Kabupaten Tuban, tak mudah melupakan sosok sederhana dan gigih seperti beliau. Beliau mulai aktif di Muhammadiyah Tuban sejak pindah dari Lamongan ke Tuban pada tahun 1962 mengikuti jejak sang istri yang kebetulan diangkat menjadi PNS di Tuban. Beliau mengawalai lemabaran barunya di kota baru ini dengan tetap menjadi seorang pengajar di SMP Muhammadiyah 1 Tuban pada tahun 1964-1966. Peran beliau dalam perkembangan Muhammadiyah Kabupaten Tuban ini, dapat dikelompokkan menjadi tiga aspek, diantaranya, aspek agama dan dakwah, pendidikan dan sosial.

Pada tahun 1966 terpilih seorang pimpinan Muhammadiyah Tuban baru, waktu kecil beliau habiskan di hizbul wathan, beliau lahir pada 05 Maret 1931 di Kabupaten Lamongan. Beliau merupakan alumni sekaligus pengajar di pondok pesantren al-Amin Sedayu Lawas milik Kyai Amin, kemudian beliau juga pernah mondok di Tebu Ireng Jombang dan pernah menimba ilmu di Krapyak Yogyakarta, sekaligus seorang Hafidz. Beliau termasuk ahli managerial ulung sekaligus seorang Kyai yang penuh dengan kesederhanaan. Ditangannya pula lahir sekolah-sekolah, lembaga sosial dan berkembangnya cabang-Cabang Muhammadiyah Tuban. Beliau merupakan pimpinan daerah Muhammadiyah terlama selama memimpin, yaitu selama 34 tahun.


Kedua, aspek pendidikan. Dalam dunia pendidikan, dimana beliau terkenal sebagai ahli managerial, ditangan beliau berdirilah sekolah-sekolah dan perguruan Muhammadiyah di Kabupaten Tuban diantaranya MI Muhammadiyah 5 Widang (1968), MI Muhammadiyah 9 Widang (1994), SD Muhammadiyah 1 Bancar (1995), SMP Muhammadiyah 2 Rengel 1971, SMP Muahmmadiyah 3 Bancar (1984)., SMP Islam Jenu (1985), SMP Muhammadiyah 6 Tambakboyo (1989), MTs Muhammadiyah 1 Palang (1980), MTs Muhammadiyah 2 Palang (1988), STIE Muhammadiyah Tuban (2000).

***

Pertama, aspek keagamaan dan dakwah. Tepat pada tahun 1966 beliau dipercaya menjadi pimpinan daerah Muhammadiyah Tuban beliau memulai dakwahnya dengan menggelorakkan dan menghidupkan pengajian-pengajian keagamaan melalui masjid-masjid yang tersebar di wilayah Tuban mulai dari masjid Taqwa Baturetno, al-Ikhlas Kebonsari, Nur Salim dan Muhdor Tuban. Selain itu beliau juga mendirikan pondok pesantren al-Ma’had al-Islamy pada tahun 1968, beliau mengatakan tujuan didirikannya pondok pesantern ini untuk mengimbangi anak-anak dalam mengenyam pendidikan Islam agar mereka tak hanya fokus dan paham masalah ilmu umum yang diajarkan di sekolah saja, akan tetapi pelajaran dan pendidikan Islam harus diketahui dan disebarluaskan oleh generasi Islam itu sendiri. Selain itu dibawah kepemimpinan beliau Muhammadiyah berkembang pesat sampai kepelosok hingga mendirikan 18 cabang Muhammadiyah di seluruh pelosok Tuban.

Dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah ini, diharapkan akan kesejajaran lemabaga pendidikan Muhammadiyah ini dengan lembaga pendidikan pada umumnya, sehingga warga Islam terutma warga Muhammadiyah dapat meningkatkan mutunya baik dari aspek akademik, prestasi, karya ilmiah dan prasarananya.


Ketiga, dalam bidang sosial. Program majelis sosial yang dilakukan pada masa kepemimpinan KH. Mahbub Ihsan yaitu, melakukan penyantunan terhadap yatim piatu yang ada di Tuban, Melakukan santunan Lansia secara berkala, Pembentukan panitia zakat fitrah, Mendirikan panti asuhan, Mendirikan pondok pesantren al-Ma’had al-Islami, dan Melakukan perkembangan RS Muhammadiyah Tuban.

***

Sebagai pemimpin kharismatik dan terlama memimpin Muhammadiyah selama 34 tahun, KH. Mahbub Ihsan memiliki pemikiran-pemikiran yang maju, modern, luwes dan berkesinambungan. Tentu yang melatar belakanginya adalah Muhammadiyah bagi beliau. Selama perjalanan dakwahnya beliau terkenal sangat sederhana seringkali diminta untuk mengisi pengajian, jika tidak ada mobil beliau memakai motor. Bahkan ada seorang keturunan Tionghoa yang berikrar syahadat dibimbing langsung oleh beliau.

Pemikiran-pemikiran dan dakwah beliau sangat populer dan melalui pengajian-pengajian lambat laun masyarakat Tuban yang terkenal dengan kultural sentris dapat menerima dakwah Muhammadaiyah yang awalnya ditolak. Bagi beliau menyebarkan dakwah Islam dengan tujuan agar menyadarkan dan memperbaiki tatanan kehidupan masyarakat itu sangat penting dan mengembalikannya pada ajaran hakiki, ajaran murni yang bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah, sesuai tujuan awal berdirinya Muhammadiyah.

Beliau merupakan pemimpin dan sosok Da’i yang lembut sekaligus keras, keras terhadap parktik-praktik kemusyrikan dan praktik-praktik bid’ah yang tak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Karena ketegasan dan kekerasannya inilah beliau pernah dipenjara selama 10 bulan kurungan dengan tuduhan akan ikut mendirikan negara Islam Indonesia, namun tak bertahan lama akhinya beliau dibebaskan dan pada tahun 1999 beliau dipercaya sebagai ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tuban.

Sebagai kader, keteladanan KH. Mahbub Ihsan adalah sosok inspirasi untuk tetap berkarya dan memajukan dakwah Islam melalui Muhammadiyah sebagai wadah gerak langkah kemajuan agama. Dan selalu memberikan ruang dan wadah untuk kadaer dan umat agar meraih prestasi serta memajukan agamanya melalui lembaga-lembaga dakwah, pendidikan dan sosial. Maka, dapat diambil hikmah tentu tak boleh lelah dalam berdakwah, tak boleh menyerah sebelum menjemput berkah. Hal ini sebagai dasar motivasi penulis untuk berdakwah meski pernah dipecat dan diusir ketika menjadi pengajar, oleh sekelompok massa karena berlatar Muhammadiyah.

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *