Inspiring

Haji Mohammad Syuja’: Ketua PKU Muhammadiyah Pertama

5 Mins read

Haji Mohammad Syudja’ (ejaan lama Hadji Mohammad Syoedja’),  merupakan salah satu murid KH Ahmad Dahlan yang cukup melegenda karena dikenal sangat kritis dan visioner. Dirinya dikenal dalam sepak terjangnya sebagai Ketua PKO (selanjutnya disebut PKU) Muhammadiyah pertama.

Berawal dari Legenda Al-Ma’un

Salah satu legenda yang terkenal adalah ketika KHA Dahlan mengajar “Surat Al-Maun” selama tiga bulan kepada murid-muridnya. Berikut dialognya:

“Kiai, mengapa pelajarannya tidak ditambah-tambah?” tanya seorang murid’.
“Apa Anda sudah mengerti betul?” tanya Kiai Haji Ahmad Dahlan.
“Kita sudah hafal semua, Kiai,” jawab muridnya.
“Kalau sudah hafal apa sudah Anda amalkan?” tanya Kiai.
“Apa yang diamalkan? Bukankah surat al-Ma’un sudah berulang kali kami baca untuk rangkapan Fatihah di waktu kami salat?” jawab murid.

“Bukan itu yang saya maksudkan. Diamalkan artinya dipraktikkan, dikerjakan! Rupanya Anda semua belum mengamalkannya. Karena itu, mulai pagi ini Anda sekalian agar pergi berkeliling mencari orang miskin. Kalau sudah dapat. Bawa pulanglah ke rumah masing-masing. Berilah mereka mandi dengan sabun yang baik, berilah pakaian yang bersih, berilah makan dan minum, serta tempat tidur di rumahmu. Sekarang juga pengajian saya tutup, dan Anda sekalian hendaknya melakukan petunjuk saya tadi” (Sutrisno Kutoyo, 1998: 112–113).

Sosok Murid yang kritis itu tidak lain adalah adalah Haji Mohammad Syuja’, murid generasi pertama KH. Ahmad Dahlan, bersama dua saudaranya Haji Fachrodin (Jazoeli) dan Ki Bagus Hadikusumo (Hidajat). Murid generasi awal yang mendapatkan pendidikan dari KH Ahmad Dahlan lainnya adalah Haji Muhammad Zain, Haji Muhammad Mokhtar, Haji Ahmad Badawi, dan Haji Hajid. Soedjak dilahirkan di Kauman pada 1882. (Ghifari)

Nama kecilnya Danil atau Daniyalin, putera Lurah Haji Hasyim Ismail ini lahir pada Selasa, 24 Agustus 1886 M/1303 H. Nama Syuja’ atau Muhammad Syuja’ diperoleh Daniel atau Daniyalin, setelah menunaikan ibadah haji. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Wonokromo Yogyakarta dan “ngaji” kepada para kiyai (pengulu) di Masjid Gedhe Kauman. (Agus Syamsuddin) ”( MPKU PPM, 2020).

Haji Muhammad Syuja’ Menjadi Ketua PKU Muhammadiyah

PKU didirikan untuk merealisasikan pelayanan-pelayanan sosial dengan membangun poliklinik, weeshuis (rumah yatim) dan armhuis (rumah miskin).  Singkat cerita, sekitar tujuh setengah tahun setelah deklarasi pendirian persyarikatan Muhammadiyah, tepatnya tanggal 17 Juni 1920 diadakan Rapat Umum Terbuka (Openbare Vergadering) Muhammadiyah, diikuti sekitar 200 peserta, anggota dan simpatisan Muhammadiyah.

Rapat ini mengagendakan pembentukan bahagian (kini bernama majelis) yang mendukung kerja-kerja Hoofdbestuur (kini Pimpinan Pusat) Muhammadiyah. Salah satunya adalah Bagian Penoeloeng Kesengsaraan Oemeom (baca: umum) yang disingkat PKU dengan Kyai Soeja’ sebagai ketuanya yang menurut Ghifari diresmikan dalam Rapat Anggota Istimewa Muhammadiyah pada 18 Juni 1920.

Baca Juga  KH. Ahmad Badawi (1): Sosok Ulama Otoritatif

Setelah dilantik sebagai ketua, H.M. Syuja’ membuat rencana kerja yang pada masa itu masih dianggap aneh dan mustahil oleh kebanyakan hadirin peserta rapat. Beliau menyampaikan rencana terkait Bagian PKU yang diamanahkan kepadanya, dengan ungkapan akan membangun rumah sakit, rumah miskin, dan rumah yatim, untuk menolong orang-orang yang berada dalam kesusahan. Ia menyebut kata-kata asing bahasa Belanda: hospital, armenhuis dan weeshui ”( MPKU PPM, 2020).

KH Ahmad Dahlan mempercayakan PKU dipimpin oleh Soedjak. Ketika ditunjuk menjadi Ketua Bagian PKU dan ditanya oleh KH Ahmad Dahlan tentang apa yang akan dilakukannya ketika memimpin bagian ini, Soedjak menjawab, “Hendak membangun hospital untuk menolong kepada umum yang menderita sakit.” KH Ahmad Dahlan bertanya lagi, “Dan selain daripada itu hendak membangun apa pula?”. Soedjak menjawab, “Hendak membangun Armhuis (rumah miskin)”. Kemudian ditanya lagi pertanyaan yang sama, Soedjak menjawab, “Hendak mendirikan weeshuis (rumah yatim).” Jawaban Soedjak menuai tertawaan para peserta Rapat Anggota Istimewa yang menyangsikan target-target yang dirancang Soedjak (Ghifari Yuristiadi, 2015).

Kedatangan dr. Soetomo

Ide pendirian hospital itu dipandang sesuatu hal yang mustahil bisa dicapai pada saat itu, sesuatu yang masih jauh dari pikiran umat Islam saat itu, sehingga ia ditertawakan; dianggap pengimpi yang ngelantur. Hospital, armenhuis dan weeshuis, istilah-istilah aneh dan asing itu adalah sesuatu yang ada hanya dalam pikiran dan kehidupan orang Barat, penjajah kolonial Belanda, oleh para misionaris Kristen Eropa yang datang bersama para penjajah itu.

Namun, dengan keyakinan menolong agama Allah, Haji Syuja’ mantap menyampaikan niat rencana kerjanya sebagai Ketua Bahagian PKO. Tak lama dua-tiga tahun kemudian, janji Allah itu hadir dihadapannya. Datang seorang pemuda dari Malang, Dokter Soetomo, seorang dokter Jawa lulusan STOVIA Surabaya, menghadap Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Oleh Kiai Dahlan diserahkan kepada Haji Syuja’ yang pernah mengimpikan sebuah hospital untuk menolong kaumnya yang menderita. Maka dimulailah sebuah klinik kesehatan pada tahun 1923. Berkat i’tikad baik, ikhlas, ketekunan dan kesungguhan (jihad), mimpi-mimpi Haji Moehammad Syuja’ itu berubah menjadi kenyataan.

Legacy Haji Muhammad Syuja’

Haji Syuja’ (beserta adiknya, Haji Fachrodin) adalah dua di antara tujuh tokoh yang menyatakan bersedia menjadi pengurus Boedi Oetomo Kring Kauman. Kepengurusan dalam BO Kring Kauman ini menjadi persyaratan bagi K.H. Ahmad Dahlan untuk mengajukan rechtpersoon (legalitas hukum) organisasi Muhammadiyah kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Baca Juga  Al-Muhasibi: Cara Menghindari Riya’ dan ‘Ujub

Dalam buku Muhammadiyah Membangun Kesehatan Bangsa sekurang-kurangnya ada empat peran seorang Haji Muhammad Syuja’ dalam kiprahnya di Muhammadiyah dan perjuangan umat Islam. Kiprah tersebut antara lain: Menjadi inisiator Penoeloeng Kesengsaraan Oemoem (PKO), urusan perbaikan perjalanan haji dan pembentukan Persatuan Djamaah Haji Indonesia (PDHI), serta penyelenggaraan Kongres Al-Islam Hindia/Indonesia (Kongres Agama Islam) tahun 1922-1932 (sebanyak 9 kali) dan aktivitas beliau sebagai anggota Lasykar Hizbullah ”( MPKU PPM, 2020).

Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) adalah salah satu dari empat bagian pertama yang dibentuk Hoofdbestuur Muhammadiyah pada 1920. Secara khusus, sesuai dengan namanya, bagian ini diharapkan dapat mendesain, mengelola, dan mengembangkan pelayanan sosial Muhammadiyah. Diketuai oleh Hadji Soedjak, dalam kurun 1920-1931, Bagian PKU telah membuka poliklinik kesehatan (1923) serta mendirikan rumah miskin (1923) dan rumah yatim (1931) (Ghifari Yuristiadi, 2015)..

Target pertama yang dibidik oleh PKU adalah pelayanan kesehatan seiring telah berkembangnya pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh zending yakni Zendinghospitaal Petronella atau yang biasa disebut juga Petronella Hospitaal yang dibangun pada 1899 (sejak 28 Juni 1950 berubah nama menjadi Rumah Sakit Bethesda). Sebuah poliklinik kecil dibuka di Notoprajan pada 1923 (Ghifari Yuristiadi, 2015).

Saat itu, persyarikatan Muhammadiyah berhasil mendirikan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta (1938), Rumah Yatim (Panti Asuhan) di Lowanu Yogyakarta dan Rumah Miskin di Serangan, Ngampilan Yogyakarta. Sekarang, PAY di Lowanu Yogyakarta berkembang menjadi dua, PAY Muhammadiyah (putra) tetap di Lowanu dan PAY ‘Aisyiyah (putri) di Serangan. Adapun rumah miskin, tinggal kenangan sejarah. Sebuah foto yang dimuat dalam almanak Muhammadiyah tahun 1359 H./ 1940 M. menceritakan tentang keberadaan sebuah “Roemah Miskin Moehammadijah” (MPKU PPM, 2020).

Asas PKU Muhammadiyah: Kemanusiaan Lintas Batas Agama

Di masa awal, pengelolaan rumah sakit Muhammadiyah melibatkan dokter-dokter Nasrani Belanda yang bekerja sukarela, sekolah dikelola secara modern guna meningkatkan taraf hidup dan berperan dalam dunia modern. Umat mulai menyadari manfaat bekerja sama dengan semua pihak tanpa melihat agama dan kebangsaan bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat. (Mulkhan: 2010, 216–217).

Hal tersebut senaad dengan “Asas Muhammadiyah Bagian PKU” dapat ditemukan di artikel Abdul Munir Mulkhan yang berjudul “Asas PKU: Pendidikan Muhammadiyah Bagi Semua” Warta PTM, Desember 2014,:

Baca Juga  Badiuzzaman Said Nursi (2): Perjalanan Dakwah & Persentuhan dengan Turki Utsmani

“Moehammadijah b/g P.K.O. bekerdja dan menolong kepada kesangsaraan oemoem itoe, sekali-kali tidak memandang kanan dan kiri oesahanja orang lain jang menolong kesangsaraan oemoem, dan tidak poela oentoek membantoe kapada kehendak orang lain jang akan mendapatkan pengaroeh dari ra’jat oemoem. Akan tetapi mengadakan itoe hanja mengingat dan memakai perintah perintah Agama Islam belaka, jang dibawa oleh joenjoengan kita K. Nabi Moehammad s.a.w. dengan menoeroet djalan (soennah) nja terhadap kepada oemoem. Djadi seolah-olah dasarnja pertolongan dari pada Moehammadijah b/g. P.K.O. itoe, soeatoe soember (mata air) pertolongan jang djernih lagi bersih, terletak diseboeah tempat jang bisa didatangi oleh segala orang tidak dengan memandang bangsa dan Agama.”

Asas PKU, yang merupakan orientasi utama gerakan Muhammadiyah dengan seluruh bagiannya, patut dibaca ulang guna merevitalisasi spirit gerakan ini dalam usia seabad. Dalam dokumen yang sama dinyatakan:

“Barang siapa jang akan mengambil air itoe diperkenankan, asal tidak dengan sengaja akan memboenoeh aliran dan menoetoep mata airnja. Pertolongan Moehammadijah b/g. P.K.O. itoe, boekan sekali-kali sebagai soeatoe djaring kepada manoesia oemoemnja, sopeja dapat menarik hati akan masoek kepada agama Islam atau perserikatan Moehammadijah, itoe tidak, akan tetapi segala pertolongannja itoe semata-mata karena memenoehi kewadjiban atas agamanja Islam terhadap segala bangsa, tidak memandang Agama. Tidak mengandoeng maksoed oentoek membela sesoeatoe kepentingan diri atau bangsanja, soepaja tetap dalam kemenangan di atas fihak bangsa jang tertolong. Atau tidak poela bermaksoed, supaja sesengsara itoe tinggal tetap dalam pertolongannja, akan tetapi bermaksoed segala bahaja kesangsaraan dan kehinaan terhindar dari pada masing-masing diri dan bangsanja”

***

Dalam asas PKU tersebut jelas bahwa tujuan didirikannya PKU Muhammadiyah adalah bukan bertujuan untuk agenda Islamisasi atau Muhammadiyahisasi, dan bukan untuk umat Islam saja, melainkan untuk menolong semua orang tanpa memandang golongan maupun agama.

Terakhir, sepanjang pengabdian di Muhammadiyah, Kyai Syuja’ sempat mengisi beberapa jabatan, antara lain: Ketua Hoofdbestuur (HB) Moehammadijah Bahagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (1920), Juru Periksa (Anggota) HB Moehammadiyah Hindia Timoer (1923), Commisaris HB Moehammadijah (1924), Djuru Pemeriksa HB Muhammadijah (1925), Vice President HB Moehammadijah (1934-1936), Penasehat PP Muhammadiyah (1959-1962).

Haji Moehammad Syuja’ wafat pada tanggal 5 Agustus 1962. Dirinya dikenal sebagai salah satu tokoh yang mewarisi sikap KH. Ahmad Dahlan, guru sekaligus teman seperjuangannya.

Editor: Nabhan

Print Friendly, PDF & Email
2 posts

About author
Dokter Muhammadiyah. Alumni IMM Pondok Internasional KH Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta
Articles
Related posts
Inspiring

Merawat Pemikiran Ahmad Syafii Maarif

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Awal tahun 1970-an ditandai dengan babak pembaharuan Islam di tanah air Indonesia. Kemunculan intelektual publik seperti almarhum…
Inspiring

Candra Sihotang, Guru Madrasah Berprestasi yang Pernah Jadi Buruh

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Jika Presiden Indonesia, Joko Widodo punya tagline “Kerja, Kerja, Kerja”, tampaknya slogan “Berjuang, Berusaha, Berprestasi” cocok disematkan kepada Candra…
Inspiring

Maftuhah Mustiqowati, Guru Madrasah Pelopor Peduli Lingkungan

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Seringkali orang akan acuh ketika menemui imbauan untuk mencintai lingkungan, penghijauan bumi, serta upaya-upaya gerakan penanggulangan sampah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *