Sang Pencerah Menurut Kiai Syuja’

 Sang Pencerah Menurut Kiai Syuja’

Ilustrasi. Sumber: Al Wasath Publishing

Oleh : Roynaldy Saputro*

Mendengar kata-kata Sang Pencerah, pastilah kita akan mengingat sosok K.H. Ahmad Dahlan. Julukan ini mulai familiar ketika film tentang gerakan syiar ke-Islaman beliau diangkat dilayar lebar tahun 2010an. Film dengan judul Sang Pencerah membuat Kiai Dahlan dikenal oleh khalayak umum. Tidak hanya dikenal dari warga persyarikatan yang pernah dia dirikan, akan tetapi juga dikenal oleh warga Indonesia.

Memang tidak akan pernah ada habisnya menggali keberhasilan beliau dalam mendirikan Muhammadiyah. Setiap tulisan dan argumen muncul dari para sejarahwan atau akademisi-akademisi mendiskripsikan tentang biografi beliau. Salah satu yang saya baca adalah dari murid beliau sendiri yaitu Haji Muhammad Syuja’. Ia adalah murid, kader dan generasi pertama dari berdirinya persyarikatan Muhammadiyah.

Syuja’ menulis tentang gurunya tersebut sekitar 2 tahun terakhir semasa hidupnya. Ia menjelaskan dalam catatan di buku ini bahwa di akhir hayatnya, atau di masa tuanya dia habiskan untuk mengetik perjuangan guru beliau dalam syiar agama Islam. Berbagai kertas beliau gunakan untuk mencatat cerita-cerita tersebut (hal. 10). Kini, buku ini diterbitkan dengan judul Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangan Muhammadiyah di Masa Awal.

Syuja’ dan Didikan Kiai Dahlan

Buku ini dibuka dengan penjelasan tentang Haji Muhammad Syuja’ dan terjemahan Q.S Al- Ma’un serta keadaan Kauman dan Yogyakarta pada saat itu. Dijelaskan pula bahwa muhammadiyah lahir dan digerakkan oleh pemuda-pemuda hasil didikan Kiai Dahlan. Pemuda-pemuda tersebut antara lain Haji Fakhrudidin, Ki bagus Hadikusumo, Haji Muhammad Zain, Haji Muhammad Mokhtar, K.H.A Badawi, R.H Hadjid, H. M. Syoeja’ dll.

Pendirian Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang berisfat pembaharuan membuat banyak kader dikirim ke India setelah bekerjasama dengan Jamaluddin Al Afghani. Beberapa kader yang dikirim adalah Muhammad Dahlan, Kahfi, Djundab, Machdum Qowaid. (hal. 7)

Haji Mohammad Syuja’ kemudian menerangkan dan menceritakan siapa itu Kiai Dahlan. Kalau dibaca secara saksama memang alur dari buku ini mirip dengan film Sang Pencerah yang pernah tayang. Akan tetapi ada beberapa bagian yang tidak dihadirkan oleh film tersebut.

Salah satunya adalah mengenai Kiai Dahlan yang menjadi biro jodoh bagi ayahnya. Hal ini terjadi manakala ibunda ahmad dahlan sudah meninggal. Lantas 19 bulan dari meninggalnya ibunda beliau. K.H Ahmad Dahlan menikahkam ayahnya dengan Nyai R. Ng. Khatib Tengah Haji Muhammad Ma’ruf.

Dalam perjalanan menikahkan ayahandanya tersebut Haji Muhammad Syuja’ mempunyai kesimpulan bahwa Ahmad Dahlan adalah negosiator ulung dan peduli akan kehidupan ayahandanya sepeninggal ibundanya.

Haji Muhammad Syuja’ lantas menerangkan tentang perenungan Ahmad Dahlan selepas haji ke-duanya. Beliau merenungi keadaan pada saat itu dari kalimat Imam Ghazali. ”Rusaknya rakyat adalah dari rusaknya para raja-raja dan rusaknya raja-raja itu dari ulama yang buruk“. Dari kalimat tersebutlah Ahmad Dahlan mencari solusi bagaimana syiar agama bisa membuat transformasi sosial pada saat itu. (hal. 56)

Masa Awal Muhammadiyah

Mengenai perjalanan Muhammadiyah, orang berfikir muhammadiyah setelah dideklarasikan ataupun disyiarkan ke khalayak ramai pada tahun 1912 M dapat berjalan lancar sebagai organisasi. Akan tetapi Haji Muhammad Syuja’ menjelaskan bahwa agenda yang menggembirakan dan yang membuat muhammadiyah berkembang pesat adalah agenda pengajian ”Malam Djoem’ah“. Pengajian tersebut lahir dari renungan pemuda-pemuda yang melayani rapat tahunan organisasi Boedi Utomo di sekolahan K.H. Ahmad Dahlan (rumahnya). Pengajian dengan metode baru tersebut mendapat sambutan yang ramai dari masyarakat (hal. 87).

Dari pengajian tersebut kemudian lahir juga pemikiran tentang pembagian kinerja ditubuh Muhammadiyah. Hal ini membuat hasil ketika pada tanggal 18 Juni 1920 Rapat Anggota Muhammadiyah Istimewa melantik 4 Bahagian di Muhammadiyah, yaitu :

  1. Bagian Sekolah yang diketuai H.M. Hisyam. Beliau mempunyai cita-cita mendirikan Universitas, sehingga orang Islam mempunyai sarjana-sarjana yang berguna bagi agama.
  2. Bagian Tabligh yang diketuai H.M Fakhruddin. Beliau mempunyai cita-cita membangun langgar dan masjid serta menyelenggarakan madrasah mubalighin dan pondok luhur yang modern.
  3. Bagian Taman Pustaka yang diketuai H.M Mokhtar. Beliau mempunyai cita-cita menyiarkan agama Islam dengan selebaran dan majalah dengan cuma-cuma ( gratis ) serta membangun taman pustaka ( taman bacaan ) yang bisa di akses oleh semua orang untuk tempat membaca segala buku.
  4. Bagian Penolong Kesengsaraan Oemum yang diketuai oleh H.M Syoeja’. Beliau mempunyai cita-cita membangun rumah sakit, rumah miskin, dan rumah yatim piatu.

Semua cita-cita diucapkan oleh masing-masing ketua diatas mimbar dan dengan suara lantang. Audience pun bertepuk tangan. Tapi tidak dengan apa yang di ucapkan oleh H.M Syuja’, audience tertawa karena merasa apa yang dicita-citakan Ketua bagian PKO tersebut tidak rasional.

Akan tetapi segera H.M Syuja’ membalas dengan berdiri dipodium dan berkata bahwa, “orang non-muslim saja bisa maju dan berbuat hanya karena rasa kemanusiaan, sedangkan kita yang berdasarkan agama yang benar dan mencontohkan rasa kemanusiaan pula, apakah tidak bisa membuat hal yang seperti itu?“ (hal. 103).

Setelah rapat tersebut, Muhammadiyah mendirikan satu lagi bagian, yaitu bagian penolong haji yang di amanahkan pula ke H.M Syuja’. Ia menceritakan pula pengalamannya membimbing jamaah haji dari Indonesia ke Mekkah.

Perjuangan tersebut sampai menewaskan salah satu temannya yang juga diutus oleh K.H Ahmad dahlan untuk menemaninya yaitu Wiryopertomo. Selain untuk membimbing jamaah haji, H.M Syuja’ juga diutus untuk membujuk K.H Baqir untuk pulang ke Yogyakarta dan diamanati oleh K.H Ahmad Dahlan untuk mengajar di Kauman.

Amanat itu tentu sudah jelas manakala memang umur Kiai Dahlan yang sudah cukup tua dan sudah sering sakit-sakitan. Maka ia berifikir untuk mencari pengganti.

Benar saja, ketika Ahmad Dahlan sudah sakit sedikit parah, maka keluarga meminta Ahmad Dahlan untuk pergi menyendiri dan tidak memikirkan dakwahnya lagi, baik di Kauman, di luar daerah, ataupun di Muhammadiyah sendiri.

Akhir Perjuangan Kiai Dahlan

Akhirnya Ahmad Dahlan pergi ke Tretes, Malang untuk beristirahat. Akan tetapi tidak lama setelah itu Ahmad Dahlan pulang ke Yogyakarta lagi dan memikirkan Muhammadiyah dengan keadaan kurus dan kaki membengkak. Sehingga dari dokter memintanya untuk istirahat di rumah saja tanpa memikirkan yang berat-berat (hal. 171)

Sebelum K.H Ahmad Dahlan Wafat, beliau berpesan kepada K.H Ibrahim yaitu, “Agama islam itu misal laksana gayung yang rusak. Tetapi orang islam perlu menggunakan gayung tersebut. Tetangga kita memegang dan mempunyai gayung, akan tetapi mereka tidak mengetahui fungsi gayung tersebut. Siapakah tetangga itu? Yaitu kaum cerdik. Maka dekatilah mereka, sehingga mereka mengenal kita dan kita mengenal kita”. (hal. 176).

Dari cerita H.M Syuja’ tentu membuat kita tahu bahwa perjuangan Ahmad dahlan adalah perjuangan lillahita’ala, tidak menginginkan apapun dan semua gerakannya karena ikhlas. Cerdas karena tidak hanya menggunakan cara-cara tradisional dalam mengembangkan agama Islam.

Akan tetapi juga menyerap dan menggunakan metode kaum-kaum cerdik. Melihat perjuangan beliau di masa-masa kesehatannya terganggu pun, beliau lebih memilih memikirkan jamaah dan muhammadiyah daripada harus egois hanya memikirkan dirinya sendiri.

*) Guru SMA-SMK Muhammadiyah Mayong Jepara

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *