Tafsir

Menafsir Korelasi COVID-19 dan Dajjal

4 Mins read

“Tidak ada suatu negeri pun yang tidak akan dimasuki Dajjal kecuali Makkah dan Madinah, karena tidak ada satu pintu masuk pun dari pintu gerbang-gerbangnya kecuali ada para malaikat yang berbaris menjaganya.” (HR Bukhari no. 1881 dan Muslim no. 2943, dari Anas bin Malik ra). Lantas, adakah korelasi COVID-19 dan dajjal?

COVID-19 dan Pertanda Dajjal?

Berangkat dari hadis di atas, tidak sedikit dari umat muslim yang memaknai pandemi covid 19 sebagai sosok dajjal. Hal ini didasari atas beberapa persamaan fenomena yang terjadi saat ini. Fenomena utama yang mendasari sebagian masyarakat berpikir bahwa COVID-19 adalah dajjal, tidak lain adalah dengan dilarangnya umat muslim salat berjamaah di masjid.

Salat merupakan tiang agama yang menjadi rukun kedua dalam Islam setelah syahadat. Ini menandakan bahwa salat menjadi syarat utama seseorang menjadi muslim setelah melafalkan kalimat syahadat. Wajib hukumnya bagi seorang laki-laki untuk salat berjamaah di masjid. Rasulullah pun mengancam orang-orang yang tidak melaksanakan salat berjamaah di masjid dan digolongkan ke dalam golongan orang-orang munafik. 

Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat jama’ah. (HR Bukhori no. 657 dan Muslim no 651, dari Abu Hurairah).

Ketika shalat berjamaah yang sedemikian vital dan pentingnya terhambat dengan adanya COVID-19. Maka wajar jika masyarakat memaknai wabah COVID-19 salah satu tanda akhir zaman.

Demikian pula yang terjadi saat ini dimana COVID-19 pun telah menyebar di seluruh dunia sehingga memberi dampak diberbagai bidang kehidupan. Salah satu bidang vital yang terdampak dengan adanya COVID-19 adalah bidang perekonomian.

Baca Juga  Melawan Objektivikasi Wanita: Harta, Tahta, Siapa?

Dampak COVID-19

Ekonomi menjadi kebutuhan pokok setiap manusia. Dengan terbatasnya segala kegiatan di luar rumah turut menghambat kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. Dalam lini produksi, masyarakat yang bekerja sebagai karyawan, baik itu bersifat tetap ataupun harian terpaksa dirumahkan. Konsekuensinya ialah pemotongan gaji atau bahkan tidak menerima gaji sama sekali.

Keadaan ini juga berimbas ke lini distribusi dan konsumsi. Jika tidak ada barang yang diproduksi maka tidak akan ada pula komoditas yang akan didistribusikan. Begitu pula dengan konsumsi, menurunnya pendapatan masyarakat diikuti dengan penurunan komoditas makanan akan menafikan kegiatan konsumsi.

Jika kondisi ini masih terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi bencana baru berupa kelaparan, mengingat keterbatasan bahan makanan. Kalaupun bahan makanan tersedia disisi lain pendapatan masyarakat juga banyak yang menurun.

Dari Aisyah r.a “Bahwasannya Rasulullah SAW menceritakan kondisi sulit dan dahsyat yang terjadi menjelang munculnya Dajjal. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, di manakah orang Arab pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, orang Arab pada saat itu sangat sedikit jumlahnya”. Aku bertanya lagi, “Makanan apakah yang mencukupi orang-orang beriman pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Apapun yang mencukupi para malaikat, yakni tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil”. (HR Ahmad)

Jika diqiyaskan kondisi yang terjadi sekarang dengan kondisi menjalang turunnya dajjal maka akan ditemukan beberapa persamaan. Kondisi sekarang yang disebabkan oleh COVID-19 telah menyebabkan kesulitan mendapatkan makanan. Bahkan di beberapa daerah pun sampai terjadi pertengkaran.

Hal ini sebenarnya merupakan hal yang logis apabila dipandang dari sisi kebutuhan tiap makhluk hidup, yakni kebutuhan akan makan dan minum. Akan tetapi, Islam tidak memandang demikian. Allah SWT menyediakan pengganti makanan bagi hambanya, berupa tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil.

Baca Juga  Ramadan, Serangan Israel, dan Nestapa Dunia Modern

Memang dari hadis diatas menjelaskan keadaan pada hari kiamat. Akan tetapi, jika dimaknai lebih dalam lagi maka dapat ditemukan bahwa ini adalah sunnah rasul. Yakni suatu hal yang menjelaskan mengenai apa yang harus dilakukan seorang muslim ketika dilanda kesulitan mendapatkan makanan.

Beberepa Pandangan

Dari Nawwas bin Sam’an ra, kami bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama dajjal tinggal di bumi?” Beliau menjawab, “selama empat puluh hari, dimana satu harinya seperti setahun, satu harinya lagi seperti sebulan, satu harinya lagi seperti satu Jum’at (tujuh hari), dan satu hari lagi seperti hari-hari yang kalian rasakan”. (HR Muslim no. 2942).

Jika kembali dikaitkan dengan COVID-19 maka akan muncul dua pandangan yang bisa diambil dari hadits diatas. Yang pertama adalah mengenai lama waktu terjadinya COVID-19. Jika memang benar stigma masyarakat bahwa COVID-19 dan dajjal adalah hal yang sama, maka kesulitan yang kini dirasakan, tidak hanya umat muslim, akan berlangsung lama.

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa dajjal akan berada di bumi selama 40 hari. Tetapi, jika perumpamaan waktu yang digunakan dalam hadits mengacu pada waktu sebenarnya, maka dajjal akan berada di bumi selama 1 tahun 2 bulan, dengan rincian seperti termaktub dalam hadits. Apabila memang benar bahwa COVID-19 adalah dajjal, maka kemungkinan virus ini akan berada dibumi sampai tahun 2021. Sebab, kemunculan pertamanya terjadi pada awal 2020.

Kemudian, pandangan yang kedua adalah mengenai kondisi yang sedang terjadi ketika COVID-19. Jika waktu yang dijelaskan dalam hadits diatas hanya berupa perumpamaan, maka kondisi saat ini sudah sangat sesuai dengan apa yang digambarkan dalam hadits tersebut. Dimana sebagian besar masyarakat sudah merasa jenuh berada dirumah saja. Waktu yang dijalani selama 1 hari bisa terasa sangat lama seperti satu bulan atau bahkan satu tahun.

Baca Juga  Titik Temu antara Islam dan Pancasila

Hakikat dari dajjal sendiri merupakan seorang manusia keturunan Adam. Dajjal juga masih terlihat seperti manusia biasa yang memiliki mata, tangan hingga kaki bukan berupa virus atau mikroorganisme.

Ciri-ciri Dajjal

Sehingga, pandangan masyarakat mengenai COVID-19 adalah dajjal tidaklah benar. Dajjal juga memiliki pengikut sebanyak 70.000 orang Yahudi, berbeda dengan COVID-19 yang kini menjadi musuh bersama bagi umat manusia. Perbedaan lain yang muncul adalah dajjal tidak akan memasuki 2 kota suci umat Islam, yakni kota Makkah dan Madinah.

Lain halnya dengan COVID-19 yang tidak pandang bulu dan tetap menyerang kota Makkah. Hal demikian membuat Masjidil Haram terpaksa ditutup dan kegiatan umrah diberhentikan sementara sampai keadaan membaik.

Berbagai ciri-ciri dajjal telah digambarkan oleh Rasulullah SAW. “Sesungguhnya Al-Masih dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, berkaki bengkok, berambut keriting, buta sebelah dan matanya tidak terlalu menonjol dan tidak pula terlalu tenggelam” (HR Abu Daud no. 4320, dari ‘Ubadah bin Ash Shamit. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini shahih).

Wallahua’lam bishowab.

Editor: Nirwansyah/Nabhan

Print Friendly, PDF & Email
6 posts

About author
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM,
Articles
Related posts
Tafsir

Surat Al-Waqiah: Kaitan Hari Kiamat dengan Rezeki

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Memahami keterkaitan antara pengamalan surat Al-Waqiah dengan rezeki manusia Al-Waqiah, salah satu surat dalam Al-Qur’an yang sudah…
Tafsir

Gempa Cianjur adalah Sunnatullah

5 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Sebagaimana kita ketahui bersama, gempa bermagnitudo 5,6 skala Richter telah mengguncang…
Tafsir

J.M.S Baljon: Tafsir Al-Qur’an Harus Bisa Digiring ke Corak Epistemologis Zaman

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Mungkin agak asing jika kita mendengar nama J.M.S Baljon dalam studi keislaman. Nama ini tidak terbilang baru,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *