Mencegah Jatuhnya Korban Bencana adalah Perintah Tuhan

 Mencegah Jatuhnya Korban Bencana adalah Perintah Tuhan Ilustrasi: schmu            

Gempa bumi, gunung meletus, hingga tsunami bukanlah bencana, karena kejadian–kejadian tersebut telah terjadi seiring dengan  terbentuknya bumi. Kejadian–kejadian tersebut terjadi sebagai konsekuensi dari pergerakan lempeng tektonik yang terus bergerak sejak penciptaan bumi hingga akhir masa keberadaan bumi.

Menurut UU  24/ 2007 kejadian – kejadian tersebut menjadi bencana ketika berakibat pada “…… timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis”. Sehingga sesungguhnya bencana itu bisa dicegah. Artinya kejadian–kejadian alami seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami biarkan saja terus terjadi.

Tugas kita adalah mencari cara agar tidak jatuh korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Sekurang–kurangnya bisa menekan jumlah korban, kerusakan, dan kerugiannya.

Bahkan sesungguhnya kejadian–kejadian seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami memiliki berbagai hikmah kebaikan terhadap kehidupan manusia di bumi. Sebagai contoh adanya gunung meletus yang membawa kesuburan, material vulkanik untuk bahan bangunan, hingga endapan material vulkanik sebagai zona peresapan dan penyimpanan air tanah yang ideal.

Gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami dalam ajaran Islam wajib diyakini terjadi sebagai bagian dari ciptaan Allah SWT. Tidak ada ciptaan Allah SWT yang sia–sia, tidak ada ciptaan Allah SWT yang membawa keburukan. Semua ketentuan Allah adalah wujud dari Rahman dan Rahim Allah SWT.

Manusia sebagai  Khalifatullah

Bersandar kepada definisi bencana di atas, maka secara teologis kejadian bencana bisa dicegah dengan konsepsi kepercayaan bahwa manusia memiliki tugas sebagai khalifah di muka bumi. Tentunya selain sebagai Abdullah yang wajib menerima segala perintah, tunduk dan patuh atas semua ketentuan Allah SWT.

Manusia dengan ilmu pengetahuan yang menurut Al-Qur’an wajib dikuasai harus mengenal untuk bisa mengelola alam. Mengusahakan keselamatan umat manusia dari berbagai ancaman yang timbul karena ketidaktahuannya terhadap gejala alam, maupun akibat ulahnya sendiri yang merusak keseimbangan alam.

Baca Juga  Mana yang Bahaya: Liberal atau Salafi?

Agama Islam bahkan menuntun manusia untuk: (1) wajib berilmu pengetahuan melalui iqro’ terhadap semua fenomena alam dan kemanusiaan (beriringan dengan menyebut kesucian Tuhan), (2) manusia wajib bertafakkur terhadap pola pergantian siang dan malam, pergerakan bumi, bulan dan benda langit dalam ukuran–ukuran yang telah ditentukan Tuhan (dan tentu kejadian yang mengiringinya), (3) manusia wajib menjaga kehidupan, menjaga agama, menjaga keturunan, menjaga harta, menjaga tatanan masyarakat; dan (4) manusia wajib membangun dan meninggalkan generasi yang kuat (tentu termasuk kuat menghadapi ancaman bencana).

Bila secara teologis hal diatas sudah terpatri, maka upaya pencegahan terjadinya bencana sesungguhnya adalah jihad. Bagian dari tugas suci manusia membangun dan menjaga kelangsungan peradaban. Berbagai usaha pencegahan bencana dimaknai sebagai bentuk kesyukuran manusia atas nikmat hidup dan nikmat alam dengan semua sumberdayanya.

Sehingga, bila ada manusia tidak ambil bagian dalam upaya pencegahan bencana bisa dimaknai sebagai bentuk pengingkaran atas tugasnya sebagai khalifatullah. Apalagi bila ada manusia yang memperbesar potensi terjadi bencana, maka bisa kita maknai sebagai bentuk kekufuran yang berlipat.

Membangun Umat yang Tidak “Kagetan”

Umat Islam saat ini tertinggal dalam penguasaan Ilmu pengetahuan. Akibatnya, sering terjebak dalam kondisi yang tidak siap menghadapi gejala alam yang berlanjut menjadi bencana. Padahal sebagai sekelompok umat yang dinyatakan Allah SWT sebagai  umat terbaik pantaskan berada dalam kondisi selalu terkaget–kaget menghadapi kejadian demi kejadian alam?

Manusia lahir dengan kemampuannya mengenal alam. Karena itu, Allah SWT menciptakan manusia dengan akal fikiran yang membuatnya mampu mengenal nama–nama benda yang seharusnya berlanjut dengan mengenal sifat–sifat benda di alam.

Berlanjut pada pola dan sistem yang terbangun, interaksinya dengan lingkungan dan manusia, genesa (proses penciptaannya), dinamikanya dalam sejarah alam semesta, sampai manfaatnya untuk manusia dan bahaya yang tersimpan bila salah mengantisipasi pemanfaatannya

Baca Juga  Muhammadiyah, Peran Kebangsaan Melintasi Zaman

Bila sistem teologi kita tidak mendorong untuk menguasai segala hal di atas maka tentu ada yang salah dalam sistem teologi kita. Bagaimana kita bisa menjadi khalifah di bumi yang baik bila kita tidak mengenal bumi, alam dan gejala alam yang menyertainya? Bagaimana kita bisa menjadi umat yang terbaik bila tidak mampu menerangkan bagaimana gunung bisa meletus dan bagaimana cara menyelamatkan diri? Bagaimana kita bisa menjalankan risalah sebagai penjaga jiwa, agama, harta dan peradaban bila kita tidak menguasai sistem interaksi manusia dan gejala alam?

Kewajiban Melahirkan Ahli

Bila semua hal di atas memang tidak dikuasai maka tidak heran bila kita tidak memiliki rencana darurat menghadapi kemungkinan terburuk. Kita tidak pula memiliki upaya–upaya pencegahan bencana yang efektif. Lantas lahirlah umat Islam yang  gagap terhadap gejala alam, terkaget–kaget terhadap kejadian alam.

Lambat laun umat Islam semacam ini terjebak dalam frustasi yang bisa mendorong pada terbangunnya konsepsi teologi negatif dengan menduga–duga tanpa ilmu dan data. Kemudian pelan-pelan menggeser konsepsi Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim menjadi Tuhan yang pemarah dan suka menghukum.

Sehingga menjadi agenda besar umat Islam adalah bagaimana melahirkan ahli–ahli yang mengerti gejala alam dan manajemen risikonya. Agenda ini harus dianggap sama wajibnya dengan melahirkan ahli–ahli yang mengerti tentang tafsir Al-Qur’an dan Hadis. Umat  yang terbaik tidak bisa dibangun dari satu sisi ahli agama semata. (Bersambung)

Editor: Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Arif Nur Kholis

Sekretaris Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *