back to top
Rabu, Juli 22, 2026

Menemukan Tuhan di Jantung Eropa: Refleksi Kehidupan Muslim Minoritas dalam Scappa Per Amore

Lihat Lainnya

Menjadi bagian dari kelompok mayoritas di negeri sendiri membuat kita sering abai pada nikmatnya beribadah. Ketika azan berkumandang dan identitas keagamaan mendapat ruang aman, ibadah kerap berubah menjadi rutinitas belaka. Namun, realita sederhana tersebut tidak dapat ditemukan di jantung Eropa.

Melalui Novel Scappa Per Amore, Dini Fitria menyingkap cermin yang jarang diperlihatkan megahnya negara-negara besar di Eropa. Islam tak hanya menjadi identitas warisan, namun pilihan hidup yang penuh pengorbanan. Kisah ini membangun perspektif baru tentang arti muslim di negara minoritas.

Eropa. Sebuah negara yang elok dan menjadi negara impian banyak orang. Dibalik arsitektur megah yang memanjakan mata, gedung-gedung yang menjulang tinggi, teknologi yang semakin maju, ada secercah kenyataan pahit yang tersingkap. Intimidasi dan stereotip buruk, bahkan pengusiran secara terang-terangan sudah dialami muslim minoritas di sana.

Di bawah bayang-bayang budaya sekuler yang memisahkan agama dari ruang publik, merawat iman di sana tak lagi soal teori. Ia menjadi pertempuran melawan penghakiman sosial dan ego diri sendiri.

Meskipun banyak penderitaan—bahkan ancaman yang didapatkan, iman para muslim di tanah Eropa tak perlu diragukan lagi. Hinaan, diskriminasi, bahkan pengusiran tak membuat iman mereka goyah sedetikpun. Setiap kepahitan hidup mereka anggap sebagai bentuk kasih sayang Tuhan.

Ketika semua fasilitas kemudahan duniawi dicabut, manusia dipaksa melepaskan ketergantungan pada mahluk—tak terkecuali keluarga. Pada titik itulah, makna kebahagiaan sejati akan mereka temukan. Bukan lagi validasi lingkungan sekitar, namun kedamaian hati yang rela atas takdir Allah.

Baca Juga:  Sistem Akreditasi Tak Menjamin Mutu Pendidikan!

“[….] Semua kepahitan itu kuanggap cara Allah menuntunku untuk mengenalnya. Jika aku tidak mengalami semua penderitaan itu, mungkin aku tidak pernah menerima hidayah dari-Nya [….] Bahagia itu sederhana, Diva, cukup menerima apapun yang terjadi dalam hidup tanpa menggantungkan banyak harapan pada orang lain. Karena sebenarnya bahagia itu tidak pernah kemana-mana. Ia ada dalam diri kita sendiri. Dalam hati.” (Fitria. 2013: 35)

Bahagia itu sederhana. Bukankah itu sangat menampar kesadaran kita? Saat banyak manusia yang mengeluh akan nikmat-Nya, kita dipertemukan dengan sosok-sosok yang berjuang demi imannya. Tak ada rasa dendam meskipun berkali-kali disudutkan. Tak ada rasa sesal walaupun ujian yang datang tak kunjung berakhir. Hanya ada keikhlasan dan doa baik yang selalu dipanjatkan.

Tantangan terbesar menjadi muslim di Eropa digambarkan lewat perjuangan melawan nafsu dan batasan moral (iffah). Meskipun lingkungan melegalkan kebebasan tanpa batas, kepatuhan pada syariat tentu menjadi benteng pertahanan terakhir. Menariknya, kehidupan muslim di Eropa membuktikan bahwa nilai-nilai kemuliaan Islam tetap bisa bersinar tanpa harus bersikap konfrontatif.

Rasa cinta, kasih sayang, dan penghormatan sesama manusia justru tampil lebih anggun ketika dibalut oleh rasa takut terhadap Tuhan. Kemesraan tidak harus divalidasi lewat sentuhan fisik yang bebas, namun bisa dirasakan melalui tatapan yang hangat, perhatian yang tulus, dan komitmen untuk saling menjaga diri.

Baca Juga:  "Murur” di Muzdhalifah: Mendialogkan Teks dan Konteks

“Hidup itu adalah soal menyiapkan bekal menuju keabadian. Di dunia ini banyak sekali ladang amal, tapi manusia sering lupa menggarapnya. Mereka hanya sibuk mengurusi dunia, mengejar cita-cita, berambisi untuk selalu menggapai yang belum ada. Parahnya, mereka malah menderita karena merasa tidak bahagia dengan apa yang telah dimiliki dan dilewati. Lucu bukan? Padahal hidup itu sebenarnya sederhana, Div. hanya soal belajar menerima dan menjalaninya dengan iklas. Manusia saja yang membuatnya rumit.” (Fitria. 2013: 214)

“Ya, aku setuju hidup itu adalah pencarian. Tapi, untuk apa mencari kalau akhirnya kita tidak pernah merasa puas? […] Dulu, aku juga seorang pencari sejati. Pencapaian adalah tujuanku, dan penaklukkan adalah kepuasanku. Kini aku sadar semua itu tidak ada artinya jika pembuktian itu hanya ditujukan untuk manusia. Jangan lupa, ada Tuhan yang melihat kita di atas sana-lengkap dengan malaikatnya.” (Fitria. 2013: 214)

Pencarian spiritual memang tidak mudah dan berliku. Berbagai ujian hidup yang tak mudah—untuk naik ke level iman yang selanjutnya—perlu dijalani dengan ikhlas. Dunia tak lagi menjadi prioritas.

Namun dari sanalah, mereka dapatkan ketentraman hati yang tak terhitung harganya. Mereka melibatkan Tuhan atas segala hal dalam hidupnya—mulai dari bekerja bahkan berhubungan secara sosial.

Meskipun tak seberapa jumlahnya, kaum muslimin di Eropa perlahan-lahan mengenalkan islam dengan cara unik dan menarik. Berbagai penolakan tak sedikitpun mengurangi semangat dan cintanya terhadap islam.

Baca Juga:  Integrasi Agama dan Sains Modern

Mereka mengubah apartemen pribadi menjadi musala yang sering digunakan untuk beribadah. Mereka semangat membaca al-Quran dan mendengarkan ceramah di ruang sempit tersebut.

Selain itu, mereka juga merelakan rumahnya menjadi museum islam sebagai ruang dialog kultural. Sungguh, sebuah semangat keimanan yang menjadi inspirasi bagi para muslimin di negara bebas beragama.

Ternyata, menjadi kaum minoritas muslim di tanah Eropa bukan sebuah kemalangan, namun pembuktian cinta kepada Tuhan. Di tengah pusaran dunia yang sibuk mengejar ambisi materi, pencapaian, dan pengakuan manusia, kisah ini menjadi pengingat keras bagi kita semua.

Hidup itu sederhana. Kita belajar menerima, menjalani setiap ujian dengan ikhlas dan menyerahkan sisanya kepada Sang Pencipta. Niscanya, dunia hanya sementara, namun keabadian ada di depan mata.

Editor: Najih

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru