Kami meninggalkan Jakarta pada dini hari, 10 Oktober 2026. Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, singgah sebentar di Shenzhen, lalu kembali mengudara menuju Beijing, mendarat di Bandara Daxing. Bagi kami, para alumni perguruan tinggi di Tiongkok, perjalanan ini lebih dari sekadar kunjungan ke negeri yang sedang berlari kencang.
Ada yang diam-diam ikut terselip di dalam koper: kenangan tentang kampus, wajah kawan-kawan lama, bahasa yang dulu dieja dengan susah payah, dan hari-hari ketika kami belajar menjadi betah di negeri orang.
Siapa pun yang pernah kuliah di luar negeri mungkin paham rasanya kembali ke negara tempat dulu belajar. Ada tempat yang sudah berubah, tapi kenangannya masih di situ. Ada pengalaman yang dulu terasa biasa saja, lalu bertahun-tahun kemudian justru dirindukan. Perjalanan ini seperti membuka lagi halaman lama, sambil menyadari betapa banyak yang sudah bergerak maju.
Saya sendiri mencoba menikmati perjalanan ini tanpa buru-buru menyimpulkan apa-apa. Bepergian ke luar negeri memang punya efek samping. Kita bisa pulang dengan keinginan mendadak menjadi pakar pembangunan. Padahal bekal kita cuma sepasang mata, kamera ponsel, dan beberapa hari perjalanan. Jelas tidak cukup untuk memahami sebuah negara. Mudah-mudahan cukup untuk memetik pelajaran.
Beijing: Inovasi dan Hal-Hal Sederhana dari Tiongkok
Beijing menyambut kami dengan udara musim gugur yang sejuk. Pagi hari kota diselimuti kabut tipis, dan suasananya jadi terasa lain. Selama di Beijing, kami ditemani Ms. Lili, pemandu wisata yang sangat fasih berbahasa Indonesia dan sudah puluhan tahun menekuni profesinya. Bersamanya, kota sebesar Beijing terasa lebih mudah didekati.
Kali ini, bukan Tembok Besar atau Kuil Surga yang paling menarik perhatian kami, melainkan pusat pameran di kawasan Zhongguancun. Di sana kami melihat perkembangan teknologi di banyak bidang, mulai dari transportasi, teknologi informasi, dirgantara, dan kesehatan, sampai robotika.
Yang terasa dari kunjungan itu adalah betapa luasnya wilayah yang sudah disentuh inovasi. Teknologi tidak lagi berhenti sebagai temuan laboratorium atau bahan presentasi di seminar. Ia makin dekat dengan kebutuhan sehari-hari, mulai dari membantu pekerjaan, membuat proses lebih efisien, dan memperbaiki layanan, hingga menjawab masalah yang dihadapi orang banyak.
Namun, punya teknologi canggih tidak otomatis membuat semua urusan beres. Perlu dipikirkan bagaimana hasil riset itu dikembangkan, dipakai, dan benar-benar dirasakan manfaatnya. Kata “inovasi” boleh saja sudah naik panggung, asal manfaatnya tidak masih tersesat mencari alamat.
Di Beijing, kami juga berkesempatan bertemu Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok yang juga menjabat Direktur Jenderal Departemen Pers, Komunikasi, dan Diplomasi Publik. Kami menyaksikan langsung konferensi pers yang dipimpinnya. Di sela kesibukannya, beliau masih menyempatkan diri menyapa dan menyambut rombongan kami.
Kemajuan sebuah kota memang gampang dilihat dari gedung-gedung modern, teknologi, dan sistem transportasinya. Padahal kesan kita tentang suatu tempat sering kali justru terbentuk dari hal-hal kecil. Sebagai pelancong, kita tidak cuma berurusan dengan gedung pameran dan tempat-tempat terkenal. Kita juga butuh transportasi yang nyaman, tempat makan yang mudah dicari, dan fasilitas umum yang layak.
Salah satu yang saya perhatikan kali ini, terus terang, adalah toilet umum. Dibanding kunjungan saya sebelumnya, beberapa toilet umum yang saya temui terasa lebih bersih dan nyaman. Mungkin ini salah satu dampak revolusi toilet yang pernah digaungkan pemerintah Tiongkok. Ini pengamatan pribadi, bukan hasil survei nasional. Meski begitu, pengalaman itu mengingatkan saya bahwa mutu sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh bangunan ikonik atau teknologinya, melainkan juga oleh fasilitas dasar yang dipakai pengunjung.
Wisatawan, sayangnya, tidak hidup dari baliho. Mereka ingat rasanya kebingungan mencari toilet, atau sebaliknya, lega karena menemukan fasilitas yang terawat. Hal-hal begini jarang muncul di materi promosi wisata, padahal bisa sangat menentukan kesan orang terhadap suatu tempat.
Dari situ pikiran saya melayang ke destinasi wisata di tanah air. Alam kita indah, budayanya kaya, orang-orangnya ramah. Merawat fasilitas umum mestinya ikut masuk hitungan, karena orang datang bukan hanya untuk melihat yang indah-indah, tetapi juga ingin merasa nyaman selama berada di sana.
Chongqing: Kota yang Menantang Logika
Selasa pagi, 13 Oktober 2026, kami terbang dari Beijing ke Chongqing. Di kota ini kami dipandu seorang anak muda yang akrab disapa Canon. Ia memandu dengan bahasa Inggris, sesekali diselipi bahasa Indonesia.
Chongqing unik secara geografis karena berada di pertemuan Sungai Yangtze dan Jialing, dengan kontur berbukit yang membentuk wajah kotanya. Orang menjulukinya kota 8D, karena tata ruangnya bertingkat-tingkat dan jalurnya bisa membuat siapa saja bingung arah.
Banyak pengunjung bercerita pernah dibuat bingung. Peta di ponsel tampak begitu yakin menunjukkan rute, tapi kenyataan di lapangan tidak semudah itu diterjemahkan. Jalan yang kelihatan dekat ternyata beda ketinggian. Jalur yang tampak lurus malah membawa kita ke lapisan jalan yang lain.
Rabu pagi, kami mengunjungi Chongqing Planning Exhibition Gallery, yang menampilkan perkembangan kota lewat maket, visualisasi, dan tayangan audiovisual. Dari situ terlihat bagaimana perencanaan jangka panjang dipakai untuk membayangkan ke mana kota ini akan tumbuh.
Apa yang dipajang di ruang pamer tentu tidak menggambarkan seluruh keruwetan kehidupan nyata. Kota selalu punya masalah yang terus berganti. Namun, perencanaan memberi arah, supaya pembangunan tidak sekadar menuruti kebutuhan hari ini, tetapi juga menimbang akibatnya di masa depan.
Kemudian, kami mendatangi Liziba, tempat monorel melintas menembus gedung apartemen. Pemandangan ini mungkin yang paling gampang dikenali dari Chongqing. Melihatnya langsung, rasanya ganjil sekaligus kagum. Di balik keunikannya, ada soal yang lebih serius: bagaimana kota dengan kondisi alam serumit ini merancang transportasi dan ruang hidup untuk warganya?
Pelajarannya bukan menyalin Chongqing mentah-mentah. Kondisi geografis, jumlah penduduk, kemampuan anggaran, dan kebutuhan masyarakat kita lain. Yang layak dipelajari adalah kemauan untuk berpikir kreatif, mencari solusi yang pas dengan konteks, dan memandang pembangunan sebagai kerja jangka panjang.
Teknologi, Manusia, dan Manfaatnya
Masih di Chongqing, kami berkunjung ke Sevnce Robotics untuk melihat pengembangan robotika. Robot-robotnya beragam bentuk: ada yang berkaki, beroda, ada pula yang memakai sistem berantai. Semuanya dikembangkan untuk membantu pemeriksaan di lingkungan industri yang berisiko.
Teknologi seperti ini memperlihatkan bagaimana inovasi bisa diarahkan untuk mengerjakan hal yang berbahaya atau sulit dijangkau manusia. Robot yang masuk ke area berisiko berarti ada pekerja yang tidak perlu menanggung risiko itu. Di situlah ukuran sebuah teknologi semestinya diletakkan, bukan pada secanggih apa alatnya, melainkan pada seberapa jauh ia membuat kerja manusia lebih aman dan hidup mereka lebih baik.
Bagi kami yang bekerja di perguruan tinggi, hal ini terasa menohok. Riset mestinya tidak berhenti di publikasi, sama seperti inovasi tidak cukup hanya jadi pajangan. Hasil penelitian baru berarti kalau ia sampai ke tangan orang yang membutuhkannya, dan jalan ke sana jarang bisa ditempuh kampus sendirian. Karena itu, kerja sama dengan industri, pemerintah, dan masyarakat bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat.
Rasa, Kenangan, dan Hal yang Sulit Diceritakan
Perjalanan ke negeri orang tentu bukan cuma soal kunjungan resmi dan diskusi pembangunan. Yang sering paling lama menempel di ingatan malah hal-hal kecil meliputi pemandangan dari jendela kendaraan, obrolan singkat, suasana jalan, dan makanan yang membawa kita ke masa lalu.
Di antara semua makanan yang kami cicipi, masakan halal dari Lanzhou dan Xinjiang punya tempat tersendiri. Aroma kuahnya, rempahnya, dan hidangan yang tersaji menghadirkan suasana yang susah dijelaskan hanya dengan menyebut bahan atau nama menu. Rasanya akrab sekaligus khas, dan entah bagaimana menyambungkan lidah dengan kenangan.
Kami bisa saja menyebut nama makanannya, menjelaskan bumbunya, atau bercerita di mana menyantapnya. Namun, aroma yang tertinggal di ingatan itu tidak gampang dipindahkan ke dalam kata-kata. Ia menyimpan potongan pengalaman yang hanya benar-benar dimengerti oleh mereka yang pernah ada di sana.
Bagi para alumni Tiongkok, pengalaman seperti ini mungkin bersinggungan dengan masa kuliah dulu, saat mencari makanan yang cocok, berbagi hidangan dengan kawan, atau menemukan warung yang lama-lama jadi langganan. Rindu memang jarang datang lewat peristiwa besar. Ia lebih sering muncul dari hal-hal kecil yang dulu kita jalani tanpa banyak berpikir.
Chongqing sendiri terkenal dengan kulinernya yang kaya rasa dan pedas. Pilihan makanannya yang beragam memberi warna tersendiri pada perjalanan ini. Kami juga sempat melihat sisi kehidupan sehari-hari warganya, dengan kota yang terus bergerak di antara perbukitan dan gedung-gedung bertingkat.
Di sela rangkaian kunjungan dan diskusi, kami sempat mampir melihat panda di kebun binatang, jeda kecil yang menyenangkan. Momen seperti itu mengingatkan saya bahwa sebuah kota tidak cukup dipahami lewat gedung, teknologi, atau angka-angka pembangunan. Ada manusia, kebiasaan, makanan, dan cerita yang membuat sebuah tempat punya watak.
Membuka Jalan Kolaborasi
Hari pertama di Chongqing langsung diisi agenda akademik. Siang harinya kami berkunjung ke Southwest University dan berkeliling kampus. Malamnya, Foreign Affairs Office of Chongqing Municipality menjamu kami dalam pertemuan dan makan malam. Dua pertemuan itu membuka ruang untuk berbincang soal pendidikan, penelitian, dan peluang kerja sama.
Bagi perguruan tinggi, jejaring seperti ini penting untuk membuka wawasan dan menguatkan kapasitas akademik. Meski begitu, manfaatnya baru benar-benar terasa kalau obrolan berlanjut menjadi kegiatan nyata.
Kerja sama dengan Chongqing pun bukan wilayah yang sama sekali baru bagi daerah di Indonesia. Pada 2017, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Chongqing menjalin kerja sama sister province yang mencakup berbagai bidang. Kota yang monorelnya menembus gedung apartemen ini rupanya pernah dilirik sebagai teman belajar.
Gagasan yang pernah dibicarakan tentu tidak otomatis berarti sudah terwujud. Foto bersama belum tentu kerja sama, sama halnya nota kesepahaman belum tentu menjamin kolaborasi berjalan.
Namun, hubungan antardaerah seperti ini membuka peluang untuk saling belajar: melihat apa yang mungkin diterapkan, memahami tantangan masing-masing, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat. Kerja sama yang baik tidak berhenti di atas kertas. Ia perlu dirawat terus-menerus sampai manfaatnya benar-benar sampai ke orang banyak.
Pulang Membawa Pelajaran
Jumat dini hari, 16 Oktober 2026, kami terbang langsung dari Chongqing tanpa transit dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pukul 05.30 WIB. Jakarta baru saja bangun ketika kami tiba, seperti halnya ia sedang terlelap saat kami berangkat.
Dari Beijing sampai Chongqing, kami melihat banyak sisi Tiongkok mulai inovasi dan riset, kota dengan tata ruang yang tak biasa, teknologi untuk kebutuhan industri, dan pengalaman sehari-hari yang menyentuh ingatan. Namun, beberapa hari jelas tidak cukup untuk memahami sebuah negara. Yang kami bawa pulang hanyalah potongan-potongan pengalaman yang layak direnungkan, bukan kesimpulan tentang seluruh kehidupan di Tiongkok.
Indonesia pun punya modal besar, seperti sumber daya alam, kekayaan budaya, perguruan tinggi, dan anak-anak muda yang kreatif. Tantangannya adalah mengolah semua itu lewat pendidikan yang bermutu, riset yang relevan, perencanaan yang konsisten, dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat.
Belajar dari negara lain tidak berarti meniru semuanya. Kita perlu memilih, menimbang, lalu menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan sendiri. Kemajuan tidak lahir dari sekadar mengagumi keberhasilan orang lain, tetapi dari kesediaan mengerjakan pekerjaan rumah kita sendiri.
Saya pulang membawa banyak kesan. Dan, ya, sedikit godaan untuk menjadi pakar pembangunan dadakan, he-he. Namun, pekerjaan rumah Indonesia tidak ikut jalan-jalan ke Tiongkok. Ia tetap menunggu di rumah.
Ada rindu yang tertinggal di Tiongkok: pada kampus, kawan-kawan, aroma masakan, dan pengalaman yang ikut membentuk perjalanan hidup. Ada pula pelajaran yang tak semestinya tertinggal di sana, tentang inovasi, perencanaan, kolaborasi, dan kemauan membenahi hal-hal sederhana di sekitar kita.
Pencapaian besar tak lahir dalam semalam. Ada pekerjaan kecil yang harus diselesaikan dan proses panjang yang perlu dijalani. Filsuf Tiongkok Xunzi pernah mengingatkan, “Tanpa menumpuk langkah-langkah kecil, tak akan sampai ke seribu li.”
Mungkin kita tak perlu buru-buru bermimpi menempuh seribu li atau jalan yang sangat panjang dan pencapaian yang besar. Mulailah dengan langkah di depan kaki. Sebab, kemajuan sebuah bangsa juga dibangun dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hari demi hari.
Editor: Najih


