Menjadi Bangsa Moderat, Inilah Pilar-Pilar yang Wajib Ditegakkan! - IBTimes.ID
Tajdida

Menjadi Bangsa Moderat, Inilah Pilar-Pilar yang Wajib Ditegakkan!

3 Mins read

Moderasi Beragama – Pidato ketua umum PP Muhammadiyah pada kesempatan lalu memberikan sinyal bahwa kondisi bangsa kita belum sepenuhnya beranjak dari persoalan akibat jauhnya perilaku dan pola pikir yang moderat.

Luasnya pergaulan dengan dunia luar mau tidak mau membuat bangsa Indonesia kalut dan terpengaruh pada pola pikir yang cenderung tak sejalan dengan nilai pancasila. Tak menutup kemungkinan, dari situlah ideologi asli bangsa kita mengalami pergeseran oleh ideologi asing yang kian menjauhkan dari sikap moderat. Secara khusus pidato yang disampaikan oleh Haedar Nashir dapat kita jadikan sebagai acuan untuk kembali menegakkan pilar moderasi bangsa.

Semangat Persatuan

Memasuki usia 76 tahun, melukiskan beragam tantangan yang telah dihadapi bangsa kita. Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, persatuan kita mendapat ujian berat setelah datangnya pandemi Covid-19 yang mewabah.

Sulitnya ekonomi, terhambatnya pendidikan, dan minimnya kesehatan menimbulkan celah dalam tubuh persatuan. Saya sepakat dengan adagium yang mengatakan “Berbangsa dan bernegara itu ibarat rumpun bambu, ia terlihat indah dari kejauhan, tetapi saat diterpa angin, akan ada gesekan-gesekan di dalamnya”.

Begitulah dinamika kehidupan, tak menutup kemungkinan jika di dalam tubuh Indonesia yang indah seringkali terdapat gesekan-gesekan dalam konteks kehidupan bermasyarakat.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk hidup dalam berbagai macam entitas suku dan budaya. Namun, kemajemukan tersebut bukan seperti “air dan minyak” yang tak bisa bersatu.

Berkat nilai-nilai Pancasila, kemajemukan tersebut dapat dipersatukan. Singkatnya, jika gesekan yang terjadi semakin meluas, memunculkan pertanyaan sejauh mana masyarakat mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila?

Melalui pidatonya, Haedar mengatakan jika Pancasila merupakan titik temu dari kemajemukan dibangun melalui para tokoh bangsa melalui proses musyawarah mufakat. Hal demikian merupakan ideologi bangsa yang mengandung nilai-nilai moderat. 

Baca Juga  Kisah Bung Karno dan Muhammadiyah Ketika Berdebat Soal Tabir

Jalan yang Moderat

Beberapa tahun terakhir, peran Islam dalam kehidupan bangsa negara kembali menjadi isu utama dalam perdebatan publik. Munculnya kelompok-kelompok ekstrem dan gelombang protes terhadap pembubaran ormas terlarang, mewarnai kecamuk persoalan agama di negeri ini.

Tak menutup kemungkinan melalui proses interaksi dengan dunia internasional sebagaimana yang dikatakan di awal tadi, sebagian masyarakat kalut dalam ideologi yang menyimpang. Keadaan inilah membuka peluang bagi kelompok ormas terlarang untuk merekrut simpatisan yang memiliki sikap loyal dengan jumlah cukup yang lumayan.

Berkaca pada hal di atas, maka tak heran jika narasi pemberitaan terkait isu radikalisme semakin santer dibicarakan. Mengingat kemajuan zaman yang semakin cepat dan bebas hambatan, tak bisa dihindari jika penyimpangan ideologi menyusup ke segala penjuru kehidupan. Mencerabut akar pemahaman yang menyimpang merupakan tugas seluruh warga negara, tentunya hal terebut juga harus dihadapi dengan cara-cara yang moderat.  

***

Sudah menjadi rahasia umum jikalau seluruh ajaran agama yang paling fundamental adalah kerukunan. Menempuh kerukunan melalui jalur moderat merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Di lain sisi, strategi dalam membangun alur pemikiran moderat juga tidak di benarkan dengan cara-cara yang berlebihan.

Beberapa waktu yang lalu, kita dihadapkan dengan lumbung persoalan yang menghambat arus moderasi. Contoh kecil, kontroversi tes wawasan kebangsaan (TWK) oleh pegawai KPK, kontroversi mengenai kuosioner survei lingkungan belajar, dan lomba BPIP yang mengangkat tema kontroversi membuat stabilitas moderasi bangsa menjadi terganggu.

Pasalnya, hal tersebut berpotensi membangkitkan sentimen mayoritas minoritas suku, ras, dan agama ketika dihadapkan dengan perihal yang bersifat tendensius kepada salah satu pihak. Sampai di situ, di mana letak moderasi bangsa?

Baca Juga  Islam Moderat Merawat Nilai-Nilai Kebangsaan

Peran moderasi bangsa sikap moderat sekiranya mampu menyumbangkan sumbangsihnya dalam menghalau kehendak politik dan perilaku berlebihan yang jauh dari kata moderat.

Pilar Moderasi

Dalam konteks cita-cita, menjadi bangsa yang ideal merupakan keinginan yang didambakan oleh seluruh warganya. Cepat atau lambat, suatu bangsa akan berusaha mengejar keinginannya tersebut.

Dalam pencapaiannya, tak sedikit pula yang memilih jalan tengah sebagai jalur untuk meraih bangsa yang moderat. Sekiranya terdapat sedikit penawaran agar suatu bangsa mampu membangun pilar-pilar moderasi.

Pertama, pola berpikir yang moderat (tawasuth) dapat dijalankan pada posisi yang tidak tekstualis tetapi juga tidak terlalu bebas. Tekstual dalam artian pola pikir yang kaku dan tidak terlalu bebas dalam artian tidak menerobos rambu-rambu yang telah disepakati Al-Qur’an maupun ulama secara bebas dalam menjalankan ibadah maupun muamalah.

Kedua, adanya pergerakan yang memiliki semangat perbaikan mengajak anggotanya maupun masyarakat untuk bersama-sama kembali dalam jalan tawasuth yang tidak hanya didasarkan pada tradisi akan tetapi juga pada inovasi.

Ketiga, hal-hal yang berkaitan dengan amaliah harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan sumber yang kuat dengan diimbangi pola pikir logis dan mampu menyesuaikan dengan keadaan. Disiplin ilmu dan perilaku merupakan salah satu cara untuk menyambungkan amaliah dengan perilaku yang moderat.

Dalam pidato Indonesia Jalan Tengah ada sebuah pengharapan besar yang harus segera kita capai bersama. Menyamakan langkah, menyatukan tekad dan meleburkan semangat untuk merawat etos merdeka di tengah perjalanan terjal berupa cobaan.

Hendaknya kemajemukan kita jadikan sebagai sarana dalam membangun pilar-pilar moderasi bangsa. Selama ada kemauan, ketulusan, dan kebersamaan, Indonesia akan mudah untuk menempuh cita-cita lewat jalan yang moderat.

Editor: Yahya FR

Avatar
9 posts

About author
Alumni Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta/Mahasiswa PAI UMY 2019.
Articles
Related posts
Tajdida

Menjelajah Negeri (1): Kesadaran Pendidikan di Kerinci

6 Mins read
Kisah ini terkait kesadaran pendidikan di Kerinci Hilir. Saat itu, akhir Ramadan awal 1930-an. Seorang remaja berjalan kaki menuju dusunnya di Pulau…
Tajdida

Dari Siti Jenar Sampai Thaha: Mereka yang Dibunuh Karena Beda Pikiran

3 Mins read
Pada hari Jumat di abad ke-15, seusai shalat, masjid Keraton di era Sunan Kudus ramai. Pasalnya, para wali dan pembesar akan memancung…
Tajdida

Masyarakat Dusun Sarapati: Penghayat Kejawen yang Sukses Menerapkan Nilai-Nilai Toleransi

4 Mins read
Multikulturalisme Masyarakat Indonesia Dusun Sarapati – Indonesia memiliki masyarakat dengan kepercayaan berbeda-beda (pluralisme) dan beraneka ragam budaya (multikulturalisme). Hal itu-lah yang menjadi…

Tinggalkan Balasan