Muhammad Abduh (1): Murid Ideologis Jamaluddin Al-Afghani - IBTimes.ID
Tarikh

Muhammad Abduh (1): Murid Ideologis Jamaluddin Al-Afghani

3 Mins read

Oleh: Djarnawi Hadikusuma

Jamaluddin Al-Afghani telah tiada, telah beristirahat dengan tenang dan aman, terlepas daripada segala penderitaan. Kita teringat kepada sosok Muhammad Abduh, pengikut yang paling setia, yang menjadi pelangsung cita-cita dan perjuangannya. Maka, layaklah jika perjuangan Muhammad Abduh dikisahkan di sini.

Muhammad Abduh kembali ke Beirut pada tahun 1885, lalu mengajar di Madrasah Sulthaniyah. Kota Beirut yang berhawa nyaman itu adalah pusat kebudayaan Arab. Selain mengajar, ia juga memberikan ceramah-ceramah sebagai yang telah dilakukan dahulu sebelum pergi ke Paris.

Kali ini, pendengar dan pengikutnya bertambah banyak. Oleh karena namanya sangat harum dan terkenal sejak ia sering menulis dalam Al-Urwatul Wutsqa yang sangat digemari oleh pembacanya. Karena di samping mengandung semangat perjuangan yang menyala-nyala, juga nilai ilmiah yang sangat tinggi mutunya, dalam bahasa yang indah dan mudah dipahami.

Di antara muridnya yang terkenal ialah Sayid Abdul Basith dan seorang pemuda berumur 19 tahun, Amir Syakib Arsalan. Amir Syakib Arsalan selain cerdas dan terpelajar juga berbakat sebagai penyair dan pengarang. Pemuda inilah yang tiga tahun kemudian menyinggahi Jamaluddin Al-Afghani di Istambul untuk berkenalan dan berguru. Muhammad Abduh telah menceritakan kepadanya tentang hal-ihwal gurunya itu. Sehingga pemuda Amir Syakib Arsalan itu pun ingin mengecap ilmu daripadanya.

Muhammad Abduh seorang yang telah dibina dan dibesarkan oleh Jamaluddin. Pengalamannya yang sehidup semati selama berjuang bersama dengan gurunya itu telah memberikan pengalaman dan pelajaran yang tidak ternilai harganya. Segala pengalamannya itu dianalisa dan akhirnya berkesimpulan bahwa kemajuan berpikir dan kecerdasan umat amat diperlukan. Agar supaya mereka dalam mengikuti jejak pemimpinnya tidak hanya didorong oleh kesadaran dan emosi. Tetapi juga oleh pengertian dan kemampuan berpikir untuk memahami pimpinan yang diterimanya.

Baca Juga  Muhammad Abduh (5): Pertemuan dengan Filosof Herbert Spencer di Inggris

Pemahaman rasional tentang ajaran Islam harus berkembang dalam masyarakat, tidak hanya terbatas pada pemimpin dan golongan terpelajar. Adanya organisasi yang rapih dan menyeluruh menjadi syarat mutlak bagi suksesnya perjuangan. Ajaran Islam memang mencakup segala bidang kehidupan manusia dan masyarakatnya. Termasuk juga bidang ketatanegaraan dan pemerintahan.

Akan tetapi jika agama dijadikan alat politik, maka hal itu sangat membahayakan bagi kedudukan agama itu sendiri. Terlebih-lebih bagi umat Islam yang selalu tertipu oleh siasat penguasa atau kekuatan asing yang menggunakan sentimen keagamaan dan memperalat alim-ulama yang menjadi pembantunya.

Sekalipun gurunya, Jamaluddin, tidak berhasil memerdekakan umat Islam dengan ceramah dan agitasinya, namun dia telah berhasil meletakkan landasan perjuagan itu dan berhasil dalam membentuk kader-kader. Dia sendiri termasuk di antara kader-kader pengikut Jamaluddin. Oleh karena kesimpulan itu, Muhammad Abduh berniat menghentikan perjuangannya dalam bidang politik.

Seluruh energinya dipusatkan kepada pembentukan kader dan mengajar umat untuk memahami ajaran agama serta rasional dan modern, bertolak daripada ajaran Islam sebagaimana diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Setelah dipahami setiap ajaran itu harus diamalkan. Dan dalam pengamalan inilah diperlukan adanya organisisi. Ajaran Islam membina kekuatan setiap bangsa yang menganutnya dan landasan kekuatan itu adalah ajaran tauhid.

Maka, kuliah-kuliah dan ceramahnya sebagian besar mengutamakan tentang tauhid. Nanti pada tahun 1897, sewaktu ia sudah berada di Mesir, ceramahnya di Beirut tentang tauhid itu disusunnya kembali dengan judul Risalah At-Tauhid dan merupakan salah satu kitabnya yang paling terkenal. Selain mengajar dan memberi ceramah, Muhammad Abduh bertekun membaca kitab-kitab, berpikir, dan merenung dalam lautan filsafah dan agama. Dengan demikian, ilmunya semakin mendalam dan pengetahuannya bertambah meluas cita-citanya makin cemerlang.

Baca Juga  Rasulullah dan Memuliakan Perempuan

Konon adalah seorang pemuda berumur lebih kurang 21 tahun bernama Rasyid Ridla. Ia dilahirkan pada tahun 1865 di desa Kalmun, anak seorang Ahli Tarekat. Ayahnya mengirimnya berguru kepada seorang ulama kenamaan, Syaikh Husein Al-Jisri di Toroblis, wilayah Syam. Rasyid Ridla adalah seorang pembaca majalah Al-Urwatul Wutsqa yang setia serta sangat tertarik hatinya kepada Jamaluddin dan Abduh.

Timbullah hasratnya yang kuat untuk bertemu muka dengan kedua pemimpin itu, maka dikirimnya surat kepada Jamaluddin menyatakan maksudnya. Maksudnya belum terkabul karena majalah itu telah berhenti terbit dan Jamaluddin telah meninggalkan Paris menuju Rusia dan Abduh sudah pula pulang ke Beirut. Ketika Muhammad Abduh berkunjung ke Toroblis dan bermalam di rumah sahabatnya, Abdul Aziz Affandi Sulthan, bekas rekannya mengajar di Madrasah Sulthaniyah di Beirut, Rasyid Ridla menemuinya dan terjalinlah ikatan batin yang erat antara keduanya.

Pengikut Abduh bertambah besar juga, dan kini dibentuknya sebuah organisasi yang bertujuan memurnikan paham umat terhadap ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Allah dan Sunnah Rasul serta membentengi agama Islam agar jangan sampai disalahgunakan untuk kepentingan penguasa dan untuk menyelamatkan agama dari pengaruh ambisi politik.

Melihat kemajuan Abduh ini, Sultan Abdul Hamid merasa khawatir, maka dimintanya kepada pemerintah Inggris agar memulangkan Abduh ke Mesir atau mengusirnya ke mana saja, asal jangan di Syria. Maka, pada tahun 1888, Abduh dipulangkan ke Mesir. Pada waktu itu, Jamaluddin telah dua tahun berada di tanah Rusia.

Demikian Muhammad Abduh. Tiga tahun diasingkan ke Beirut, satu tahun berada di Paris mendampingi gurunya, tiga tahun lagi meneruskan masa pengasingannya di Beirut, dan kini berada di Mesir lagi karena diusir oleh Sultan Abdul Hamid, orang yang menganiaya gurunya sehingga menemui ajalnya. Tetapi Abduh mewarisi ketabahan gurunya itu. (Bersambung)

Baca Juga  Jilbab dan Cadar: Warisan Tradisi Pra-Islam?

Sumber: buku Aliran Pembaharuan dalam Islam dari Jamaluddin Al-Afghani Sampai KHA Dahlan karya Djarnawi Hadikusuma. Pemuatan kembali di www.ibtimes.id lewat penyuntingan

Editor: Arif 

Avatar
1023 posts

About author
IBTimes.ID - Kanal Moderasi Islam. Sebuah media online yang berprinsip pada wasathiyah Islam dengan memadukan doktrin keislaman, perkembangan sains mutakhir, dan nilai keindonesiaan.
Articles
Related posts
Tarikh

Langkah Cerdas Al-Fatih Taklukkan Konstantinopel

4 Mins read
Penaklukan Konstantinopel yang menjadi simbol dari Byzantium telah diprediksi Nabi Muhammad ﷺ melalui hadisnya yang disebutkan di dalam kitab Musnad Ahmad dan…
Tarikh

Problematika Politik Khulafa Al-Rasyidin, Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Hadis?

3 Mins read
Pada dasarnya, sejarah perkembangan hadis telah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw., tetapi belum terjadi perkembangan yang signifikan dan belum terkodifikasi secara…
Tarikh

Kisah Dua Remaja Muslim Melawan Abu Jahal

3 Mins read
Abu Jahal adalah musuh besar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hidupnya hanya ingin memerangi nabi, targetnya membunuh nabi, dan hanya ingin memusuhi…

Tinggalkan Balasan