Muhammad Abduh (3): Kolaborasi dengan Rasyid Ridla Terbitlah Majalah Al-Manar

 Muhammad Abduh (3): Kolaborasi dengan Rasyid Ridla Terbitlah Majalah Al-Manar
Muhammad Abduh. Poto: Wikipedia            

Memang Muhammad Abduh sangat berterima kasih kepada Abbas, terutama karena diperkenankan kembali ke Darul Ulum. Tetapi, ia sebagaimana Jamaluddin tidak mau menjual cita-citanya untuk satu kedudukan.

Dia mengerti apa yang diharapkan Khadewi daripadanya, tetapi dia berbuat lain. Dia berbuat sesuatu yang memang tuntutan hati nuraninya, iman, dan cita-citanya. Dia tidak mengajarkan kepada mahasiswanya untuk melakukan apa saja yang diingini oleh penguasa tanpa dinilai haq dan batalnya, tetapi dia ajarkan kebebasan dan kemerdekaan berpikir dan bersikap dengan landasan iman dan ilmu.

Dipengaruhinya para ulama Azhar yang berpikiran maju untuk tidak mentaati siapa saja dengan membuta-tuli. Pernah Khadewi mengirimkan perintah kepada Rektor Al-Azhar untuk menganugerahkan gelar sarjana beserta jubahnya kepada seorang ulama istana. Jika perintah itu diberikan sebelum Abduh berada di sana, niscaya segera dipenuhi oleh Universitas itu. Walaupun sebenarnya melanggar prosedur yang telah ditentukan, hanya karena itu perintah Khadewi. Tetapi dengan adanya Abduh, maka perintah itu ditolak, dengan alasan bahwa pemberian gelar semacam itu tidak berdasar sama sekali. Dan Abduh-lah yang mengambil tanggung jawab dan akibatnya.

Bukan main murkanya Khadewi Abbas. Sejak itu, ia bermaksud menyingkirkan Abduh dari Al-Azhar, namun sebegitu jauh tidak berhasil. Dia tidak hanya menjabat Mahaguru, tetapi juga anggota pimpinan Universitas. Dalam kedudukannya itu ia mempunyai orang-orang yang pro dan kontra, dan yang termasuk menjadi pendukungnya ialah mahasiswa.

Mereka bersimpati kepada Abduh tidak semata-mata karena sistem dan materi kuliahnya baik dan menarik, tetapi juga karena jasa-jasanya telah banyak. Dia telah berjasa dalam usaha perbaikan Al-Azhar dalam bidang administrasi, kurikulum, dan peningkatan mutu kuliah, kesejahteraan mahasiswa dan dosen, pembangunan asrama dan ruang kuliah dan lain-lainnya. Bahkan, dia telah berikan sesuatu yang belum pernah diberikan oleh orang lain. Yaitu memberi kuliah tambahan tentang ilmu pengetahuan yang diperlukan mahasiswa bagi perkembangannya di kemudian hari, seperti Sejarah, Ilmu Bumi, Ilmu Pasti, dan Falsafah.

Baca Juga  Muhammad Abduh (1): Murid Ideologis Jamaluddin Al-Afghani

Maka, Muhammad Abduh ternyata bukan saja seorang pembaru dalam bidang pemahaman tentang ajaran Islam, tetapi juga dalam perkembangan ilmu pengetahuan agama, terutama yang berkisar dalam lingkungan Al-Azhar. Nafas yang dihembuskan Jamaluddin ke dalam dadanya telah melahirkan pembaruan atau tajdid itu, yang kemudian meluap dan mengalir ke seluruh dunia Islam melalui kader-kadernya dan angkatan sesudahnya. Mereka itulah yang merupakan jambatan bagi tersampainya nafas pembaruan itu yang menyerap ke segala rongga masyarakat Islam, generasi demi generasi, yang tentunya juga disambut dengan pro dan kontra. Yang pro merupakan pelangsung, dan yang kontra akhirnya harus hanyut ikut mengalir atau jebol atau pecah berantakan dan tersingkir ke tepi. Di antara mereka yang menjadi jembatan itu dan yang terutama ialah pemuda yang dahulu, kira-kira sepuluh tahun yang silam, menemui Abduh di Toroblis, Sayid Rasyid Ridla.

Setelah Abduh dipulangkan ke Mesir dari Beirut pada tahun 1888, Rasyid Ridla tetap tinggal di Toroblis meneruskan pelajarannya, walaupun selama itu sangat rindu dan selalu terkenang kepada Abduh. Pergaulannya yang amat singkat itu telah memberikan kesan kepadanya bahwaAbduh-lah satu-satunya ulama yang harus digurui setelah menyelesaikan studinya di Syria. Apalagi setelah terdengar olehnya bahwa Abduh memberikan kuliah di Al-Azhar, tak tertahan hatinya lagi untuk meneruskan pelajarannya ke Universitas yang tersohor itu. Maka pada bulan Januari 1898 atau permulaan tahun 1315, Rasyid Ridla yang telah berusia 33 tahun itu dengan sembunyi-sembunyi telah sampai ke Mesir, diterima oleh Abduh dengan sangat berbesar hati dan syukur kepada Allah. Abduh pun sudah lama melihat bahwa Rasyid Ridla ini nantinya akan menjadi ulama besar. Maka tercatatlah namanya sebagai mahasiswa yang teramat tekun, di samping Saad Zaghlul dan Mustafa Al-Maraghi.

Baca Juga  Apa Keuntungan Perang di Abad 21?

Allah telah takdirkan bahwa Rasyid Ridla seorang ahli menulis dan selalu menuliskan apa-apa yang dianggap penting seperti juga Allah telah takdirkan Rasyid Ridla harus ke Mesir menyusul Abduh. Maka segala kuliah dan ceramah yang diberikan Abduh dicatatnya dengan teliti.

Menyadari bahwa kuliah-kuliah itu sangat penting artinya bagi kebangunan Islam, maka dengan persetujuan gurunya diterbitkannya majalah dengan nama Al-Mannar, yang artinya ”Mercu Suar.” Segala kuliah dan ceramah Abduh diolah sehingga berbentuk artikel dan dimuat berturut-turut dalam majalah itu sehingga dapat dibaca oleh mereka yang tidak menjadi mahasiswa Al-Azhar, di seluruh Mesir dan bahkan di seluruh negara yang dikunjungi oleh majalah itu.

Dengan jalan itu, suara pembaruan yang lahir dari lisan Muhammad Abduh didengar dan diperhatikan oleh seluruh dunia, yang pro dan yang kontra, yang setuju dan yang takut; serta menjadi penerangan yang menambah jelas kelihatan jalan mana yang harus dilalui oleh umat Islam untuk mencapai kejayaan dan kemajuan. (Bersambung)

Sumber: buku Aliran Pembaharuan dalam Islam dari Jamaluddin Al-Afghani Sampai KHA Dahlan karya Djarnawi Hadikusuma. Pemuatan kembali di www.ibtimes.id lewat penyuntingan

Editor: Arif 


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *