Muhammad Abduh (5): Pertemuan dengan Filosof Herbert Spencer di Inggris

 Muhammad Abduh (5): Pertemuan dengan Filosof Herbert Spencer di Inggris
Muhammad Abduh. Poto: Wikipedia            

Bekas Kolonel Arabi Pasya telah sepuluh tahun hidup di Sailan sebagai pemberontak yang dibuang. Pulau itu memang menjadi tempat pengasingan bagi kaum pemberontak. Maka, di sana memang banyak terdapat orang-orang hukuman dari segala penjuru. Juga dari Indonesia dalam pemerintahan VOC sebagai orang buangan dan bekas pemberontak. Keadaan mereka memang sangat menyedihkan dan dijaga dengan keras.

Pada tahun 1901, atas kemurahan Inggris, Arabi Pasya dipulangkan ke tanah airnya, Mesir, dan menurut berita tempat tinggal dan hartanya sudah tidak ada lagi. Namanya tetap tidak muncul lagi dalam percaturan, mungkin akhirnya meninggal dunia dalam keadaan menyedihkan. Begitulah umumnya nasib pemimpin, setelah menjadi korban perjuangan dan hidup sengsara, tak seorang pun rakyat yang mau tahu.

Pada tahun itu juga, Muhammad Abduh memulai perjalanannya, yang pertama dituju ialah Istambul, pusat pemerintahan Khalifah Abdul Hamid II yang dahulu telah berbuat aniaya terhadap Jamaluddin karena hasutan Syaikhul Islam Abul Huda As-Shayyadi. Sekarang, kedudukannya telah digantikan oleh Maulana Jamaluddin Affandi, seorang alim yang berpikiran maju dan memperhatikan nasib umat Islam.

Muhammad Abduh diterima oleh Sultan Turki sebagai tamunya. Selama di Istambul, ia berkesempatan wawancara dengan Syaikhul Islam itu dan mendapat sambutan yang amat baik. Keduanya mengadakan pembicaraan di mana Abduh tegaskan bahwa nasib dan maslahat umat Islam tergantung pada alim-ulamanya yang benar-benar melaksanakan perintah dan ajaran Islam. Syaikhul Islam inilah yang nanti pada tanggal 26 April 1909 mengeluarkan fatwanya mendukung Majlis Permusyawaratan Rakyat untuk menurunkan Sultan Abdul Hamid dari tahtanya, digantikan oleh saudaranya Muhammad V.

Dari Istambul, Muhamad Abduh meneruskan perjalanannya ke Eropa untuk meninjau keadaan umat Islam di negeri-negeri Masehi itu dan untuk menjajagi pendapat ahli-ahli politik dan ilmu pengetahuan tentang agama dan umat Islam.

Baca Juga  Pikiran Kiai Dahlan: Antara Abduh, Ridha, dan Renan

Pada tahun 1903, Muhammad Abduh kembali mengunjungi Eropa dan Inggris. Di Prancis dia berusaha menemui ahli filsafat, Gustav Le Bon, tetapi tidak bertemu. Tetapi, di Inggris ia sempat bertemu dengan Herbert Spencer, seorang ahli filsafat terkenal yang berpendirian bahwa ilmu dan agama tidak bertentangan bahkan sesuai, kedua-duanya harus berdampingan guna keselamatan umat manusia.

Dalam pertemuannya dengan Abduh, dia katakan bahwa bangsa Eropa pada umumnya dan bangsa Inggris khususnya sedang mengalami kemunduran karena pengaruh jalan pikiran yang materialistis. Abduh menyambut bahwa untuk keselamatan umat manusia adalah menjadi tugas para sarjana untuk mengatasi aliran materialistis itu dengan ajaran akhlak yang utama dan perjuangan mempertahankan kebenaran. Kemudian, kedua orang besar itu bertukar pikiran tentang Falsafah Ketuhanan.

Kemudian, Abduh mengunjungi Al-Jazair dan Tunis yang berada dalam pengaruh pemerintah Prancis serta berkeliling dalam wilayah kedua negeri Islam itu. Ia sambil memberikan ceramah dan khutbah-khutbah yang sangat dihajatkan oleh umat Islam yang sedang menghadapi tekanan Prancis itu. Dianjurkannya agar umat Islam bersungguh-sungguh mempelajari dan mengamalkan ajaran agamanya. Dinasihatinya agar jangan mencampur-adukkan agama dengan persoalan politik, tetapi jangan pula membiarkan adanya pemerintah yang dzalim terhadap rakyat. Adalah menjadi kewajiban umat Islam untuk amar ma’ruf dan nahi munkar, memperbaiki dan menyehatkan pemerintah itu.

Tahun 1905, Abduh mengunjungi Sudan. Negeri itu dibebaskan dari kekuasaan Khalifah Al-Mahdi pada tahun 1896 oleh tentara Mesir di bawah pimpinan Kitchener. Sejak itu kembali ke naungan Mesir, meskipun sebenarnya di bawah kuasa Inggris. Di Sudan itu, Abduh diterima dengan segala kehormatan serta dikelilingkan ke seluruh wilayah untuk melihat-lihat keadaan. Di setiap kota dan tempat yang disinggahi senantiasa mengadakan pertemuan dan ceramah yang sangat bermanfaat untuk membina kesadaran dan persatuan. (Bersambung)

Baca Juga  Hijrah Agung: Membentuk Tatanan Kehidupan Baru

Sumber: buku Aliran Pembaharuan dalam Islam dari Jamaluddin Al-Afghani Sampai KHA Dahlan karya Djarnawi Hadikusuma. Pemuatan kembali di www.ibtimes.id lewat penyuntingan

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *