Beranda Feature Insight Muhammadiyah dan Industri 4.0: Menyiapkan Keadaban Islam Progresif (Bagian 2)

Muhammadiyah dan Industri 4.0: Menyiapkan Keadaban Islam Progresif (Bagian 2)

Oleh: Sudarnoto Abdul Hakim

 

Peradaban Islam Progresif

Dalam konteks revolusi industri 4.0 ini,  umat Islam haruslah memiliki kemampuan untuk menawarkan bangunan peradaban agung sebagaimana yang sebetulnya telah ditunjukkan dalam sejarah. Langkah ini sungguh sangat penting dilakukan terutama dalam situasi sekarang dimana peradaban kita sudah mulai dicabik-cabik dan digerogoti oleh manusia uncivilized dan paranoid.

Luka peradaban dunia sudah menganga lebar. Berbagai kejahatan sosial,  ekonomi dan politik terus berlangsung di tingkat yang terendah hingga tertinggi; pengrusakan lingkungan terbiarkan secara sistemik; penyalahgunaan wewenang dan jabatan nampak tak terhentikan; konflik yang tak berkesudahan atas nama apapun;kejahatan perang dan kemanusiaan yang memilukan.

Kehadiran peradaban Islam sangat penting tidak saja untuk  mengobati luka-luka yang menyayat itu akan tetapi juga merekayasa kehidupan ke depan yang jauh lebih luhur. Tawaran ini penting karena peradaban Islam memiliki beberapa karakteristik antara lain ialah:

Pertama, peradaban Ini  didasarkan kepada landasan filsafat yang kokoh yaitu Tauhid (monotheistic civilization). Peradaban monoteistik meniscayakan adanya keyakinan kuat kepada agama sebagai doktrin dan sebagai kekuatan sejarah dan kemanusiaan. Peradaban ini mewujudkan kemakmuran,  kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan manusia yang dicurahi oleh kemuliaan dan keluhuran transendental Tuhan dan mendorong kemajuan.

Karena itu ada beberapa prinsip dan spirit peradaban monoteistik ini antara lain relijius,  liberatif-transformatif,  humanis, egaliter, toleran, solider, mempersatukan dan terbuka.

Kedua, peradaban ini meniscayakan dan ditopang oleh sebuah kepemimpinan politik dan negara yang terpercaya,  kuat, efektif, bersih dan humanis. Kemauan dan kemampuan untuk melindungi masyarakat dan wilayah negara tak diragukan; hak hak sipil dan warga dijamin dan sebaliknya mereka juga menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan baik.

Kepemimpinan ini diselenggarakan dengan cinta, pengetahuan,  dedikasi dan tanggung jawab serta profesional sehingga cita-cita negara menciptakan kemaslahatan hakiki terwujud.

Ketiga,  peradaban ini diperkokoh dengan penerapan sistim hukum yang adil. Karena itu tidak ada diskriminasi, perbedaan berpendapat dan berkeyakinan memperoleh perlindungan, kejahatan dalam bentuk apapun ditindak,  menjamin rasa aman masyarakat, kehidupan masyarakat dan negara itu sendiri stabil tidak didera oleh pertentangan,  keadilan sosial ekonomi tercipta dan pada akhirnya kemaslahatan publik dirasakan.

Keempat,  peradaban ini terbuka dan memberikan tempat yang sama kepada kelompok masyarakat manapun dengan latar yang beragam untuk saling berinteraksi, bekerja sama secara ekual, saling melindungi dan menghargai untuk mewujudkan cita cita bersama.

Egalitarianisme dijunjung tinggi dan karena itu prinsip dominasi kelompok masyarakat terhadap kelompok yang lain atas alasan kultural,  agama,  ekonomi sangatlah bertentangan dengan watak dan prinsip dasar “kemanusiaan yang adil dan beradab. ”

Kelima,  peradaban Islam progresif ini juga ditandai dengan penghormatan yang tinggi kepada community of science para ilmuan,  cendekiawan cerdik pandai, pendidik, peneliti dan para ulama. Merekalah orang-orang yang penuh dedikasi melakukan intellectual transmission and reproduction bidang ilmu,  seni dan teknologi.

Pengajaran, inovasi, riset, observasi, scientific experiment, penerbitan terus dilakukan. Pusat-pusat pendidikan, pengajaran dan pusat-pusat risetpun berkembang pesat karena juga didukung secara politik dan finansial oleh pemerintahan.

Keenam, peradaban ini dibangun dengan pilar family system yang kokoh. Keluarga adalah unit sosial terkecil yang juga dibentuk melalui sebuah sistem perkawinan (marriage system) yang kokoh dan luhur. Selain fungsi reproduktif,  keluarga juga merupakan institusi pendidikan awal di mana nilai-nilai keluhuran diinternalisasi.

Relasi antar anggauta keluarga dibangun dengan landasan etika sosial yang kuat di mana berbagai prinsip agung terimplementasikan dengan baik.  Diantara prinsip-prinsip itu ialah relijiusitas, kebersamaan, kohesifitas, harmony, kesederajatan, tidak ada diskriminasi, keadilan, percaya diri, respek terhadap perbedaan dan keterbukaan.

Nilai atau prinsip-prinsip inilah yang secara riil juga merupakan landasan etik sosial dan bahkan juga politik kenegaraan.

Bagaimana Muhammadiyah?

Muhammadiyah memperoleh kesempatan yang sangat jembar untuk memainkan peran-peran strategisnya ikut membangun dan memperkokoh peradaban progresif ke depan. Ada beberapa alasan:

(1) Muhammadiyah telah mengalami perjalanan dan pengalaman panjang sejak kemunculan pertama kalinya di kampung kecil Kauman Yogyakarta hingga terus berkembang dan mendunia hingga saat ini menjadi kekuatan civil society Islam yang sangat dihormati dan diperhitungkan karena karya nyatanya membangun masyarakat,  mengangkat derajat manusia, mengembangkan science dan teknologi dan memajukan kehidupan berbangsa.

Selama 108 tahun, Muhammadiyah sangat lekat dengan nafas dan jiwa masyarakat sehingga tahu betul tantangan dan problem yang dihadapi masyarakat dan bagaimana jalan keluar/solusi ditawarkan. Etos gerakannya untuk amal kongkrit bagi bangsa telah teruji.

(2) Sejak awal berdirinya,  Muhammadiyah memang berwatak progresif atau  berkemajuan. Watak ini tentu saja seiring dengan spirit Tajdid dan Tanwir. Islam berkemajuannya Muhammadiyah menegaskan bahwa Muhammadiyah menolak kejumudan dan kemandegan dalam pemahaman dan pemikiran keislamannya.

Ijtihad dalam rangka Tajdid dan Tanwir menjadi penting. Islam berkemajuan juga berarti memberikan perhatian dan ruang besar untuk pengembangan science dan teknologi. Dalam keyakinannya,  bangsa tak kan maju kalau science dan teknologi tak dikembangkan dan karena itu pendidikan menjadi vital.

Disamping itu,  watak keagamaan Muhammadiyah adalah pembelaan dan keteguhannya terhadap kerahmatan seluruh alam (Rahmatan lil Alamin)

(3) Muhammadiyah peduli untuk memperokoh karakter masyarakat dengan mengedepankan agama sebagai sumber utama. Karena itulah misi Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar menjadi andalan dengan maksud agar masyarakat senantiasa mentaati agama dan memperkokoh Akhkaq mulia.

Kemuliaan ini menjadi sangat relevan dengan kebutuhan banyak orang untuk meningkatkan kualitas hidup sehingga benar benar mampu melahirkan “Khoiru Ummah” atau masyarakat yang maju,  kompetitif,  berkeadaban dan senantiasa menjadi teladan atau tipe ideal bagi masyarakat lain.

Atas dasar itu semua,  Muhammadiyah perlu memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki, melakukan konsolidasi internal, menginisiasi untuk melakukan transformasi besar-besaran untuk menghadapi atau menyongsong perubahan besar ke depan sebagai akibat dari revolusi 4.0. Muhammadiyah akan menjadi pemain penting di era revolusi industri 4,0.

Pungkasan

Tidak berlebihan untuk berpendapat bahwa sebuah peradaban besar yang dibutuhkan oleh dan mengayomi masyarakat dunia adalah peradaban yang dibangun di atas landasan filsafat yang kokoh dan prinsip-prinsip moral dan etika yang luhur.

Bangunan peradaban ini juga ditopang oleh pilar-pilar penting antara lain agama,  pemerintah yang kuat dan bersih,  hukum yang adil,  ilmu pengetahuan yang maju, sistim keluarga yang kokoh, masyarakat yang terbuka.

Islam baik sebagai doktrin maupun penggerak sejarah menawarkan bangunan peradaban yang progresif yang memang dibutuhkan. Instrumen industri 4.0 sangatlah penting dimanfaatkan untuk menyiapkan dan memperkokoh peradaban Islam progresif  ini dan Muhammadiyah mendapatkan  momentum emas.  Karena itu pembenahan,  konsolidasi dan transformasi di internal Muhammadiyah dengan demikian sangatlah dibutuhkan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Luar Biasa! Pengabdian UMY Perkuat Desain Digital Capaian SDGs Lazismu

IBTimes.ID-Yogyakarta, (16/07 10)- Program pengabdian masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, baru-baru ini menggandeng Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sadaqah Muhammadiyah) untuk memperkuat capaian...

Unik! Kebencanaan Menjadi Materi Fortasi IPM SMK Muhammadiyah Pontang

IB Times.ID - Ada yang spesial dari pelaksanaan Forum Ta'aruf dan Orientasi (Fortasi) siswa baru siswa baru SMK Muhammadiyah Pontang tahun pelajaran 2019/2020 ini,...

Berakhirnya Kompetisi: Refleksi Milad 58 IPM “Kolaborasi untuk Negeri”

Oleh: Nashir Efendi Milad ke-58 milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) mengusung tema “Kolaborasi untuk Negeri”. Tema ini nampaknya ingin menggeser paradigma kompetisi menjadi kolaborasi.  Bicara...

Romo Paryanto: Selain Keuangan, Muhammadiyah Perlu Audit Ideologi dan Kebijakan

Tahun 2020, Muhammadiyah akan gelar perhelatan akbar Muktamar ke-48 di Surakarta.  Akan tetapi syi’ar dan gaung Muktamar yang tinggal satu tahun lagi belum terdengar....

Andaikan IMM Agamaku

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri* Isu agama di Indonesia merupakan isu yang sangat sensitif. Survei menunjukkan bahwa agama di mata masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang sangat...