Munir Said Thalib, Pejuang HAM, Duta Universalitas Islam
Inspiring

Munir Said Thalib, Pejuang HAM, Duta Universalitas Islam

3 Mins read

Eagle flies alone. Munir adalah elang. Ia terbang sendirian, menembus batas-batas kegelapan. Ia terbang menyibak silau cahaya, ia menjadi cahaya itu sendiri. Indonesia berhutang pada Munir. Ia menjadi perintis jalan bagaimana menyibak tabir kegelapan kejahatan HAM yang selama ini samar di Indonesia. Ia mengawali perjuangannya dari kelompok marginal paling sering ditindas, buruh.

Perjalanan Hidup Munir

Munir dilahirkan di Batu, Malang 8 Desember 1965. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara. Pendidikannya ditempuh di Universitas Brawijaya Malang. Skripsinya bukanlah lahir dari ruang-ruang akademik maupun AC yang dingin di perpustakaan kampus. Ia menerobos sekat-sekat tembok pabrik, ia terjun ke bawah, ia resapi lorong dan denyut nadi buruh. Ia membuka buku kehidupan objek yang ditelitinya yakni buruh.

Ia adalah pembelajar yang tekun, mempelajari perkara hukum dari tata aturan sampai dengan celah-celahnya. Itulah yang membuat perjuangannya mengadvokasi bukan dilandasi oleh semangat semata, tetapi juga didasarkan pada pijakan yang benar sehingga sulit untuk dikalahkan di ruang-ruang publik maupun pengadilan.

Perjuangannya dilandasi dari ruh Islam. Ia berkata, “Ketika saya berani shalat, konsekuensinya saya harus berani memihak yang miskin dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk memeriahkan perintah-perintah itu, seperti membela korban”.

Pada mulanya, dirinya bukanlah seorang yang menonjol di lingkungan kampus. Laku intelektualnya justru dibuktikan saat ia keluar dari Fakultas Hukum yang menggodok dan menggemblengnya. Ia menyadari betul bahwa seorang ahli hukum adalah yang membela kebenaran ditegakkan. Ia membela orang-orang tertindas tanpa baju seorang advokat.

Perjuangan Seorang Aktivis

Perjuangannya berawal saat menjadi LBH Surabaya. Munir terlibat dalam mengadvokasi buruh di Surabaya meluas sampai lingkup Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Baca Juga  Tenggelam atau Tidaknya Indonesia Tergantung Muhammadiyah

Perjuangannya membawanya berhadap-hadapan dengan militer. Ia sendiri sadar dan teguh dengan resiko yang akan dia hadapi. Presiden Gus Dur sempat menawarinya menjadi menteri lalu dijawab dengan lantang “Karir tertinggi seorang aktivis bukan jabatan, melainkan mati”.

Berdasarkan catatan buku putih Bunuh Munir (2006) tercatat kasus-kasus yang ditangani Munir yang menyeret petinggi militer. Antara lain sebagai berikut:

Pertama, kasus penculikan aktivis 1998 melibatkan Prabowo dan Muhdi PR dan Chairawan Prabowo, mengakibatkan mereka dicopot dari jabatannya.

Kedua, Penembakan mahasiswa di Trisakri, Semanggi dan Mei 1998, menyeret Sjafrie Syamsoeddin dan Hamami Nata, kasus berakhir pada dibawanya mereka ke Mahkamah Militer yang terkatung-katung di Komnas Ham dan Jaksa Agung.

Ketiga, Penembakan Mahasiswa di Semanggi yang menyeret Djaja Suparman dan Nugroho Djayusman.

Keempat, kasus Timor-Timur yang melibatkan Wiranto dan Zacky Makaarim, berakhir pada bebasnya Wiranto, bahkan jaksa agung tidak menuntut ke pengadilan meski Wiranto dan Zacky Makarim masuk daftar nama KPP HAM/ Komnas HAM.

Kelima, peristiwa Talangsari Lampung, melibatkan Hendropriyono, kasus ini berakhir di Komnas HAM yang terkatung-katung.

Keenam, Tanjung Priok (1984) melibatkan Jenderal LB Moerdani dan Try Sutrisono yang berakhir pada tidak dibawanya kasus ke pengadilan.

Munir mendirikan Kontras di tahun 1998. Pada tahun 2002, ia turut membidani lahirnya Imparsial sebuah LSM yang mengawasi dan menyelidiki pelanggaran HAM di Indonesia.

Munir Mati Dibunuh!

Munir dibunuh pada 7 September 2004 di atas langit saat penerbangan menuru Amsterdam, Belanda. Kematiannya menjadi teka-teki panjang sampai saat ini. Upaya menyelidiki kasusnya seperti tidak serius sampai hari ini. Di masa SBY, bahkan dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) Munir hilang.

Ia meninggal di atas pesawat terbaik di negerinya. Ia memilih Garuda Indonesia karena menghasilkan devisa negara dibanding memakai maskapai lainnya. Pilihannya justru membawa takdir kematiannya.

Baca Juga  Pak AR: Hayam Wuruk Belum Pernah Naik Pesawat Terbang

Penyelidikan atas kematiannya mencatatkan bahwa kadar arsenik yang merenggut nyawanya melebihi kadar yang biasa terjadi. Munir dibunuh oleh sistem pembunuhan yang rapi, tertata dan terstruktur.

Majalah Tempo (8-14 Desember 2014) mencatat ada dugaan kuat keterlibatan BIN dalam kematian Munir.  Pembunuhan Munir dicatat sejarah sebagai pembunuhan paling keji yang merenggut nyawa sang aktivis. Negara terbukti sampai saat ini belum mampu mengusut pelaku utama atau dalang dari kasus ini.

Perjuangan Munir di garda depan melawan impunitas negara masih panjang. Sampai saat ini, masih banyak para petinggi militer yang terlibat kasus HAM masa lalu melenggang dengan santainya. Bahkan sampai saat ini, para mantan petinggi militer ini justru mencalonkan dirinya sebagai calon Presiden.

Munir telah membuktikan perjuangan tidak selalu ditempuh dengan jalan manis. Ia sadar resiko perjuangan dan jalan yang dirintisnya. Munir menjadi teladan para sarjana hukum bahwa ruang-ruang kehidupan yang luas ini adalah medan perjuangan para penegak hukum.

***

Todung Mulya Lubis mengatakan,“Kritik tajam yang dilontarkan almarhum baik yang ditujukan pada pemerintah maupun TNI membuat dia dituduh sebagai orang tidak nasionalis, bahkan yang lebih parah “menjual” Negara. Perjuangannya tidak mengenal batas ras, suku, agama, maupun gender sehingga tuduhan itu salah kaprah.

Pembunuhan atasnya diduga kuat karena pilihan politiknya yang mendukung Amin Rais sebagai calon Presiden. Keterlibatan militer dalam pembunuhannya seolah membuktikan bahwa kasus-kasus kejahatan yang selama ini dikuak dan dibongkar olehnya memang membuat geram militer.

Munir menjadi simbol bahwa agama adalah perjuangan terhadap kaum tertindas, tersingkirkan dan lemah. Apa yang tulus ia perjuangkan akan dicatat para pejuang HAM setelahnya.

Syafii Maarif menyebut Munir sebagai Duta Universalitas Islam. Munir memang beragama Islam, tapi perjuangannya lintas batas, menolong siapapun yang tertindas. Ia memperjuangkan keadilan yang selama ini masih timpang dan jarang ditegakkan. Meski raganya telah sirna ditelan bumi, namun cita-citanya akan tetap berdegup di jantung dan dada kita yang merindu kebenaran.

Baca Juga  Ayah, Teganya Kau Hancurkan Impian Anakmu!

Editor: Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Avatar
19 posts

About author
Pegiat Literasi
Articles
Related posts
Inspiring

Siti Munjiyah, Perempuan Aisyiyah yang Menjadi Aktor CPPA dan Kongres Perempuan Pertama

3 Mins read
Pada awal abad ke-20, kasus prostitusi dan perdagangan anak pernah mencuat ke publik. Sejumlah tokoh pergerakan nasional yang prihatin menggalang kekuatan dari…
Inspiring

Jejak Haji Agus Salim di Muhammadiyah

5 Mins read
Nama kecilnya Mashudul Haq (pembela kebenaran). Ia dilahirkan dan tumbuh dari serpihan surga yang turun ke bumi, tepatnya Bukit Tinggi. Di Bukit…
Inspiring

Irfan Amalee Bersama Peacegen, Menyebarkan Damai dengan Cara Kreatif

4 Mins read
Irfan Amalee lahir di Bandung pada 28 Februari 1977. Di sana, Irfan kecil bertetangga dengan orang berlatar belakang Tionghoa, Flores, Batak, dan…

Tinggalkan Balasan