Muslim Sejati itu Saleh Sosial, bukan Saleh Ritual! - IBTimes.ID
Akhlak

Muslim Sejati itu Saleh Sosial, bukan Saleh Ritual!

5 Mins read

Menjadi Seorang Muslim

Apa sebenarnya yang diinginkan Allah dari kita? Kita yang sejak lahir adalah Muslim, tentu sudah sepatutnya tidak merasa keislaman kita hanya nominal saja. Kita hidup sebagai manusia; dan tentu bukan hidup yang tanpa makna. Apa sebenarnya arti hidup sebagai seorang Muslim? Pernahkah kita tanya seperti itu pada diri sendiri?

Ada satu makna yang hampir hilang berkaitan dengan menjadi seorang Muslim. Apa itu? Ia adalah menjalani hidup di atas jalan dan jejak para Nabi. Kitab suci Al-Qur’an penuh dengan kisah dan contoh peri hidup para Nabi. Akan tetapi, selama ini kita luput memahami arti dari eksistensi ayat-ayat tersebut dalam sejilid Al-Qur’an.

Pada mulanya, Al-Qur’an adalah audiensi antara Allah, Tuhan yang satu-satunya, dengan corong hidayah dan penyampai risalah-Nya di muka bumi, Nabi Muhammad Saw. Artinya, Al-Qur’an penuh dengan luapan rasa dan emosi yang dialami Nabi selama hidupnya menjadi Muslim yang pertama.

Kita sering lupa, bahwa menjadi umat Islam artinya adalah meletakkan di depan mata dan hidung kita sendiri; teladan dan kelembutan Sang Nabi, Muslim yang pertama, untuk kita contoh dan resapi.

Latar Sosiologis Kehadiran Sang Nabi

Karen Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Prophet for Our Time (2006) menangkap kesan bahwa Sang Nabi muncul dalam sebuah suasana dunia yang amat menyedihkan bagi kebanyakan manusia. Bagaimana tidak, manusia sampai turun derajatnya menjadi komoditas perdagangan. Bak barang bekas yang ditawar-tawar dan diobral daripada ia tak laku di lapak dagangan.

Memang ada manusia yang kaya dan berkuasa. Namun jelas, mereka berkuasa dengan tujuan melanggengkan kedudukan sosialnya, memperkaya anak-anaknya, dan menilai kemuliaan itu dari status sosial dan keturunannya. Hal serupa kerap berlanjut hingga hari ini.

Anda heran tidak, mengapa hari ini masih banyak orang Muslim yang tetap berpendirian bahwa kemuliaan itu adalah lewat keturunan? Berlomba-lomba orang mengaku keturunan Nabi. Dan tentu, itu semua tidak mungkin jika tanpa motivasi kedudukan sosial, penghormatan oleh orang awam, dan akhirnya dijadikan ladang mata pencaharian.

Nabi Muhammad adalah penyendiri yang santun, saleh, dan ramah pada masyarakatnya. Tak ada orang yang menolak keluhuran budi pekerti Sang Nabi. Bahkan musuh-musuhnya berani bersumpah bahwa dia adalah manusia paling jujur di alam semesta. Betapa tidak, sejak kecil mereka mengenal Muhammad, dan sejak kecil dia tak pernah dicederai oleh pekerti yang rusak, dan tak pernah dikenal sebagai pemicu keributan.

Baca Juga  Tantangan Muslimah Era Millennial

***

Tapi, apalah daya, meski Muhammad sangat dihormati karena kejujurannya itu, tetap saja panggilannya kepada masyarakatnya agar mereka kembali kepada Allah, dan meninggalkan kezaliman dan perbuatan aniaya, tak digubris, lantas ditolak dan dimaki-maki.

Menurut Mustafa Akyol, dalam Islam Without Extremes: A Muslim Case for Liberty (2011), dikatakan bahwa Muhammad bukan sekadar mengajak mereka untuk beralih akidah. Itu sih hal gampang dan biasa bagi orang Arab.

Muhammad ditolak karena ajaran Islamnya adalah ancaman nyata bagi orang-orang yang sudah nyaman menguasai seratus persen ekonomi masyarakat Makkah. Apa maksudnya? Muhammad menyuruh mereka meninggalkan berhala, padahal berhala adalah pendapatan utama mereka. Bukankah Ka’bah, waktu itu, adalah rumah bagi seluruh dewa di seantero Arab? Dan dengan berhala-berhala inilah para penguasa meninabobokan rakyat jelata supaya tak sadar bahwa mereka dihisap darahnya, tak berkutik dalam sistem sosial yang tidak adil.

Perjuangan Moral dan Kesabaran Besar

Kembali kepada apa yang Al-Qur’an ajarkan kepada kita dari ayat-ayat kisah hidup para Nabi. Sekali lagi kita perlu ingat, bahwa kisah-kisah itu disampaikan, pada mulanya, kepada Muhammad, karena ia harus menguatkan hati menghadapi susah dan beratnya tugas menyelamatkan masyarakat.

Michael H. Hart dalam The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History (1978), mengatakan bahwa Muhammad itu tak membawa revolusi sosial yang biasa-biasa saja. Ini adalah revolusi yang berlangsung singkat namun sangat mengakar.

Muhammad mengubah iman dunia Arab, dari irasional, menjadi rasional. Dari menuhankan apa pun sesuka hawa nafsunya, menjadi kembali menuhankan Tuhan pencipta semesta, sebab pertama, dan pengatur alam semesta.

Sejatinya, sikap religiusitas penduduk Makkah waktu itu bukan sekadar masalah dogma yang menyalahi monoteisme. Melainkan, sebuah keyakinan dan ideologi yang berdampak pada struktur sosial yang tidak adil, tidak rasional, dan hanya melanggengkan penindasan pada yang lemah.

Dan itu semua bukan tugas remeh dan gampang. Muhammad teguh meski ia tahu nyawa sahabat, keluarga, anak, dan dirinya sendiri menjadi taruhannya. Ia juga tak pernah goyah, tak gentar meski semua tawaran dan imingan diberikan kepadanya.

Suatu ketika, berat hati Abu Thalib, melihat keponakan yang paling ia sayangi ini, berseberangan dengan tradisi leluhur, dan melawan hegemoni para tetua-tetua Makkah. Sedih Abu Thalib, tak tega keponakannya yang masih muda itu, dikejar-kejar, dicaci, ditertawakan, dan dipaksa meninggalkan keyakinan dan idealismenya.

Baca Juga  Pamer Makanan di Sosmed: Riya' Berjubah Tahadduts Binnikmah

***

Abu Thalib dipanggil para tetua Makkah, yang memintanya supaya Muhammad dihentikan, dan jika untuk itu ia harus dijadikan raja di Makkah – sesuatu yang tak pernah ada presedennya dalam sejarah Makkah –  maka para tetua rela menjadikan Muhammad raja.

Abu Thalib mendatangi keponakannya. Memintanya supaya Muhammad sudahi ini semua. Hancur hati sang paman melihat keponakannya yang begitu luhur budi diperlakukan bak seorang kriminal.

Namun, tak kalah hancur hati sang keponakan mendengar sang paman memintanya untuk berhenti dalam menyampaikan kebenaran. Dengan linangan air mata, tak tega harus melawan pamannya sendiri yang mengurusnya selama kecil sepeninggal ayah, ibu, dan kakeknya, Muhammad pun berkata: “Wahai paman, sekalipun para tetua itu meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, tak akan pernah kutinggalkan Islam ini, meski harus aku hancur karenanya.”

Karen Armstrong (2006) mendokumentasikan drama tragis ini. Sang paman betapa takjub kepada kekuatan hati Muhammad, dan akhirnya luluh lalu berkata: “Pergilah nak, lakukan apa pun yang benar menurutmu. Sebab, selama aku masih hidup, tak ada seorang pun yang dapat menyentuhmu.” Apa artinya ini? Artinya, sang paman akan berada di belakang Muhammad, melindunginya sampai tetes darah penghabisan.

Muslim Sejati: Saleh Sosial, bukan Ritual

Sudah pahamkah Anda bahwa apa yang Muhammad bawa di pundaknya itu berat dan bagai memikul seisi langit dan bumi? Jika bukan karena jiwanya yang tegar dan pikirannya yang sehat, Muhammad pasti sudah gentar dan mundur dari amanah maha berat ini.

Betapa tidak berat, bahkan pada permulaan sekali wahyu, sang Nabi tampak ketakutan, mengira bahwa jin dan makhluk gaib penghuni padang pasir yang biasa mendatangi penyair-penyair Arab, itu juga yang mendatanginya. Muhammad tidak mau; tidak mau menjadi gila dan hilang akal. Majnun adalah bahasa Arab untuk kemasukan jin, dan arti psikologisnya adalah gila.

Tak gentar Muhammad, sebab Tuhan tak pernah meninggalkannya. Menurut Allah, akhir cerita akan lebih memuaskan bagi Muhammad daripada awal cerita yang penuh derita. Muhammad diperingatkan bahwa ia akan diusir oleh kaumnya.

Semua Nabi yang menerima wahyu pasti mengalaminya, kata Waraqah bin Nawfal, sepupu Khadijah, dan seorang pendeta Nasrani di Makkah. Apa yang mendatangi Muhammad bukan iblis. Waraqah meyakinkan bahwa itu adalah Namus, Jibril yang pernah menghampiri Musa. “Quddus, quddus,” adalah respon Waraqah ketika Khadijah bercerita tentang apa yang Muhammad alami di Gua Hira.

Baca Juga  Al- Zahrawi: Tokoh Muslim dan Ahli Bedah Pertama

Sudahkah kita paham, sedikit saja, bahwa Nabi membawa sesuatu yang luhur, mulia, yang ia pertaruhkan dengan nyawanya sendiri. Itulah Islam, ajaran pasrah kepada Tuhan satu-satunya. Ajaran kemanusiaan dan keadilan. Ajaran spiritual dan moral yang menyuruh kita mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Bagi Sang Nabi, belumlah pantas kita mengaku beriman, apabila kita mencelakakan sesama manusia, menghina tetangga, dan mengambil hak sesama. Muslim, kata Nabi, adalah orang yang tidak tajam lidahnya, dan tidak kasar perbuatannya.

Muslim Sejati Harus Bermoral

Ajaran akhlak ini mungkin tampak remeh sekali bagi kita hari ini. Padahal tidak demikian dengan apa yang dialami Sang Nabi. Akhlak adalah inti ajarannya. Ia tidak menyuruh kita menjadi kaum pendeta, yang menyendiri di masjid dan berduaan saja dengan Tuhan. Seraya tak peduli akan kepentingan sosial, dan kebutuhan orang-orang yang tertindas. Itu saja tidak, apalagi ia menyuruh kita menjadi pembunuh, teroris, dan sebagainya.

Nabi menegur sahabatnya, Utsman ibn Mazh’un yang bertindak layaknya pendeta. Tak berhubungan badan dengan istri, tak bersosialisasi, dan tak peduli pada dunia.

Nabi bilang padanya, pada kita juga, “Bukankah aku adalah utusan Allah. Aku puasa, tapi aku juga makan. Aku beribadah, tapi aku juga tidur.” Dan seterusnya. Apa artinya? Artinya tunjukkanlah akhlak kita dalam hidup sebagai manusia, baik secara individu maupun sosial. Kita hadir bukan sekadar untuk menjadi saleh dengan ritual. Kita hadir untuk menjadi bagian dari komunitas sosial.

Akhirulkalam, makna keislaman sebagai jalan hidup penuh keikhlasan, rendah hati, kesabaran, kecerdasan, dan semangat keadilan layaknya yang dicontohkan Nabi Muhammad inilah yang tak boleh sekali-kali kita lupa.

Ada banyak aspek dalam Islam, dan bukan terbatas pada urusan fiqih dan pertentangan dalam akidah saja. Masih betahkah kita hidup dalam Islam yang penuh pertentangan itu? Padahal pesan moral dan spiritualnya jauh lebih dalam dan besar. Kita saja yang tak cukup pandai untuk menangkapnya.

Editor: Yahya FR

Ibnu Rusyd
22 posts

About author
Mahasiswa Pascasarjana Studi Islam Universitas Paramadina
Articles
Related posts
Akhlak

Psikologi Islami: Karakter Sabar dalam Ibadah Puasa

6 Mins read
Keutamaan Puasa Secara Lahir dan Batin Dari macam-macam ibadah, apabila ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya, maka puasa merupakan ibadah yang berbentuk…
Akhlak

Lakukan ini Saat Menyambut Bulan Ramadhan!

2 Mins read
Menyambut Ramadhan Jika kita sebagai hamba selalu memohon untuk terus dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan di setiap tahunnya, maka kita juga harus…
Akhlak

Etika Masyarakat Dilihat dari Teori Etika Ibnu Bajjah

2 Mins read
Kita awali dari pembicaraan tentang Etika. Bahwa etika bisa diartikan secara sederhana, yaitu sistem prinsip-prinsip sebuah moral, yang mana ini bisa mempengaruhi…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa