Pertengahan Abad 20: Mengapa Barat Maju Tapi Umat Islam Terbelakang?

 Pertengahan Abad 20: Mengapa Barat Maju Tapi Umat Islam Terbelakang?
Foto: muhammadiyah.or.id            

Oleh: Saadoe’ddin Djambek*

Abad pertengahan biasa dinamakan abad-abad kegelapan bagi Eropa Barat. Terutama oleh karena masyarakatnya pada masa itu masih amat terbelakang di semua bidang kebudayaan. Di abad pertengahan, kerajaan-kerajaan Islam di Timur Tengah telah mencapai kejayaannya dan menghasilkan kebudayaan tinggi berupa majunya ilmu pengetahuan, meningkatnya kesenian, berkembangnya perpustakaan-perpustakaan, lancarnya perdagangan, ramainya lalu-lintas laut dan darat, timbulnya berbagai ragam kerajinan, meningkatnya kesusasteraan sampai kepada suatu tungkat yang susah tertandingi oleh generasi-generasi mendatang.

Sementara itu, Eropa Barat masih merupakan hutan belukar dan rawa-rawa yang masih sukar ditempuh, dengan masyarakatnya yang masih setengah liar. Sedangkan raja-rajanya baru saja mulai dengan susah payah belajar mengeja dan menuliskan namanya sendiri.

Revolusi Ilmu Pengetahuan

Betapa bedanya dengan keadaan sekarang!
Pada pertengahan abad ke-20 ini Eropa berdiri di baris paling depan dalam perlombaan bangsa-bangsa mencapai kemajuan. Ia merupakan mercusuar bagi perkembangan tatanegara, tatahukum, dan bagi bagi tatakesusilaan. Ia menentukan arah perkembangan yang harus ditempuh oleh bangsa-bangsa setengah atau belum berkembang.

Pendek kata: pengaruh politik, pengaruh ekonomi, dan pengaruh kebudajaannya dirasakan sampai ke pelosok yang sejauh-jauhnya dan sesepi-sepinya dalam dunia yang semakin lama terasa semakin kecil ini.

Apakah yang menyebabkan perubahan begitu besar? Apakah yang menyebabkan membumbungnya begitu tinggi supremasi kebudayaan bangsa-bangsa Barat terhadap kebudayaan bagian-bagian lain dunia ini? Padahal, dahulu ia merupakan anak yang perkembangannya paling kerdil bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa di sekitarnya.

Sebab pokok yang utama ialah, oleh karena Eropa Barat telah mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan secara radikal. Dengan jalan membuang jauh segala hambatan politik, sosial, dan kerohanian yang menyebabkan kurang lancarnya jalan pertumbuhan dan perkembangannya yang bebas.

Revolusi Prancis yang menumbangkan kekuasaan raja-raja absolut setelah mematahkan terlebih dahulu pengaruh kaum gereja, telah dipelopori di bidang ilmu pengetahuan oleh sarjana-sarjana dari berbagai lapangan, yang lazim disebut golongan ”Encyclopedites.”

Sejak peristiwa itu tidak ada suatu kejadian penting di daratan, di lautan ataupun di udara Eropa, yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu dengan metode-metode yang sepenuhnya bersifat ilmiah. Dalam zaman sekarang tidak ada satu segi hidup di dunia Barat yang luput dari campur tangan dan pengaruh ilmu pengetahuan.

Bukan saja pendaratan sekutu di Normandia dalam Perang Dunia kedua telah dipersiapkan sampai ke detail-detainya secara ilmiah, tetapi penghidupan sehari-hari pun diatur dan dikontrol oleh ilmu pengetahuan. Dari perencanaan keluarga sampai kepada pencangkokan jatung, dari sikap duduk sebaik-baiknya bagi seorang astronaut sampai kepada gerak-gerik yang dilakukan oleh seorang tukang bubut.

Itu semua agar supaja efisien dan praktis serta sedikit menimbulkan kemungkinan akan terjadinya bahaya atau hal lain-lain yang tidak diinginkan.

Penghargaan Terhadap Ilmuwan

Dalam masyarakat Barat, orang-orang ilmu pengetahuan diperlakukan sebagai anggota-anggota ningrat terhormat di zaman feodal dahulu. Mereka ditempatkan di universitas-universitas dan di laboratoria dengan segala macam fasilitas dan kontor. Hidup mereka disenangkan, sesuai dengan kegunaan hasil-hasil usaha mereka bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Perjuangan di antara kekuatan-kekuatan raksasa di dunia berlaku dengan amat sengit di bidang penyediaan tenaga sarjana-sarjana yang paling ahli di berbagai lapangan ilmu pengetahuan. Dan ”brain drain” merupakan gejala yang memikat perhatian dan sampai tingkat tertentu amat menggelisahkan ahli-ahli fikir yang mengutamakan keselamatan bangsa dan negara.

Penghargaan terhadap ilmu pengetahuan memang belum pernah sebesar di zaman sekarang ini. Hal itu tidak dari sebermula dahulu demikian keadannya. Ada suatu masa yang ilmu pengetahuan dianggap sebagai pekerjaan setan, yang hanya mendatangkan keonaran dan kesengsaraan. Dan hingga sekarang pun msaih ada segi ilmu pengetahuan yang menimbulkan kecemasan. Oleh karena manusia yang di dalam dirinya tersimpan unsur-unsur baik dan unsur-unsur jahat, pada suatu ketika mungkin cenderung akan menggunakan tenaga yang diperoleh dengan pertolongan ilmu pengetahuan itu. Bukan untuk melanjutkan dan mempertinggi peradaban, melainkan malah untuk menghancurkan dan memusahkannya.

Tetapi pada umumnya dunia masih mengharapkan, bahwa ilmu pengetahuan akan dapat diabadikan bagi keselamatan dan perbaikan hidup umat manusia. Encyclopaedia of Religion and Ethics jilid XI menyatakan pada halaman 347:

”The old discouragement expresed in the saying that increase of sorrow has been replaced by the hope of science as contributing to human weltare. This is pithily expressed in herbert spencer’s wellknown sentence: Science is for life ; not life for science.” Artinya: “Pendapat yang melemahkan semangat dari zaman dahulu, yang dinyatakan dengan ucapan, bahwa pertambahan pengetahuan berarti bertambahnya kesengsaraan, telah diganti dengan harapan yang memandang ilmu pengetahuan sebagai memajukan keselamatan manusia. Hal itu dinyatakan secara tegas dalam ucapan Herbert Spencer yang terkenal, yaitu: Ilmu Pengetahuan adalah untuk hidup: bukan hidup untuk ilmu pegetahuan.”

*) Sumber: Makalah dengan judul “Ilmu Pengetahuan, Modernisasi, dan Sekularisme” karya Saadoe’ddin Djambek tahun 1960-an. Pemuatan kembali di www.ibtimes.id lewat proses penyuntingan.

Editor: Arif  dan Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

IBTimes.ID - Kanal Moderasi Islam. Kanal media multiplatform yang menyediakan wacana Islam Rahmatan lil Alamin secara aktual, mendalam, dan mencerahkan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.