Prinsip dan Kebijaksanaan dalam Berdakwah

 Prinsip dan Kebijaksanaan dalam Berdakwah
Ilustrasi: Republika            

Sebagai seorang muslim, berdakwah merupakan amanat agama yang berisikan perintah untuk menyeru manusia kepada jalan kebenaran. Namun, sering kali kita lupa akan prinsip kebijaksanaan dalam melakukan dakwah. Sehingga akibat ketidaktahuan kita tersebut usaha untuk berdakwah sering sekali tidak efektif sebagaimana yang diharapkan.

Prinsip Berdakwah

Jika kita melihat dalam Al-Quran dan Sunnah, maka sesungguhnya Islam telah memberikan prinsip-prinsip dalam berdakwah diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, dalam berdakwah hendaklah senantiasa menggunakan prinsip hikmah. Allah berfirman:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم
بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (an-Nahl: 125).

Menurut Buya Hamka rahimahullah, makna menyeru dengan hikmah adalah menyampaikan dakwah secara bijaksana. Kebijaksanaan tersebut timbul dari budi pekerti yang halus dan bersopan santun. Seorang yang menyampaikan suatu dakwah dengan budi pekerti yang kasar tidaklah berhasil. Menyampaikan dakwah dengan sopan santun dapat membuka pikiran yang selama ini tertutup dan inilah dakwah yang mencerahkan. 

Kedua, dalam berdakwah hendaklah menyampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dalam sebuah hadis, RasulullahSaw. bersabda:

 حدثوا الناس بما يعرفون

“Berbicaralah kepada manusia menurut kadar pengetahuannya” (HR al-Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan “mudahkanlah jangan dipersukar”. Dari kedua hadist ini jelas merupakan sebuah keniscayaan dalam menyampaikan dakwah amar ma’ruf nahi munkar hendaklah dengan bahasa yang mudah difahami. Karena tujuan berdakwah adalah memberikan ilmu agar dimengerti sehingga dapat diamalkan, bukan justru menjadi ajang unjuk kepandaian olah kata yang terkadang justru membingungkan masyarakat.

Sering kali prinsip ini dilupakan oleh para da’i yang memiliki strata pendidikan tinggi. Sehingga dakwah seperti ini hanya berada pada menara gading kalangan akademisi namun kurang membumi kepada kalangan masyarakat pada umumnya. Padahal masyarakat sangatlah membutuhkan pencerahan spiritual bagi kehidupan mereka sehari-hari.

Ketiga, prinsip berdakwah dengan gembira. Terdapat kisah menarik Rasulullah Saw. ketika memberi nasihat kepada Muadz bin Jabal dan Abu Musa Asy’ari radhiyallahu ‘anhumaa saat mereka hendak diutus berdakwah ke Yaman. Rasulullah mengatakan:

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا

“Mudahkanlah jangan dipersukar, gembirakanlah jangan dibuat lari” (HR. al-Bukhari).

Dakwah yang Menggembirakan

Dari nasihat Rasulullah di atas menunjukkan bahwa dalam menyebarluaskan dakwah Islam haruslah dengan kegembiraan. Bukan sebaliknya, dengan caci-maki sehingga mereka yang menerima seruan dakwah lari luntang-lantung karena ketakutan. Dakwah yang disampaikan dengan gembira merupakan prinsip yang sangat baik. Hal ini akan membuat hati orang yang mendengarkannya teduh. Disisi lain dakwah yang menggembirakan juga merupakan sebagai bentuk aktualisasi ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Kini, kalangan muslim milenial yaitu mereka angkatan muda muslim kontemporer sangat membutuhkan sentuhan dakwah tersebut. Yang membuat mereka bersemangat dan gembira dalam beragama. Bukan justru membuat mereka antipati, jenuh, dan mengantuk ketika mengikuti dakwah.

Karena banyaknya da’i yang ketika berdakwah tidak dengan prinsip kegembiraan, akhirnya mereka lebih tertarik dan lalai dengan game online. Bahkan lebih berbahaya lagi apabila mereka terjebak dalam konten negatif media sosial seperti ujaran kebencian, pornografi, dan terorisme.

Dakwah dengan kegembiraan seperti ini sangat baik. Terutama dalam menarasikan, bahwa ketika menyebarkan dakwah Islam, kita tidak perlu harus sampai “ngotot-ngototan” yang ujung-ujungnya hanya membuat pertikaian sesama manusia. Dakwah haruslah menjadi sarana dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia yaitu kesejahteraan, kebahagiaan, kerukunan untuk saling menghargai satu sama lainnya.

Tidak Membeda-bedakan

Hikmah selanjutnya adalah tidak membeda-bedakan. Sungguh tidak dapat ditawar-tawar lagi bahwa agama ini untuk semua golongan baik khalayak cerdik-pandai, awam, kaya, miskin, pejabat, pegawai, petani maupun pedagang. Semuanya berhak untuk menerima dakwah Islam.

Rasulullah pernah diberikan peringatan oleh Allah ketika dalam sebuah majelis lebih mengutamakan pemuka-pemuka Quraisy. Sedangkan diluar telah menunggu lama seorang hamba Allah tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk meminta nasehat dan pelajaran Islam dari Nabi Saw.

Peringatan Allah agar Nabi tidak membeda-bedakan dalam berdakwah, semakin membuktikan bahwa dakwah haruslah menyentuh kepada semua manusia tanpa memandang keadaan dan status sosialnya. Dan inilah bukti, bahwa agama Islam adalah dinul qayyimah ,yaitu agama yang lurus menentang adanya diskriminasi ras, suku, status sosial, dan sebagainya. Dari kisah mahligai tersebut menunjukkan bahwa dakwah Islam sesungguhnya ramah (inklusif) bagi penyandang difabel dan disabilitas.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti” (al-Hujurat: 13).

Editor: Nirwansyah/Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Muhammad Ikhsan Rizky Zulkarnain

Mahasiswa Magister Kenotariatan Univ. Syiah Kuala Aceh. (Sekretaris Umum PC IMM Aceh Besar)

Related post

3 Comments

    Avatar
  • I simply want to tell you that I am new to blogs and truly savored your blog site. Likely I’m going to bookmark your blog . You really have superb articles and reviews. Cheers for sharing with us your web page.

  • Avatar
  • You made some respectable factors there. I viewed on the web for the problem as well as discovered most people will certainly go along with with your web site.

  • Avatar
  • This is really fascinating, You are a very professional blogger. I’ve joined your rss feed and sit up for searching for more of your great post. Also, I have shared your site in my social networks!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.