Samudra Maaf Buya Hamka

 Samudra Maaf Buya Hamka
Ilustrasi: IBTimes/Galih Qoobid Mulqi            

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau disingkat dengan HAMKA merupakan salah satu putra terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia. Buya HAMKA adalah sosok multitalent, selain dikenal sebagai ulama ulung, beliau juga dikenal sebagai penulis, dan politisi. Buya HAMKA memainkan banyak peran di negeri ini. Sehingga tak heran jika banyak literatur-literatur yang memotret riwayat hidup ulama yang berasal dari Sumatra Barat ini.

Ada banyak sisi dari sosok Buya HAMKA yang dapat dijadikan sebagai teladan dan inspirasi bagi banyak orang yang mau mengenalnya. Salah satunya adalah bagaimana sikap Buya HAMKA yang menjaga ukhuwah dengan sahabat-sahabatnya meski pernah bersitegang dengannya. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi bagaimana hubungan antara Buya HAMKA dengan tiga tokoh besar lainnnya di negeri ini, yaitu Ir. Soekarno, Moh. Yamin, dan Pramoedya Antara Toer.

HAMKA dan Soekarno

HAMKA dan Soekarno telah saling kenal sejak Indonesia belum meraih kemerdekannya. Perkanalan keduanya bermula dari Muktamar Muhammadiyah ke-30 di Yogyakarta tahun 1941. Hubungan kedua tokoh ini sangat akrab, HAMKA pernah mengunjungi Soekarno saat diasingkan di Bengkulu. Soekarno bahkan meminta sahabatnya ini untuk pindah ke Jakarta, yakni pada tahun 1947. Namun permintaan Soekarno ini tertunda, sebab adanya agresi militer Belanda pertama.

Permintaan Soekarno akhirnya diamini oleh HAMKA pada tahun 1949, setelah kunjungan Soekarno kepadanya di Bukittinggi, Sumatra Barat. Buya HAMKA juga pernah diminta Soekarno untuk memberikan ceramah di istana negara dan beberapa kali menjadi imam shalat saat acara-acara besar seperti shalat Idul Fitri.

Namun hubungan antara HAMKA dan Soekarno mulai meregang saat HAMKA terpilih menjadi anggota konstituante, pasalnya keduanya memiliki perbedaan ideologi. Hingga puncaknya, HAMKA ditangkap atas perintah Soekarno dan ditahan selama dua tahun empat bulan, yakni pada tahun 1964-1966 atas tuduhan pelanggaran undang-undang anti subversif Perpres No.11, yaitu merencanakan pembunuhan presiden. Buya HAMKA akhirnya bebas setelah jabatan presiden digantikan oleh Soeharto.

Tanggal 16 Juni 1970, Mayjen Soeryo, seorang ajudan Soeharto mendatangi kediaman HAMKA untuk memberi kabar duka berupa wafatnya Soekarno sekaligus menyampaikan pesan terakhirnya, yakni meminta kesediaan HAMKA untuk menjadi imam shalat jenazahnya. “Saya ingin bila wafat kelak, HAMKA bersedia mengimami shalat jenazahku” kata Soekarno.

Meski pernah memenjarakannya, namun HAMKA tidak pernah menyimpan dendam kepada sahabatnya, Soekarno. HAMKA memenuhi permintaan terakhirnya. Dengan ikhlas dan mantap, HAMKA menjadi imam shalat jenazah presiden pertama Indonesia itu.

HAMKA dan Moh. Yamin

Moh. Yamin, salah seorang tokoh bangsa di negeri ini ternyata juga pernah berseteru dengan Buya HAMKA. Perseteruan antara keduanya bermula dari pidato politik HAMKA di gedung konstituante Bandung.

Tahun 1955-1957, sebagai anggota konstituante dari fraksi partai Masyumi, HAMKA aktif dalam sidang perumusan dasar negara. Terdapat dua pilihan yang diajukan sebagai dasar negara dalam sidang tersebut, yakni UUD ’45 dengan Dasar Negara Pancasila serta UUD ’45 dengan Dasar Negara Berdasarkan Islam. Untuk kedua pilihan tersebut, terbelah menjadi dua front yang sama-sama kuat. Front pertama dipimpin Partai Masyumi mengajukan negara berdasarkan Islam, adapun front kedua dipimpin Partai Nasional Indonesia (PNI) mengajukan negara berdasarkan Pancasila.

Dalam sidang, Buya HAMKA menyampaikan pidato politiknya dengan lantang dan tegas “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka…”.

Banyak hadirin dalam persidangan yang terkejut dengan pernyataan HAMKA tersebut, termasuk Moh. Yamin. Tokoh PNI itu marah besar bahkan sampai berlanjut dengan kebencian yang sangat. Pada tahun 1962, Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD).

Suatu hari, HAMKA kedatangan Chaerul Saleh, salah satu menteri di kabinet Soekarno waktu itu. Chaerul Saleh mengabarkan bahwa Yamin sedang sakit dan menyampaikan pesan Yamin kepada HAMKA. Yamin berpesan agar ketika menjelang ajalnya, HAMKA berkenan mendampinginya serta berharap agar Hamka turut menemaninya sampai ke liang lahat.

Hamka pun segera bergegas ke RSPAD. Sesampai di sana, Yamin nampak begitu bahagia dengan kedatangan HAMKA, ia berkata kepada Hamka, “Dampingi saya!”. Hamka pun membisikkan al-fatihah, kemudian kalimat la ilaaha illallah. Dengan lemah, Yamin mengikuti bacaan yang HAMKA bisikkan. Kembali lagi, HAMKA membisikkan kalimat tauhid sebanyak dua kali. Namun pada bacaan kedua, tak terdengar lagi suara Yamin mengikuti.

Moh. Yamin telah wafat dengan ditemani HAMKA di detik-detik akhir kehidupannya. Esoknya, HAMKA pun dengan bermurah hati menemani jenazah Yamin sampai ke liang lahatnya di Sumatra Barat, sesuai dengan permintaannya.

HAMKA dan Pramoedya Ananta Toer

Karya monumental dari HAMKA yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”,  dituduh merupakan sebuah jiplakan dari karya penulis Perancis, Alfonso Carr. Hal itu diberitakan oleh Harian Rakyat dan Bintang Timur yang dibawahi oleh Pramoedya Ananta Toer. Harian tersebut mengulas bagaimana HAMKA mencuri karangan tersebut, HAMKA diserang habis-habisan. Hal tersebut akhirnya menimbulkan konflik antara Pram dan HAMKA.

Waktu berlalu, dan suatu Ketika, HAMKA kedatangan tamu. Seorang perempuan dengan nama Astuti dan seorang laki-laki bernama Daniel Setiawan. Setelah mereka memperkenalkan diri, HAMKA agak terkejut, rupanya Astuti adalah putri dari Pram.

Kemudian, Astuti mengutarakan maksud kedatangannya yaitu agar HAMKA bersedia membimbing Daniel, calon suaminya untuk menjadi muallaf. Ayahnya tidak setuju jika menantunya berbeda iman dengan putrinya. HAMKA pun akhirnya membantu Daniel masuk Islam tanpa pernah menyinggung persoalannya dengan Pram.

“Masalah pemahaman, kami tetap berbeda. Tetapi saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama Islam pada HAMKA” kata Pram saat ditanya mengapa Pram mengirimkan calon menantunya kepada HAMKA oleh Hoedaifah Koeddah, salah seorang teman Pram.

Hubungan pertemanan itu dapat pasang surut, tetapi berlapang dada memafkan teman seperjuangan adalah penting dan mulia. Seperti Buya HAMKA yang menunjukkan keluasan hatinya dalam memaafkan sahabat-sahabatnya yang walau pernah memusuhinya, HAMKA tidak pernah menyimpan dendam.

Perbedaan pendapat memang wajar, dan konflik bisa saja terjadi, maka jika sudah demikian, jadilah pemaaf seperti HAMKA. Kata HAMKA dalam bukunya Falsafah Hidup “Yang semulia-mulia kewajiban bersahabat ialah mengetahui kehendak dan kemauan sahabatmu sebelum dikatakannya, dan perkenankan permintaan maafnya sebelum dimintanya.”

Editor: Yahya FR

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Ega Maulida Najid

Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu al-Qur'an dan Sains al-Ishlah (STIQSI) Lamongan, Jawa Timur

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.