Opini

Profesor Zamzani dan Cinta Bahasa Indonesia

2 Mins read

Pada pertengahan Agustus 2012, saya pertama kali bertemu dengan Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Prof. Dr. Zamzani. Pertemuan ini terjadi dengan cara yang unik karena saya nyasar. Saya seharusnya bertemu dengan Prof. Dr. Ajat Sudrajat di Fakultas Ilmu Sosial (FIS), bukan di FBS. Saya tidak ingat persis mengapa saya bisa ke FBS, bukan ke FIS.

Sebagai orang baru yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), saya masih belum familiar dengan kampus UNY Karangmalang. “Jenengan salah ruang Mas, harusnya jenengan ke FIS, di sini FBS,” begitu beliau menyambut saya di depan ruang dekanat FBS. Dengan rasa malu, saya pun akhirnya pamit dan menuju FIS. Guru Besar UNY yang seharusnya berulang tahun ke-70 pada 5 Mei 2025 mendatang tersenyum sambil menunjuk jalan menuju FIS.

Saraf Kejepit

Kenangan kedua saya bersama beliau adalah saat saya terlibat dalam Pemilihan Rektor UNY untuk periode 2025-2030. Prof. Zam, selaku ketua Senat Akademik Universitas (SAU), adalah anggota Majelis Wali Amanat (MWA) yang berhak memilih calon rektor. Pemilihan Rektor UNY 2025-2030 secara khusus diminta oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi saat itu, Profesor Satryo Soemantri Brodjonegoro, dan dilaksanakan di Kantor Mendiktisaintek, Jakarta, pada 17 Desember 2024.

Saya mendapat tugas, bersama Mas Jarwi—Staf bagian Perencanaan dan Keuangan Rektorat UNY—untuk “mengawal” para senior menuju Jakarta dengan moda pesawat. Salah satunya adalah Profesor Zamzani. Profesor Suranto, Guru Besar Ilmu Komunikasi UNY yang saat itu menjadi Ketua Panitia, berpesan, “Mas, besok kalau di bandara, mlakune alon-alon. Prof Zam belum pulih, dan Prof Minto baru saja habis sakit.”

Baca Juga  Awal Ramadhan 1445 H di Indonesia, Mungkinkah Serentak?

Benar saja, hingga kami sampai di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, kami berjalan agak jauh. Kami pun menyesuaikan kecepatan dengan sesekali beristirahat. Prof. Zam dengan kursi roda bersama Mas Jarwi juga ikut berhenti saat Profesor Suminto A. Sayuti meminta kami untuk berhenti sejenak. “Dengkul sikhilku lagi wae mari, Mas, leren sik yo,” ujar Prof. Minto. “Karo tak ngrokok sebatang,” tambahnya.

Sembari istirahat, saya berbincang dengan Prof. Zam. “Saya sudah lebih baik dan sehat, Mas Benni. Saya ini kena saraf kejepit, bukan stroke,” ujar Prof. Zam sambil tersenyum. Beliau kemudian bercerita tentang proses penyembuhan dan aktivitas kesehariannya di kampus meskipun sedang mengalami saraf kejepit.

Prof. Zamzani dan Cinta Bahasa Indonesia

Kakek dari Adyatama, Kairavi, dan Aqmalika ini adalah pribadi yang sangat ramah. Senyumnya khas seorang pendidik. Cara bertuturnya tenang dengan sesekali memberikan penegasan. Maklum, beliau adalah seorang Guru Besar dalam bidang linguistik terapan.

Salah satu karya beliau yang cukup berkesan bagi saya adalah “Eksistensi Bahasa dalam Iklan Televisi Indonesia” yang terbit di Litera, 16(2), 249-264 pada tahun 2017. Dalam tulisan tersebut, beliau menyebutkan bahwa ragam bahasa Indonesia yang bersentuhan dengan bahasa Inggris adalah akibat dari kontak bahasa.

Kemunculan bahasa Inggris dalam iklan produk otomotif, misalnya, menurut beliau, merupakan strategi pemasaran untuk menarik pelanggan, terutama dari kelompok kelas menengah atas. Meskipun bahasa Inggris cukup dominan dalam beberapa iklan televisi, bahasa Indonesia masih memiliki ruang yang luas di masyarakat.

Kalimat bahasa Indonesia merupakan bentuk linguistik yang lazim muncul dalam iklan televisi di Indonesia untuk semua kalangan, baik secara sosial maupun usia. Hal ini sejalan dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam iklan,” tulisnya.

Baca Juga  K.H. Tafsir: Buya Syafii Mewariskan Optimisme Islam sebagai Pencerahan Sosial

Kecintaan Prof. Zamzani terhadap bahasa Indonesia terasa dalam setiap hasil penelitiannya. Beliau ingin menunjukkan bahwa pesona bahasa Indonesia akan tetap ada selama masih ada penutur. Penutur tersebut tidak hanya bertutur, tetapi juga terus melakukan kajian untuk mempertahankan eksistensi bahasa dalam komunitas lokal maupun global.

Pesan Prof. Zamzani tersebut harus menjadi perhatian kita semua. Prof. Zam telah mengabdikan dirinya untuk UNY dan bangsa Indonesia melalui kajian bahasa. Selamat jalan Prof. Zam. Insya Allah, amal cintamu terhadap bahasa Indonesia akan terus abadi dan menjadi amal jariyah yang menerangi jalanmu di hadapan Allah Swt.

Editor: Assalimi

Avatar
7 posts

About author
Dosen Universitas Negeri Yogyakarta, Anggota Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Articles
Related posts
Opini

Haji Yunus Jamaludin: Konsul Muhammadiyah Bengkulu Pertama, Penyambung Lidah Rakyat

5 Mins read
Relasi antara Bengkulu dan Minangkabau sejak lama telah terbangun. Dapat kita baca dalam Tambo Bangkahulu seorang Minangkabau dari Pagarruyung bernama Baginda Maharaja…
Opini

Indonesia Gabung Board of Peace, Langgengkan Status Quo di Palestina

3 Mins read
Indonesia akhirnya masuk Board of Peace. Dewan perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bagi sebagian orang, BoP ini berpotensi…
Opini

Jangan Sembarangan dalam Berfatwa!

3 Mins read
Di ruang publik Indonesia hari ini, agama semakin sering hadir bukan sebagai cahaya penuntun, melainkan sebagai arena perdebatan tanpa ujung. Mimbar, layar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *