Perspektif

Saatnya Guru Muhammadiyah Sejahtera!

3 Mins read

Hari Guru Nasional, 25 November menjadi hari di mana guru merayakan peringatan harinya. Namun, peringatan demi peringatan seakan menjadi pengingat bahwa nasib guru di negeri ini masih banyak yang jauh dari kata sejahtera, khususnya di sekolah-sekolah kecil di pedesaan.

Dalih “mengabdi” seolah sebagai penyemangat bagi mereka yang mengajar dengan peluh basah keringat. Tak sedikit pula dari mereka yang putus asa beralih pindah tempat, demi harapan yang lebih menjanjikan dan memenuhi kebutuhan yang semakin berat.

Hidup-Hidupilah Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia, memiliki lembaga pendidikan sejak tahun 1908 yang diberi nama Madrasah Diniyah Islamiyah oleh Sang Pencerah, Kyai Hadji Ahmad Dahlan. Ia mendirikan sekolah, sampai menggaji guru dari harta yang ia miliki. “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah”, begitu pesan Kyai Dahlan kepada mereka yang ada di Persyarikatan. Namun, terkadang kalimat itu dijadikan dasar agar guru mengajar di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) ikhlas meski dengan imbalan yang tak sepadan.

Kalimat “Hidup-hidupilah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” itu disampaikan Kyai Dahlan ketika memerlukan dukungan kolega pimpinan untuk membayar gaji guru yang belum terbayar. Jadi ditujukan ke pengurus level atas, bukan ke guru sekolah atau karyawan AUM. Begitu yang disampaikan Arif Nur Kholis, Sekretaris MDMC saat mengomentari sebuah postingan di media sosial. Maka jangan sampai kalimat itu jadi cap untuk melakukan eksploitasi tenaga kerja. Ini penting, karena semangat pendirian AUM harus diikuti oleh pengelolaan SDM insani yang profesional.

Januari lalu, ketika ramai-ramai guru Muhammadiyah di terima di program PPPK sehingga mengharuskan mereka banyak yang pindah dan meninggalkan sekolah Muhammadiyah. Ini pun mendapat respon dari Majelis Dikdasmen, dan mengeluhkan atas kepindahan guru-guru tersebut.

Baca Juga  Guru Madrasah Harus Linuwih

Tetapi disisi lain, hal ini wajar karena mereka mencari pendapatan yang lebih dan di nilai layak. Maka seharusnya Muhammadiyah memikirkan bagaimana agar para gurunya betah dan mampu menghidupi keluarganya dengan layak.

Bagaimana caranya? Yakni dengan mendata seluruh guru yang ada di sekolah-sekolah Persyarikatan yang upahnya jauh dari harapan mereka. Muhammadiyah punya perangkat yang lengkap terkait itu, ada Lazismu misalnya. Guru yang bisa dikategorikan sebagai sabilillah (berjuang dijalan Allah) layak mendapatkan zakat, maka ketika data itu ada akan mudah dalam memetakan guru yang butuh untuk diberikan subsidi.

Jangan sampai Muhammadiyah mampu membantu kemana-mana bahkan sampai luar negeri, didalamnya ada guru yang gajinya dibawah 300 ribu rupiah. Ada? Banyak! Apalagi kalau mereka tidak punya penghasilan lain, akan sangat menyedikan kiranya di saat mereka harus menyukupi kebutuhan keluarga.

Saatnya Guru Muhammadiyah Sejahtera

Muhammadiyah organisasi besar dan kaya, bagaimana tidak, Muhammadiyah punya ribuan sekolah, ratusan kampus yang besar dan megah. Tetapi, lebih jauh kita harusnya berpikir, Muhammadiyah yang sebesar itu. Namun yang menghidupkan dakwahnya melalui sekolah Muhammadiyah jauh dari kata layak. Akan adakalanya mereka merasa dilema, ketika mereka ingin meninggalkan AUM untuk mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan dibilang tidak loyal. Tapi ketika bertahan, keadaan ekonominya memprihatinkan. Maka, ayat-ayat Al-Qur’an menjadi penyemangatnya dalam memperjuangkan keberlangsungan Muhammadiyah. Karena akan ada rejeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Jika kita bisa membayangkan, ketika Muhammadiyah mampu membangun ribuan AUM, bisa membantu Palestina miliyaran, serta membantu lainnya. Apa tidak bisa membuat sistem yang dapat membantu kehidupan para guru Muhammadiyah? Maka butuh sistem yang bersifat kontinuitas, bukan sekadar memberi bingkisan sembako atau santunan. Muhammadiyah mampu memberikan program semisal sertifikasi guru Muhammadiyah. Muhammadiyah bisa memberikan subsidi semisal 500 ribu rupiah per bulan bagi guru-gurunya yang honornya dibawah standar kelayakan. Rasanya akan lebih manfaat dan para tenaga pendidik akan semakin bersemangat.

Baca Juga  Visi Pendidikan Indonesia: Masukan untuk Presiden Jokowi

Beruntung bagi guru Muhammadiyah yang sudah sertifikasi, inpassing, apalagi PNS. Meski sisanya yang hanya dapat ratusan ribu, namun kita tidak semangat dalam Bermuhammadiyah. Maaf, bukan bermaksud pragmatis apalagi ingin mencari hidup di Muhammadiyah. Tetapi, sudah saatnya hal tersebut menjadi perhatian, agar guru-guru Muhammadiyah tidak hanya di warning saat ikut program Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Tetapi nasibnya juga diperhatikan, wajar saja mereka mencari penghidupan yang lebih layak ketika di AUM harapan mereka sedikit.

***

Muhammadiyah bagi mereka adalah jalan hidup dan pilihan dalam rangka penghambaan kepada Ilahi Robbi. Namun akan sangat miris ketika jalan hidup yang ia pilih tak membuatnya semakin hidup, lalu bagaimana cara mereka menghidupi keluarga mereka? Maka sudah saatnya guru Muhammadiyah sejahtera dan lebih diperhatikan lagi melalui sistem yang tersusun rapi. Jangan sampai guru-guru itu bak lilin yang menerangi sekitar, namun dirinya habis terbakar. Tetapi, semangat dalam menghidupkan Muhammadiyah yang membuat mereka tetap bertahan.

Mereka rela berkorban, dan mengabdikan dirinya bagi Persyarikatan. Meski berada di sekolah naungan organisasi besar dengan gaji yang kecil pun, mereka tetap tersenyum dan ikhlas mengamalkan ilmu yang dipunyai untuk para generasi penerus.

Di samping itu, Muhammadiyah sebagai perkumpulan yang sudah matang dalam menghadapi berbagai situasi, tentunya sudah saatnya melihat lebih kedalam rumahnya sendiri. Agar para guru ngaji, guru sekolah, serta mereka yang mengabdi di AUM merasakan kenyamanan dan tenang. Tenang dalam beramal, tenang saat pulang ke rumah karena keluarganya dalam keadaan ‘kenyang’ dan sejahtera.

Editor: Yahya

Print Friendly, PDF & Email
94 posts

About author
Sekretaris Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Solokuro (2018-2022)
Articles
Related posts
Perspektif

Piala Dunia Qatar: Ajang Syiar Islam Moderat

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pagelaran akbar sepakbola empat tahunan Piala Dunia (World Cup) tahun 2022 untuk pertama kalinya diadakan di negara…
Perspektif

Mencoba Memahami Konsep Habitus, Kapital, dan Arena Pierre Bourdieu

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pierre Bourdieu lahir di kota kecil pedesaan di Perancis tenggara pada 1930, Bourdieu tumbuh di rumah tangga…
Perspektif

Umat Islam Tak Boleh Bersikap Inferior terhadap Sains Modern

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sains Islam sebenarnya tidak kalah penetrasinya dengan sains modern. Namun sayangnya, kajian sains Islam belum banyak di…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *