Salah Kaprah Menyikapi Akhir Zaman - IBTimes.ID
Ibadah

Salah Kaprah Menyikapi Akhir Zaman

3 Mins read

Zaman- Beredar potongan ceramah yang menerangkan bahwa Dukhan (kabut asap yang menyelimuti bumi sebagai tanda kiamat) akan terjadi pada bulan Ramadhan 1441 H. Penceramahnya adalah Ustadz Zulkifli Muhammad Ali, yang fokus pada kajian seputar akhir zaman. Dalam pernyataannya soal Dukhan, beliau mengakui bahwa hadis yang digunakannya dhaif. Namun beliau berkeyakinan bahwa hadis dhaif dapat menjadi sahih manakala berisi prediksi masa depan.

Di Malang, terdapat sebuah pondok pesantren yang mempunyai program menyongsong jatuhnya meteor pertanda hari kiamat. Ponpes yang bernama Miftahul Fallahil Mubtadin percaya bahwa pada Bulan Ramadhan tahun 2019 meteor akan jatuh. Para pengikut tarekat ini mempunyai keinginan jika mereka harus meninggal karena meteor, mereka meninggal bersama mursyidnya. Jika ternyata meteor tidak jadi jatuh, mereka akan pulang kembali ke rumah masing-masing.

Tak hanya di Indonesia dan umat Islam, persoalan prediksi hari kiamat terjadi di berbagai belahan dunia dan berbagai agama. Tercatat sekte Aum Shinrikyo di Jepang memprediksi bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 1997. Ramalan Suku Maya menyatakan bahwa kiamat terjadi tahun 2012. Tersebarnya isu kiamat 2012 menjadi peluang bagi Roland Emmerich seorang sutradara untuk membuat film 2012. Kenyataannya baik tahun 1997 maupun 2012 tidak terjadi kiamat.

Beriman Kepada Hari Kiamat Hukumnya Wajib

Hari Kiamat merupakan salah satu dari 6 rukun Iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Tidak ada khilafiyah soal ini di kalangan umat Islam apapun aliran, sekte, atau mazhabnya. Dalam himpunan putusan tarjih Muhammadiyah, berkaitan dengan hari kiamat disebutkan sebagai berikut:

Kita wajib percaya tentang adanya hari akhir dan segala yang terjadi di dalamnya tentang kerusakan ‘alam ini’, serta percaya akan hal-hal yang diberitakan oleh Rasulullah SAW dengan riwayat mutawatir tentang kebangkitan dari kubur, pengumpulan di Mahsyar, pemeriksaan (hisab), dan pembalasan.

Dalil yang menjadi landasan pernyataan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) tentang hari kiamat yakni:

  1. Tentang kebangkitan dari kubur : QS. At Taghabun: 7, QS. Yasin: 51-53 dan QS. Al Mu’minun : 16.
  2. Tentang pengumpulan di Padang Mahsyar : QS. Al Mulk:15
  3. Tentang yaumul hisab : QS. Ibrahim :41
  4. Tentang pembalasan : QS. Al Mu’min :17
Baca Juga  Jihad dengan Ramah, bukan Marah

Selain dalil Al-Qur’an, keterangan mengenai hari kiamat juga terdapat dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis dari Sahabat Umar ra yang diriwayatkan Imam Muslim, Malaikat Jibril yang berwujud manusia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Terangkanlah kepadaku tentang hari kiamat (kapan terjadinya)?” Rasulullah SAW menjawab, “Yang ditanya tidak tahu daripada yang bertanya.” Jibril bertanya kembali, “Beritahukan kepadaku tanda-tanda kiamat?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika seorang budak melahirkan tuannya, dan jika kamu melihat orang yang sebelumnya tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala domba berlomba-lomba meninggikan bangunan.”

Al-Qur’an dan Hadis Mutawatir sebagai Landasan Akidah

Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih memberikan pedoman kepada anggotanya bahwa dalam perkara-perkara akidah, yang bisa dijadikan landasan adalah Al-Qur’an dan Hadis Mutawatir. Dalam himpunan putusan tarjih disebutkan :

Kita wajib percaya akan hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yakni Al-Qur’an dan berita dari Nabi Muhammad SAW yang mutawatir dan memenuhi syarat-syaratnya. Dan yang wajib kita percayai hanyalah yang tegas-tegas saja, dengan tidak boleh menambah-nambah keterangan yang sudah tegas-tegas itu dengan keterangan berdasarkan pertimbangan (perkiraan), karena Firman Allah: “Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus:36)

Terdapat perbedaan pendapat berkaitan dengan dalil yang dapat dijadikan pijakan dalam persoalan akidah. Sebagian ulama berpendapat bahwa tak hanya hadis mutawatir, namun hadis ahad dengan derajat sahih pun bisa dijadikan landasan dalam akidah. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, sepengetahuan penulis belum ada ulama yang membolehkan hadis dhaif sebagai landasan bagi persoalan akidah.

Berhati-hati dalam Memahami Hadis Akhir Zaman

Oleh karena itu, umat harus selektif menilai hadis-hadis yang dijadikan landasan oleh para penceramah, khususnya yang membahas seputar akhir zaman. Jika dalil yang digunakan adalah Al-Qur’an dan hadis mutawatir/sahih, maka kita wajib mengimaninya. Namun masalah tak berhenti sampai di sini. Kita harus juga berhati-hati menafsirkan dan mencocokkan dalil-dalil tersebut dengan peristiwa yang terjadi pada masa kini.

Baca Juga  Beribadah di Masjid dengan Aman Selama Pandemi

Penulis ingat ketika masih usia SD, George W. Bush menyerang Irak. Lalu banyak media Islam menyebut Bush sebagai Dajjal. Jika yang dimaksud dajjal di sini artinya pengacau, penipu, bisa saja kita sebut Bush itu Dajjal. Dalam artian sifatnya seperti Dajjal. Namun jika yang dimaksud adalah Al Masih Ad Dajjal yang akan melawan Nabi Isa, tentu Bush bukanlah Dajjal.

Saat masih belajar di pesantren, penulis menemukan buku karangan Abu Fatiah Al Adnani. Isi buku tersebut menuduh Sai Baba (seorang tokoh spiritual India) sebagai Dajjal. Pengarang buku tersebut menguatkan argumennya dengan dalil baik dari Al-Qur’an dan hadis. Kenyataannya Sai Baba sudah meninggal, tuduhannya tak terbukti.

Mengkaji dan Mempersiapkan Akhir Zaman dengan Benar

Hari kiamat dan tanda-tandanya adalah salah satu dalam bab dalam ilmu agama Islam yang tak mungkin dihilangkan. Jika diantara kita ada yang memang berminat fokus dalam kajian ini, hal tersebut patut diapresiasi. Yang jangan dilupakan adalah pengkaji harus mempunyai kriteria ketat soal sumber kajian. Pengkaji harus juga berhati-hati dalam mengambil kesimpulan terkait hal-hal yang gaib.

Pemahaman yang memastikan bahwa hari kiamat terjadi pada hari dan tanggal tertentu harus kita tolak. Pemahaman yang tidak berlandaskan dalil yang kuat juga mesti kita tolak. Misalnya ada ustaz yang mengambil referensi dari buku berdialog dengan jin Islam. Tidak ada satupun ulama fikih yang menjadikan jin sebagai sumber dalil. Hal ini lebih selamat bagi akidah daripada mempercayainya.

Hari kiamat beserta tanda-tandanya adalah keniscayaan dan bagian dari keimanan. Yang tak kalah penting adalah menyiapkan bekal guna menyongsong kepastian tersebut. Bekal tersebut adalah iman dan amal saleh. Jika iman dan amal saleh sudah kita siapkan dengan benar, Allah SWT akan memudahkan kita pada hari kiamat nanti. Sebaliknya jika kita lalai dalam beriman dan beramal saleh, maka kesusahan yang akan kita alami.

Baca Juga  Do'a Agar Terhindar Dari Syirik
Related posts
Ibadah

Gus Baha’: Sebaik-Baik Ibadah adalah Kerja

3 Mins read
Sebaik-Baik Ibadah Adalah Kerja – Banyak orang menganggap bahwa ibadah itu tertentu pada bacaan zikir dan amaliyah-amaliah formal yang dilakukan di masjid…
Ibadah

Mengapa Puasa Sunah Jatuh pada Hari Senin dan Kamis?

3 Mins read
Pasti para pembaca pernah bertanya-tanya bukan, mengapa hari Senin dan Kamis yang dipilih sebagai waktu pelaksanaan puasa sunah. Kenapa bukan hari selain…
Ibadah

Makna Umum dan Makna Khusus Shalat, Apa Bedanya?

2 Mins read
IBTimes.ID – Para ulama menolak untuk menyebut shalat dengan sembahyang. Hal tersebut karena sembahyang dianggap tidak merepresentasikan shalat yang dilakukan oleh umat…

Tinggalkan Balasan