Beranda Feature Essay Sexy Killers dan Kekuatan Masyarakat untuk Mengubah Kebijakan

Sexy Killers dan Kekuatan Masyarakat untuk Mengubah Kebijakan

Oleh : Nabhan Mudrik Alyaum

 

“Today we use 100 million barrels of oil every single day. There are no politics to change that. There are no rules to keep that oil in the ground. So, we can’t save the world by playing the rules. Because the rules have to be changed. Everything needs to change, and it has to start today.”
— Greta Thunberg

Sistem demokrasi mengharuskan untuk dapat dilaksanakan dengan tepat agar membawa kebaikan bagi rakyat dalam penerapannya. Bahwa rakyat (demos) perlu berpartisipasi untuk menentukan jalannya pemerintahan (kratos). Hal ini secara praktis dibuktikan dengan kebijakan-kebijakan yang buruk dapat berubah jika rakyat secara luas menginginkan perubahan.

Partisipasi rakyat kemudian mendorong banyak hal. Mulai dari perubahan kebijakan seperti yang disebutkan hingga perubahan-perubahan rencana jangka panjang yang dibuat oleh pemerintah. Jika masyarakat menginginkan, tentunya siapapun pemerintahnya tidak bisa mengabaikan.

Secara umum, rakyat dapat mendorong pemerintah untuk mengubah kebijakan tertentu. Tentunya, kebijakan yang dimaksud adalah kebijakan untuk memastikan manusia dan lingkungan memiliki hubungan yang baik. Sehingga menciptakan kehidupan yang berkelanjutan.

Perjuangan dalam isu lingkungan terkhusus penggunaan batubara seperti dalam film Sexy Killers dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip ini. Film Sexy Killers menciptakan isu nasional terutama di media sosial ketika pemutarannya dapat dilakukan secara luas di seluruh Indonesia. Bahkan, meskipun media konvensional tidak terlalu memberikan perhatian, dampak yang diberikan film Sexy Killers cukup terasa. Setidaknya dampak ini datang dari puluhan pemutaran di beragam kota dan lebih dari 21 juta views di YouTube hingga 2 Mei 2019.

Dorongan untuk mengubah kebijakan tidak lain merupakan perwujudan peran social control oleh rakyat. Perubahan kebijakan hanya akan terjadi jika kesadaran dalam masyarakat terkait isu lingkungan dapat muncul secara kolektif dan dengan cakupan yang luas. Kasus film Sexy Killers menjadi satu contoh positif perjuangan menumbuhkan kesadaran dengan penerapan social control memanfaatkan perkembangan zaman.

Tidak hanya tersebar dalam masyarakat, pasar pun merespon secara positif kesadaran yang didorong melalui pemutaran film Sexy Killers. Saham PT Toba Bara yang disebut berkali-kali dalam film sempat anjlok hingga nyaris setengahnya. Meskipun kemudian penurunan tidak terlalu signifikan, namun kejadian saham yang anjlok sesaat menjadi gambaran bahwa kesadaran masyarakat juga dapat menentukan sentimen pasar yang menentukan banyak hal, mulai dari industri sampai kebijakan pemerintah.

Meski sapat dikatakan baik, namun kesadaran masyarakat tidak boleh terbatas pada euforia pemutaran film Sexy Killers. Juga tidak cukup hanya sampai dengan perubahan kebijakan dan peraturan. Dorongan untuk kebijakan, peraturan, dan perencanaan dalam isu lingkungan juga perlu terus dilanjutkan. Terutama dalam pengawasan.

Sesuaidengan yang dinyatakan dalam film, kebijakan lingkungan memang secara sudah cukup baik. Namun, pengawasan jauh dari kata baik. Terjadi pelanggaran di sana-sini yang berulang dan tidak sesuai dengan aturan-aturan terkait lingkungan yang telah dibuat.

Masyarakat perlu kembali menjalankan peran social control. Kampanye dapat dilanjutkan untuk memberikan perhatian terhadap minimnya pengawasan pemerintah dalam penerapan aturan dan kebijakan. Peran ini pun dapat dilakukan melalui beragam cara.

Seperti halnya pemutaran film Sexy Killers, social control oleh masyarakat dapat dilakukan dengan cara-cara kreatif dan digerakkan secara sukarela oleh anak muda. Minimnya pengawasan pemerintah akan sangat terbantu jika ada laporan yang diberikan secara tepat dan masif. Media sosial, komunitas, dan banyak hal lain di era kekinian dapat dimanfaatkan alih-alih menggunakan cara konvensional seperti demonstrasi, boikot, dan aksi massa yang sangat menguras tenaga, waktu, dan biaya.

Jalan menuju kebijakan, peraturan, dan perencanaan yang baik dalam isu lingkungan memang masih sangat panjang. Namun dapat diretas secara perlahan tapi pasti dengan dorongan terus menerus dari masyarakat. Jika dorongan dilakukan secara konsisten dan makin besar, maka tinggal menunggu waktu untuk memunculkan political will seperti yang dimaksudkan Greta Thunberg, pejuang isu lingkungan berusia 16 tahun dari Swedia di awal tulisan ini. Selanjutnya, tinggal menunggu perubahan positif terjadi.

 

*) Mahasiswa S1 Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM. Ketua PW IPM DIY Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Luar Biasa! Pengabdian UMY Perkuat Desain Digital Capaian SDGs Lazismu

IBTimes.ID-Yogyakarta, (16/07 10)- Program pengabdian masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, baru-baru ini menggandeng Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sadaqah Muhammadiyah) untuk memperkuat capaian...

Unik! Kebencanaan Menjadi Materi Fortasi IPM SMK Muhammadiyah Pontang

IB Times.ID - Ada yang spesial dari pelaksanaan Forum Ta'aruf dan Orientasi (Fortasi) siswa baru siswa baru SMK Muhammadiyah Pontang tahun pelajaran 2019/2020 ini,...

Berakhirnya Kompetisi: Refleksi Milad 58 IPM “Kolaborasi untuk Negeri”

Oleh: Nashir Efendi Milad ke-58 milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) mengusung tema “Kolaborasi untuk Negeri”. Tema ini nampaknya ingin menggeser paradigma kompetisi menjadi kolaborasi.  Bicara...

Romo Paryanto: Selain Keuangan, Muhammadiyah Perlu Audit Ideologi dan Kebijakan

Tahun 2020, Muhammadiyah akan gelar perhelatan akbar Muktamar ke-48 di Surakarta.  Akan tetapi syi’ar dan gaung Muktamar yang tinggal satu tahun lagi belum terdengar....

Andaikan IMM Agamaku

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri* Isu agama di Indonesia merupakan isu yang sangat sensitif. Survei menunjukkan bahwa agama di mata masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang sangat...