Empat Imam Mazhab Bolehkan Shalat Iduladha di Rumah
Report

Empat Imam Mazhab Bolehkan Shalat Iduladha di Rumah

1 Mins read

IBTimes.ID – Di masyarakat Indonesia, keberagamaan sering diidentikkan dengan ritual. Sehingga praktek ritual yang berbeda dari kebiasaan masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang sangat berbahaya.

Padahal, selain ritual, ada dimensi spiritual. Spiritualitas berhubungan dengan akhlak. Orang yang paling sempurnya imannya adalah yang paling baik budi pekertinya. Orang yang berbudi pekerti baik akan membuat bangsanya menjadi baik, sehingga peradaban juga semakin baik.

Shalat Iduladha dan ibadah qurban yang sebentar lagi akan dijalankan oleh umat Islam memiliki dimensi dan makna yang fungsional untuk mewujudkan tujuan pewahyuan risalah Islam.

“Shalat Iduladha hukumnya sunnah muakkadah. Sunnah yang selalu dilaksanakan oleh Nabi SAW, bersifat ibadah mahdhah badaniyah. Ketentuannya ditentukan oleh syariat, dan harus dilaksanakan sendiri,” ujar Ustadz Hamim Ilyas. Hal tersebut disampaikan dalam Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (9/7).

Shalat Iduladha dilaksanakan di mushalla. Mushalla di Indonesia berarti bangunan yang lebih kecil dari masjid. Di zaman Nabi, mushalla adalah tanah lapang terletak 200 m dari masjid Nabi SAW. Shalat di mushalla tersebut dilaksanakan ketika tidak hujan. Sedangkan shalat di masjid ketika cuaca hujan.

Selain itu, shalat Iduladha juga bisa dilaksanakan di rumah. Menurut Ustadz Hamim, ada hadis riwayat Bukhari yang menyebut bahwa Anas bin Malik memerintahkan keluarganya untuk ikut shalat ‘id bersamanya di rumah mereka di sebuah kampung yang jauh di luar kota. Ibn Rajab dalam Fathul Baari Syarh Shahih al-Bukhari menyebutkan beberapa ulama terkemuka yang menganut pendirian pelaksanaan shalat ‘id di rumah, antara lain Atha’, Mujahid, Hasab al-Bashri, Ibnu Sirin, ‘Ikrimah, Ibrahim an-Nakhai, Abu Hanifah, al-Auza’i, Malik bin Anas, al-Laits,asy-Syafii, dan Ahmad bin Hanbal.

“Empat imam mazhab membolehkan shalat Idulfitri maupun shalat Iduladha di rumah,” tegas Ustadz Hamim Ilyas.

Baca Juga  Jamali: Hapus Mapel Kemuhammadiyahan, Ganti dengan Pendidikan Karakter

Pada masa pandemi covid-19, dengan adanya PPKM Darurat yang ditetapkan pemerintah, maka shalat Iduladha boleh ditiadakan atau dilaksanakan di rumah muslim masing-masing.

Pelaksanaan shalat Iduladha di rumah tetap dilakukan dengan khutbah. Yang menjadi khutbah adalah salah satu anggota keluarga. Dalam mazhab Hanafi, membaca ayat di mimbar sudah bisa dikatakan sebagai khutbah. Tidak seperti rukun khutbah yang dipahami oleh mazhab Syafii dan menjadi pemahaman umum masyarakat Indonesia.

“Misalnya baca Al-Fatihah, kemudian diterjemahkan, itu sudah cukup dikatakan sebagai khutbah. Sehingga tidak harus mendatangkan khotib dari luar,” imbuh Ustadz Hamim Ilyas.

Reporter : Yusuf

Redaksi
369 posts

About author
IBTimes.ID - Cerdas Berislam. Media Islam Wasathiyah yang mencerahkan
Articles
Related posts
Report

Muhammadiyah on the Track: Intelektual Independen di Tengah Kecenderungan Menguatnya Aliansi Politik-Ulama di Indonesia

2 Mins read
IBTimes.ID – Dilaksanakan secara online, Kader IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta dan Fokal IMM UMY adakan diskusi buku ’’Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment:…
Report

Konsep Hilah, Manipulasi Syariat yang Diperbolehkan dan Tidak Diperbolehkan

2 Mins read
IBTimes.ID – Hilah adalah salah satu konsep fikih yang tidak populer di masyarakat. Menurut Ustadz Qaem Aulassyahied, hilah terbagi menjadi dua, yaitu…
Report

Posisi Hadis Mauquf, Mursal, dan Daif bagi Muhammadiyah

4 Mins read
IBTimes.ID – Perkembangan studi hadis di Indonesia berlangsung cukup lamban. Sejak Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriah sampai pada tahun…

Tinggalkan Balasan