PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Siti Walidah adalah putri Kiai Penghulu Muhammad Fadhil, lahir di kampung Kauman, Yogyakarta pada 1872. Siti Walidah adalah nama kecil dari Nyai Dahlan. Jarang ditemukan dokumen-dokumen sejarah yang mencatat seorang ulama perempuan bernama Siti Walidah.

Namun, setelah ia menjadi “Nyai Ahmad Dahlan”, istri founding father Muhammadiyah, organisasi islam terbesar di Indonesia, nama Siti Walidah mulai dikenal luas sampai saat ini sebagai seorang ulama dan tokoh wanita. Siti Walidah digambarkan sebagai seorang ulama perempuan yang banyak berjasa dalam memperjuangkan hak-hak wanita. Lewat Sopo Tresno dan Aisyiyah, Siti Walidah dikenal sebagai seorang pejuang perempuan berkemajuan.

Siti Walidah

Siti Walidah lahir di lingkungan yang religius, ayahnya merupakan penghulu keraton Yogyakarta membuat Siti Walidah kecil dengan mudah belajar ilmu agama. Maklum, pada saat itu kondisi masyarakat masih jauh dari kata berkemajuan. Perempuan dianggap sebagai konco wingking (teman belakang) yang memiliki makna bahwa perempuan hanya bertugas mengurusi urusan dapur dan suami. Sehingga, perempuan tidak berkesempatan untuk mengeyam pendidikan yang layak.

Pada tahun 1903 Siti Walidah menikah dengan Muhammad Darwis yang kelak dikenal dengan nama KH. Ahmad Dahlan. Bersama suaminya Siti Walidah berjuang mendakwahkan Islam, mencerdasakan masyarakat dengan pendidikan serta pemberi pelayanan dengan kegiatan sosial.

Perhatian Siti Walidah terhadap dunia pendidikan Islam sangat besar. Sebagaimana Kiai Dahlan, Nyai Dahlan menyepakati suatu formula yang dikenal dengan istilah “catur pusat”, yaitu pendidikan dalam lingkungan keluarga, pendidikan dalam lingkungan sekolah, dan pendidikan dalam lingkungan tempat ibadah.

Pada tahun 1912 didirikanlah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang masih menganut sistem pendidikan Belanda. Madrasah tersebut merupakan sekolah yang pertama didirikan oleh Kiai Dahlan. Namun, karena murid semakin banyak pada tahun 1918 Kiai Dahlan mendapat sebidang tanah dari Kasultanan Yogyakarta. Di atas sebidang tanah tersebut dibangunlah gedung sekolah enam lokal dan sebuah surau.

Baca Juga  Bersama Pak AR, Semuanya "Serba Kebetulan"

Sopo Tresno

Pada saat kondisi seperti itu, Siti Walidah mempunyai gagasan untuk mendirikan asrama khusus bagi perempuan di rumahnya. Asrama itu diharapkan dapat mendidik kaum perempuan, khususnya dalam bidang agama dan segala pendidikan yang menyangkut tentang keputrian.

Di asrama Siti Walidah memberikan pendidikan keimanan serta praktek ibadah, sholat wajib, sunnah rawatib, sampai dengan latihan berpidato. Siti Walidah biasa mengajak para santriwatinya jalan-jalan setiap selepas salat subuh. Hal ini bertujuan agar santriwati dapat melihat langsung kehidupan masyarakat secara lebih dekat sambil berolahraga untuk menjaga kesehatan.

Berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912 mengawali munculnya kesadaran kesetaraan pendidikan bagi perempuan, terutama di bidang pendidikan agama Islam. Kesetaraan pendidikan perempuan dimulai oleh Siti Walidah dengan membentuk kelompok pengajian bagi para perempuan dikampung Kauman. Bentuk pendidikan dalam kelompok pengajian tersebut adalah belajar membaca Al-Qur’an yang diperuntukan bagi para perempuan di Kauman yang masuk Neutralschool.

Surat yang pertama diajarkan pada kelompok pengajian Nyai Dahlan adalah Surat Al-Ma’un. hal ini bermaksud agar murid-murid peka terhadap kemiskinan dan permasalahan sosial yang melanda umat Islam.

Pada tahun 1914, dibentuklah perkumpulan yang diberi nama Sapa Tresna/ Sopo Tresno. Nyai Dahlan membantu cursus membaca Al-Qur’an dan mengumpulkan para perempuan, baik yang tua maupun muda, untuk mendapatkan pelajaran agama Islam di bawah binaan KH. Ahmad Dahlan.

Pendidikan Perempuan Berkemajuan

Kelompok pengajian Sopo Tresno semakin menarik perhatian masyarakat luas. Dari para buruh batik sampai pembantu rumah tangga ikut serta dalam kelompok pengajian Sopo Tresno.

Siti Walidah berpendapat bahwa pendidikan itu berlaku untuk semua lapisan masyarakat tanpa memandang golongan dan pangkat. Kelompok pengajian Sopo Tresno mulai dapat merangkul semua lapisan masyarakat dari buruh sampai majikan. Inilah kepandaian Siti Walidah dalam mengkonsep sebuah pengajian bagi masyarakat. Dari perspektif dakwah, kehadiran Sopo Tresno sangat berpengaruh karena dapat menjadi penghambat meluasnya kristenisasi yang pada saat itu telah meluas sampai ke tanah Jawa.

Baca Juga  Seabad Mu’allimin: Jalan Ketiga Pendidikan Islam Modernis

Melalui Sopo Tresno, Siti Walidah mencoba memperkenalkan pemikirannya bahwa perempuan mempunyai hak yang sama untuk menuntut ilmu. Selain itu, Siti Walidah juga menentang praktek kawin paksa.

Pemikiran Siti Walidah ini pada mulanya mendapat tentangan dari masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu apa yang dilakukan Siti Walidah kemudian dapat diterima oleh masyarakat. Upaya Siti Walidah mendidik perempuan berkemajuan mendapat dukungan penuh. Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharuan mendukung secara penuh gerakan yang dipelopori istri Kiai Dahlan tersebut. Muhammadiyah mulai berperan dalam memajuakan pendidikan kepada kaum perempuan.

Semakin lama perkembangan sangat pesat dialami oleh pengajian Sopo Tresno, maka pertemuan khusus diselenggarakan di rumah Siti Walidah. Dihadiri oleh beberapa tokoh antara lain Kiai Mukhtar, Kiai Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH.Fachruddin.

Pertemuan tersebut memutuskan untuk mengembangkan pengajian Sopo Tresno menjadi sebuah organisasi pergerakan wanita Islam yang dilengkapi AD/ART. Pada awalnya, ada yang mengusulkan nama Fatimah namun banyak diantara yang hadir dalam pertemuan tidak setuju dengan nama tersebut.

Lalu KH. Fachruddin mengusulkan nama Aisyiyah. Nama yang diusulkan oleh KH.Fachruddin tersebut diterima oleh anggota forum karena dianggap karena diambil dari nama istri Nabi Muhammadiyah SAW, Siti Aisyah.

Setelah semua setuju, maka pada 22 april 1917 M bertepatan dengan 27 Rajab 1355 H organisasi Aisyiyah secara resmi berdiri. Peresmian organisasi perempuan berkemajuan ini bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, upacara peresmian dihadiri oleh para tokoh Muhammadiyah.

Pengurus Aisyiyah awalnya adalah Siti Bariyah (Ketua), Siti Badilah (Penulis), Aminah Harawi (Bendahara), dengan anggota: Nyai Abdullah, Fathmah Wasil, Siti Dalalah, Siti Dawimah, Siti Busyro. Pada 1922 organisasi Aisyiyah secara resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah. Tahun demi tahun  organisasi Aisyiyah semakin berkembang pesat di seluruh Indonesia.

Baca Juga  Jalan Menempuh “Islam Kita” ala Gus Dur

Editor: Nabhan

Share Artikel

contributor

Guru SMA Negeri 1 Bulu Sukoharjo

Tinggalkan Balasan