Sosok Buya Syafii, Negarawan yang Berwajah Teduh - IBTimes.ID
Ulama

Sosok Buya Syafii, Negarawan yang Berwajah Teduh

4 Mins read

Jika setiap 21 Mei adalah hari besarnya Amien Rais dengan momentum Reformasi 1998. Maka setiap sepuluh hari setelah itu, yakni tanggal 31 Mei adalah hari kelahiran salah satu bapak bangsa dari tanah Minangkabau, Sumatra Barat. Beliau yang bergelar lengkap Prof. Dr. H Ahmad Syafii Maarif. Tokoh Muhammadiyah yang dikenal sebagai Ulama, Ilmuwan, Pendidik, Cendekiawan Muslim, bahkan juga Negarawan.

Buya Syafii pernah menempuh pendidikan S1 jurusan Pendidikan Sejarah FKIS IKIP Yogyakarta (1968), yang sekarang jadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dan pendidikann S2-nya ditempuh di Nothern Illinois University dan Ohio State University, Amerika. Pendidikan S3-nya dalam bidang Pemikiran Islam di University Of Chicago (Amerika, 1982). Beliau menjadi salah satu murid terbaik Fazlur Rahman.

Pria yang sekarang akrab dipanggil Buya Syafii oleh murid dan pengagumnya, kini memasuki umur 85 Tahun, tepat 31 Mei 2020. Umur yang cukup tua, namun masih produktif berkarya. Terbilang puluhan buku buya sudah banyak diterbitkan dan dicetak ulang dalam penerbit yang beragam, tidak  jarang juga orang menyebut Buya sebagai “Sejarawan”, dengan kekuatan ingatan dan ketajaman pembacaannya akan sejarah, serta tetap kritis di tengah krisis sekalipun.

Kritis dan Solutif

Dalam salah satu karya beliau yang berjudul, Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam, buku yang diterbitkan Mizan cetakan perdana Maret 2018 ini tidak jauh berisi tentang curahan hati Buya yang juga menekuni bidang sejarah dunia Islam. Seakan memberi auto kritik kepada kita, bahwa selama ini jangan-jangan kita dininabobokan oleh sebuah bayangan tentang “The Golden Ages Of Islam” atau era keemasan Islam.

Semua hal-hal yang kita anggap sebagai keungggulan, tetapi pada dasarnya yang kita jadikan sebagai nilai atau faktor kejayaan tersebut hanyalah faktor duniawi. Menurut Buya, “semua yang dicapai oleh kemajuan peradaban Islam juga bisa dicapai oleh peradaban lain, yaitu peradaban Barat, yang tidak menjadikan wahyu (Al-Quran) sebagai pembimbingnya.” Di sinilah justru nilai intrinsik yang hilang dari umat Islam ialah nilai “Keadilan dan Kemanusiaan.”

Baca Juga  KH Ahmad Badawi (2): Dakwah di Jalur Kekuasaan

Dalam karya tersebut, Buya mengakui sedang mengkritik dengan hati yang sangat hancur, tetapi dari sanalah tercermin kekuatan ketulusan dan keprihatinan Buya dalam upaya membangun peradaban Islam. Sehingga solusi yang ditawarkan Buya ialah: pertama, paksa diri kita untuk keluar dari kotak-kotak historis, seperti Sunni, Syi’ah, Khawarij. Sebab, selama ini kita terkotak-kotak dalam proses sejarah, dan itu bukanlah sesuatu yang diinginkan peradaban Islam. Kedua, mulailah didik anak-anak untuk membangun sebuah generasi yang tanpa kebencian suku dan madzhab, tetapi dengan kecintaan kepada Islam dan nilai-nilainya.

Memang benarlah bahwa Islam itu melampui sekat-sekat ormas, parpol, ras, suku dan lain-lain. Sebab, adanya suatu kesatuan yang lebih besar dan lebih tinggi yang mesti lebih utama diperjuangkan, termasuk di bawah panji ketauhidan yang semua ini dimiliki dalam beragam aliran seperti Sunni, Syi’ah bahkan Khawarij sekalipun.

Buya Syafii, Pemimpin Sekaligus Guru

Zaman sekarang ini, perpaduan antara seorang guru dan seorang pemimpin sulit sekali kita temukan pada diri seorang tokoh. Tetapi tidak bagi mereka para pembaca dan penikmat pemikiran bernas Buya Syafii. Sifat seorang guru yang dengan kepandaiannya serta twrus-menerus menambah ilmu dan sifat seorang pemimpin  dengan kebijaksanaannya dan tentunya mempunyai banyak pengikut.

Jika kita melihat trak record Buya yang gandrung sekali akan pendidikan, dan jejak kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamamadiyah pada tahun 1998-2005, pernah memimpin salah satu ormas terbesar di Indonesia tentu tidak diragukan integritasnya. Kepemimpinan Buya menggantikan Prof Amien Rais (Tahun 1995-1998) dan dilanjutkan Prof Din Syamsuddin (Tahun 2005-2015). Di balik itu juga Buya pernah menjadi salah satu Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Baca Juga  Imam Malik bin Anas: Tokoh Pendiri Mazhab Maliki

Sejak mahasiswa memang Buya aktif dalam pergerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun 1957-1968. Dari sana tentu beliau menggeluti dunia aktivisme dan intelektualisme yang tidak dapat dipisahkan pada diri Buya sebagai cendekiawan muslim, yang beberapa tahun terakhir beliau akrab disebut sebagai “Guru Bangsa.”

Negarawan Berwajah Teduh

Menurut penulis sendiri, Buya Syafii adalah sosok Negarawan yang berwajah teduh, karena sifat dasar seorang guru dengan kepandaiannya serta sifat dasar seorang pemimpin dengan kebijaksanaannya hanya dimiliki oleh sosok dengan julukan “Negarawan.” Perpaduan kedua sifat dasar tersebut ada dalam diri Buya. Juga tercermin dalam wajah teduh yang bersahaja.

Pria yang sangat mengagumi pemikir muslim terbesar abad 20 (Maulana Allamah Muhammad Iqbal) ini juga pernah menulis buku tentu sosok yang ia kagumi. Bukunya dengan judul, Percik-percik Pemikiran Iqbal (1984). Pun dalam banyaknya karya Buya, pembaca setia tidak akan asing dengan syair-syair Iqbal yang sering dikutip Buya. Semisal dalam karya Islam dan Politik, Membumikan Islam, Menerobos Kemelut, dan banyak lagi karya yang lain. Memang benarlah kata orang bijak, “seseorang itu tidak jauh dari siapa yang dia kagumi.”

Ciri khas Buya biasanya menyampaikan gagasannya sarat dengan ayat-ayat Quran, baik dalam sebuah seminar atau pun melalui media cetak seperti: Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Muhammadiyah, dan lain-lain. Dari sanalah beliau akrab mengunjungi para pembaca, hingga banyaknya tulisan-tulisan lepas serta makalah-makalah seminar itulah yang kemudian terkumpul menjadi puluhan karya dan sekarang sudah banyak dibukukan, bahkan dicetak ulang.

Jika kita melihat sosok Buya dari segi kapasitas intelektual tentu sangat tidak diragukan. Sebab, kapasitas intelektual seseorang setidaknya bisa diukur dari tiga indikator: pertama, latar belakang akademis. Kedua, karya, dan keempat, pengakuan. Kedua indikator di awal sudah penulis sebutkan, baik dari latar belakang akademis dan juga puluhan karya beliau. Adapun indikator terakhir ialah tentang pengakuan. Melalui tulisan sederhana ini, penulis juga sedang memberi pengakuan bahwa Buya adalah sosok yang sangat inspiratif dan layak menjadi teladan generasi muda sekarang, khususnya generasi muda Muhammadiyah agar saban hari ke depan, banyak lahir pemikir muslim penerus perjuangan dari rahim kaderisasi Muhammadiyah, yang berkiprah baik di level nasional maupun global layaknya sang Buya.

Baca Juga  Karya Anak Bangsa: Penemuan Vent-I untuk Pasien Covid-19

Pengakuan dari Gus Dur

Dalam sebuah artikel di Tempo, tanggal 27 Maret 1993, Gus Dur menulis artikel tentang “Tiga Pendekar dari Chicago” yang mana ketiga pendekar tersebut ialah menyebutkan nama (Nurcholis Madjid, Amien Rais, dan Ahmad Syafii Maarif) sebagai pendekar generasi pertama alumni University Of Chicago.  Menurut Gus Dur, mereka bertiga ini memiliki komitmen untuk mengembangkan Islam sebagai cara hidup, dalam bentuk sistemik atau hanya kultural saja.

Singkatnya, Gus Dur memberi pengakuan yang disebutnya sebagai pendekar dari Chicago, atau dalam bahasa lain pendekar juga bisa kita artikan sebagai “Pahlawan.” Semoga ke depan banyak lagi anak bangsa yang lahir dan mampu memberi keteladanan yang langka seperti Buya.

Editor: Arif

Avatar
4 posts

About author
Mahasiswa Hukum Keluarga Islam 2017, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA. Kader kultural NU, yang memilih untuk BerKAMMI. Sering mengikuti kajian di Muhammadiyah dan juga aktif mengisi khutbah jum'at di beberapa Masjid Muhammadiyah. Aktif sebagai pegiat Literasi "New Native", Founder @cendekia_muda.id :Komunitas Intelektual Aktivis Mahasiswa SeIndonesia. Wadah Mengkaji lebih dalam gagasan "Ilmu Sosial Profetik" Prof Kuntowijoyo.
Articles
Related posts
Ulama

Ibnu al-Haitham; Ilmuan Muslim Pencetus Kamera Obscura dan Ilmu Optik

2 Mins read
Zaman sekarang, ragam jenis kamera yang kian canggih semakin dikembangkan. Kamera bukan hanya dibutuhkan untuk mengabadikan momen seperti foto, namun juga dipakai…
Ulama

Anak Muda Harus Menimba Ilmu dan Hikmah dari Buya Syafii

4 Mins read
Anda dan saya masih terhitung muda. Kita bagian dari generasi muda bangsa Indonesia. Meski tiap hari belajar dan bekerja, tak berarti Anda…
Ulama

Buletin Jumat: Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

3 Mins read
Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali)….

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa