back to top
Minggu, September 20, 2026

Sukur Rame, Sukur Heboh: Ketika Budaya Kehilangan Arah

Lihat Lainnya

Beberapa hari lalu, kita sempat digegerkan oleh sebuah acara Simbang Kulon Night Carnival atau SKNC di Pekalongan. Sebuah serangkaian perayan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal ke-61 yang mendadak menjadi sorotan publik setelah salah satu penampil membawa pertunjukan dengan kostum naunsa tengkorak, jubah, peti mati, serta adegan pengorbanan kambing yang oleh sebagian masyarakat dinilai menyerupai ritual satanik yang justru berlawanan sengan nilai-nilai islam. Perbincangan pun mulai melebar hingga menimbulkan persoalan pro dan kontra dimasyarakat. Bagaimana mungkin sebuah acara yang membawa semangat Maulid Nabi justru menampilkan sesuatu yang secara visual begitu jauh dari kesan yang selama ini kita pahami tentang perayaan keagamaan?

Namun, ada satu hal yang justru menarik untuk kita renungkan lebih jauh. Para panitia mengakui bahwa mereka tidak memahami secara mendalam makna dari simbol dan konsep yang mereka bawakan. Mereka tertarik karena melihat kostum tersebut yang dianggap unik, kemudian panitia menyewanya dari Malang, dengan mencari referensi melalui YouTube, mempelajari gerakan, lalu mengadaptasinya ke dalam pertunjukan. Mereka bahkan mengakui sendiri bahwa persoalan tersebut terjadi karena “Minimnya pengetahuan akan hal tersebut”. Di titik inilah persoalannya menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar perdebatan apakah pertunjukan itu satanik atau bukan.

Sebab, yang sedang kita lihat sesungguhnya adalah sebuah gejala kebudayaan ketika sesuatu dianggap menarik hanya karena bentuknya unik, kemudian ditiru tanpa memahami apa yang ada dibaliknya.

Saat ini kita hidup pada zaman dimana budayaan bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahami budaya itu sendiri. Hari ini kita melihat sesuatu di media sosial, besok kita bisa menirunya. Sebuah gaya berpakaian, tarian, musik, bahasa, simbol, bahkan konsep pertunjukan dapat berpindah dari satu daerah ke daerah lain hanya dalam hitungan hari. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertukaran semacam itu. Kebudayaan memang selalu bergerak. Tidak ada kebudayaan yang benar-benar hidup dalam ruang tertutup. Ia tumbuh melalui perjumpaan, saling memengaruhi, saling meminjam, dan saling mengolah. Persoalannya bukan pada apakah kita boleh menerima budaya dari luar atau tidak. Persoalannya adalah apa yang kita lakukan setelah budaya itu sampai kepada kita.

Baca Juga:  Tidak Bermadzhab itu Bid’ah, Masa?

Apakah kita memahaminya terlebih dahulu? Apakah kita tahu sejarahnya? Apakah kita mengerti nilai dan konteksnya? Apakah kita mampu menyesuaikannya dengan ruang sosial tempat ia akan ditampilkan? Atau kah kita hanya berhenti pada tatan ukuran yang paling sederhana yang penting unik, yang penting menarik, yang penting ramai, yang penting heboh?

Di sinilah ungkapan “sukur rame, sukur heboh” menjadi penting untuk kita renungkan bersama. Sebab kebudayaan tidak pernah lahir dari kesederhana sukur rame sukur heboh. Sebuah pertunjukan memang membutuhkan kemeriahan, tetapi kemeriahan bukan satu satunya ukuran keberhasilan sebuah kebudayaan. Ada makna yang harus dijaga, ada konteks yang harus dipahami, dan ada identitas yang semestinya tidak hilang  dan harus dijaga bukan hanya karena kita ingin terlihat berbeda.

Menariknya, Pekalongan sendiri bukan daerah yang miskin akan budayanya. Justru sebaliknya. Pekalongan dikenal kuat dengan tradisi batiknya dan bahkan masuk dalam UNESCO Creative Cities Network sebagai kota kreatif bidang Crafts and Folk Art. Batik di Pekalongan bukan sekadar kain yang dikenakan atau barang yang dijual. Di dalamnya terdapat sejarah, simbol, keterampilan, pengetahuan, kreativitas, dan proses panjang yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Artinya, kebudayaan tidak lahir dari sekadar mengambil bentuk yang sudah ada, tetapi melalui proses memahami dan mengolahnya.

Lalu pertanyaannya, mengapa dalam ruang kebudayaan yang lain kita justru begitu mudah mengambil sesuatu yang hanya tampak dari permukaan saja? Mengapa yang kita lihat sering kali hanya bentuknya, sementara maknanya kita tinggalkan? Jangan-jangan tantangan kebudayaan kita hari ini bukan karena kita kekurangan budaya, melainkan karena kita memiliki terlalu banyak referensi tanpa cukup kemampuan untuk mengolah dan memilahnya.

Ada sebuah ungkapan yang sering dikaitkan dengan pemikiran Cak Nun “Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat.” Bagi saya, ungkapan ini menjadi menarik ketika kita membicarakan fenomena semacam SKNC. Sebab ungkapan tersebut tidak mengajarkan kita untuk menutup diri dari pengaruh luar. Ia justru memberikan cara atau solusi bagaimana sebuah masyarakat seharusnya berhubungan dengan kebudayaan yang datang dari berbagai arah ditengah percepatan informasi yang ada saat ini.

“Jowo digowo” mengingatkan bahwa manusia tidak pernah datang sebagai sesuatu yang kosong. Kita membawa akar, sejarah, bahasa, pengalaman, tradisi, dan identitas kita sendiri. “Arab digarap” mengandung pengertian bahwa nilai-nilai yang datang, termasuk nilai keislaman, tidak cukup hanya ditempelkan sebagai nama atau simbol, tetapi perlu dikerjakan dan dihidupkan dalam realitas kebudayaan. Sementara “Barat diruwat” bukan berarti segala sesuatu yang berasal dari Barat harus ditolak. Ruwat justru mengandung semangat untuk memahami, menyaring, memilih, dan mengolah sesuatu sebelum menjadikannya bagian dari kehidupan kita.

Baca Juga:  Pemuka Agama Harusnya Jadi Penyeru Perdamaian

Kalau kerangka berfikir tersebut kita bawa kembali kepada persoalan SKNC, kita menemukan satu pertanyaan yang cukup sederhana tetapi penting, dimana proses mengolah itu berlangsung? Jika sebuah konsep pertunjukan diambil karena kostumnya terlihat unik, kemudian referensinya dicari dari YouTube dan ditiru tanpa memahami maknanya, bukankah ada satu proses yang terlewat? Kita mengambil bentuknya, tetapi tidak sempat memahami isinya. Kita membawa tampilannya, tetapi tidak membawa pengetahuan tentang latar belakang apa yang kita tampilkan.

Di sinilah kata “ruwat” menjadi relevan. Ruwat bukan berarti membuang semua yang berasal dari luar. Ruwat bukan pula sikap takut terhadap perubahan. Justru sebaliknya, ruwat adalah keberanian untuk berhadapan dengan sesuatu secara kritis. Kita melihatnya, kita pelajari, kita pahami, kemudian kita tentukan bagaimana ia dapat ditempatkan dalam kebudayaan kita. Dengan begitu, budaya luar tidak menjadi sesuatu yang kita telan mentah-mentah, tetapi menjadi bahan yang bisa diolah menjadi sesuatu yang sesuai dengan identitas dan kebutuhan masyarakat kita.

Fenomena semacam ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Pekalongan. Belakangan ini kita dapat dengan mudah menemukan berbagai karnaval yang menggunakan karakter monster, makhluk menyeramkan, tengkorak, atau berbagai estetika horor. sebenarnya  penggunaan simbol-simbol tersebut tidak otomatis berarti sesuatu yang satanik. Dalam kebudayaan Bali, misalnya, kita mengenal ogoh-ogoh yang memiliki konteks historis dan religius tersendiri dalam rangkaian menjelang Nyepi. Bentuknya memang menyerupai makhluk menyeramkan, tetapi maknanya tidak dapat dipisahkan dari konteks kebudayaan yang melahirkannya. Inilah pentingnya memahami bahwa sebuah simbol tidak pernah berdiri sendirian. Bentuk yang sama dapat memiliki makna yang berbeda ketika ditempatkan dalam konteks yang berbeda.

Kebudayaan kita hari ini memang bukan kekurangan referensi. Kita justru kelebihan referensi. Setiap hari kita disuguhi begitu banyak bentuk kebudayaan dari berbagai belahan dunia. Algoritma media sosial membuat batas antarbudaya semakin tipis. Kita bisa melihat apa yang sedang viral di satu daerah, satu negara, bahkan satu benua dalam waktu yang hampir bersamaan. Tetapi semakin mudah kita mengakses dunia, belum tentu semakin dalam kemampuan kita memahami dunia.

Baca Juga:  Al-Anfal Ayat 60: Isyarat Berolahraga dan Hidup Sehat

Kita menjadi sangat cepat dalam mengambil, tetapi lambat dalam mengolah. Kita pandai meniru, tetapi belum tentu pandai mencipta. Kita tahu apa yang sedang viral, tetapi belum tentu tahu mengapa sesuatu itu lahir. Kita mengenal bentuknya, tetapi tidak selalu mengenal maknanya. Padahal kebudayaan tidak tumbuh hanya dari kemampuan meniru. Kebudayaan tumbuh dari kemampuan manusia mengolah pengalaman menjadi makna.

Maka, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan mengapa mereka menampilkan hal seperti itu? Pertanyaan yang lebih jauh adalah Mengapa kita semakin mudah mengambil sesuatu hanya karena terlihat menarik? Pertanyaan ini tidak hanya berlaku bagi peserta karnaval. akan tetapi berlaku juga bagi kita semua. Sudah berapa banyak kah gaya hidup yang mempengaruhi kita hanya karena viral? Berapa banyak bahasa yang kita gunakan tanpa memahami konteksnya? Berapa banyak budaya luar yang kita adopsi hanya karena terlihat keren? Dan berapa banyak kebudayaan sendiri yang kita tinggalkan karena dianggap tidak lagi menarik?

Pada titik ini, “Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat” terasa bukan sebagai ungkapan masa lalu. Ia justru menjadi sangat relevan bagi manusia yang hidup di tengah derasnya arus budaya hari ini. Kita tidak diminta untuk menjadi anti terhadap kebudayaan luar. Kita juga tidak diminta untuk menganggap budaya sendiri selalu benar. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk berdialog dengan berbagai kebudayaan tanpa kehilangan kemampuan untuk mengenali diri sendiri.

Sebab kebudayaan yang sehat bukanlah kebudayaan yang tidak pernah berubah. Kebudayaan yang sehat justru adalah kebudayaan yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah. Ia mampu menerima pengaruh tanpa kehilangan identitas. Ia mampu mengambil sesuatu dari luar tanpa menjadi sekadar salinan dari sesuatu yang berasal dari luar.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru