back to top
Minggu, September 20, 2026

Hidup: Makin Bersyukur atau Malah Kufur?

Lihat Lainnya

Rezza Fahlevi
Rezza Fahlevi
Ketua PW IPM Jawa Tengah, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Hidup, di mana pun ia dijalani, selalu menghadirkan pertanyaan yang sama: sudahkah kita makin bersyukur, atau justru diam-diam makin kufur? Pertanyaan ini tidak mengenal batas kota atau daerah. Baik yang tinggal di desa terpencil, kota kecil, maupun metropolitan yang sibuk. Pada akhirnya semua akan dihadapkan pada pilihan serupa: menerima apa yang terjadi sebagai berkah, atau menolaknya sebagai kekurangan yang terus digerutui.

Bagi saya, pertanyaan itu terasa paling nyata ketika singgah sementara di Jakarta. Bukan karena Jakarta adalah penyebabnya. Melainkan karena Ibu Kota kebetulan menjadi panggung tempat pola hidup itu tampil paling jelas dan paling padat. Apa yang saya alami mungkin bisa terjadi di mana saja, hanya saja Jakarta mempercepat dan memperbesar tampilannya.

Cara Membaca Hidup

Setiap bertambah usia, semestinya bertambah pula bekal seseorang dalam bersikap dan bertindak. Bekal itu terkumpul dari apa yang dirasakan atas suatu peristiwa, dari tempat-tempat yang pernah disinggahi, dan dari orang-orang yang pernah ditemui sepanjang perjalanan hidup. Persoalannya bukan di mana kita berada, melainkan seberapa banyak bekal itu mampu kita kumpulkan dan kita cerna dengan tepat.

Jakarta, dalam kasus saya, kebetulan menjadi salah satu ruang paling padat untuk mengumpulkan bekal semacam itu. Padat pengalaman, padat pelajaran, padat kejutan. Konon, Jakarta adalah “mimpi basah” bagi siapa saja yang ingin membangun jejaring dan karier. Tapi di balik mimpi itu, ada keringat yang tak kunjung kering, dan pola ini sebenarnya berlaku pada ambisi apa pun, di kota mana pun. Bukan monopoli Jakarta semata.

Baca Juga:  Benarkah Al-Qur'an Sunni dengan Syiah itu Berbeda?

Yang membedakan bukan tempatnya, melainkan kedewasaan berpikir kita. Dibutuhkan umur dan bekal yang cukup untuk mampu melihat sesuatu di luar ekspektasi sebagai ilham, bukan sebagai beban. Bila seseorang gagal memosisikan diri dengan tepat, di kota besar maupun di kampung sekalipun, yang muncul bukan rasa syukur. Melainkan kufur: keluhan yang tak berkesudahan atas apa yang sebenarnya sudah dimiliki.

Jarang Terlihat Bersamaan

Dalam hidup secara umum, kita cenderung hanya melihat satu wajah dari setiap tempat atau keadaan: sisi yang paling menyilaukan mata. Di Jakarta, saya melihat pola ini dengan sangat gamblang. Banyak orang datang dan hanya memperhatikan gedung-gedung tinggi, mal megah, kendaraan mewah berseliweran di jalan protokol. Padahal, di balik wajah itu, selalu ada wajah lain yang jarang disorot: gang-gang sempit yang berimpitan. Warga yang hidup pas-pasan, bahkan mereka yang tak memiliki tempat tinggal tetap.

Ini bukan fenomena khas Jakarta. Ini adalah cara manusia pada umumnya memandang hidup, kita cenderung menyeleksi apa yang ingin dilihat. Lalu menjadikannya standar untuk menilai keadaan diri sendiri. Jakarta hanya kebetulan menyediakan kontras yang lebih tajam dan lebih dekat jaraknya, sehingga lebih mudah disadari.

Saya yang datang dari luar Jakarta menyadari, ada banyak alasan untuk bersyukur ketika membandingkan kondisi di sini dengan daerah asal. Gang sempit, akses air bersih yang terbatas, hingga tingkat kejahatan yang tak rendah. Tetap menjadi bagian dari wajah lain Jakarta yang jarang dibicarakan orang. Namun dibandingkan kondisi di kampung halaman saya, semuanya ternyata jauh berbeda dan dari perbandingan itulah. Dimana pun kita berada, semestinya rasa syukur bisa tumbuh, bukan sebaliknya.

Baca Juga:  Makan, Bukan Cuma Soal Perut Kenyang!

Jebakan Kufur

Di titik inilah bahaya sesungguhnya mengintai dan ini bukan hanya persoalan Jakarta, melainkan persoalan hidup modern secara umum. Pergaulan yang keras, standar hidup yang ditawarkan lingkungan sosial, sering kali jauh melampaui kemampuan yang sebenarnya, tetapi tetap dikejar demi validasi dan pengakuan. Di kota mana pun, dengan tekanan sosial yang cukup tinggi, pola ini akan selalu muncul.

Begitu pula soal rezeki. Banyak yang tergiur cerita tentang tingginya penghasilan di suatu tempat, tanpa menyadari bahwa gaya hidup dan biaya hidup di sana pun ikut melonjak setara, bahkan lebih tinggi. Akibatnya, penghasilan yang sebenarnya tidak kecil tetap saja terasa kurang. Ujungnya, keluhan demi keluhan mengalir, dan rasa syukur perlahan tergerus oleh rasa haus yang tak pernah usai, sebuah pola yang bisa terjadi di Jakarta, di kota kecil, bahkan di layar ponsel kita sendiri saat membandingkan hidup dengan unggahan orang lain.

Di sinilah kufur, dalam arti mengingkari nikmat yang sudah ada, sering kali muncul tanpa disadari. Bukan karena hidup benar-benar kekurangan, melainkan karena cara pandang yang keliru dalam menilai apa yang sudah dimiliki. Kita sibuk membandingkan diri dengan yang lebih tinggi, lalu lupa menoleh ke bawah untuk sekadar mengingat betapa banyak yang sudah kita lewati dan dapatkan.

Memilih Syukur adalah Pilihan Sepanjang Hidup

Hidup, di mana pun dijalani, akan selalu menghadirkan kontras: kemewahan dan kemiskinan, peluang dan tekanan, harapan dan kelelahan, yang sering kali berdampingan dalam jarak yang sangat dekat. Jakarta hanya kebetulan menjadi ruang kelas tempat saya belajar mengenali kontras itu paling jelas. Tapi pelajarannya berlaku di mana saja kita berpijak.

Baca Juga:  Tantangan Sharp Power bagi Indonesia

Pada akhirnya, tempat hanyalah panggung. Ia tidak pernah memaksa siapa pun untuk bersyukur atau kufur. Panggunglah yang menyediakan pilihan, dan manusia yang memilih perannya sendiri. Barangkali, pertanyaan yang lebih layak diajukan bukan “apakah tempat tertentu membuat kita lebih bersyukur atau kufur?”, melainkan “sudahkah kita cukup dewasa untuk memilih rasa syukur, di mana pun kita berada, di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak alasan untuk kufur?” Dan jawaban atas pertanyaan itu, seperti halnya hidup itu sendiri, tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus diuji, hari demi hari, tempat demi tempat, langkah demi langkah.

Editor: Anas Nashuha

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru