Inspiring

Syekh Nawawi al-Bantani: Pendidikan itu Harus Menggembirakan!

4 Mins read

Syekh Nawawi al-Bantani | Sudah menjadi komitmen bersama bahwa, pendidikan mempunyai peran yang luhur dan agung. Sehingga, Pendidikan dianggap boleh untuk meramalkan nasib seseorang di masa depan. Jika seseorang belajar kedokteran, maka dipastikan ia akan menjadi dokter.

Jika ia belajar di keguruan, maka dapat diramalkan akan menjadi guru, dan sebagainya. Sebegitu mulianya peran pendidikan sehingga orang tidak pernah merasa curiga terhadap makhluk yang bernama pendidikan.

Di zaman modern, pendidikan justru melahirkan masalah, khususnya masalah moral. Banyak kasus seperti kekerasan terhadap guru, kenakalan remaja, serta merosotnya moral anak-anak muda.

Hal ini memunculkan kontradiksi. Di satu sisi, pendidikan sebagai lahan untuk mendidik moral bangsa. Namun di sisi lain, pendidikan malah semakin menunjukkan ketidakbermoralan suatu bangsa.

Masyarakat Indonesia dinilai sudah menjauhkan diri dari nilai pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Padahal, ulama terdahulu sudah membuat konsep pendidikan secara utuh yang membuat peradaban Islam pada zaman dulu sangat berjaya.

Syekh Nawawi al-Bantani

Salah satu tokoh pendidik dunia yang berasal dari Indonesia adalah Syekh Nawawi al-Bantani. Beliau merupakan pemikir besar Islam yang telah banyak memberikan sumbangan bagi pengetahuan Islam.

Meskipun ada rentang tahun yang cukup jauh antara beliau dengan masa sekarang, namun pemikiran pendidikan Syekh Nawawi al-Bantani masih relevan untuk diterapkan, khusunya seputar akhlak.

Syekh Nawawi al-Bantani memiliki nama lengkap Muhammad Nawawi Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Al-Jawi Al-Bantani Al-Tantara. Beliau dilahirkan di Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, Jawa Barat, pada tahun 1813 M. Beliau wafat di Makkah pada tahun 1879 M. Beliau merupakan keturunan Sunan Gunung Jati yang ke dua belas.

Baca Juga  Mitologi Pandora dan Pendidikan ala Ivan Illich

Nama Syekh Nawawi al-Bantani memang sudah tidak asing lagi di kalangan umat Islam Indonesia. Ulama asal Banten ini mempunyai 3 posisi utama yang membuat nama beliau diperhitungkan banyak kalangan.

Pertama, beliau merupakan seorang ulama yang sangat produktif dalam bidang menulis serta memiliki karya yang cukup banyak. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa karya beliau jumlahnya lebih dari seratus judul.

Kedua, Syekh Nawawi adalah seorang tokoh yang menjadi salah satu pusat jaringan ulama dan pesantren. Sehingga, banyak orang yang berguru kepada beliau. Termasuk, Syekh Kholil Bangkalan, K.H. Hasyim Asy’ari, KH. Asy’ari Bawean, KH. Asnawi dari Caringan, KH. Tubagus Bakri dari Purwakarta, dan lain sebagainya.

Ketiga, Syekh Nawawi adalah ulama asal Jawa yang pernah tinggal di Makkah serta mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Pemikiran Pendidikan Syekh Nawawi al-Bantani

Syekh Nawawi mengatakan bahwa hakikat pendidikan memang mencakup ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Namun, Syekh Nawawi lebih condong pada ta’lim karena proses ta’lim dalam Islam mencakup transfer ilmu, nilai, dan metode serta transformasi.

Sedangkan, tarbiyah lebih cocok untuk diartikan sebagai pengasuhan pada masa anak-anak dan ta’dib lebih condong pada pembentukan akhlak saja.

Selain itu, pendidikan tidak cukup dengan pengajaran saja, akan tetapi bagaimana mengimplementasikan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari, yang mana itu semua berpedoman pada nilai keimanan dan ketaqwaan, sehingga pendidikan tersebut membawa keberkahan yang melimpah.

Ada satu hal yang sering menjadi ironi bagi pendidikan, yakni kualitas alumni di dunia kerja. Misalnya, sebut saja si Joko, ia sangat rajin di sekolahnya. Dia mengikuti semua aturan sekolah. Namun ketika dia lulus, dia tidak menjadi apa-apa.

Berbeda nasib dengan Jeki yang dianggap nakal oleh sekolah karena tidak mentaati peraturan. Namun ketika lulus, Jeki bisa membangun bisnis dan kaya raya. Pertanyaannya adalah, apa sebenarnya tujuan pendidikan?

Baca Juga  Peluncuran Jurnal, Maarif Institute Bahas Pendidikan di Masa Pandemi

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, tujuan pendidikan dalam Islam adalah cerminan dari tugas manusia diciptakan, yaitu beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi. Yang mana, semua itu dalam rangka mencari rida Allah. Baik perbuatan yang berhubungan dengan diri sediri ataupun,  orang lain. Jadi acuannya bukan seberapa kaya, namun seberapa bermanfaat bagi sekitar.

Selanjutnya, dalam masalah prinsip-prinsip dan metode Islam, Syekh Nawawi berpendapat bahwa setiap individu memiliki perbedaan masing-masing. Karena itu, metode yang digunakan untuk mengajar harus berbeda dan tidak boleh disamakan.

Dalam proses pembelajaran haruslah bertahap. Dimulai dengan yang paling mudah sesuai dengan tingkat perkembangan usianya, dan tingkat intelektualnya. Hal ini dalam rangka memelihara semangat belajar peserta didik agar tidak jenuh dalam proses pembelajaran.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah siswa lebih menyukai bimbingan belajar dari pada sekolah. Karena bimbingan belajar dianggap memiliki sistem dan metode yang lebih menarik daripada  sekolah yang metodenya cenderung bersifat monoton.

Pendidikan Harus Menggembirakan

Prinsip pendidikan menurut Syekh Nawawi al-Bantani adalah sebagai pengalaman yang menggembirakan.  Seorang Pendidik harusnya memahami bahwa peserta didik ini harus dituntun bukan dituntut.

Karena sebenarnya, semua peserta didik juga menginginkan keberkahan ilmu, hanya saja ketika metodenya tidak sesuai, peserta didik cenderung malas dan tidak mendengarkan materi dari pendidik.

Pendidik ini, jika diibaratkan, seperti seorang dokter. Yang mana, sebelum memberikan obat, seorang dokter harus memahami terlebih dahulu penyakit apa yang diderita oleh pasien.

Dan untuk mengetahui penyakit tersebut, harus dilakukan pengamatan yang mendalam. Tidak sekadar kira-kira saja. Karena jika hanya mengira-ngira, maka dihawatirkan ketika diberikan obat pasien ini tidak akan sembuh. Malah bisa-bisa sakitnya lebih parah. Karena obat yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Baca Juga  Daftar Tiga Pesantren Berwawasan Lingkungan di Indonesia

Kemudian, berkaitan dengan peserta didik, di sini Syekh Nawawi al-Bantani sangat menekankan akhlak dalam proses pencarian ilmu. Dan jika diterapkan dengan baik, asumsi saya tidak ada lagi kasus penganiayaan terhadap guru.

Kalau diibaratkan, peserta didik ini seperti seorang yang meminta air yang memegang erat norma dan etika. Misalnya memulai dengan kata-kata yang sopan.

Secara logika, tidak mungkin orang yang meminta justru menggunakan nada tinggi atau bahkan membentak. Karena jika itu dilakukan maka orang yang memberikan air akan cenderung malas, bahkan sangat mungkin untuk tidak memberikan airnya.

Kemudian ketika sudah diberikan air, harus mengucapkan terima kasih meskipun seandainya air yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani dalam pendidikan rasanya masih bisa diterapkan dalam beberapa hal, khusunya bidang akhlak, karena di era modern ini yang hilang dari kita adalah akhlak

Namun perlu diakui bahwa tidak ada teori yang mutlak kebenarannya, karena itu perpaduan berbagai teori tetap perlu dilakukan untuk memajukan pendidikan Indonesia khususnya pendidikan Islam.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
3 posts

About author
Mahasiswa UIN yang suka makan, apalagi sama kamu
Articles
Related posts
Inspiring

Merawat Pemikiran Ahmad Syafii Maarif

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Awal tahun 1970-an ditandai dengan babak pembaharuan Islam di tanah air Indonesia. Kemunculan intelektual publik seperti almarhum…
Inspiring

Candra Sihotang, Guru Madrasah Berprestasi yang Pernah Jadi Buruh

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Jika Presiden Indonesia, Joko Widodo punya tagline “Kerja, Kerja, Kerja”, tampaknya slogan “Berjuang, Berusaha, Berprestasi” cocok disematkan kepada Candra…
Inspiring

Maftuhah Mustiqowati, Guru Madrasah Pelopor Peduli Lingkungan

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Seringkali orang akan acuh ketika menemui imbauan untuk mencintai lingkungan, penghijauan bumi, serta upaya-upaya gerakan penanggulangan sampah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *