Inilah Wartawan Pertama Muhammadiyah yang Tersandung Delik Pers

 Inilah Wartawan Pertama Muhammadiyah yang Tersandung Delik Pers Ilustrasi: IBTimes/Istimewa            

Di antara santri-santri KH Ahmad Dahlan yang memiliki minat dan bakat dalam hal mengarang adalah Haji Fachrodin. Ia mengawali karir di dunia politik dan pergerakan ketika berguru jurnalistik kepada Mas Marco Kartodikromo.

Berguru Kepada Mas Marco

Fachrodin muda memang bercita-cita ingin bisa mengarang tulisan dan menerbitkannya di surat kabar. Dalam pikiran Fachrodin, betapa sulitnya mengarang tulisan yang bagus. Sewaktu Mas Marco menerbitkan surat kabar Doenia Bergerak (1914), ia diminta untuk mengarang artikel atau menulis laporan perkembangan politik di wilayah Yogyakarta (Junus Anis, 1969: 15). Sebelum terjadi kesepakatan untuk menjadi koresponden tetap di Doenia Bergerak, Fachrodin meminta agar Mas Marco bersedia memeriksa, mengedit, dan memperbaiki karangannya.

Setiap kali Fachrodin mengarang artikel atau menulis laporan, dia selalu membuat rangkap dua. Satu karangan akan diserahkan kepada Mas Marco dan satunya lagi disimpan sebagai arsip pribadi. Sewaktu karangannya dimuat di surat kabar Doenia Bergerak, dia dapat mencocokkan dengan arsipnya. Dia pelajari kekurangan dan kesalahan dalam karangannya yang telah diedit oleh Mas Marco itu. Sebab, artikel yang telah dimuat di surat kabar Doenia Bergerak merupakan hasil editan Mas Marco. Dengan cara demikian, Fachrodin menjadi kontributor tulisan Doenia Bergerak dan dia belajar mengasah keahlian di bidang jurnalistik.

Bahasa Melayu Rendah

Fachrodin adalah seorang otodidak yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Bakatnya mengarang tumbuh secara alamiah. Ketika dia harus mengarang artikel atau menulis laporan untuk dikonsumsi publik, sudah barang tentu karangannya harus memenuhi standar jurnalistik pada waktu itu. Fachrodin jelas tidak memahami teori-teori jurnalistik berdasarkan standar umum karena dia memang bukan ”orang sekolahan.”

Ciri khas karangan Fachrodin menggunakan bahasa sederhana. Istilah pada waktu itu, Fachrodin mengarang menggunakan bahasa ”Melayu rendah” (Junus Anies, 1930: 7). Istilah ini untuk menyebut bahasa awam yang dipakai khalayak ramai. Ciri-ciri bahasa ”Melayu rendah” adalah campuran antara bahasa ”Melayu tinggi” (cikal bakal bahasa Indonesia) dan bahasa Jawa.

Baca Juga  Fatmawati: Ibu Negara Kader Nasyi'atul Aisyiyah

Tersandung Delik Pers

Pada tahun 1919, Fachrodin menerbitkan surat kabar mingguan Srie Diponegoro. Ia pernah menulis artikel di halaman muka surat kabar Srie Diponegoro yang diterbitkan di Yogyakarta ini. Dia mengomentari nasib para petani tebu di Klaten. ”Keboen teboe jang penoeh ditanami di atas tanah kita dengan djalan jang koerang menjenangkan, hingga menjebabkan kelaparannja anak-anak boemi…” demikian sekutip tulisan Fachrodin.

Menurut sumber Yunus Anis (1969: 18), artikel Fachrodin dihiasi dengan gambar ilustrasi seorang lelaki Jawa memakai ikat kepala (blangkon) tanpa mengenakan baju sedang menggenggam keris dan akan menikam seekor harimau. Ternyata, pemuatan artikel ini berbuntut panjang dan berujung pada kasus pers-delicht (delik pers). Residen Yogyakarta memperkarakan artikel yang ditulis oleh Fachrodin sebagai kasus penghasutan terhadap rakyat. Dalam kasus ini, Fachrodin mendapat tuntutan hukuman penjara selama tiga bulan atau membayar denda sebesar f. 300,-.

Editor: Nabhan


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *