Anak-anak Smartphone - IBTimes.ID
Wacana

Anak-anak Smartphone

1 Mins read

Seorang anak bertanya: ”kepada siapa aku harus berbakti?
SMARTPHONE— siapa lagi?
SMARTPHONE—siapa lagi?
SMARTPHONE!

siapa lagi? IBUMU

Selfie dengan Rasulullah

Pada hampir 100 mahasiswa aku bertanya: Apa yang kamu lakukan jika bertemu baginda Rasululah saw? Mereka serentak menjawab : SELFIE.

Mungkin saja seorang perempuan telah melahirkan seorang anak—mungkin pula disusui selama dua tahun itu pun kalau tak repot. Pola asuh dan pola didik pun berubah. Pada masa Rasulullah saw ada tradisi yang bagus menyusukan anak kepada ibu asuh selama kurang lebih dua atau tiga tahun bergantung kebutuhan. Peran smartphone pernah digantikan Halimah Sa’diyah—sebagai ibu asuh. Tapi sekarang semua telah berubah.

Klise-kah pertanyaan itu? Sekali-kali tidak! Bahkan andai saya tak kecanduan smartphone duluan, mungkin sudah pasti saya fatwakan haram. Sebab daya rusaknya melampaui dua pak rokok sehari, belum lagi faktor ekonomi dan dampak sosial psikologisnya. Ini setan kotak saya menyebutnya. Pada smartphone terkumpul dosa besar dan kecil.

Smartphone menjadi ibu asuh. Pagi-siang-sore-malam, hampir di setiap waktu. Karakter anak anak dibentuk oleh dunia maya, saya tak tahu jadi apa mereka kelak. Mungkin ini semacam persiapan menuju era : post humanity atau human beyond yang mulai hangat diperbincangkan. Sebuah generasi di bawah artificial intelegence. Satu era kecerdasan buatan untuk menggantikan peran kemanusian’.

Ironisnya anak-anak lebih kerasan dan betah diasuh smartphone ketimbang ibu kandungnya—-ini fenomena menarik. Smartphone menggantikan peran ibu bahkan sekolah. Fungsinya telah melampaui dan mengambil alih banyak hal. Anak lebih patuh pada smartphone ketimbang orang tuanya.

Dari sisi ekonomi smartphone jelas melakukan proses pemiskinan, monopoli, kooptasi dan pemalasan. Mungkin saya tidak merokok. Tapi tak sedikit para ulama kecanduan gadget termasuk saya. Industri rokok berbasis rakyat sementara gadget mengandung monopoli dan kolonialisme, cenderung elitis dan eksklusif.

Baca Juga  Wabah Corona Wuhan: Apa yang Perlu Kita Lakukan?

Terhubung dan Terpasang Smartphone

Kita hidup pada sebuah era: terhubung dan terpasang. Anak anak kita mungkin telah terhubung dan terpasang pada smartphone—baik lahiriah maupun batiniyah. Peran ibu telah terkikis habis. Tatanan baru (new order) di bawah satu perintah. Mungkin disebut khilafah digital atau semacam post humanity—generasi manusia setengah. Setengah manusia setengah robot.

Sayangnya para ulama gamang bertindak. Sebab realitasnya para ulama juga sudah terpapar. Jadi jangan harap ada fatwa obyektif keluar dari yang sudah terhubung dan terpasang.

Editor: Nabhan

Related posts
Wacana

Muhammadiyah and The Divergent

4 Mins read
Polarisasi yang rigid serta kanalisasi kaku atas masyarakat adalah fenomena yang berusaha ditampilkan oleh Film Divergent. Film yang dibintangi aktris ternama, Shailene…
EssayWacana

Muhammadiyah dan Politik Keumatan

3 Mins read
Muhammadiyah mampu bertahan melintasi ruang dan waktu “karena mengikuti kaidah Agama Islam serta sesuai dengan harapan zaman kemajuan” (SM No 2, 1915)….
Wacana

Milad ke 108: Pentingnya Beragama yang Mencerahkan

3 Mins read
Memang tak mudah membangun organisasi besar seperti Muhammadiyah. Banyak pengorbanan yang sudah dikeluarkan oleh pelopor organisasi ini. Mungkin banyak di luar sana…

Tinggalkan Balasan