Takut Corona, Tanda Takut kepada Allah

 Takut Corona, Tanda Takut kepada Allah
Ilustrasi: IBTimesID/Galih Qoobid Mulqi            

Tolak Bala yang Mengundang Bala

Entah harus bagaimana lagi caranya pemerintah dan ahli kesehatan menjelaskan kepada masyarakat tentang upaya meminimalisir penyebaran Covid-19. Ada saja salah paham yang terjadi di masyarakat. Misalnya sekelompok masyarakat bersama pemerintah lokal membuat event sosialisasi melawan corona dengan membuat kerumunan. Tentu saja bagi yang memahami soal pencegahan Corona, event tersebut merupakan contoh gagal paham. Niatnya baik ingin sosialisasi pencegahan Corona, namun apa yang dilakukan justru mengundang virus Corona.

Hal yang mirip baru-baru ini terjadi di Bumi Serambi Mekkah. Para ulama bersama masyarakat bermaksud mengadakan kegiatan doa bersama dengan tujuan tolak bala virus Corona. Masalahnya adalah kegiatan tolak bala di Aceh dilakukan dengan membuat kerumunan yang melibatkan ribuan massa. Mirip dengan kegiatan Jamaah Tabligh di Sulawesi Selatan beberapa waktu yang lalu. Saat kegiatan itu terblow up di media sosial, banyak komentar yang kritis terhadap kegiatan tolak bala tersebut.

Banyak warganet menyatakan bahwa yang dilakukan warga Aceh tersebut adalah kegiatan yang membahayakan baik diri sendiri maupun orang lain. Sudah jelas pemerintah menginstruksikan untuk tidak membuat kegiatan yang melibatkan kerumunan massa. Menanggapi hal tersebut, salah satu warganet yang mendukung kegiatan tersebut menyatakan bahwa bagi mereka bukan virus Corona yang mereka takuti, tapi Allah SWT. Lautan massa yang mereka buat merupakan bentuk upaya tolak bala agar Allah SWT menjauhkan mereka dari segala penyakit dan marabahaya.

Takut Virus Corona Bukan Sebuah Dosa

Sebenarnya ada sesat pikir dalam pernyataan bahwa bukan virus Corona yang kami takuti, tapi Allah SWT. Kenapa takut kepada Allah SWT dengan takut kepada virus Corona mesti dipertentangkan? Mengapa harus memilih salah satunya? Tidak bisakah kita takut kepada Allah SWT sekaligus takut kepada virus Corona? Apakah hanya boleh takut kepada Sang Pencipta dan tidak boleh takut kepada yang diciptakan?

Tak perlu kita berdebat bahwa sebagai umat Islam, kita harus menjadikan Allah SWT sebagai Zat yang paling kita takuti dibanding makhluknya. Dalam Surat Al Bayyinah disebutkan bahwa disediakan balasan berupa surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Surga tersebut disediakan bagi orang yang takut kepada Tuhannya. Dalam Surat An Nazi’at, Allah SWT berfirman bahwa bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan mampu menahan hawa nafsu, maka surga adalah tempatnya kembali.

Namun jika kita diperintahkan untuk takut hanya kepada Allah SWT, apakah takut kepada selain Allah mutlak menjadi sebuah dosa? Sebenarnya rasa takut adalah sebuah emosi yang normal dalam diri manusia. Rasa takut membuat manusia menghindari hal-hal yang mengancam dirinya. Hal ini membuat manusia bertahan hidup dan melestarikan spesiesnya. Bayangkan jika seluruh manusia tidak memiliki rasa takut, lalu melabrak segala hal yang membahayakan dirinya. Mungkin saja hari ini spesies kita sudah punah.

Dalam perspektif agama Islam, Allah SWT memberi bekal kepada manusia berupa hidayah yang bermacam-macam jenisnya. Syaikh Mustafa Al Maraghi membagi hidayah menjadi lima jenis: Hidayah Ilhamiyah/Gharizah(Insting), Hidayah Hawwasiyah (Panca Indra), Hidayah Aqliyah (Akal), Hidayah Diniyah (Agama dan Syariat) Hidayah Ma’unah wa Taufiqiyah (Pertolongan dan Taufiq). Rasa takut merupakan bagian dari hidayah ilhamiyah/gharizah. Artinya rasa takut adalah sesuatu yang sangat manusiawi, dibekali oleh Allah SWT kepada manusia sebagaimana naluri yang lain, misalnya rasa marah, rasa kasih sayang, rasa lapar dll.

Jika kita membuka beberapa dalil baik Al Quran dan Sunnah, kita juga akan menemukan bahwa rasa takut adalah bentuk ujian kesabaran dari Allah SWT kepada hambaNya. Misalnya dalam QS. Al Baqarah: 155, Allah SWT menegaskan bahwa kita semua pasti akan diuji dengan rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, kehilangan jiwa dan buah-buahan. Namun berbahagialah bagi orang-orang yang sabar. Yakni orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengatakan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Dalam QS. An Nisaa:9 Allah SWT menyuruh kita agar takut dan khawatir jika meninggalkan di belakang kita generasi yang lemah. Ada dua kata dalam bahasa Arab yang sering digunakan untuk rasa takut, yakni khosyiyadan khaafa. Dalam ayat tersebut dua kata tersebut digunakan, yakni “Walyakhsya”dan “Khaafuu ‘alaihim”. Dalam ayat ini justru Allah SWT menyuruh kita untuk khawatir dan takut kepada suatu kondisi.

Takut Yes, Paranoid No!

Dalam konteks upaya pencegahan virus Covid-19, rasa takut diperlukan agar kita menjadi waspada dan bergerak menghindari bahaya virus Corona. Hal ini jangan dipertentangkan dengan rasa takut kita kepada Allah SWT. Dua hal ini justru bisa saling melengkapi. Wujud nyata kita takut kepada Allah SWT adalah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Allah SWT memerintahkan hambanya agar menghindari hal-hal yang mencelakakan diri sendiri. Allah SWT melarang hambaNya untuk menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan.

Artinya ikhtiar yang sungguh-sungguh menghindari Corona justru merupakan wujud Takut kepada Allah SWT. Adapun menyepelekan atau menganggap remeh Corona, apalagi menantangnya dengan aktifitas yang rawan menimbulkan Corona, justru merupakan wujud tidak takutnya kita kepada Allah SWT. Karena kita berani tidak menjalankan perintahnya dan membangkang terhadap larangannya.

Tentu saja segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik, termasuk rasa takut. Rasa takut yang berlebihan adalah sesuatu yang dibenci, namanya paranoid. Dalam khazanah klasik Islam, orang yang rasa takutnya berlebihan disebut al muwaswasun, atau orang yang ditimpa penyakit was-was. Alkisah, karena terlalu takut ibadah salatnya tidak diterima Allah SWT, maka ada orang yang berulang-ulang kali mengulangi niat salat dan takbiratul ihramnya. Ada juga orang yang berulang kali mengulangi wudhu karena takut ada bagian yang tidak terbasuh.

Sikap paranoid juga mesti kita hindari dalam soal virus Covid-19, karena akan juga menyusahkan dan menimbulkan mudharat. Sikap paling baik adalah moderat dan sewajarnya. Tidak menyepelekan dan meremehkan, namun juga tidak paranoid. Jangan lupa senantiasa berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar virus ini segera berlalu, dan dunia kembali seperti sedia kala.


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

Robby Karman

Sekretaris Jenderal DPP IMM

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.