Teologi Al-‘Ashr: Empat Unsur Peradaban

 Teologi Al-‘Ashr: Empat Unsur Peradaban

Al-‘Ashr ialah satu surat yang dapat ditautkan dengan konsep peradaban sebagai prasarat kualitas kehidupan yang baik. Surat al-‘Ashr itu sangat padat, mencakup kehidupan sejarah peradaban umat manusia. Pantas, jika Imam Syafii sampai berkata bahwa andai kata Allah tidak menurunkan ayat atau surat dari al-Qur’an maka cukuplah dengan wal-‘Ashri. Betapa ayat ini meliputi peradaban dan gerak langkah manusia. Sebagaimana Samuel P. Hutington mengatakan hakikat peradaban adalah sejarah manusia, dan sejarah manusia adalah sejarah peradaban itu sendiri.

Dalam surat al-‘Ashr, ayat-ayanya menggunakan bentuk jamak dalam meningkatkan kualitas hidup individu maupun masyarakat, yaitu kata-kata al-insan, khusrin, amanu, ‘amilu, dan tawashau. Kualitas hidup itu lebih bersifat kolektif (al-muj’tama’). Kehidupan kolektif biasanya disebut dengan ummah, maka kita mengenal istilah khairu ummah (umat terbaik atau masyarakat utama).

Masyarakat utama dalam bentuk kebudayan atau peradaban yang maju dan berkemajuan perpektif teologi al-‘Ashr ini berlawanan dengan konsep khusr (‘kerugian’, ‘kehancuran’, ‘primitif’, ‘tertinggal’). Sebagaimana ditunjukkan oleh Allah dalam kalimat innal insaana lafii khusr, yang menginsyaratkan bahwa sesunggunya seluruh manusia benar-benar di dalam beraneka ragam kehancuran peradaban. Dari surat al-‘Ashr, dapat menjelaskan empat pilar untuk membangun sebuah peradaban yang berkemajuan.

Unsur I: Paradigma Tauhid

Pilar pertama, adalah iman yang dalam konsep peradaban adalah paradigma tauhid. Tauhid sebagai pilar mendasar karena esensinya adalah menghadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari yang dipahami dari penggalan ayat amanu. Dengan kata lain Tauhid adalah prinsip mendasar bagi pembangunan peradaban Islam.Abdul Mu’ti menjadikan “Tauhid yang Murni”sebagai pondasi utama dari Islam berkemajuan. Salah satu misi utama Muhammadiyah adalah menegakkan tauhid yang murni.

Menurut Isma’il Raji al-Faruqi Tuhan adalah tujuan akhir, yakni akhir di mana semua kaitan finalistik mengarah dan berhenti. Tauhid menjadi intisari peradaban Islam. Esensi peradaban Islam adalah pengetahuan. Tauhid sebagai esensi adalah sebagai prinsip penentu pertama dalam Islam, kebudayaannya, dan peradabannya. Tauhid adalah yang memberikan identitas peradaban Islam, yang mengikat semua unsurnya bersama-sama menjadikan unsur-unsur tersebut suatu kesatuan yang integral dan organis yang disebut dengan peradaban.

Baca Juga  Bonus Profesor Muhammadiyah

Tauhid sebagai esensi adalah sebagai prinsip penentu pertama dalam Islam, kebudayaannya, dan peradabannya.Tauhid adalah yang memberikan identitas peradaban Islam, yang mengikat semua unsurnya bersama-sama menjadikan unsur-unsur tersebut suatu kesatuan yang integral dan organis yang disebut dengan “peradaban”. Tanpa harus mengubah sifat-sifat sesuatu, esensi tersebut mengubah unsur-unsur yang membentuk suatu peradaban, dengan memberikannya ciri baru sebagai bagian dari peradaban tersebut.

Dalam bertauhid dengan memurnikan  iman seseorang maka, akan melahirkan pengertian-pengertian logis tentang prinsip ketuhanan sebagai implikasi tauhid. Pengertian logis prinsip ketuhanan, yaitu; pertama, Kesatuan Penciptaan (Unity of Creation), Kesatuan Kemanusiaan (Unity of Mankind), Kesatuan Pedoman Hidup (unity of guidance), dan Kesatuan tujuan hidup (unity of the purpose of life). Implementasi tauhid dalam pembangunan peradaban ditafsirkan sebagai jalan menuju pencerahan, pembebasan, dan kesemestaan.

Unsur II: Amal Usaha (Kerja-kerja Peradaban)

Pilar kedua adalah kerja kerja-kerja produktif yang bermanfaat untuk masyarakat (‘amilush shalihat) membentuk sebuah kebudayaan.  Ada 360 kata tentang amal dalam berbagai sighat dalam al-Qur’an yang menggambarkan betapa Tuhan meletakkan konsep amal sedemikian penting. Esensi dasarnya adalah Islam memandang penting amal, tetapi lebih kongkrit lagi bahwa bentuk manifestasi dan aktualisasi Islam adalah dalam amal salih.

Wujud dari suatu kebudayaan menurut J.J. Hoenigman dalam Koentjaraningrat (1986) yaitu gagasan, aktifitas dan artefak. Idealnya kebudayaan adalah kumpulan ide, gagasan, nilai dan sebagainya yang bersifat abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Manifesto kebudayaan itu terletak di dalam kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat yang terwujud dalam aktifitas dan tindakan masyarakat, sedangkan wujud fisiknya berupa artefak, perbuatan dan karya yang bersifat materialistik.

Dalam kenyataannya, wujud kebudayaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain.Toynbee melihat pola dasar terjadinya peradaban sebagai suatu pola interaksi antara “tantangan dan tanggapan”. Tantangan dari lingkungan alam dan sosial memancing tanggapan kreatif suatu masyarakat, atau kelompok sosial, yang mendorong masyarakat membentuk peradaban.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Industri 4.0: Menyiapkan Keadaban Islam Progresif (Bagian 2)

Unsur III: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEKS)

Pilar ketiga, adalah  ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) yang dipahami dari penggalan ayat wa tawashau bil haq.  Al-haq (kebenaran) di sini dipahami sebagai ilmu pengetahuan. Karena selain kebenaran Mutlak ada kebenaran relatif. Nah, kebenaran relatif inilah ilmu pengetahuan teknologi dan sains. Di sini, al-haq adalah kebenaran Mutlaq (Tauhid), sedangkan ilmu adalah kebenaran relatif-saintifik.

Untuk membangun kehidupan sosial-ekonomi, sosial-politik, dan sosial-kebudayaan, selain harus didasari oleh agama dan Tauhid, maka diperlukan pengetahuan dalam bidang-bidang kehidupan. Ilmu pengetahuan menemukan alat-alat kerja yang menepatgunakan dan menempat-hasilkan kerja-kerja peradaban. Kerja-kerja menggunakan alat disebut dengan teknik. Pada tingkat peradaban pengetahuan meningkat menjadi ilmu dan teknik, maka meningkat menjadi teknologi. Yang menjadikan tolak ukur kemajuan masyarakat adalah tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). IPTEK akan membawa kemajuan di bidang-bidang sosial, ekonomi, politik, seni, dan filsafat.

Selain IPTEK, kesenian adalah unsur yang tak kalah penting bagi bangunan peradaban. Seni membuat peradaban mampu menghadirkan nilai-nilai estetik. Kesenian adalah usaha untuk membentuk kesenangan. Kesenangan adalah salah satu naluri asasi atau kebutuhan (need) asasi manusia. Dengan demikian, kesenian terkait dengan kemanusiaan, seperi agama, sosial, ekonomi, berpikir, pengetahuan, dan kerja.  Selain seni, filsafat juga bagian terpenting bagi perkembangan peradaban. Karena dengan filsafat ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Dalam konteks pengembangan IPTEKS, ilmu harus saling menyapa, saling menasehati, mengoreksi, mengkonfirmasi dengan kebenaran ilmu lainnya.

Unsur IV: Penguatan Etika Publik

Pilar keempat adalah moralitas/akhlaq yang dapat dipahami dari penggalan ayat watawasha bi al-shabr.  Kesabaran adalah simbol dari moralitas tertinggi lagi, bahwa peradaban utama harus dibangun atas kesabaran.  Tanpa kesabaran, manusia tidak akan dapat hidup di tengah pluralitas dan keragaman suku, agama, ras dan budaya. Karena itu, tausiah kesabaran dalam surat al-‘Ashr dalam konteks peradaban, dapat dimaknai sebagai saling berwasiat untuk menguatkan MEA (Moral-Etika-Akhlak) individu maupun kolektif masyarakat.

Baca Juga  Logika Warganet dan Fikih Kebencanaan

Di tengah pluralitas budaya, tradisi, dan agama, diperlukan apa yang disebut Hans Kung “etika global” sebagai solusi bersamanya. Sebuah sikap etik bersama yang sepenuhnya bertumpu pada penegakan nilai-nilai universal kemanusiaan. Pengalaman Islam, ketika umat beragama (umat Islam, Nasrani dan Yahudi) menjalin hubungan kehidupan bernegara.

Ketika pada periode Madinah, hubungan umat Islam, umat Nasrani dan Yahudi ditandai terbentuknya negara kota Madinah yang menjunjung tinggi pluralitas, baik agama, suku dan golongan. Di antara isi Piagam Madinah adalah bahwa negara mengakui dan melindungi kebebasan menjalankan ibadah agama masing-masing, semua orang memiliki kedudukan yang sama sebagai anggota masyarakat.

Kesabaran adalah puncak dari keutamaan moralitas sebagai peyokong peradaban utama. Etika utamadapat diambil dari penggalan ayat watawasha bi al-shabr.  Kesabaran adalah simbol dari moral, moral tertinggi lagi, bahwa peradaban utama. Dalam membangun masyarakat harmonis dibutuhkan sikap unity in diversity (kesatuan dalam perbedaan), “sympathy” dan “emphaty”  terhadap orang dan kelompok lain yang berbeda (empahty perpetuates the distinction between the object and subject; sikap empati dapat menembus perbedaan yang tajam antara subjek dan objek).

Editor: Yahya FR

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Azaki Khoirudin

Azaki Khoirudin

Mahasiswa Doktor Kependidikan Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *