IBTimes.ID – Ambruknya atap ruang kelas VII MTs Muhammadiyah 4 Bulu, Sambungmacan, Sragen, menjadi perhatian serius Persyarikatan Muhammadiyah. Peristiwa yang terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung itu tidak hanya menyisakan luka bagi siswa dan guru, tetapi juga mendorong langkah cepat penanganan dan pemulihan sarana pendidikan.
Insiden tersebut terjadi pada Selasa, 12 Mei 2026, sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, siswa kelas VII sedang mengikuti pelajaran Bahasa Inggris pada jam pertama bersama guru Nurul Eka Ismiyati, S.Pd. Di tengah pembelajaran, atap ruang kelas tiba-tiba ambruk dan menimpa sejumlah siswa serta guru.
Wakil Kepala Sekolah MTs Muhammadiyah 4 Bulu, Cipto Waluyo, mengatakan tidak ada tanda khusus sebelum atap kelas tersebut roboh. Para siswa, kata dia, sedang fokus mengikuti pelajaran ketika kejadian berlangsung.
“Kronologinya waktu pembelajaran siswa. Karena itu jam pertama, gurunya Bu Nurul Eka Ismiyati, S.Pd., Bahasa Inggris. Waktu pembelajaran itu, tiba-tiba roboh,” kata Cipto.
Ia menyebut beberapa siswa mengalami luka dan langsung mendapatkan penanganan medis. Satu guru dan sejumlah siswa dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
“Langsung roboh. Kita nggak tahu, karena anak-anak yang di bawah sedang fokus ke pembelajaran. Yang jelas, anak-anak juga ada yang luka-luka,” ujarnya.
Menurut Cipto, terdapat enam siswa dan satu guru yang dilarikan ke rumah sakit. Satu siswa lainnya juga dibawa ke RS Amal Sehat untuk mendapatkan perawatan.
“Guru dibawa ke RSUD dan enam anak lainnya. Satu anak dibawa ke Amal Sehat. Jadi keseluruhan ada tujuh, plus satu guru tadi,” jelasnya.
Camat Sambungmacan, Edi Purwanto, menyebut dugaan awal ambruknya atap ruang kelas tersebut disebabkan oleh kondisi kayu penyangga yang sudah lapuk dimakan usia.
“Kejadian kurang lebih jam 08.00. Karena melihat itu atapnya kelihatannya sudah lapuk, jadi kayunya sudah lapuk. Pas proses belajar mengajar,” kata Edi.
Ia memastikan para korban langsung dievakuasi menggunakan ambulans dari Puskesmas Sambungmacan, PDM, hingga Lazismu.
“Informasinya ada tujuh korban. Itu terdiri dari satu orang guru dan enam orang murid. Tadi dibawa ke rumah sakit semua, ke RSUD Sragen. Alhamdulillah sudah terkondisikan, yang penting diamankan dulu anak-anaknya,” imbuhnya.
Abdul Mu’ti Turun Tangan Berikan Bantuan Awal
Setelah peristiwa tersebut, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menyalurkan bantuan awal untuk MTs Muhammadiyah 4 Bulu Sragen, Ahad (31/05/2026). Melalui Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, bantuan sebesar Rp200 juta disiapkan sebagai langkah awal pemulihan.
“Ini sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, bukan sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Karena untuk madrasah, yang memiliki kewenangan adalah Kementerian Agama. Saya meminta ini dibangun sebagai Sekum PP Muhammadiyah,” ujar Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti juga meminta agar proses pembangunan tidak hanya bersifat tambal sulam, tetapi dirancang lebih baik. Menurutnya, musibah ini harus menjadi momentum untuk menata ulang fasilitas pendidikan agar lebih aman, rapi, dan layak bagi siswa maupun guru.
“Nanti desain sekolahnya dibuat yang bagus dan lebih rapi dari sekarang,” pesannya.
Penanganan Tidak Berhenti pada Ruang Kelas yang Roboh
Penanganan terhadap kompleks pendidikan Muhammadiyah di Bulu Sragen tidak hanya diarahkan pada ruang kelas MTs yang mengalami kerusakan. Abdul Mu’ti juga mendorong agar penataan fasilitas pendidikan di lingkungan tersebut dilakukan secara lebih menyeluruh.
Bantuan awal dari PP Muhammadiyah akan dilanjutkan dengan rencana renovasi untuk pembangunan tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Bangunan tersebut direncanakan dibuat dua lantai dengan dua ruangan.
Sementara itu, untuk jenjang TK, Abdul Mu’ti menyampaikan adanya peluang bantuan dari Kemendikdasmen melalui program revitalisasi. Adapun untuk bangunan MTs yang roboh, penanganannya juga mendapat dukungan dari Pekerjaan Umum dan bantuan dari Wakil Gubernur.
Dengan skema tersebut, pemulihan sekolah diharapkan berjalan lebih komprehensif. Bukan hanya memperbaiki bagian yang rusak, tetapi juga menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan lebih nyaman bagi anak-anak.
Guru MTs Muhammadiyah Sragen Diajak Naik Kelas
Selain memberikan perhatian pada perbaikan fisik sekolah, Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas guru. Ia menawarkan bantuan bagi guru-guru yang belum menempuh pendidikan S1 atau D4 melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL dari Kemendikdasmen.
Program tersebut memberikan beasiswa Rp3 juta per semester dan ditujukan untuk membantu guru menyelesaikan pendidikan akademiknya dalam waktu maksimal dua tahun.
“Bagi guru-guru yang belum S1 atau D4, ada program RPL dari Kemendikdasmen. Beasiswanya Rp3 juta per semester, dengan masa pembelajaran maksimal dua tahun,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan bahwa program RPL menjadi salah satu ikhtiar Kemendikdasmen untuk meningkatkan kualifikasi guru. Program ini menargetkan sekitar 150.000 guru agar dapat melanjutkan pendidikan dan memenuhi kualifikasi akademik yang dibutuhkan.
Abdul Mu’ti juga mengimbau para guru yang belum mengikuti Pendidikan Profesi Guru atau PPG agar segera memanfaatkan kesempatan yang tersedia.
“Guru-guru yang belum PPG nanti bisa melalui Kepala UPT Sragen untuk mendaftar,” katanya.
(FI)


