Fantastisnya Qurban di Desa Batur selalu mengundang kekaguman bagi kebanyakan orang. Ditambah dengan era sosial media yang pesat, berita ini makin menyebar luas tanpa batas. Jauh sebelum meluas dan membesarnya nama Muhammadiyah berkat amal dan gerakannya, Batur telah menjadi bagian dari rangkaian besar sejarah Muhammadiyah masa awal sejak tahu 1920an.
Andil Batur dalam rangkaian sejarah panjang itu diwarnai dengan berbagai peristiwa penting. Mulai dari penetapan cabang pada 1925, kunjungan Siti Walidah pada tahun 1927, kemah besar yang dipimpin oleh Soedirman pada akhir tahun 1936, hingga kebesaran gerakan Muhammadiyah di Batur yang kini telah berusia lebih dari satu abad. Memahami sejarah Muhammadiyah Batur menjadi sebuah refleksi penting atas bagaimana sebuah gerakan Islam membawa perubahan besar bagi masyarakat dimanapun dengan kemajuan yang selalu dijadikan nafas hidup.
Pada awal abad 20 berdasarkan pada peraturan Pemerintah Kolonial Belanda yang bernama Decentralisatie Wet, Batur merupakan bagian dari Kawedanan Banjarnegara, Karesidenan Banyumas. Perkembangan ekonomi pada awal abad 20 yang membawa keuntungan pada keresidenan Banyumas juga berpengaruh di kawasan Banjarnegara dan sekitarnya dilihat dari pertumbuhan kawasan perkebunan yang kemudian dikuti dengan perkembangan jalur transportasi. Sehingga meningkatkan peluang mobilitas bagi masyarakatnya. Nantinya hal ini akan menjadi salah satu kunci penting bagi pertumbuhan Muhammadiyah. Posisi Batur yang berada di persimpangan antara Wonosobo, Banjarnegara dan Karesidenan Semarang kemudian membuatnya sangat strategis dan dapat berkembang pesat.

(Peta Karesidenan Banyumas pada perbatasan Dieng, Sumber: http://media-kitlv.nl)
Seiring dengan diterbitkannya dokumen Gouvernement besluit No. 40 tahun 1920 laju perkembangan Muhammadiyah di luar Yogyakarta makin berkembang. Baik secara kualitas tata keorganisasian, maupun kuantitas anggota dan amal usahanya. Hal ini juga terjadi di Batur di mana Muhammadiyah telah berdiri pada 19 Oktober 1925, yang perkembangannya berlangsung dengan pesat. Hal ini tampak dalam pemberitaan surat kabar Bintang Islam yang mewartakan bahwa telah berdiri sebuah sekolah oleh dan milik Muhammadiyah Batur pada Juni 1926.
Pembangunan sekolah ini menjadi sebuah bukti telah menguatnya gerak Muhammadiyah di kawasan tersebut. Sejarah Muhammadiyah Batur cukup unik. Karena sumber sejarah yang diperoleh tidak hanya melalui dokumen-dokumen persyarikatan. Namun juga melalui memori kolektif masyarakat setempat tentang perkembangan Muhammadiyah sejak masa awal masih terekam kuat diingatan masyarakatnya. Termasuk pada sebuah peristiwa penting pada November tahun 1927. Yaitu kunjungan para bestur/pemimpin ‘Aisyiyah yaitu Siti Walidah, Siti Rahmah dan Siti Hayinah. Kunjungan ini didahului oleh Yunus Anis sebagai sekretaris Hoofbestuur Muhammadiyah beberapa bulan sebelumnya. Namun kunjungan Siti Walidah-lah yang begitu membekas dalam memori mayarakat.
Muhammad Faizin (73 tahun) salah satu tokoh Muhammadiyah Batur menceritakan berdasarkan memori dari kakeknya. Jika pada peristiwa kunjungan Siti Walidah dan rombongannya tersebut diawali dari kedatangan di Stasiun Wonosobo. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kejajar dengan otto atau mobil dan disambung dengan menaiki kuda hingga sampai ke Batur.
Masih mengingat jelas apabila dua kuda terbaik di Batur digunakan untuk perjalanan Siti Walidah. Kuda yang berwarna coklat diberi nama Sandel. Sedangkan kuda yang berwarna hitam mengkilap diberi nama Sabu. Kedua kuda tersebut adalah milik dua bersaudara yaitu Penatus Dahlan dan Carik Ahmad. Kisah ini juga selaras dan diamini oleh (almh.) Siti Hadiroh (80 tahun) yang merupakan cicit dari Siti Walidah, yang juga mendapatkan cerita ini turun-temurun.
Selama beberapa hari itu, Siti Walidah dan rombongan singgah di rumah salah satu pemuka Muhammadiyah Batur bernama Iskandar atau Atmawijaya yang juga salah satu pengurus cabang masa masa awal. Dalam kunjungannya yang singkat dalam rangka memeriksa cabang Siti Waliah juga membawa seorang anak untuk diasuh oleh Muhammadiyah dan memperoleh pendidikan. Selain itu ia juga berpesan agar gerak dakwah Muhammadiyah Batur selalu terus disemarakkan dengan amal.

(Foto kegiatan khitan dan para pengurus Cabang Muhammadiyah Batur 1930an, Sumber: A. Hidayat, pegiat sejarah Muhammadiyah Batur)
Keberadaan rumah Iskandar atau Atmawijaya sebagai salah satu pusat kegiatan Muhammadiyah pada masa itu memiliki arti penting dari perspektif bangunan cagar budaya. Dalam peninggalan yang ditemukan nampak rumah ini merupakan bangunan yang cukup baik pada masa itu dengan sentuhan arsitektur Indis dengan dilengkapi berbagai sarana yang dapat dimanfaatkan untuk publik. Hal ini ditambah dengan letaknya yang berada di tengah-tengah titik tempat kegiatan Muhammadiyah yang lain seperti madrasah dan juga masjid.
Kuatnya laju perkembangan Muhammadiyah Batur kemudian segara menaikkan statusnya dari grup kemudian menjadi cabang termuat dalam Besluit No.46 Juli 1928. Hal ini kemudian makin menguatkan posisi Batur sebagai pusat perkembangan Muhammadiyah untuk dapat memimpin dan mendirikan berbagai grup dan gerombolan di bawahnya. Pada dekade awal para pemimpin Muhammadiyah seperti Lurah Muhammad, Munawar, H. Jamhuri, Rahami, dan Raden Sukirman memberikan landasan penting seperti dalam aspek dakwah dan gerakan sosial.

(Gambar Dokumen Besluit Muhammadiyah Batur, Sumber: ANRI Register Besluit Muhammadiyah, No. 107. IV.46)
Akar sejarah kuatnya gerakan kepemudaan Muhammadiyah di Batur dapat ditelusuri akar sejarahnya melalui Hizbul Wathan. Menurut A. Hidayat seorang pegiat sejarah Muhammadiyah setempat diketahui jika pada tahun 1927 Hizbul Wathan telah menjadi gerakan yang berpengaruh di Batur. Pada tahun 1930 diresmikan lah Cabang Hizbul Wathan dengan pemimpin pertamanya yaitu Gunawan Sidarja. Sebuah peristiwa penting terjadi pada tahun 1936 di lapangan Desa Batur. Di tempat tersebut, diselenggarakan Jambore Akbar Hizbul Wathan se-Keresidenan Banyumas dengan Soedirman, yang kelak menjadi Panglima Besar pada masa itu merupakan pemuka Hizbul Wathan Banyumas.

(Foto Kegiatan Hizbul Wathan Batur 1927, Sumber: A. Hidayat, pegiat sejarah Muhammadiyah Batur)
Kuatnya kegiatan kepemudaan dan gerakan sosial dan dakwah di Batur menjadi modal penting dalam perkembangan masyarakat. Sehingga dapat dikatakan jika Muhammadiyah menjadi stimulan utama dalam perubahan sosial masyarakat yang dilihat dari laju pendidikan yang mendorong mobilitas sosial masyarakatnya. Salah satu penanda penting keberhasilan mobilitas sosial dan perkembangan masyarakat Batur dapat dilihat dari giatnya kegiatan qurban dalam idul adha dan pembayaran zakat serta infaq.
Hal ini telah dapat ditelurusi sejak sebelum tahun 1970an dimana pada masa itu kesemarakan qurban telah menjadi kebiasaan yang penting bagi masyarakat. Dalam beberapa dokumen juga ditunjukkan jika pada tahun 1975 angka shohibul qurban di Batur telah mencapai 50% dengan jumlah kepala keluarga yang ada. Hal ini tentu merupakan fakta yang cukup berkesan pada masa itu. Terutama jika ditinjau dari kacamata umum pada masa itu atas kondisi ekonomi dan kesadaran keagamaan masyarakat Jawa.

(Foto kegiatan ‘Aisyiyah di Batur dalam idul qurban tahun 1958, Sumber: A. Hidayat, pegiat sejarah Muhammadiyah Batur)
Pemahaman terhadap fakta sejarah Muhammadiyah di Batur mengandung reflksi historis yang penting dalam memahami gejala sejarah Muhammadiyah untuk dilihat dari luar pusat perkembangannya. Namun disisi lain juga dapat dilihat sebagai penemuan penting dalam pembacaan sejarah perkembangan kehidupan Islam di Jawa. Dimana pada umumnya pada peneliti belum melirik aspek-aspek kemoderenan dalam paktik kehidupan.
Padahal dalam faktanya masyarakat Muhammadiyah Batur di pedesaan memilikili kesadaran kemajuan dan kemoderenan yang penting. Di sisi lain mereka sebagai pelaku juga giat mendokumentasikan kegiatan sehari-hari mereka dengan arsip. Ini adalah sebuah kebiasaan yang mungkin jarang dijumpai di masyarakat Islam pada pedesaan yang lain. Usaha pemahaman dan penyebarluasan sejarah ini kemudian telah dilakukan oleh Majelis Pustaka Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama tahun 2025/2026 ini melalui berbagai progam dokumentasi dan penulisan sejarah serta pelestarian bangunan bersejarah Muhammadiyah.


