back to top
Senin, Juni 1, 2026

JTFest 2026 Jadi Panggung Muhammadiyah Jogja Menebar Gagasan Peradaban Hijau Berkemajuan

Lihat Lainnya

IBTimes.IDMalam takbiran tidak lagi sekadar menjadi momentum menggemakan pujian kepada Allah SWT. Di Yogyakarta, malam menjelang Iduladha 1447 Hijriah menjadi ruang ekspresi kebudayaan, syiar Islam, dan kampanye nilai-nilai keberlanjutan melalui gelaran Jogja Takbir Festival (JTFest) 2026 yang berlangsung di kawasan Malioboro. Kegiatan ini mengusung tema “Muhammadiyah Jogja, Songsong Peradaban Hijau Berkemajuan”.

Festival yang digagas Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kota Yogyakarta ini menghadirkan wajah berbeda dalam perayaan malam takbiran. Kegiatan tersebut tidak hanya menampilkan kreativitas peserta, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya membangun masyarakat yang ramah lingkungan, inklusif, dan berorientasi pada masa depan.

Sebanyak 18 kafilah dari berbagai Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), komunitas masjid, hingga kemantren di Kota Yogyakarta turut ambil bagian dalam festival yang menempuh rute dari depan Gedung DPRD DIY, menyusuri Jalan Malioboro, hingga berakhir di kawasan Museum Sonobudoyo.

Di tengah padatnya aktivitas wisata dan kehidupan perkotaan, Malioboro berubah menjadi ruang perjumpaan masyarakat yang dipenuhi lantunan takbir, atraksi budaya, kostum kreatif, serta berbagai simbol yang merepresentasikan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Gagasan Peradaban Hijau Berkemajuan

Berbeda dari festival takbir pada umumnya, JTFest tahun ini menempatkan gagasan peradaban hijau sebagai pesan utama yang ingin disampaikan kepada publik. Melalui berbagai kreasi peserta, masyarakat diajak melihat bahwa syiar Islam dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan dan membangun kehidupan yang berkelanjutan.

Baca Juga:  Tantangan Mu'allimat dalam Mencetak Perempuan Berkemajuan

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Aris Madani, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar kompetisi kreativitas antarkafilah.

“Di sinilah ukhuwah dirajut, syiar dikumandangkan, dan semangat kebersamaan warga Yogyakarta menyala,” ujarnya.

Pesan serupa juga tercermin dari tingginya antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang kawasan Malioboro. Festival tersebut menjadi ruang kolaborasi berbagai elemen masyarakat untuk merayakan Iduladha dengan cara yang edukatif sekaligus inspiratif.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turut mengapresiasi penyelenggaraan JTFest yang untuk pertama kalinya digelar di kawasan ikonik Malioboro dan Titik Nol Kilometer.

“Ini sangat luar biasa. Lebih-lebih ini pertama kalinya terselenggara di kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer Yogyakarta,” ujar Hasto.

Dalam kompetisi tersebut, Masjid Jogokariyan berhasil meraih Juara Umum I dengan nilai 8.405 sekaligus membawa pulang Piala Bergilir Gubernur DIY. Posisi Juara Umum II diraih Masjid Jami Pertiwi, sedangkan Juara Umum III ditempati Forum Syiar Islam An Bashe.

Lebih dari sekadar perlombaan, keberhasilan JTFest 2026 menunjukkan bahwa dakwah Islam dapat hadir dalam bentuk yang kreatif, membangun optimisme sosial, serta menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan agenda kemajuan dan keberlanjutan.

Di tengah tantangan lingkungan dan perubahan sosial yang terus berkembang, festival ini menjadi pengingat bahwa peradaban hijau berkemajuan masa depan dapat dibangun melalui kolaborasi, budaya, dan semangat kebersamaan. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru